30 Maret 2016

Kesempatan Kedua

Suasana kelas mendadak sepi ketika suaraku menggema di seluruh ruangan kelas yang berukuran 7 x 8 meter. Satu persatu kuedarkan pandanganku menyapu wajah-wajah penghuni kelas VI A. Wajah yang terkadang membuatku bingung. Tak memiliki sedih atau apapun sesaat setelah aku umumkan hasil yang mereka peroleh dari kesempatan kedua yang baru saja aku berikan. Bahkan ada yang tertawa ketika memeroleh hasil yang sebenarnya, membuatku sungguh kecewa. Ada nada sedikit bergetar menahan marah dari suaraku saat aku mengumumkan hasilnya.

"Hasilnya, jujur mengecewakan Ibu. Padahal Ibu sudah memberitahu kepada kalian, akan ada kesempatan untuk memperbaiki nilai yang masih kurang. Tapi ternyata, justru ada yang nilainya lebih kecil dari perolehan nilai pertama." Kubuka suaraku setelah aku mampu menahan diri. Kuhembuskan nafasku perlahan, terasa berat. Berkumpul dengan udara yang semakin tak bersahabat di dalam ruangan ini. Panas dan serasa makin pengab dengan hasil mereka.

Seminggu lalu, tepatnya tanggal 21 Maret sampai 24 Maret 2016 kelas VI A mengadakan Try Out atau Tes Uji Coba sebelum Ujian Sekolah bulan Mei nanti. Bukan hanya kelasku saja, tetapi semua SD di Kabupaten Bogor. Dan ini adalah TUC pertama kali. Apakah karena baru pertama kali TUC lalu hasilnya belum memuaskan? Padahal dua minggu sebelumnya mereka sudah berlatih setiap hari dengan soal-soal latihan yang aku foto copy.

"Ibu bertanya, ya?" Aku kembali membuka percakapan. 
"Apa yang akan kalian lakukan jika malaikat Izrail datang kepada kalian hendak mencabut nyawa kalian?" Mereka masih terdiam. Aku kembali meneruskan ucapanku.
"Tapi sebelum mencabut nyawa kalian, malaikat Izrail berkata kepada kalian."
"Aku tidak akan mencabut nyawa kalian hari ini. Aku berikan waktu satu minggu lagi untuk berbuat baik sebelum aku mencabut nyawamu." Kubuat suaraku sedikit berbeda dengan suaraku yang biasanya. Aku ingin memberikan sensasi berbeda dari ceritaku.

Anak-anak terdiam. Lalu aku lanjutkan dengan suara asliku. "Nah, apa yang akan kalian lakukan jika malaikat Izrail memberikan kesempatan kedua kalinya agar kalian berbuat baik sebelum nyawa kalian dicabut?" Kali ini anak-anak menunduk. Nampaknya merek berpikir. Aku biarkan suasana agak hening. Hingga salah satu dari mereka menjawab.

"Saya akan berbuat baik, Bu. Saya akan memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh malaikat Izrail meskipun itu hanya satu minggu."
Yang lain nampak mengiyakan setuju. Aku tak berhenti sampai di sini. Kuminta lagi dari jumlah satu kelas untuk mengemukakan pendapatnya. 
"Sama, Bu. Saya juga akan berbuat seperti Ahmad, Bu," akhirnya Dede menjawab.

"Nah, apakah semua sepakat untuk berbuat baik sebelum mati?" tanyaku kepada satu kelas. Serempak mereka menjawab iya. 
"Semua akan menggunakan kesempatan kedua dengan baik kan?" kembali aku bertanya kepada muridku satu kelas. Jawaban serempak mengiyakaan pertanyaanku.

Aku mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan inti dari percakapan di kelas kali ini. 
"Kesempatan kedua yang diberikan oleh malaikat Izrail ternyata akan kalian manfaatkan dengan baik. Sama atau tidak seperti sekarang ini?" Kembali aku bertanya.
"Ibu berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki nilai kalian agar lebih bagus. Tidakkah kalian gunakan kesempatan kedua yang Ibu berikan?" Pertanyaan berikutnya membuat mereka kembali terdiam. 
"Rencana untuk melakukan remedial sudah Ibu beritahukan. Seharusnya kalian berlatih lagi dengan soal. Mana yang belum berhasil kalian cari jawabannya di rumah. Bukan dengan membiarkan kesempatan kedua yang Ibu berikan percuma berlalu." Penjelasanku membuat kepala mereka tertunduk. Entahlah, apakah mereka menyesal, atau hanya enggan menatap wajah gurunya yang sudah menjelaskan dengan perumpamaan malaikat Izrail. Yang jelas ceritaku tadi sedikit banyak membuat yang biasanya cengengesan tidak menampakkan cengengesannya.

