04 April 2016

Janji yang Terpenuhi

She is very beautifull if she is wearing a shirt or jilbab with blue colour.

Tertulis tahun 1997. Tak sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Sebaris cerita akan kisah lampau kembali melintas di depan matanya. Seolah-olah membuat tubuhnya terbang sejenak ke masa yang sudah lewat. Waktu yang tak bisa ia minta untuk diputar kembali. Tetapi selalu menyisakan ruang tersendiri di dalam sudut hatinya. Ya, tak bisa dipungkiri, selembar kertas kecil lusuh ini masih ada di dalam dompetnya. Dompet yang tak sengaja ia temukan ketika siang ini ia mencoba berbenah isi lemari. Hanya sobekan kertas kecil dan tulisan di atas serta gambar setangkai mawar di bawah tulisan dengan tertanda, Joe'97.

Tahun 1998
"Serius ingin merantau ke Bandung?" tanya Joe ketika Ayi memintanya bertemu di perpustakaan daerah pagi ini. Nampak Joe menatap Ayi dengan wajah seriusnya. Tak nampak bercanda. Sudah dua kali ini ia mengatakan ia akan merantau ke Bandung jika selesai pembagian ijazah SMU. Joe pikir ia hanya bercanda waktu itu. Karena keinginannya kuliah terbentur biaya.

Ayi mengangguk. Joe mendesah. Gadis di hadapannya adalah gadis yang selalu siap mengambil resiko. Apapun resikonya. Berani dan terkadang tidak berpikir jauh.

"Ay, kalau hanya ingin kerja supaya bisa kuliah, kenapa harus jauh ke Bandung?"
"Aku mau kerja apa, Joe, kalau di sini saja?"
"Kamu tidak merindukanku jika kita nanti berjauhan?" pelan Joe bertanya. Ini yang dikhawatirkan. Joe sudah menyukai gadis ini sejak awal sekolah. Bisa bersamanya baru beberapa bulan, masa Ayi sudah tega akan jauh darinya? Bisakah LDR nantinya?

Ayi tersenyum. "Kan ada pak pos, yang setia mengantarkan surat-surat kita nantinya." jawab Ayi dengan entengnya. 
Kebetulan perpus masih sepi. Petugasnya juga keluar lagi. Hanya ada tiga pengunjung selain mereka yang sedang sibuk mencari buku. Sehingga Ayi dan Joe sedikit leluasa bercakap-cakap.

Joe semakin melipat wajahnya. Ayi bukanlah gadis yang mudah dibelokkan keinginannya jika sudah berkehendak. 
"Aku tak bisa memaksamu," jawab Joe pelan. Terbayang sudah jika mereka berjauhan. Selama ini mereka hanya bertemu di sekolah. Belum pernah Joe bercakap di rumah Ayi sendirian. Ia selalu mengajak tiga bahkan lima orang temannya untuk ngobrol rame di rumah Ayi. Saat mereka sedang di perpusda inilah saat mereka bisa berbincang serius. Sambil mencari buku kesukaan masing-masing.

"Joe," panggil Ayi melihat Joe kembali tenggelam dengan bukunya. Buku tentang politik. 
Joe hanya menggumam menanggapi panggilan Ayi.
"Joe," Ayi kembali mengulang panggilannya. Joe melepaskan pandangannya dari bukunya. 
"Janji ya, jika kita berjauhan, kita rajin saling berkirim surat," pinta Ayi mengharap.
Joe menganggukkan kepalanya. Ada rasa berat. Ada ketakutan. Joe sendiri akan kuliah di Semarang. Dia sudah diterima melalui jalur PMDK di UNDIP Semarang. Ayi sendiri ingin mencari kerja barulah ia akan kuliah.

