24 Maret 2016

Jujur yuk dari Kecil

"Dede Faika, tuh mamanya mau pergi ke warung. Mau ikut ga?" suara tetangga kontrakan membuatku tertegun. Jelas-jelas kulihat mamanya Faika tidak kemana-mana. Tidak ke warung seperti kata tetanggaku. Jadi ingat kejadian yang sudah lewat. Sekitar tahun 2004. Sulungku yang bermain di rumah tetangga diminta pulang ke rumah dengan cara yang tidak benar. Mengatakan kalau saya akan pergi ke luar. Padahal saya tidak kemana-mana. Akhirnya saya menegur tetangga.

"Jangan bohong ya, Mas. Wong saya tidak kemana-mana.  Suruh pulang aja anak saya.  Dia akan pulang ko," tegur saya waktu itu. Semenjak kejadian itu, tetangga saya paham. Setiap minta anak saya pulang, dia tidak lagi berbohong.

Kejadian di atas sebetulnya sepele. Tetapi tidak bagi saya. Perkataan yang sepele itu menurut saya sudah merupakan bentuk kecil mengajarkan kebohongan kepada anak saya. Dan saya tidak suka. Tapi berhubung mamanya Faika hanya diam, saya tidak berani protes.

Banyak hal yang selalu saya tekankan kepada suami, ataupun kepada yang ngasuh anak saya. Tidak ada kebohongan kecil meskipun itu judulnya agar anak saya tidak menangis. Seperti ketika saya berangkat kerja dan anak saya menangis saat pamit. Tetap saya bilang kalau saya akan kerja, dan pulangnya sore. Walaupun saya harus pergi kerja dengan iringan tangis dari anak saya.

Pernah sekali mergokin yang ngasuh mengatakan, "Ummi pergi sebentar ya, nanti pulang lagi. Jangan nangis ya, De." Nah, setelah itu saya katakan apa yang sebaiknya dikatakan.

"Dede sholeha, Ummi kerja dulu ya. Biarpun Dede nangis, Ummi tetap akan berangkat. Insya Allah sore Ummi pulang. Dan kita akan main bersama lagi, ya, sayang."

Hal kecil yang harus mulai kita biasakan di rumah. Kejujuran. Agar besar nantinya berlaku jujur. Ingat, kalau bukan dari rumah dan sejak dini, siapa dan kapan lagi yang akan memulainya? Ayo, Mama dan Bunda, kita mulai saat ini dari rumah.

#One Day One Post
Maret minggu ke-4

17 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Berani jujur itu baik. Hehe

Nabela Atika mengatakan...

Setuju mba lisa, bekal penting ini :))

Deasy Sang Pemimpi mengatakan...

Ummi yg hebat 👍.
Untung baca tulisan ini.
Bisa jadi bekal nanti. Eh? 😄

Sakifah Ismail mengatakan...

Iya betul mb lis...kalau anak biasa dibohongi dirumah, diluar akan semakin sulit dia percaya orang lain.
#Jadi inget anak-anak :'(
ada yang kalau saya janjikan sesuatu mesti tanya, "ustadzah ngga bohong kan?"
dan harus selalu saya tegaskan kalau muslim berjanji itu harus ditepati karena janji sama Allah dan dirinya sendiri..

lisa lestari mengatakan...

betul mb,

Dessy R mengatakan...

Ada juga tuh yg klo jatuh, eh.. nyalahin kodok atau tembok.. hehehe
Keren mba.. pendidikan karakter sejak dini.

denik mengatakan...

Setuju Mba Lisa..kejujuran itu kelak mahal harganya.

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Slogan lembaga anti rasuah di Indonesia (KPK) :
Berani Jujur, Hebat!

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Slogan lembaga anti rasuah di Indonesia (KPK) :
Berani Jujur, Hebat!

elsa rugerifm mengatakan...

Klo g salah peribahasanya, Sekali lancung keujian seumur hidup org g akan percaya.

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Kerennn mbak lisa..^^

Kholifah Hariyani mengatakan...

setuju banget mbak lisa...
semoga kekhilafan di masa lalu dalam mengasuh bisa dimaafkan...
#terus berbenah jadi ortu yang lebih baik.

Khikmah Al-Maula mengatakan...

Biar besarnya gak jadi pembohong. Kek para koruptor....
Setuju mba Lisa... ^^

Cicilia Putri Ardila mengatakan...

Setuju sama mba lisa. Ayo jujur dari kecil.

Aira zakirah mengatakan...

Nahh,,kejujuran emang butuh pembiasaan dari kecil:D

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

betul mbak lisa..setuju

khofiyaa rizki mengatakan...

iya mbak.. kejujuran emang hal yang trkadang banyak disepelekan oleh sebagain orang.. apalagi kbohongan kecil.. atau yang dibalut canda2an dgn tujuan cuman pengen bikin orang lain tertawa terbahak2 wkwk

semoga kt snantiasa d mudahkn unt jujur setiap saat aamiin

Posting Komentar