16 Maret 2016

Harus bin Kudu Bisa Semuanya

Puff, rasanya saya seperti berlari marathon. Jantung saya berdetak lebih cepat. Nafas saya apalagi, ngos-ngosan. Selesai masuk di kelas sebelah, saya masih harus memberikan materi di kelas saya sendiri. Hari ini saya harus masuk tiga kelas untuk sekedar memberikan tugas, karena guru kelasnya, yang merupakan rekan kerja saya berhalangan hadir. Kebayang kan, bagaimana saya harus berpindah-pindah kelas. Hari ini pun saya sangat yakin saya tidak maksimal dalam memberikan materi pelajaran. Baik di kelas saya sendiri ataupun di kelas rekan kerja. Mencoba menarik oksigen lebih banyak agar saya bisa bernafas sedikit lega.

Sekilas saya menatap anak-anak di kelas VI A ini. Berjumlah 51 anak dengan postur badan yang tentunya lebih besar dari saya, guru kelasnya. Perempuan atau laki-laki semuanya hampir tinggi besar. Saya seperti adik mereka ketika saya berbaur bersama mereka saat melakukan game di sela-sela jam belajar yang saya lakukan. Sedikit merenung, ini sekolah yang hampir mayoritas ada di seluruh Indonesia. Sekolah negeri yang memiliki jumlah murid setiap kelasnya tak pernah kurang dari 40 siswa. Kecuali sekolah negeri yang berada di antara sekolah swasta yang menjamur dan bagus, mungkin hanya memiliki murid yang tidak seperti kelas negeri pada umumnya.

Menjadi guru di sekolah negeri sudah saya jalani selama enam tahun sejak SK penempatan. Sebelumnya saya mengajar di sekolah swasta dengan jumlah murid di kelas hanya 20-25 anak. Di sekolah negeri jujur saya harus lebih dan lebih memberikan yang terbaik. Dengan segala kemampuan saya tentunya.

Di sini saya dituntut serba bisa. Sepuluh mapel bro, harus bisa saya kuasai. Mulai dari PAI, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PKn, Matematika, SBK, PJOK, Bahasa Sunda, dan Bahasa Inggris. Paling sedih jika saya harus mengajar Bahasa Sunda dan PJOK. Pertama karena saya bukan orang sunda. Saya bisa mengucap lafal sunda, tapi logat jawa saya tetap terlihat dengan angkuhnya. Alhasil saya pasti ditertawakan saat memberikan pelajaran Bahasa Sunda. Ditambah bila saya tidak berhasil merayu rekan kerja untuk diajak bertukar ngajar. Beliau mengajar Bahasa Sunda di kelas saya, sedangkan saya mengajar Bahasa Inggris si kelas beliau. Meskipun Bahasa Inggris saya juga belum bisa dikatakan jago. Mendinglah dari pada saya harus ngajar Sunda. Kalau sudah begitu, akhirnya saya tetap berusaha mengajar Sunda di kelas sebisa saya. Tapi tetap kemampuan terbaik yang saya berikan, meskipun saya tidak melafalkan sedikitpun kalimat Sunda. Jadi saya hanya memberikan materi dan soal. Penjelasan tetap saya berikan menggunakan bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Hehe..

Pelajaran ke dua yang membuat saya suka sedih adalah PJOK. Dari jaman saya sekolah dulu saya tidak jago olah raga. Akhirnya setiap akan praktik olah raga dengan anak-anak, sehari sebelumnya saya akan kursus dengan suami. Kursus kilat.

Melihat kenyataan di atas sempat terlintas dalam benak saya. Apa jadinya anak-anak saya yang belajar dengan saya yang tidak ahli. Sedangkan semua guru SD negeri dituntut seperti itu, karena kurangnya tenaga pendidik. Mudah-mudahan akan ada perhatian dari pemerintah tentang hal ini. Sehingga hasil dari pendidikan dasar akan berkualitas, tidak hanya aspek kognitif, tapi mencakup ranah afektif dan psikomotorik.

Saya tetap akan berusaha memberikan yang terbaik, dan mencari cara agar bisa menyampaikan materi. Dengan cara bertanya kepada rekan kerja yang lebih ahli. Semoga prosesnya akan menghasilkan generasi yang lebih baik.

#One Day One Post
Maret minggu ke-3

20 komentar:

Khikmah Al-Maula mengatakan...

Wow, sepuluh mapel sekaligus... keren
Semangat.... bu Guru....

muhammad jundii mengatakan...

Cerita guru hebat. Selalu memotivasi kami yang masih pelajar..

denik mengatakan...

Semangaaaattt...!!!

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Pinter men we Lis ...
Te O pe

Sasmitha A. Lia mengatakan...

semangattt mbak lisa..^^ semoga jadi satu catatan kebaikan untuk kita ketika kita berusaha memberikan yang terbaik untu anak-anak di negri ini..#halah.. :D

aamiin deng..

Nychken Gilang mengatakan...

Kereeen mba. Tapi masih ada yah di sekolah negeri apalagi pulai jawa ga ada guru selain guru kelas

Kholifah Hariyani mengatakan...

nah! pertanyaan saya senada sama gilang.
gak kebayang, dulu waktu saya SD aja, olahraga sama agama sudah ada gurunya sendiri... hmm...
but... keep spirit for teaching mbak lisa... #kepal tangan

Cicilia Putri Ardila mengatakan...

Wow. Guru yg satu ini memang ruar biasaaaah... 51 murid itu wow banget. Semangaaat bu guru.

Bang Syaiha mengatakan...

Saya pernah mengalami hal demikian ketika di pedalaman Kalimantan... Luar biasa..

nur apriliyani mengatakan...

Luar biasa mbak... semangat yah

nur apriliyani mengatakan...

Luar biasa mbak... semangat yah

Vinny Martina mengatakan...

Keren banget mbakku ini perjuangannya. #mata lope.

lisa lestari mengatakan...

aamiin..

lisa lestari mengatakan...

banyaaak lang...palagi ujung kab bogor..

lisa lestari mengatakan...

pernh hmpr 60..

lisa lestari mengatakan...

pernh hmpr 60..

lisa lestari mengatakan...

banyaaak lang...palagi ujung kab bogor..

Deasy Sang Pemimpi mengatakan...

Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa.
Keren mba Lisa 👍.
Perjuangan dan tulisan anda selalu membuat saya merinding membacanya.
Karena sejak kecil sy pengen banget jd guru. 😭.

Semangat terus ya pahlawan 💪

Heni Susilowati mengatakan...

Kelas gemuk dengan karakter anak yg berbeda-beda. Semangat!! :D

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

saya sampai sekarang masih bercita-cita ingin jadi guru..tapi kesasar jadi buruh..

Posting Komentar