Semuanya berjalan sesuai ketentuan cerita yang sudah dituliskan oleh Sang Penguasa cerita. Ayi akhirnya bekerja dan Joe kuliah. Rutinitas yang menyibukkan keduanya. Joe dengan kuliahnya, Ayi dengan label baru, sebagai karyawan pabrik. Setahun Ayi bekerja, sesuai janjinya Ayi mendaftar kuliah. Memilih kuliah untuk kelas karyawan. Kuliah dengan jurusan PGSD. Joe tertawa ketika Ayi pagi-pagi meneleponnya dari wartel.

"Kok bisa milih guru SD, Ay? Nggak kamu banget," masih sambil tertawa. Joe tidak tahu, di seberang telepon Ayi merengut. Sebel sekali ditertawakan. Mentang-mentang Joe kuliah di Teknik Kelautan.

"Sebetulnya nggak ingin jadi guru,Joe. Tapi setidaknya ketika aku menikah nanti, aku pasti akan menjadi guru bagi anak-anakku. Lagian nggak ada jurusan kuliah yang sesuai dengan jam kerjaku yang dishift." Ayi menjelaskan. Barulah tawa Joe berhenti. Gadisnya memiliki niat yang bagus.

"Maaf ya, Ay, aku tertawa. Soalnya ingat banget kalau kamu itu pengennya ahli farmasi. Lha kok jauh banget ambil kuliahnya."

Di seberang telepon Ayi tersenyum. Obrolan semakin seru. Sekitar satu jam mereka bercakap dan bercanda. Tak ada kata rindu yang terucap. Hanya mereka saling memaknai betapa waktu yang ada dimanfaatkan dengan baik. Berbincang dengan Ayi sungguh bisa melenakan waktu. Ayi pandai merangkai kata agar obrolan mereka tak pernah garing. Joe sendiri sedikit pendiam. Jarang memulai terlebih dahulu sebuah perbincangan.

Setiap awal bulan habis gajian Ayi selalu menelepon ke tempat kost Joe. Memanfaatkan waktu irit telepon sebelum jam 06.00. Dan Joe sudah siap menunggu telepon dari Ayi. Semua kawan kostannya sudah hafal, Minggu pagi jatahnya Joe terima telepon dari gadis istimewanya. Gadis yang hampir sering suratnya mampir. Surat yang berlembar-lembar berisi cerita Ayi.

Tahun ini tahun kedua Ayi kuliah. Berarti setahun lagi Ayi lulus D2. Tahun ini Joe memasuki tahun ketiga. Tugas kuliah semakin banyak. Liburan semester ini Joe dan Ayi akan pulang ke kampungnya. Bertemu setelah sekian lama tak bertatap wajah. Selepas merantau, Ayi tak pernah pulang. Biaya jadi alasan ketidak pulangannya.

Bagi Ayi, ini akan menjadi sejarah. Hampir tiga tahun tidak bertemu dengan Joe. Seperti apa dia sekarang? Pasti agak gelap kulitnya. Karena dia bercerita seringnya ada di luar. Tapi pasti tetap manis dengan tahi lalat di dekat hidung sebelah kanan dan rambut belah tengahnya. Ayi sendiri sudah memakai hijab. Meski belum sempurna, tapi Ayi ingin menunjukkan ke Joe, ia ingin menjadi muslimah seperti harapan yang pernah disampaikan kepada Ayi.

Joe tak berkedip menatap wajah Ayi yang terbungkus jilbab biru, sepadan dengan rok biru dan kaos bunga-bunga kecilnya. Duhai, manis sekali. Namun secepatnya Joe juga menundukkan pandangannya. Di sebelah Joe ada mas Hamim, sepupu Joe. Joe sepertinya ada yang berubah, batin Ayi. Selintas Ayi tadi melihat Joe seperti kaget dan tak lama-lama menatap wajahnya. Mungkinkah..

"Wah, Ayi makin ayu setelah berhijab. Semoga kalian berdua mengambil hikmah ya," kata mas Hamim membuatku kaget. Ada apa? Apa yang terjadi?"

Joe tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Kemeja panjangnya menutupi tangannya yang nampak sedikit lebih gelap. Ada hal yang ingin Joe ungkapkan sepertinya. Mudah-mudahan bukan hal buruk tentang mereka.

