29 April 2016

Percakapan dalam Kotak bagian 2

Kami semua adalah mainan yang disimpan dalam kotak besar, tanpa tutup. Awalnya memiliki tutup, namun seiring waktu tutup itu menghilang. Mungkin dia memilih menjauh dari hebohnya suara kami apabila sudah berkumpul. Adapun kotak besar ini, tak pernah menampakkan kekesalannya pada saat kita ramai bercerita. Dia selalu tersenyum, memberikan kenyamanan kepada siapa saja yang disimpan di dalamnya.

Aku, mainan yang paling lama tinggal dalam kotak ini. Mainan yang lain memanggilku Badut. Semua perbincangan di dalam sini, hampir aku yang mengkoordinir. Ibaratnya, aku adalah moderator. Dan kami semua adalah milik seorang balita berumur satu tahun. Meskipun sebelumnya kami adalah milik kakaknya. Jadi turun temurun diwariskan. Dan aku lah yang mengenal semua generasi pemilik mainan ini. Aku sudah melampaui dua generasi.

Kami akan keluar dari kotak, ketika pemilik mainan kembali dari tempat penitipan. Kotak besar digulingkan, dan keluarlah apa yang ada di dalamnya, berhamburan. Dengan tertawa lucunya, dia akan mengambil kami bergantian. Dilempar-lempar, dipukul ke lantai, bahkan dimasukkan kembali dalam kantong plastik menjadi kegiatan yang tak pernah terlewat. Melihat dua tangan balita sibuk memainkan salah satu dari kami, lalu tertawa terkekeh, seolah ada hal lucu yang tercipta. Dan ini lah hal yang paling menyenangkan. Hingga suatu hari...

Si biru Doraemon menggantikan posisi mainan dalam kotak. Mainan bebek, donat warna-warni, bola empuk berkerincing, bulat-bulat kayu, dan aku tak lagi dipegang. Balita itu hanya mengambil si biru Doraemon. Kami pun ramai memperbincangkan.

"Apakah kita akan dibuang?" mainan bola empuk membuka suara. "Dia sudah tak pernah mengeluarkan kita lagi. Hanya si biru itu terus yang diambil." Tambahnya.

"Baru tiga hari kok, kita tidak dimainkan. Mungkin besok, atau besoknya lagi," lanjut Bebek menenangkan, seolah perkataan tersebut juga untuk dirinya.

Sontak semua mainan bersuara. Ada yang menjerit, ada yang mulai terisak, bahkan mainan seperti donat seketika keluar dari tiang dan berhamburan. Muncul ketakutan jika mereka dibuang di tempat sampah. Ngeri membayangkan badan dan tubuh akan bercampur dengan bau sampah. Pastinya tidak senyaman seperti berada dalam kotak besar ini.

Suasana dalam kotak sudah semakin gaduh. Aku harus menenangkan teman-temanku, agar kembali tenang.

"Ehem," sengaja aku berdehem, membuat suara sedikit lebih tinggi dari mereka. Sekejap ruangan dalam kotak menjadi sunyi. Semua mata menatapku dengan penasaran.

"Hai, Pak Badut, apa yang ingin disampaikan?" Apakah sebelum kami, pernah terjadi seperti ini?" tanya mainan warna-warni yang bisa berbunyi.

Aku tersenyum sebelum menjawab. 
"Ya, dulu juga pernah terjadi. Setiap dari kita yang sudah usang dan tak digunakan lagi, pasti akan dibuang. Tapi mudah-mudahan kita di sini akan terus bersama selamanya. Karena kalian dibuat dari bahan yang awet."

Terdengar koor dari semua mainan. Satu persatu mulai menampakkan senyum.
"Tapi kenapa kami tak pernah diajak bermain lagi?" tanya mainan donat warna ping dan memancing lagi keriuhan dalam kotak.

"Iya betul itu!" yang lain membenarkan pertanyaan donat.

"Karena pemilik kita sedang asyik dengan Doraemon. Nanti juga akan bosan dan bermain lagi dengan kita." Jelas Badut.

"Semoga," lirih terdengar berharap.
"Dan semoga juga kita tidak akan dibuang," ucapan yang diaminkan segera oleh lainnya.

"Kita hanya mainan, yang jika sudah usang dan tidak terpakai akan terbuang bersama sampah. Tak perlu sedih, toh kita sudah pernah membuat pemilik kita tersenyum, menemaninya bermain. Itu saja sudah menyenangkan. Yang penting kita sudah memberi manfaat." Lanjut pak Badut menasehati.

Semua membenarkan ucapan pak Badut. Selama masih digunakan, mereka akan berjanji menjadi mainan yang menyenangkan dan memberi manfaat, setidaknya bisa membuat tersenyum pemiliknya.


#OneDayOnePost
#Tantangan terakhir bulan April
#Keep Writing

28 April 2016

Percakapan dalam Kotak bag 1

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Kami kembali berkumpul, berbincang seru, membicarakan satu topik dan berpindah ke topik lainnya. Suara kami jika sudah berkumpul, seperti gerombolan lebah yang mendengung bersamaan. Sungguh menghebohkan.

Adalah aku, yang dianggap tertua di sini dibandingkan dengan yang lainnya. Ya, memang aku lah yang paling lama tinggal di dalam kotak besar, yang penutupnya sudah lepas dan entah ada di mana. Meskipun aku paling tua, warnaku masih menarik siapa pun yang melihat. Setelahku bergantian teman-teman ikut mengisi kotak bersamaku. Yang masuk kotak setelah aku adalah sebuah mobil berbentuk truk, berwarna hijau. Tak besar mobil tersebut. Tapi selalu menyenangkan bagi kami. Karena ia selalu dengan senang hati menawarkan badan truknya untuk kami naiki bergantian. Dan satu persatu akan dibawa berkeliling ruangan ini, keluar dari kotak besar tempat kami disimpan.

Penghuni berikutnya adalah alat yang jika dipukul akan mengeluarkan bunyi berbeda. Warnanya sungguh menarik. Kuning, hijau, biru, dan merah mendominasi benda ini. Tongkat pemukulnya berwarna putih. Dan lucunya ia dilengkapi dengan roda. Jika digerakkan seperti mobil truk tadi. Kami senang mendengarkan suara yang dihasilkan olehnya. Saat sedih, ia akan dengan senang hati mengeluarkan bunyi agar kami terhibur.

Berikutnya yang hadir di antara kami berbentuk bulat, empuk seperti bantal, warnanya juga merah dan kuning. Saat ia menggelinding, akan terdengar bunyi dari dalam. Sepertinya dalam tubuhnya disimpan alat kecil semacam lonceng.

Yang datang selanjutnya adalah terbuat dari kayu, berbentuk bulat-bulat kecil dengan warna yang seragam. Di tengahnya ada lubang kecil, dia ditempatkan berkumpul dengan satu warna, dimasukkan dalam tiang. Masing-masing warna berada dalam satu tiang.

Tak kalah meramaikan kotak besar ini adalah bebek kuning, yang jika dipencet ia akan berbunyi. Ditambah lagi teman kami seperti donat, dengan besarnya yang tidak sama. Semakin ke atas dia berbentuk mengecil. Dimasukkan juga dalam tiang, disusun seperti menara.

Nah, terakhir yang datang dalam kotak ini adalah boneka berwarna biru dengan kantong ajaibnya. Kudengar ia bernama Doraemon. Ia selalu memamerkan kepada kami alat-alat ajaib dari kantongnya. Dan kami sering terpukau dengan alat ajaibnya.

Aku sendiri adalah mainan yang lucu, berkepala wajah badut, warna coklat. Jika aku digoyangkan, kepalaku akan bergoyang dan mengeluarkan bunyi lucu. Meskipun aku kecil, aku selalu menjadi mainan favoritnya sebelum si biru ini datang.

bersambung...

#OneDayOnePost

27 April 2016

Selamanya Tetap Teman

"Dasar anak koruptor!" suara gaduh terdengar saat kaki Sakura memasuki ruangan kelas VIII-10.  Suara yang sama seperti kemarin, menyudutkan Hening, teman sekelasnya, yang ayahnya ditangkap oleh KPK karena kasus korupsi. Seminggu lalu peristiwa penangkapan ayah Hening terjadi, dan beritanya juga ramai disiarkan di televisi.

