26 Maret 2016

Gerakan Literasi Rumah dan Sekolah

Literasi? Apa sih artinya? Istilahnya kerennya, ini oleh-oleh pagi tadi (Sabtu, 26 Maret 2016) saat saya mengikuti seminar yang diadakan di SMA Citra Nusa, Cibinong. Judul seminar sih Menulis itu Menyenangkan. Ada banyak ide berloncatan di kepala saya selesai saya mengikuti seminar pagi tadi. Akan saya kupas satu persatu di sini. Saya bagikan untuk emak-emak kece pastinya, dan untuk guru serta anggota ODOP yang semuanya hebat.

Menurut hasil kesepakatan secara sederhana dalam seminar tadi, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Arti susahnya sih, dalam bahasa jawa begini katanya "literacy is the ability to identity, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexs." Itu arti menurut UNESCO. Berarti literasi berkaitan dengan membaca dan menulis. Tak akan mampu kita menulis bagus kalau tidak diawali dengan membaca.

Membaca adalah jantungnya pendidikan, tanpa membaca pendidikan akan mati. Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Bagi kita kaum muslim, perintah membaca merupakan perintah Allah yang diturunkan dalam Al-Quran. Tepatnya QS. Al-Alaq ayat 1-5. Perintah membaca begitu penting sehingga diturunkan pertama kali sebelum surat yang lainnya diturunkan.

Kembali lagi ke Literasi. Budaya Literasi adalah kunci dari kemajuan sebuah bangsa. Apa korelasinya?

Indonesi ternyata setelah disurvey oleh beberapa ahli, (lupa tadi ahlinya siapa saja, yang inget Taufik Ismail. Lainnya lupa, hehehe..). Menurut para ahli, Indonesia memiliki angka paling rendah dalam hal literasi. Dibuktikan dengan survey dari beberapa negara, bahwa siswa SMA di Indonesia kewajiban membaca buku hanya 0 judul. Berbeda jauh dengan siswa SMA di Amerika, kewajiban bacanya mencapai 32 buku. Lalu apa korelasinya, Lisa? Hehe, sabar. Hubungannya adalah jika literasi bangsa bagus, maka SDM bangsanya sudah dipastikan unggul. Indonesia yang menempati posisi terendah dalam literasi, ternyata benar. SDM yang dihasilkan juga rendah. Indonesia masih menempati pengirim buruh migran terbesar di dunia.

Hingga akhirnya menteri pendidikan kita Bapak Anis Baswedan meluncurkan gerakan literasi sekolah pada tanggal 15 Agustus 2015 tahun lalu. Tujuan gerakan ini supaya kegiatan literasi bisa terstruktur dan berkelanjutan.

Nah, sampai sini mulai bermunculan ide di kepala saya. Bagaimana memulai gerakan literasi ini di sekolah. Akan diluncurkan tantangan membaca di sekolah. Setiap anak akan membaca 24 buku selama 10 bulan dan membuat resensinya. Hanya saja saya akan membuatnya menjadi lebih sederhana dalam penerapannya di kelas saya tentunya. Akan saya mulai dengan membaca bacaan ringan setiap hari sebelum saya memulai pelajaran Ya, setiap hari selama 20 menit. Agar anak-anak terbiasa membaca. Setelah membaca saya akan meminta mereka menuliskan apa yang sudah dibaca. Awalnya biarkan saja mereka menuliskan apa yang menarik dari buku yang dibacanya. Meskipun hanya satu atau dua kalimat yang mereka tuliskan. Kegiatan ini akan bertahap. Hingga akhirnya mereka akan mampu membuat resensi dari buku yang sudah dibacanya.

Itu jika di sekolah. Bagaimana dengan di rumah? Meskipun anak saya di rumah juga membaca, saya belum pernah memintanya untuk membaca rutin setiap hari. Selesai seminar tadi, saya ingin juga memsukseskan gerakan literasi untuk anak saya. Membaca rutin setiap hari buku yang mereka suka. Perlahan tapi dilakukan setiap hari dengan waktu yang tetap. Jika pagi hari sesudah sholat subuh atau selesai sholat magrib. Bisa dimusyawarahkan waktunya. Selesai membaca saya juga akan meminta anak saya menuliskan satu atau dua kata. (karena anak yang ke dua baru kelas 1 SD). Untuk si sulung tentunya lebih luas, sudah bisa membuat resensi. 
Dan saya akan memberikan reward, baik untuk anak saya di sekolah atau di rumah. Dalam sebulan kita review berapa buku yang berhasil dibaca.

Untuk menyukseskan gerakan ini, tentunya membutuhkan niat dan usaha yang konsisten. Ayo, kita juha bisa mulai dari rumah, dari sekolah untuk para guru. Agar pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan. Karena dengan gerakan literasi ini, akan semakin mendorong siswa untuk berkarya. Resensi mereka bisa dibukukan. Karya sederhana yang bisa mereka hasilkan.

Itu hasil saya seminar tadi pagi. Mudah-mudahan memberikan manfaat.
Salam ODOP batch 2. Keep Writing.

6 komentar:

Dewi Mariyana mengatakan...

Di buku Gempa literasi dari kampung utk nusantara. Semua Di bahas tntang mnulis dan record baca Indonesia

Dewi Mariyana mengatakan...

http://dewieajaa.blogspot.my/2016/03/pudarnya-pesona-membaca-pada-remaja.html?m=1

Kholifah Hariyani mengatakan...

waw.. keren mbak lisa.. idenya boleh tuh, anak sekarang soalnya beda banget dgn generasi kita dulu.. ^__^

Junaidi Abdillah mengatakan...

apa yang dia "baca" adalah apa yang akan dia tulis...

pengetahuannya dilihat dari berapa banyak buku yang dia "khatamkan:..


keren mba .. menyadarkan kami utk keep reading.. keep writing...

ditunggu kelanjutannya..

elsa rugerifm mengatakan...

bagus idenya, Mba Lisa... membaca ---> menulis

Fika AJ mengatakan...

Kayaknya harus bikin gerakan Every Day Reading nih.

Duhh, bahasa Inggris saya bener nggak ya. :D

Posting Komentar