"Katakan sekarang, Joe. Mas yakin Ayi siap kok. Apalagi sekarang Ayi sudah berhijab. Kamu juga sudah paham. Tak baik lho kalau hubungan kalian berlanjut."

Nah, ada apa ini? Ayi semakin penasaran. 
"Ada apa,  Joe? Boleh aku tahu?" tanya Ayi pelan. 

Joe menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Ayi. 
"Sebelumnya maafkan aku, Ay. Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini. Tak baik. Kita berzina dengan hati kita. Islam melarang pacaran, Ay." pelan suara Joe menjelaskan. Ayi nampak kaget. Tapi Ayi tersenyum.
"Kalau kita berjodoh, kita akan bersanding. Aku akan melamarmu selesai aku lulus kuliah dan bekerja. Itu pun jika kamu belum ada yang melamar."jelas Joe lebih tenang setelah melihat Ayi tersenyum. Joe berharap Ayi memahaminya. Karena yang mereka lakukan memang tak seharusnya.

"Iya, aku mengerti. Justru aku senang kamu mengatakannya. Berarti kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi ya? Aku tak akan mengirim surat lagi. Aku juga tak akan meneleponmu pagi-pagi buta. Deal, aku setuju!"

Keduanya tersenyum. Mas Hamim juga tersenyum. Ada kelegaan begitu tahu mereka memahami yang seharusnya dilakukan. Hanya pertemuan singkat. Tak ada tangis seperti yang dibayangkan Joe. Bahkan berakhir dengan senyuman saling memahami.

Revolusi bumi menggiring para manusianya melewati setiap tahapan dari goresan hidup yang sudah ditakdirkannya. Perpisahan Joe dengan Ayi mengembalikan mereka menekuni rutinitasnya. Tak ada cerita lagi sesudah pertemuan terakhirnya.

bersambung...

#OneDayOnePost

18 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Selalu penuh jika membaca karya mba lisa. Nice :)

suparto parto mengatakan...

Menarik sekali kisahnya

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Mbak Lisa ceritanya keren. Tp aku JD baper, aku jadi teringat sesuatu yang nggak jauh berbeda. Ditunggu sambungannya..

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Kata om Kasino "gile lu Ndro"
Alias kerennn abis Lis
Iki cah kae neh po ugak??
Heeee

lisa lestari mengatakan...

hahaha, iki imajinasiku

lisa lestari mengatakan...

Ayo,siapa tuh mb wid?? hehehe

Fika AJ mengatakan...

Aku suka terhanyut kalau baca tulisan Bu Guru Lisa.

Ada ketulusan seorang Ibu dan inspirasi seorang guru.

Semoga Cek Gu sukses selalu!^^

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Aku curiga.. jangan2 ne cerita nyata kehidupan mbak lisa..😅😅😅

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Aku curiga.. jangan2 ne cerita nyata kehidupan mbak lisa..😅😅😅

Vinny Martina mengatakan...

Waah. Ayi baik banget mau telp jie duluan.

lisa lestari mengatakan...

aamiin, fika juga hebat

lisa lestari mengatakan...

hahaha, kepooo yaaa

lisa lestari mengatakan...

karena joe anak kuliahan, Ayi sudh kerja, hehehe

lisa lestari mengatakan...

hahaha, kepooo yaaa

Deasy Windayanti mengatakan...

Ayi.. gadis berhijab yang manis.
Semanis cerita ini.
Top banget mba Lis 👍

Sitampan Tampan mengatakan...

Duh kok bersambung, ku tungguh cerita sambungannya ya :D

Tran Ran

Desti Dwi mengatakan...

semoga happy ending ya mba lisaaa.... baper akunya kl ending nya sedih2 gt

Ciani L mengatakan...

yuhuuu... mbak lisa mantap nian yang nyampein pesan ceritanya, seperti tidak menggurui padahal guru, nah hlo, hhaa

Posting Komentar