Hening hanya diam, mendapatkan perlakuan dan ucapan teman-temannya. Ia merasa tak perlu membantah ataupun memberikan alasan apapun. Toh ditutupi seperti apapun, kabar itu sudah mendunia, ibarat bangkai yang sudah tercium kebusukannya tak mungkin untuk dibungkus lembali serapi apapun. Hanya membisu yang bisa Hening lakukan, meskipun dalam hati ia merasa sedih, marah dengan sikap dan perlakuan teman-temannya. Menyudutkan, mencibir sinis, bahkan menjauhi Hening. Enggan berteman, sekedar bercakap ataupun menyapa Hening. Mereka, teman sekelas dan seluruh teman satu sekolah. Kabar itu cepat meluas sehingga sempurna menempatkan Hening dalam ruang sepi tanpa teman. Kalau sudah begitu, Hening hanya bisa mematung, lalu menyibukkan diri membaca buku.

Pemandangan Hening yang menyendiri setelah perbuatan ayahnya, membuat Sakura berpikir bagaimana caranya agar teman-temannya tidak memperlakukan Hening seperti ini. Seolah-olah yang bersalah adalah Hening. Sakura ingat perbincangannya dengan Bunda semalam tentang masalah Hening ini.

"Bunda, kasihan deh temen aku. Dikata-katain setiap hari sebagai anak koruptor. Hanya karena ayahnya ketangkap KPK melakukan korupsi." Sakura mengawali ceritanya kepada Bunda usai sholat isya berjamaah sambil menunggu kepulangan ayah yang kerja lembur hari itu.

"Terus, Ka?"

"Ya nggak terus-terus, Bunda. Emang lagi parkir? Bunda lucu," jawab Sakura mendapati Bundanya menanggapi ceritanya seperti orang parkir kendaraan.

"Maksud Bunda, temen Kaka diperlakukan bagaimana di kelas?"

"Dijauhi, Bund. Nggak ada yang mau berteman dengan dia. Menyapa saja nggak mau, Bund, Kaka nggak tega."

"Kenapa Kaka nggak mengajaknya bercakap seperti tak pernah ada apa-apa?"

Sakura memandang wajah Bunda. Bunda tidak bercanda menanggapi ceritanya. Tapi kenapa Bunda memintanya begitu?

"Tapi, Bund..."kalimat Sakura menggantung.

"Ka, yang korupsi itu ayahnya Hening, bukan Hening. Nggak seharusnya Hening mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman hanya karena perbuatan ayahnya. Bunda yakin, Hening juga tidak mau ayahnya terlibat korupsi sehingga membuat dia mendapatkan malu di sekolah." panjang lebar Bunda menjelaskan kepada Sakura sambil menggengam tangannya. Menyakinkan putri semata wayangnya agar tak ikut-ikutan memojokkan Hening. Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan penjelasan Bunda. Seandainya ia ada di posisi Hening, pasti menyakitkan juga. Mendapatkan perlakuan tidak baik padahal bukan dia yang melakukannya. Bibir Sakura menyunggingkan senyum manis untuk kemudian memeluk Bunda. Malam ini ia mendapatkan pemahaman baru bagaimana seharusnya bersikap.

"Terima kasih, Bunda."
"Iya, sayang. Mulai besok, bercakaplah kembali dengan Hening. Bicarakan juga hal ini dengan teman-teman Kaka. Mudah-mudahan mereka mengerti."

Dan pagi ini, Sakura akan mewujudkan apa yang semalam dibicarakan dengan Bunda. Ia akan mengajak Hening bercakap-cakap seperti biasanya. Dan ia akan mengajak teman-temannya melakukan hal yang sama. Hening tetap teman bagi Sakura dan selamanya akan tetap menjadi teman.


#OneDayOnePost

26 April 2016

Belajar Tanggung Jawab, Yuk...

Kaki Naila langsung terasa lemas begitu mendengar namanya dipanggil oleh Bu Tina. Ia tahu benar apa kesalahannya. Hari ini bu Tina meminta untuk mengumpulkan tugas menulis sambungnya. Dan tugas itu lupa Naila kerjakan. Padahal Ummi sudah mengingatkan ketika seminggu lalu tugas itu diberikan oleh bu Tina. Tapi semalam, Naila tidak ingat sama sekali. Ia asyik bermain dengan adik bayinya. Akhirnya ia harus siap dengan hukuman yang diberikan oleh bu Tina.

Di hadapan bu Tina, Naila menundukkan kepalanya. Ujung sepatunya ia gerakkan tak tentu arah untuk mengusir rasa takutnya. Baru kali ini ia lalai terhadap tugasnya. Ummi, tolong aku, aku nggak mau dihukum, jerit Naila dalam hati.

Bu Tina menatapnya dengan pandangan menyelidik. Tumben Naila lupa mengumpulkan tugas. Ditatap seperti itu, membuat Naila semakin takut. Kepala Naila semakin menunduk.

"Kenapa belum mengerjakan tugas, Naila?" tanya bu Tina.

"Lupa, Bu," lirih Naila menjawab. Kalau Ummi tahu, Ummi pasti marah. Bu Tina pasti akan mengatakan kepada Ummi saat istirahat nanti di kantor. Ummi kan juga guru di sini, di SD tempat Naila belajar.

Mendapat jawaban Naila seperti itu, bu Tina mengeryitkan dahinya. Tidak biasanya Naila lupa. Naila selalu rajin mengumpulkan tugas, karena Umminya pasti akan mengecek ada tugas apa saja dari sekolah. Karena setiap tugas tertulis di buku penghubung siswa.

"Berarti siap dengan hukuman ya?"

Naila mengangguk lemah. Kata Ummi jika bersalah, harus terima hukuman. Tidak peduli ia anak guru di sini. Yang salah Naila, jadi yang harus dihukum ya Naila, begitu batin Naila berkata.

"Nanti pas jam istirahat, Naila baca asmaul husna ya," jelas bu Tina.

Kembali Naila mengangguk. Membaca asmaul husna di kantor, dan pastinya akan didengarkan oleh semua yang ada di sekolah ini. Karena membacanya menggunakan pengeras suara. Dan Naila belum begitu hafal asmaul husna.

"Silahkan duduk kembali!"

Naila berjalan menuju kursinya. Dalam hati ia mulai mengingat-ingat nama-nama Allah yang baik untuk ia bacakan di kantor nanti sebagai hukuman akibat tidak mengerjakan tugasnya.

Rasa penyesalan hinggap kembali. Ia ingat, sebelum pulang ke rumah dengan Abi, Ummi memintanya untuk mengerjakan tugasnya. Sore ketika Ummi pulang dari sekolah, ia diingatkan lagi oleh Ummi. Dan Naila tidak segera mengerjakan. Adiknya yang baru bisa berjalan membuatnya asyik bermain. Selesai sholat isya, mata Naila sudah sangat mengantuk. Alhasil ia hanya sanggup menyiapkan jadwal pelajaran untuk hari ini.

Sampai di rumah nanti, Naila harus siap juga dengan hukuman dari Ummi. Duh, kenapa teledor begini sih? Coba saja ia mendengarkan Ummi untuk segera mengerjakan tugas, pasti ia tak akan dihukum. Andai ia tidak menudanya, tentu istirahat nanti ia tak akan baca asmaul husna. Ah, banyak andai terbuang. Naila nggak boleh mengulangi lagi. Hukuman ini harus diterima sebagai akibat dari kelalaiannya. Naila ingat perkataan Ummi.

"Jika Kaka bersalah, harus berani mengakui kesalahan. Dan harus siap jika mendapat hukuman. Jadikan itu sebagai pengingat, agar kesalahan itu tidak terulang lagi."

"Meskipun Kaka dihukum di sekolah? Kaka kan anak Ummi. Ummi ngajar di sekolah Kaka. Tetap harus dihukum jika Kaka bersalah, misalnya?" Naila pernah menanyakan hal itu ke Ummi. Ia beranggapan, jika Naila anak guru, ia akan bebas dari hukuman.

Waktu mendapat pertanyaan itu, Ummi tersenyum. 
"Ya, meskipun Kaka anak Ummi. Kalau bersalah, harus dihukum. Ummi tak akan membela Kaka jika Kaka bersalah."

Naila mengangguk mantap, percakapan dengan Ummi beberapa waktu yang lalu, membuatnya siap menerima hukuman. Ada janji yang ia ucapkan dalam hati. Naila tak akan mengulangi lagi kesalahan seperti ini. Naila tak ingin membuat Umminya kecewa.