Aku menuju kursiku. Duduk kembali dan memcoba mengontrol kembali emosiku karena hasil yang belum memuaskan. Nilai uji coba yang nyaris seperti nilai iklan rokok, yaitu Dji Sam Soe, dengan lambang angka 234. Walaupun ada juga yang mendapatkan 8 setelah melakukan perbaikan dari kesempatan kedua yang aku berikan.

Kulafal kata-kata sakti dalam hatiku berulang-ulang. Kata sakti yang membuatku selalu menurunkan tingkat emosiku jika aku tergoda. Aku mencintaimu dan menerimamu apa adanya anak-anakku. Itulah kata sakti yang kulafalkan agar aku tak terpancing.

Hanya ingin melihat mereka yang ada di dalam kelas menjadi anak-anak yang berhasil. Tidak hanya anak yang kembali terbentur dengan kemauan orangtua yang sudah bangga jika anaknya sudah bisa membaca. Tanpa ingin mendorong anaknya bersekolah lagi sesuai program pemerintah, pendidikan wajib 9 tahun. Ya, enam tahun mengabdi di wilayah Sukamakmur dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar belum memahami pentingnya pendidikan, membuat semangat mengajarku terkadang ikut terhempas bersama kondisi masyarakat. Maka wajarlah jika anak-anak pun menganggap mendapatkan nilai bagus sebagai bentuk akibat dari rajin belajar bukanlah kewajibannya. Orangtua nya yang tidak memberikan dukungan dan motovasi. Mudah-mudahan sedikit cerita tentang kesempatan kedua dari malaikat Izrail membuat mereka termotivasi. Kesempatan kedua yang aku berikan akan membuat mereka lebih gigih berjuang. Semoga.

#OneDayOnePost
tantangan cerita sehari-hari edisi 1

17 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Luarbiasaaa sekali mba lisa semangat mengajarnya. Salut. Terus cerdaskan Generasi negeri ini mba

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Sabar Dan tetap semangat mb lisa

Dewi Mariyana mengatakan...

TUC itu apa bu?

Dewi Mariyana mengatakan...

TUC itu apa bu?

denik mengatakan...

Semangaaat...Mba Lisa.

Sakifah Ismail mengatakan...

TUC- Tes Uji Coba kak wie..
Semangat mbak...jadi guru memang menguras emosi, dan harus pandai meredakannya sendiri. Salutt (y)

nurul iman mengatakan...

Wah semangka ya mbak.

Kholifah Hariyani mengatakan...

semangaaat mbak lisa...
maju terus pendidikan indonesia!

Cicilia Putri Ardila mengatakan...

Semanggaaa bu guru

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Angkat topi aku Lis ..
Go Ahead!!

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Mbak lisa kereeeeennn..Aku mencintaimu dan menerimamu apa adanya anak-anakku..


Aku belum bisa kek mbak Lisa huhuhu

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Mbak lisa kereeeeennn..Aku mencintaimu dan menerimamu apa adanya anak-anakku..


Aku belum bisa kek mbak Lisa huhuhu

Aira zakirah mengatakan...

tiba2 berasa pengen jadi guru kayak mbal lisa^^

Fika AJ mengatakan...

Penceritaannya manis, rapi, cantik.

Dan terharu sekali dengan kalimat yang satu ini:
"Aku mencintaimu dan menerimamu apa adanya anak-anakku."

Semangat Bu Guru!

nur apriliyani mengatakan...

Yang sabar mbak.. sungguh kesabaranmu tak akan sia-sia.

nur apriliyani mengatakan...

Yang sabar mbak.. sungguh kesabaranmu tak akan sia-sia.

Lukisan Tinta mengatakan...

Bertahan, bun lisa...
Coba lebih dekat dengan siswa, diajak diskusi juga, yang sekiranya tertinggal oleh teman-temannya, coba lebih di dekatin. mengajar harus sabar double. Jangan sampai tinggalkan siswa, terlebih ia yang tertinggal...

Semangat, bun lisa...

Posting Komentar