#OneDayOnePost

25 April 2016

Karena Adik Bayi Masih Kecil

"Apa-apa Dede El, apa-apa Dede El!" teriak Hawa sambil menghempaskan badannya ke kursi. Tampak sekali wajahnya menampakkan kekesalan luar biasa. Sejak kehadiran adik bayinya, Ummi lebih sayang ke adiknya. Setiap permintaannya untuk dibuatkan segelas susu, berakhir dengan jawaban, " Nanti dulu ya, Ka. Dede El masih nyusu."

"Ummi sudah nggak sayang aku!" kembali suaranya menunjukkan kejengkelannya. Ummi yang melihatnya hanya tersenyum.

"Kok begitu?" tanya Ummi sambil mendekati ka Hawa.

Ka Hawa membuang mukanya menghadap tempat lain, ketika Ummi menghampirinya. Ingin rasanya ia buang adik bayinya, agar ia bisa kembali mendapatkan perhatian Ummi. Biasanya setiap ia minta dibuatkan susu, Ummi tak pernah bilang nanti. Langsung dibuatkan. Apalagi setiap minta dibacakan cerita, Ummi akan langsung membacakan. Ini? Harus menunggu adik bayinya tertidur, atau melepaskan isapan susunya. Kalau tidak, Kaka Bila yang akan menggantikan peran Ummi saat beliau tak bisa. Nggak enak! Ia ingin Umminya.

"Sini sayang, dipeluk sama Ummi," bujuj Ummi meraih Kaka Hawa agar mendekat.

Ka Hawa memandang wajah Ummi. Adik bayi sudah tidur, lelap di atas kasur bayinya. Seketika Ka Hawa langsung memeluk Ummi.

"Ummi sudah nggak sayang aku, ya?"
Ummi tertawa mendengar pertanyaannya.
"Kok nanya begitu?"
"Habisnya apa-apa Dede El."
"Yuk, kita lihat Dede El!" ajak Ummi memggandeng tangan Ka Hawa menuju ke kamar. Adik bayinya nampak pulas tertidur. Masih dibungkus, kata Ummi itu dibedong namanya. Biar hangat dan tidak kaget. Masih ingat jawaban Ummi ketika ia menanyakannya.

"Coba lihat adik, sayang. Adik masih kecil kan? Baru berapa hari adik lahir?" tanya Ummi sambil mengelus kepala Ka Hawa.

Mendapat pertanyaan begitu dari Ummi, Hawa memandang adik bayi. Wajahnya masih mungil, tapi tangisnya sungguh berisik. Setidaknya itu menurut Kaka Hawa. Minta bobo nangis, kalau pipis juga nangis. Pokoknya adik bayi ini sudah menyita waktu Ummi. Masih saja batin Hawa mengatakan seperti itu.

"Dulu sewaktu Ka Hawa masih seperti Dede El, Kaka juga bisanya hanya nangis. Ingin nyusu, nangis. Belum bisa ngomong sepintar Kaka. Belum bisa melakukan sendirian. Masih butuh Ummi, butuh Kaka Hawa, Kaka Bila, dan Abi." panjang Ummi menjelaskan kepada Hawa.

Hawa terdiam. Benar kata Ummi. Adiknya baru lima hari lahir. Masih kecil, belum bisa ngapa-ngapain. Masih butuh Ummi.

"Iya ya, Ummi. Kasihan adik bayi, belum bisa bangun atau jalan sendiri. Kalau Kaka Hawa kan udah gede ya. Udah bisa jalan, bisa bikin susu sendiri. Hehehe..." berkata begitu Kaka Hawa sambil tertawa. Diciumnya pipi adik El.

Dipekuknya Kaka Hawa oleh Ummi. "Makasih ya, Ka. Ummi harap Kaka bisa sabar kalau minta apa-apa ke Ummi."

"Iya, Ummi. Maafkan Kaka, ya. Nanti kaka jagain kalau Ummi bikinin susu buat kaka. Eh, Kaka bisa bikin sendiri ding!"

"Hebat anak Ummi. Ummi bangga deh sama Kaka yang mandiri."

"Iya dong, anak Ummi," berkata begitu sambil berlalu menuju dapur. Ketika ditanya Ummi, ia menjawab akan bikin susu sendiri.

#OneDayOnePost#
Tantangan menulis sekali duduk, jam 01.18 - 01.52

22 April 2016

Aku

Aku...
Hanya dawai kecil 
Yang tak pernah lelah berdenting

Aku...
Hanya sebuah bintang
Yang sinarnya tak begitu terang

Aku...
Hanya sebentuk malam
Yang gelapnya tak selalu mencekam

Aku...
Hanya sebuah sajak
Yang hadirnya sering tertolak

Aku...
Hanya sebentuk hati
Yang terkadang merintih

Aku...
Hanya segenggam rasa
Yang tak ingin dipaksa

Aku...
Adalah sebuah cinta
Yang siap ada
Dan selalu akan bersama
Merengkuhmu saat kau terjatuh
Mendekapmu kala tersungkur

Aku...
Yang kini tertunduk
Menantimu dalam semu
Menunggumu setiap waktu
Dalam pekatnya ruang rindu

Pelangi Hatiku, Jumat, 22 April 2016

#OneDayOnePost

21 April 2016

Kado Untuk Dede

September 2014...
Allah menitipkan aku di rahim Ummi. Siapa Ummi, wanita yang seperti apakah beliau? Sama sekali aku belum mengenalnya. Ummi pun baru mengetahui aku ada di rahimnya setelah aku berusia 6 minggu. Ummi juga menyambutku dengan sedikit kaget, apalagi sosok yang dipanggil Abi oleh Ummi. Sepertinya aku tidak diterima. Aku sedih...

Oh, ternyata Ummi sayang aku. Dielusnya selalu aku yang masih kecil, tentunya perut Ummi juga belum besar. Buktinya Ummi masih memakai celana kalau berangkat kerja. Aku suka ucapan Ummi di setiap bangun tidur, setelah membaca doa bangun tidur, sambil mengelus perut, Ummi berkata, "Dede sayang, hari ini jadwal kita padat merayap. Dede yang baik dalam perut Ummi. Kita have fun ya seharian ini."

Aku selalu suka kata-kata Ummi. Jadilah Ummi tak pernah mabuk seperti orang ngidam pada umumnya. Pun malam menjelang tidur, Ummi akan memujiku. "Dede hebat hari ini, baik sama Ummi. Jadinya Ummi kuat menjalani hari ini. Makasih ya, De."
Bahagianya bersama Ummi.

Selalu ikut kemana pun Ummi pergi, membuatku tahu yang dimaksud jadwal padat merayapnya. Pagi-pagi setiap jam 03.00 Ummi sudah bangun bersama Abi. Abi pergi mengambil dagangan ayam yang akan dijualnya keliling kampung. Ummi akan asyik bercengkerama dengan penguasa langit, Allah yang dicinta. Baru pada pukul 04.00 Ummi akan memulai aktivitasnya. Memasak, membuat bekal sekolah untuk Kaka Hawa yang masih sekolah TK dan bekal untuk Kaka Bila yang sudah SMP. Oh, ya, aku punya dua kaka yang cantik. Nanti aku ceritakan lagi ya. Sekarang akan aku lanjutkan tentang aktivitas Ummi.

Selesai memasak Ummi akan berbenah sebentar, lalu menyiapkan keperluannya sebelum berangkat sekolah. Cek ricek keperluan Kaka Hawa, bergegas mandi, sarapan bertiga, lalu cuuusss, Ummi membawaku dan dua kaka cantikku berangkat. Kaka Bila hanya sampai depan dan akan melanjutkan ke sekolah dengan diantar pak sopir angkot. Kaka Hawa dianter ke Wa Ita, pengasuh kaka Hawa dari bayi. Wah, aku pasti juga akan diasuh Wa Ita jika sudah lahir nanti. Kan nggak mungkin Ummi mengasuhku, Ummi kan ngajar, pasti aku akan dititipkan selama ngajar.

Tempat ngajar Ummi itu jauh sekali. Kata Ummi kalau cerita padaku sewaktu di jalan, 39km jarak tempat tinggal sampai ke sekolah Ummi. Wow, jarak yang bagiku luar biasa. Saat Ummi mengandungku, jalanan menuju sekolahku bukan jalan yang mulus seperti jalan tol. Tetapi jalanan yang banyak lubang, belum lagi jalanan bekas longsor yang kalau musim hujan akan seperti lumpur tanah merah. Belum lagi kelokan, tanjakan, bahkan turunan yang terjal dam curam Ummi lewati menggunakan motor vario CW hitamnya. Ingat juga jembatan yang menghubungkan dua desa ke sekolah Ummi, dibongkar dan Ummi harus berputar melewati bukit merah. Syerem jalannya. Jembatannya diganti menggunakan bambu yang disusun. Jika turun hujan lebat, jembatan bambunya akan hanyut, dan Ummiku akhirnya pulang lagi nggak bisa ngajar. Meskipun medan seperti itu, Ummi selalu rajin ke sekolah. Tak peduli hujan dan jalanan yang tak bersahabat. Ummi akan memintaku kuat, jika melewati jalanan jelek penuh batu dan lubang.

Sepulang ngajar Ummi tidak pulang ke rumah. Tapi Ummi masih harus berkunjung ke murid private Ummi. Terkadang dua anak dalam sehari. Meskipun kata Ummi sejak ada aku, jadwal les private Ummi sudah dikurangi. Les private ke mas Jiva, bang Arya, bang Abi, kaka Ara, bang Bilfil, kaka Rani, dan kaka Naila. Selesai les pasti malam. Nggak kebayang capeknya Ummi, namun Ummi tak pernah mengeluh capek. Jempol buat Ummi!

Serunya bersepeda motor dengan Ummi adalah saat Ummi membawa kuda besinya dengan kecepatan lebih dari 50. Di dalam perut Ummi aku ikut senang, perjalanan yang mulai melelahkan Ummi seiring aku yang makin besar di perut Ummi.

Desember 2014
Ingat bulan tersebut, Ummi? Hari itu UAS anak-anak Ummi ya? Hari Kamis Ummi berangkat sudah agak siang. Memacu si hitam lebih cepat dari biasanya sejak memasuki jalanan. Aku sih senang-senang saja. Hampir sampai perbatasan Citeureup menuju Sukamakmur, pas di turunan, ada ayam jantan yang melenggang santai menyeberang jalan. Bermaksud menghindar dari ayam jago, malah Ummi menabrak ayam tersebut. Ummi kaget dan akhirnya mengerem mendadak. Aku terkejut, Ummi. Ummi terjatuh dengan posisi perut Ummi terhantam aspal. Ada aku, Ummi. Aku teriak. Ummi...

Si Hitam tergeletak tak jauh dari tubuh Ummi. Ummi kesakitan, tangan kiri nggak bisa diangkat, kaki kanan dari betis sampai telapak kaki tergerus aspal. Tak ketinggalan dua lutut, tangan kanan dan kiri, serta punggung tangan kanan dekat jari penuh luka. Ada darah merembes dari celana Ummi. Ummi meringis menahan sakit pastinya. Tapi bisa langsung berdiri dan berjalan ke tepian, khawatir ada mobil atau motor dari seberang jalan. Motor Ummi dibawa oleh penduduk. Ummi menahan sakit, mengolesi luka dengan obat merah pemberian warga sekitar. Celana dan kaos kaki Ummi bolong, jaket Ummi juga. Aku nggak tega lihat Ummi. Ummi mulai terisak ketika ada warga yang menanyakan tentangku. Warga itu seperti nya melihat perut Ummi yang buncit setelah jaket dilepas. Ummi takut ada apa-apa denganku, aku baik-baik saja, Ummi.

Ternyata peristiwa jatuhnya Ummi dari motor bukan hanya sekali itu saja. Bulan Februari 2015 Ummi jatuh lagi. Kali ini karena jalanan bekas hujan, pas turunan juga, di jalanan bekas longsor. Luka Ummi tidak terlalu parah. Hanya kedua lutut lecet dan baju Ummi kotor lumpur. Jatuh ketiga kalinya di tempat yang sama. Duh, Ummi, Ummi pasti kecapekan dengan seabrek kegiatan sehingga mudah jatuh. Sejak itu Ummi nggak pernah kenceng bawa motornya. Dan Allah begitu sayang dengan kita ya, Ummi, meskipun jatuh tiga kali selama hamil, aku tetap berada dalam posisi yang bagus.

Sejak Desember Ummi sudah memanggilku dede El. Nggak tahu El siapa, setiap kaka Hawa bertanya nama lengkapku. Ummi hanya panggil aku El. Senangnya hatiku sudah memiliki nama sejak dalam perut.

April 2014
Kata dokter dan bidan, aku akan lahir bulan Mei. Ummi selalu berbicara padaku agar aku lahir tanggal 7 Mei, supaya unik tanggal lahir anak Ummi. Kaka Bila lahir tanggal 9 Mei, kaka Hawa tanggal 8 Mei, nah Ummi berharap aku lahir tanggal 7. Tapi rupanya aku ingin memilih tanggalku sendiri ya , Ummi. Pada tanggal 20 April 2015 Ummi dikasih ijin oleh bapak kepala sekolah agar tak usah ke sekolah. Ummi disuruh istirahat, karena anak kelas Ummi sedang libur dikarenakan sedang TUC 3. Ummi mengajakku membeli perlengkapan untukku. Hore, aku akan memakai baju lucu setelah lahir nanti.

Akhirnya tanpa mules atau apapun, Ummi melahirkan aku di tanggal 21 April pukul 22.45. Eh, bu bidannya juga belum turun dari lantai dua pas aku lahir. Aku sudah tak sabar ingin melihat Ummi, Abi, dan dua kakakku yang cantik. Aku lahir bertepatan hari Kartini. Bersyukur sekali aku tidak diberi nama Kartono ya oleh Ummi. Hehehe...

Aku lahir dengan jenis kelamin laki-laki, berat lahir 3.2kg, panjangku 48cm. Aku ganteng kata Ummi dan kaka Bila. Tangisku yang melengking menggambarkan kebahagiaan Ummi dan Abi. Aku menjadi pesaing Abi soal kegantengan. Banyak doa yang terucap untuk Ummi dan aku. Aku akan selalu menjadi kebanggaan Ummi.


#OneDayOnePost
Tulisan ini Umni buat untuk Kamil Ahsan El Ghifari yang hari ini berusia satu tahun. Happy Milad ya, Dede El, Barokallah fii umrik.

20 April 2016

Sepenggal Kisah

Menyusuri lorong keluar dari stasiun Tugu, berjalan pelan dengan perasaan tak menentu. Ada harap semoga terjadi, tapi terselip juga sebuah ketakutan, tak akan bisa bertemu. Lalu lalang orang keluar masuk stasiun Tugu sedikit mengobati cemasku. Mereka yang berjalan pelan, ataupun seperti berkejaran dengan waktu. Sedikit memacu kecepatan langkah kaki agar cepat sampai sepertinya. Kedua kakiku sengaja kulangkahkan perlahan saja. Terasa ringan badanku, separuh raga seperti terbang meminta sang waktu agar berpihak kepadaku.

Kini aku berdiri di depan stasiun Tugu. Menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sosokmu, siapa tahu sudah menungguku. Celingukan di antara hiruk pikuk keramaian stasiun, sosok tinggi yang kumaksud tak nampak juga. Mungkin sebentar lagi, doaku dalam hati. Meskipun sebagian doaku menguap, mengingat percakapanku denganmu dua hari lalu ketika aku membeli tiket kereta untuk menemuimu ke Jogja.

"Ade mau ngapain ke Jogja? Aku belum tentu bisa menjemputmu, batalkan saja ya," ucapmu ditelfon ketika aku kabarkan bahwa aku hendak ke Jogja menggunakan kereta api. Tiket yang waktu itu sudah kupegang, tak membuatku mengurungkan niat.

"Aku sudah terlanjur beli tiketnya," pelan aku menjawabnya. Kudengar desahan berat nafasmu membalas jawabanku.

"Kenapa tak bisa menjemputku di stasiun?" tanyaku kembali, kini dengan suara nyaris tak terdengar. Sudut mataku sudah berkumpul cairan bening yang siap tumpah.

Kembali kau menarik nafas berat. "Nggak bisa dibatalkan, De?"
Kujawab pertanyaanmu dengan gelengan kepalaku, tanpa sadar, seolah kau melihat jawabanku. Padahal kau ada di seberang telfon, tak mungkin melihat.

"De," lirih suaramu memanggilku. Sekuat hati kutahan isak yang hampir keluar. 
"Iya,"
"Batalkan ya," masih memintaku dengan lembut. 
"Mas repotkah hingga tak bisa menjemputku?"
"Besok lusa mas ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Mas nggak tahu jam berapa selesainya acara. Takutnya sampai malam." jelasmu.

Kedua mataku semakin memanas, perlahan mulai turun bulir-bulir dari telaga mataku. Sebisa mungkin isak ini kutahan, agar kau tak mendengarnya.

"Nggak apa-apa kalau mas ada acara. Aku tetap akan ke Jogja, tiket sudah kubeli, sayang kalau tidak berangkat." sekuat hati kujelaskan rencanaku. Tanpamu atau denganmu, aku akan tetap berangkat, keputusan yang kini membuatku tak karuan saat kakiku sampai di kotamu.

Tiga puluh menit berlalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung di samping mini market pintu pembelian tiket kereta. Mataku mulai siap-siap menumpahkan telaganya. Berkali-kali menatap layar ponsel, berharap kau menelfonku sekedar mengabarkan kalau kau tak bisa.

Kutarik selembar tisu, mengusap sudut-sudut mata. Menahannya agar tak menjadi tangisan. Lebih baik aku tetap berjalan menyusuri Malioboro mengusir segenap rasa cemas yang mulai memenjaraku.

Rintik hujan menemani langkahku berjalan menyusuri Malioboro. Ramai sekali dengan wisatawan. Suara pedagang satu dan lainnya bersaing menjajakan dagangannya. Aku hanya tersenyum menanggapi rayuan setiap pedagang. Tak berniat membeli, hanya ingin mengusir sebentuk rasa yang mulai tak enak. Seiring waktu yang terus menggelinding, menyisakan senja yang akan menghampiri. Masih sepi dari harapan kedatanganmu. Puas berjalan sepanjang Malioboro, aku kembali memutuskan kembali ke stasiun. Memesan tiket untuk kembali pulang, dan mencoba untuk menghubungimu.

Berkali-kali terdengar mail box menjawab telfonku. HP mu mati rupanya. Terduduk lemas di sudut stasiun dengan tiket kepulangan jam 19.00 sudah kupegang. Kau benar-benar tak muncul, bahkan tak memberiku kabar. Kau tak berusaha untuk muncul sekejap saja. Bukankah kesibukanmu untuk menyiapkan hidangan pernikahan ada di sepanjang Malioboro juga? Menjadi sosok penting dari sebuah acara, membuatmu tak menyempatkan mengabariku. Apakah Chef sepertimu harus stand by selama acara berlangsung?

Aku membeku dalam tangisan kecil yang tertahan. Tertunduk dan sesekali mengambil tisu untuk mengelapnya. Waktu berputar dan tak berpihak kepadaku. Sebentar lagi kereta yang akan membawaku kembali tiba. Kuketik sebuah pesan singkat, "Aku pulang, Mas. Naik kereta jam 19.00."

Sudahlah, putusku dalam hati. Bagaimana pun juga, aku tak bisa memaksamu untuk datang dan meninggalkan tugasmu. Aku yang salah, tetap nekat datang padahal kutahu, kau sudah mengatakan tak bisa. Gontai dan masih menyisakan air mata, tapi kakiku tetap menyusuri lorong stasiun tugu. Berharap kereta cepat datang sehingga aku bisa melepaskan lelah di dalam kereta. Syukur-syukur kalau kereta sepi, bisa membuang kembali sedih yang mendera.

Pesanku terkirim. Tepat pukul 19.00 kulihat kereta dari arah barat, perlahan bergerak ke arah timur. Berhenti gerbong ketiga di hadapanku. Segera aku naik dan mencari duduk sesuai nomor yang tertulis. Sepi, hanya ada penumpang di kursi seberang. Berarti aku duduk sendiri. Kurapatkan jaket coklat yang membungkus tubuhku, mengusir dinginnya AC dari kereta. HP bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Namamu terlihat dari layar ponselku.

Kuabaikan panggilan telfonmu. Sekali, dua kali, hingga empat kali seiring berangkatnya kereta mengantarku pulang. Tanpa sadar aku kembali menangis. Sedih luar biasa. Berharap bisa berjalan menyusuri Malioboro bersamamu seperti tahun lalu, ternyata menyisakan luka. Kunikmati perjalanan keretaku. Inginnya memejamkan mata, mengusir rasa sedih.

Kembali ponselku bergetar. Akhirnya kuangkat telfonmu. Membalas salammu pelan, karena tangisku masih meraja.

"De," pelan suaramu memanggil. Aku tak berniat menjawab. Kubiarkan suaramu menggantung.

"Sudah jalan keretanya?"
"Sudah,"
"De, maafkan mas," kau meminta maaf.
Aku kembali terjebak dalam diam. Aku yakin kau pun mendengar isakku.
"De," kembali suaramu memanggilku pelan. Entahlah apa yang sedang bergelut dalam benakmu.

Tak berniat menjawab panggilanmu. Kubiarkan kebisuan ini menemaniku. Aku yang biasanya ramai dengan cerita, nampaknya kehabisan cerita. Kau di seberang pun membiarkan kebisuan ini, dan hanya mendengarkan tangisku berlomba dengan jeritan kereta yang melaju.

Cukup lama keadaan ini kubiarkan, hingga aku memutuskan. 
"Sudah ya, aku tutup telfonnya. Sayang pulsanya,"
Lama kutunggu jawabanmu, hingga keluar suaramu.
"Hati-hati ya, De," akhirnya kau menjawab dan kututup segera telfonmu. Aku hanya ingin menuntaskan tangisku. Tanpa diganggu.

Sudahlah, tak usah menangis lagi. Ini memang kesalahanku. Hiburku dalam hati.

Ada pesan masuk ketika aku akan memasukkan ponsel ke dalam tas kecilku. Pesan darimu.

"De, semoga ada maaf untuk mas. Kuharap esok mas masih bisa mendengar suaramu. Tangis dan diammu tadi sudah cukup menghukumku. Tak ada yang salah hari ini, hanya waktu yang belum bisa berkompromi dengan kita. Besok pagi aku akan menyusulmu. Telfon mas jika sudah sampai di rumah. Hati-hati ya, De."


#OneDayOnePost
Secuiltulisanuntukmu

19 April 2016

Penghuni Baru

"Meong." Ada suara kecil membangunkan tidurku. Kubuka mataku perlahan, siapa lagi yang masuk dalam zona nyamanku, mengganggu keasyikanku dalam merajut mimpi indah. Badannya putih bersih, ada warna hitam hanya di bagian tubuh tertentu, yaitu di kedua mata dan empat kakinya. Kutaksir kira-kira umurnya baru tiga bulan. Badannya sungguh kurus, tapi rambut yang menutup tubuhnya sungguh halus. Seperti perpaduan dari kelompokku dan kucing kampung. Dia mendekatiku, langsung kepalaku tegak menatapnya garang.

"Brrr," belum bersahabat rasanya setiap Ummi membawa pulang penghuni baru dengan alasan menemaniku atau karena kasihan. Meski aku tahu, aku lah yang paling disayang di rumah ini.

Badannya yang kecil mundur ke belakang, terduduk tapi matanya tetap menatapku. Dari aromanya dia jantan sepertiku. Lihatlah ekornya, pendek dan melingkar sepertiku. Lucu rasanya mendapati ada yang ekornya sama dengan ekorku.

"Babang, nggak boleh galak! Semua dipelihara di sini, harus baik!" Ummi mengelus tubuhku.
"Yang ini Ummi kasih nama Chiko ya, Babang harus jagain dia. Chiko masih kecil, kasihan."

Oh, Ummi memberinya nama Chiko. Nama yang bagus. Chiko langsung mengeong manja di kaki Ummi. Huh, kurebahkan lagi badanku di bantal kesayanganku. Sebel rasanya, Ummi pasti akan lebih sayang Chiko dibandingkan aku, yang sudah lama menjadi kesayangannya.

"Babang, bangun ah! Ajak Chiko berkeliling dulu, kasih tahu ke dia untuk bersih ya," kata Ummi membangunkan tubuhku. Dengan terpaksa aku bangun, meliukkan sejenak tubuhku dan menatap garang Chiko. Chiko dengan gembira mendekatiku, sedangkan Ummi berlalu dari kami. Akan menyiapkan makan buat Chiko dan aku, katanya.

"Aku Babang Sinus, tapi Ummi memanggilku Babang. Di sini kamu harus bersih, nggak boleh pup ataupun kencing sembarangan, harus mau dimandiin sama Ummi. Jelas?" tegasku kepada Chiko.

Chiko menganggukkan kepalanya. Ummi memanggil kami untuk bergegas ke dapur, menikmati santapan sore kami. Nasi dengan campuran ikan tongkol yang sudah digoreng dan diaduk rata bersama nasi. Semangkuk kecil susu juga sudah ada di samping piringku dan piring Chiko. Ummi tahu, aku paling tidak suka makan sepiring berdua dengan makhluk lain. Syukurlah, jadi aku bisa puas menikmati makananku tanpa ada yang mengganggu. Lahap kusantap tak bersisa nasi di piringku. Di sebelahku, Chiko juga melahap habis makanannya. Terlihat lapar benar ia, sampai-sampai semangkuk susunya juga tandas tak bersisa. Selesai makan, mata Chiko menatapku, seolah ingin meminta tambah dari sisa susu jatahku.

"Kamu masih mau minum susu?"
Dijawabnya pertanyaanku dengan meong dua kali. Kuangsurkan mangkok susu milikku. Dengan cepat dijilatnya susu yang aku sodorkan. Aku hanya geleng-geleng kepala. Ni kucing kecil berapa hari belum makan, sampai jatah susuku pun habis diambil.

"Terima kasih, Babang," Chiko mendekat ke tubuhku dan mengelus tubuhku. Terselip rasa iba dan mulai ada sedikit rasa sayang. Membayangkan sebelum diambil Ummi bagaimana ia hidup di luar. Makan seadanya, tidur di mana saja. Aku jadi ingat cerita Tatu, kucing yang matanya terluka dan dirawat Ummi sampai sembuh. Tatu menceritakan bagaimana ia harus bersaing mendapatkan makanan sekedar mengganjal perutnya yang menagih janji makan. Jika kuat, maka akan bertahan hidup di luar. Kalau tidak, ya, seperti Tatu. Akan terluka karena tidak tangguh dalam perebutan makanan.

Mengingat semua cerita Tatu, ia bersyukur sekali. Tinggal dengan Ummi, terlahir dari induk Oxi, besar dengan kasih sayang keluarga Ummi, makan kenyang dan tidur dengan hangat. Rasa iri memang suka mampir, manakala ada makhluk lain sepertiku ikut merasakan kasih sayang Ummi. Selalu bertambah penghuni yang Ummi pelihara bersama denganku. Ya, aku tak boleh iri. Mereka juga berhak mendapatkan kenyamanan sepertiku. Toh setiap bertambah penghuni baru, aku tetap menjadi kesayangan Ummi dan keluarganya.

Kujilat tubuh kecil di hadapanku. Ada teman main sekarang, selain Tatu dan indukku Oxi. "Yuk,  kita bermain di depan, sambil aku kenalkan dengan Tatu dan Oxi indukku." ajakku.

Kami pun tenggelam dalam permainan yang kami buat. Berlari-lari dan berkejaran. Sungguh mengasyikkan.



#OneDayOnePost

18 April 2016

Serunya Bermain

"Ummi, lihat de Hawa, mainan lumpur di lapangan sana," lapor ka Bila sepulang sekolah mendapati adiknya asyik bermain lumpur di lapangan kecil dekat rumahnya. Lapangan yang dimaksud bukan lapangan yang besar ukurannya, hanya lapangan kecil dengan ukuran 5 x 5 meter. Di samping utara lapangan terdapat rumah besar bercat coklat berpadu kuning dengan tanaman bunga yang rindang. Samping selatan lapangan kecil terdapat kebun pisang yang rimbun. Di barat lapangan dua empang berjejer, berisi ikan lele. Semalam hujan turun cukup lebat, menyisakan air di tanah, sehingga memudahkan Hawa bermain lumpur dan tak memedulikan bajunya bercampur lumpur hingga tak nampak lagi aslinya.

Ummi hanya tersenyum mendengar aduan sulungnya. Tadi Hawa sudah pamit akan bermain dengan teman-temannya setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Ummi memberikan waktu satu jam untuk bermain sebelum pergi mengaji. Dan baru tiga puluh menit Hawa bermain.

"Nanti sekalian mandi setelah selesai bermain," kata Ummi.
"Bajunya itu lo, Mi. Kotor banget."
"Namanya juga bermain lumpur, Ka. Pasti kotor," Ummi menanggapi masih dengan santai.

Begitulah Ummi, membiarkan kami puas bermain di luar. Ingat dulu kecilnya, lumpur, layang-layang, kelereng, bahkan sampi bermain korek api sudah pernah ia coba. Hingga ia tak pernah penasaran. Bahkan saat malam hari, jika ia ingin bermain, Ummi akan mengajaknya bercerita membayangkan terbang ke langit memetik bintang, lalu membawanya turun untuk disimpan di kamarnya. Bahkan ia pernah menginginkan bintang itu disimpan dalam kotak miliknya, dan akan ia kunci supaya tak ada lagi yang bisa mengambilnya. Tak sadar ia tersenyum membayangkan masa kecilnya. Ada rindu ingin mengulang saat-saat ia puas bereksplorasi seperti adiknya sekarang ini.

"Ummi, kenapa sih, Ummi tak pernah melarang kami, anak perempuan Ummi memainkan pernainan anak laki-laki?" tanya Bila duduk dekat Ummi yang sedang asyik di depan laptopnya. 
"Ummi nggak takut anaknya jadi tomboi?"

Kembali senyum ummi paling manis dihadirkan untuk menjawab pertanyaan sulungnya. 
"Ummi tak pernah takut kalian akan jadi tomboi. Jika kalian pernah bermain permainan anak laki-laki, bukan berarti kalian jadi laki-laki kan? Jadi tomboi atau kemayu untuk anak laki-laki bukan dari pernainannya, tapi pemikiran yang dibentuk."

"Maksudnya, Mi?" tanya ka Bila masih penasaran.

"Ketika anak lelaki bermain masak-masakan, sering orang tuanya mengatakan, jangan mainan ini, ini mainan anak perempuan. Nah, pemikiran begini yang akhirnya secara tak sadar terbentuk di benak anak lelaki, bahwa untuk bisa bermain masak-masakan harus menjadi perempuan. Begitu sayang."
Ka Bila menganggukkan kepalanya. Ummi memang the best deh!
"Panggil adikmu, sudah waktunya mandi dan pergi mengaji," pinta Ummi ke ka  Bila untuk memanggil adiknya.

Belum sampai ka Bila memanggil, adiknya muncul sambil tertawa. "Ummi, aku tadi bikin bakso dari lumpur yang aku bulet-bulet. Seruuuu," cerita Hawa.

"Sekarang mandi ya, lalu mengaji,"
"Siap, Ummi sayang!" Hawa langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan jejak lumpur di lantai, disambut gerutuan kecil ka Bila karena harus membersihkannnya.


#OneDayOnePost
tantangan empat kata dalam tulisan, lumpur, bintang, rindu, kunci

15 April 2016

(Bukan) Negeri Impian

Ini bukan tentang negara yang sebenarnya, ini hanya tentang sebuah negara yang ada di sebuah belahan tanah berpijak yang dihuni oleh makhluk yang mencoba mengatur negaranya menjadi negara yang diimpikan oleh semua makhluk di belahan tanah manapun.

Negara ini hanya negara dongeng, potret negara yang akan menyajikan tayangan sekilas dan mungkin akan menggelitik pembaca agar tersenyum dari keruwetanmya.

Negara dongeng ini hanya berpenghuni makhluk-makhluk yang semuanya akan menjawab iya kepada setiap perintah pemimpinnya. Negara ini bernama Negara Angguk. Dipimpin oleh bupati yang bernama Angguk. Bupati Angguk adalah bupati yang belum lama memimpin negara ini kecil ini. Tapi bupati Angguk sudah memberikan kebijakan yang luar biasa, sehingga para penduduknya selalu memberikan jawaban anggukan kepala jika keluar sebuah perintah atau peraturan.

Di sekitar kekuasaan Bupati Angguk, terdapat tokoh yang juga berperan aktif dalam mewujudkan segala kebijakan yang dikeluarkan. Dialah Pembaca, ahli membaca setiap hal detik dari apa yang tidak nampak oleh bupati Angguk. Pembaca ini banyak memberikan masukaan kepada bupati Angguk, yang membuat pemerintahannya akan bertahan lama. Setiap keluar kebijakan baru, bupati Angguk mendapatkannya dari Pembaca. Karena Pembaca mampu melahap hal apa pun untuk dibaca dan diserapnya. Sayangnya tak semua kebijakan dari bupati Angguk mendapat kata sepakat dari seluruh makhluk yang dipimpinnya. Inilah masalah mulai muncul.

Waktu itu bupati Angguk memberikan maklumat agar seluruh penduduknya meninggalkan kebiasaan buruknya, yaitu kebiasaan buruk bangun saat matahari sudah panas menyombongkan sinarnya. Meminta kepada semua penghuninya agar segera pergi ke tempat kakek Pustakawan  sebelum matahari menyombongkan sinarnya, untuk meminta wejangan. Karena kakek Pustakawan adalah kakek yang lebih tahu tentang segalanya dibandingkan dengan Pembaca.

Tak semua penduduk meyetujui perintah bupati Angguk. Baru kali ini perintah bupati ditolak. Ada beberapa yang menganggap pergi ke kakek Pustakawan hanya akan membuang waktu. Di tempat kakek Pustakawan pasti hanya akan disuguhi nasehat-nasehat yang tentunya akan membosankan. Dan bupati Angguk tahu itu. Maka dipanggillah penduduknya yang tidak mematuhi aturannya. Didatangkan pula kakek Pustakawan dan Pembaca yang selama ini menjadi tangan kanannya. Di atas podium besar, bupati Angguk berdiri dan menyuarakan kehendaknya.

"Wahai pendudukku yang hebat. Di sini ada kakek Puatakawan yang akan memberikan gambaran asyik jika kalian pergi ke tempatnya. Di sana akan selalu menarik dan menyenangkan. Kalian akan menjadi lebih hebat."

Kakek Pustakawan kemudian mengeluarkan sebuah benda yang bisa mengeluarkan sesuatu sesuai yang diucapkan. Ditekanlah alat tersebut oleh kakek Pustakawan setelah ia mengatakan "roti panggang", dan keluarlah roti panggang.  Kemudian berkatalah ia, "Ini adalah alat yang sudah dihasilkan oleh kalian yang sudah pergi ke tempatku. Mereka membuatnya dengan semangat. Sehingga hasilnya juga bagus. Kakek berharap akan banyak karya yang bisa kalian buat setelah datang ke tempatku. Karena tempatku adalah tempat semua ilmu yang telah aku kumpulkan. Sehingga kalian akan mencoba dan mencobanya. Pemimpin kita bupati Angguk dan penasehat Pembaca sudah membuktikan sebelum meminta kalian ke tempatku. Makanya setiap kebijakannya selalu benar. Tak bisa dibantah, karena ilmunya yang sudah diserap oleh Pembaca, tangan kanan bupati."

Melihat hasil karya yang diciptakan beraneka macam, semakin membuat penghuninya tertarik. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju dan berjanji akan rajin berkunjung ke tempat Puatakawan memenuhi perintah bupati Angguk dan penasehat Pembaca.

#OneDayOnePost

14 April 2016

Pasti Bisa

"Assalamu'alaikum," Hening membuka pintu, mengucap salam, masuk ke dalam rumah, melemparkan tas punggung sekolah bergambar Frozen asal melempar tanpa melihat bakal mengenai apa, dan yang terakhir dua sepatu hitamnya ia lemparkan pula tak lama berselang setelah tasnya mendarat dengan sukses di anak tangga ketiga. Satu sepatunya terlempar dekat dengan tas, satu lagi entahlah, Hening tak berniat melihatnya ada di mana. Bibir Hening persis seperti paruh bebek, maju beberapa senti ke depan, wajahnya benar-benar menampakkan kekesalan luar biasa. Seandainya bisa dikuncir, pastilah bibir Hening dapat dikuncir. Dengan langkah gontai seperti pahlawan yang kalah berperang Hening duduk di sofa. Ibu yang melihat tingkah Hening hanya geleng-geleng kepala setelah membalas salam Hening. Pasti ada yang tidak beres dengan putri cantiknya.

"Wah, putri mama sedang capek ya? Ada apa, sayang?" tanya mama sambil memeluk tubuh Hening. Dipeluk mama, membuat Hening merasa nyaman. Sejenak melupakan kekesalannya yang dialami di sekolah.

"Ma, tadi aku belajar tentang kilometer meter gitu. Tapi aku nggak ngerti-ngerti juga caranya gimana. Urutan tangganya juga nggak hafal," akhirnya Hening menceritakan apa yang membuatnya kacau sepulang sekolah.

"Aku harus gimana dong, Ma? Masak aku yang biasa jago ngitung soal gitu aja aku nggak ngerti-ngerti? Bantu aku ya, Ma."

Mama mengelus kepala Hening dengan sayang. Memahami kekesalan yang dirasakan oleh putrinya. Setiap ada hal yang belum dipahami di sekolah oleh putrinya, Hening selalu membawanya hingga pulang ke rumah. Menumpahkan kekesalannya pada mama.

"Sekarang Hening sholat dhuhur dulu, lalu makan siang, setelah itu akan mama bantu kesulitan Hening."

Hening menganggukkan kepalanya. Sebelum Hening beranjak dari sofa, mama berpesan agar merapikan tas dan sepatu sekolahnya ke tempatnya. Dengan lagak seorang tentara, Hening menjawab pesan mama. Gurat kekesalan sudah sedikit berkurang, nampak dari wajah Hening yang mulai mengukir senyum si bibir dan menapaki tangga untuk sampai ke kamarnya dengan dendang lagu dari bibirnya.

Berganti pakaian dengan segera, menggantinya dengan kaos biru bergambar Doraemon tokoh kartun kesukaannya, dengan celana pendek selutut warna hitam, Hening bergegas ambil wudhu, sholat, dan menuju meja makan untuk menyantap masakan mama yang sudah disiapkan. Dilihatnya mama asyik menggunting karton di lantai bawah. Mama bikin apa ya? Batin Hening mencoba menebak. Ah, makan sajalah, toh nanti selesai makan ia turun dan menanyakannya kepada mama.

"Mama bikin apa?" tanya Hening melihat mama masih sibuk menggunting. Mama menuliskan dengan spidol besar warna hijau muda kilometer sampai milimeter dari karton. Hening semakin penasaran dengan kejutan dari mama untuk membantunya memahami pelajaran tadi pagi di kelasnya.

"Yuk, bantu mama menempelkannya di tangga ya. Yang paling atas kilometer, urut ke bawah yaa," mama menjelaskan.

Oh, Hening mulai mengerti maksud mama. Dengan semangat empat lima Hening langsung menempel setiap karton di setiap anak tangga sesuai kata mama. Setelah selesai, mama mengajak Hening berada di tangga paling atas.

"Hening hafal lagu Pelangi- pelangi kan? Kita turun sambil nyanyi lagu itu ya. Lihat dari karton yang Hening tempel ya. KM kilometer, HM hektometer..." ucap mama dengan memberi contoh lagunya.

Hening melafalkan sebentar lagu pelangi dan kemudian mencoba menyanyikan lagu satuan panjang dengan nada pelangi. Hening kemudian menggandeng tangan mama mulai menuruni anak tangga. Dengan ceria Hening menyanyikannya, mengulangnya kembali sambil bernyanyi hingga ia hafal.

"Hore, hafal, Ma. Terus gimana caranya menghitung, Ma?"

Mama kembali tersenyum. Satu permasalahan Hening sudah bisa dilewati. Tinggal cara menghitungnya.
"Ingat, Hening, jika kita turun dari tangga, kalikan dengan sepuluh. Satu tangga turun kali sepuluh ya. Ayo, kita tempel panah turun dan angka sepuluhnya, sambil Hening tentukan angkanya jika Mama menyebutkan soal." Mama menjelaskan dan memberikan contoh angka kepada putrinya.

Hening dengan cepat naik lagi ke tangga atas, kemudian turun sesuai permintaan angka dari mama. Berdiri di tangga kilometer Hening diminta turun ke tangga dekameter, lalu Hening menyebutkan hasilnya. Turun dua tangga berarti dua kali dikalikan sepuluh. Berulang kali ia melakukan turun tangga sesuai soal yang diberikan mama. Hening kembali bersorak, ia sekarang paham pelajaran yang tadi pagi ia anggap sulit.

Mama juga mengajak Hening naik tangga dari tangga paling bawah, tangga milimeter. Mama menjelaskan bahwa setiap naik dari tangga, dibagi sepuluh. Dan Hening kembali menyelesaikan soal dari mama.

"Berhasil, berhasil, berhasil, hore!" Hening berjingkrak gembira, nggak nyangka ternyata ia bisa. Dipeluknya mama dengan cinta. "Makasih ya, Ma, aku jadi paham."

"Semua akan mudah jika kita bersungguh-sungguh, sayang. Harus selalu yakin bahwa kita pasti bisa!" Mama membalas pelukan Hening.

Benar kata Mama, harus yakin kita pasti bisa. Hening sayaaaang Mama. Ucap Hening dalam hati kembali memeluk mamanya.


#OneDayOnePost
tantangan analogi kedua

13 April 2016

Sejenak Bersamamu

Duh, debar di dada tak kunjung berhenti, tapi justru semakin cepat, seperti derap kaki kuda yang berbaris mengarak pawai di jalanan. Tenanglah, wahai hati yang tak sabar, rapalku berulang-ulang agar jantung ini tak meloncat keluar karena saking cepatnya berdetak.

Seperti apa ya kamu sekarang? Masihkah kurus tinggi dengan rambut belah tengah, hidung mancung, serta senyum manisnya itu lho. Ah, apa sih yang sedang aku khayalkan. Semoga kamu masih ingat aku, harapku dalam hati.

Kuamati ponsel di tangan kananku. Rasa tak sabar menunggu waktu yang serasa lama berdetak. Masih belum ada sms atau telfon yang mengabarkan ada di mana posisimu sekarang.

Sebaris sms bergetar masuk dalam ponselku. 
"Aku di depan, keluar saja dulu ya, " bunyi sms mu.
Hah,  depan mana? Depan mall kah? Kenapa tak masuk saja dan mencariku di jajaran food court ini? 
"Masuk saja dalam mall. Aku masih di dalam, di es teler 77," balasku segera.
"Oke, aku ke dalam."

Kuseruput es teh lemonku sampai tandas tak tersisa seperti gelas yang bocor, tak menyisakan dari yang kupesan. Berharap dinginnya air teh sedikit mengurangi rasa gugup yang makin memenjaraku.

Mataku tak lepas dari memandang arah pintu masuk. Nampak dari jauh sosok tinggi jangkung memakai jaket abu-abu, dengan dua tangannya masuk dalam kantong jaketnya, matanya terlihat mencari-cari ke dalam deretan orang yang sedang menikmati hidangannya di atas meja. Benarkah itu kamu? Sosok yang sedang kutunggu kurang lebih lima belas menit ini juga nampak menatapku dari jarak kurang lebih lima meter. Senyum kami langsung merekah saat kami saling mengenal. Kamu tak berubah dari fisik, batinku. Hanya wajahmu terlihat lebih dewasa, bukan lagi wajah kekanakan yang dahulu kukenal.

"Maaf, lama menunggu ya?" sapamu langsung duduk di depanku. Terlihat olehmu, aku yang salah tingkah, tangan dingin saat berjabat tangan tadi, dan mungkin mukaku pias seperti terpidana menghadapi hukuman mati di persidangan. "Tak ada yang berubah darimu, tetap kecil, tapi makin ayu wajahmu." ucapmu tanpa menghiraukan salah tingkahku kau tatap seperti itu. Tatapan mata yang masih sama, teduh menyejukkanku, membuatku selalu merasa nyaman tak ingin berpindah. Kutanggapi dengan cengengesan khas gayaku mendengar ucapanmu.

"Cepat habiskan makananmu, De. Atau kita ngobrol di sini saja?"

Aku terdiam, bingung lebih tepatnya. Sepuluh tahun tak bertemu, tentunya aku ingin lama berbincang dengannya.

"Hei, De!" kembali suaramu mengagetkanku. "Kok malah bengong. Sudah habiskan dahulu makannya, kita ke atas saja yuk, ngobrol sambil cari buku ke gramedia."

Aku hanya mengangguk setuju tanpa komentar apa-apa persis seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia masih hafal kebiasaanku, mengunjungi buku-buku yang rapi dipajang untuk sekedar membaca atau syukur-syukur membeli. Segera kuhabiskan nasi goreng pesananku. Kamu yang di hadapanku justru asyik menatapku memasukkan suap demi suap nasi goreng dalam mulutku.

Terukir senyum manismu saat tahu aku sudah menyelesaikan santapanku. Menggandeng tangan kananku beranjak menuju lantai tiga. Genggaman tangan kirimu yang kokoh hangat, menghantarkan getaran-getaran listrik sampai ke sudut hatiku. Kutatap wajahmu dari samping, tenang tanpa salah tingkah sepertiku. Jujur tak ingin kutarik tangan kecilku dari genggamanmu. Ya, aku nyaman digandeng olehmu, tak pernah takut. Bagaimanapun sepuluh tahun yang lalu kamu selalu melindungiku dari gangguan tangan-tangan usil yang menggodaku ketika bermain.

Merasa risih kutatap dari samping sepanjang naik ke lantai tiga, dipencetnya hidungku. Malunya aku, ketahuan menatap wajahnya tanpa kedip. Mukaku rasanya panas, mungkin pipiku juga merah merona, laiknya kepiting yang direbus.

"Kenapa, De?" tanyamu setelah memencet hidungku. "Ada yang ingin Ade ceritakan?"

Kugelengkan lemah kepalaku menjawab pertanyaanmu. Padahal dalam hati aku berujar, banyak, Mas, yang ingin kuceritakan. Tapi cukupkah waktu memberikan ruang kepada kita? Sedangkan aku tahu, Mas bisa keluar menemuiku sekarang juga di sela-sela kesibukanmu di resto.

Sampai di lantai tiga, langkah kaki kami langsung menuju deretan buku yang berjajar rapi dengan jenisnya masing-masing. Ditariknya tanganku menuju deretan novel. Mataku langsung terhenti, menarik tangannya agar ikut pula berhenti.

"Mau beli buku ini?" tanyamu menunjuk salah satu buku. Diambilnya buku yang sebenarnya memang sangat ingin kubeli, memasukkan ke dalam tas belanjaan. 
"Bagaimana kabar mas Wid? Sehat semua kan?"
"Semua sehat, alhamdulillah." kujawab pertanyaanmu sambil membolak balik halaman buku novel lainnya. Wajahmu menatapku. Diangkatnya daguku mendongak ke wajahmu. "Apa yang terjadi, De? Ade nampak murung. Ayo, ceritalah."

"Mas Ayub," pelan kusebut namanya. Kembali tatapan mata teduhnya menjawab panggilanku.
"Aku akan dijodohkan oleh mas Wid, dengan temannya." lirih kukatakan apa yang membuatku ingin bertemu. Ada perasaan yang terpendam selama sepuluh tahun tak bertemu langsung. Hanya dua bulan terakhir intens berkomunikasi melalui facebook. Baru kali ini bisa bertemu. Aku memendam rasa, Mas. Aku ingin berjodoh denganmu, bukan dengan pilihan mas Wid, rintihku.

"Terus, De?" tanyamu menunggu cerita ku. Wajahmu serius menatapku, tentu saja sedikit menunduk karena dia lebih tinggi dariku. Aku hanya sepundaknya jika berjalan.

"Aku nggak mau, Mas."
Kudengar nafasmu berat, menyisakan ruang yang tak pernah kutahu. Melihat tatapan matanya padaku, aku yakin, aku masih menjadi wanita dalam pelukan hatinya.

"Seandainya aku belum melamar seorang gadis, tentu aku akan meminangmu, De. Tiga bulan lalu aku melamarnya. Maafkan aku yang tak pernah mencoba mencari kabarmu selama sepuluh tahun. Saat bertemu di facebook, aku sudah melamar gadis itu." jelasmu.

Kedua mataku terasa panas, siap memuntahkan kesedihan dari sudut telaga. Tak bisakah dirubah? Toh janur kuning belum melengkung? Tuntut batinku. Jebol sudah pertahananku, mengalir juga apa yang kutahan dari tadi. Tanganmu mengusapnya pelan.

"De, maafkan aku,"
Aku hanya mengangguk. Tak ada yang perlu dipaksakan dalam setiap keputusan. Goresan tinta penguasa langit tentu lebih indah, jika kita mampu memaknainya dengan rasa syukur.

"De, senyumlah. Ini pertemuan kita sebelum Ade bersanding dengan pilihan mas Wid, dan aku dengan pilihanku. Aku hanya ingin melihat senyummu. Kamu tetap adikku."

Kuanggukkan kepalaku. Genggaman tanganmu kurasa makin erat. Jangan dilepaskan mas, setidaknya untuk terakhir ini, jeritku merintih.


#OneDayOnePost
tantangan analogi