25 April 2016

Karena Adik Bayi Masih Kecil

"Apa-apa Dede El, apa-apa Dede El!" teriak Hawa sambil menghempaskan badannya ke kursi. Tampak sekali wajahnya menampakkan kekesalan luar biasa. Sejak kehadiran adik bayinya, Ummi lebih sayang ke adiknya. Setiap permintaannya untuk dibuatkan segelas susu, berakhir dengan jawaban, " Nanti dulu ya, Ka. Dede El masih nyusu."

"Ummi sudah nggak sayang aku!" kembali suaranya menunjukkan kejengkelannya. Ummi yang melihatnya hanya tersenyum.

"Kok begitu?" tanya Ummi sambil mendekati ka Hawa.

Ka Hawa membuang mukanya menghadap tempat lain, ketika Ummi menghampirinya. Ingin rasanya ia buang adik bayinya, agar ia bisa kembali mendapatkan perhatian Ummi. Biasanya setiap ia minta dibuatkan susu, Ummi tak pernah bilang nanti. Langsung dibuatkan. Apalagi setiap minta dibacakan cerita, Ummi akan langsung membacakan. Ini? Harus menunggu adik bayinya tertidur, atau melepaskan isapan susunya. Kalau tidak, Kaka Bila yang akan menggantikan peran Ummi saat beliau tak bisa. Nggak enak! Ia ingin Umminya.

"Sini sayang, dipeluk sama Ummi," bujuj Ummi meraih Kaka Hawa agar mendekat.

Ka Hawa memandang wajah Ummi. Adik bayi sudah tidur, lelap di atas kasur bayinya. Seketika Ka Hawa langsung memeluk Ummi.

"Ummi sudah nggak sayang aku, ya?"
Ummi tertawa mendengar pertanyaannya.
"Kok nanya begitu?"
"Habisnya apa-apa Dede El."
"Yuk, kita lihat Dede El!" ajak Ummi memggandeng tangan Ka Hawa menuju ke kamar. Adik bayinya nampak pulas tertidur. Masih dibungkus, kata Ummi itu dibedong namanya. Biar hangat dan tidak kaget. Masih ingat jawaban Ummi ketika ia menanyakannya.

"Coba lihat adik, sayang. Adik masih kecil kan? Baru berapa hari adik lahir?" tanya Ummi sambil mengelus kepala Ka Hawa.

Mendapat pertanyaan begitu dari Ummi, Hawa memandang adik bayi. Wajahnya masih mungil, tapi tangisnya sungguh berisik. Setidaknya itu menurut Kaka Hawa. Minta bobo nangis, kalau pipis juga nangis. Pokoknya adik bayi ini sudah menyita waktu Ummi. Masih saja batin Hawa mengatakan seperti itu.

"Dulu sewaktu Ka Hawa masih seperti Dede El, Kaka juga bisanya hanya nangis. Ingin nyusu, nangis. Belum bisa ngomong sepintar Kaka. Belum bisa melakukan sendirian. Masih butuh Ummi, butuh Kaka Hawa, Kaka Bila, dan Abi." panjang Ummi menjelaskan kepada Hawa.

Hawa terdiam. Benar kata Ummi. Adiknya baru lima hari lahir. Masih kecil, belum bisa ngapa-ngapain. Masih butuh Ummi.

"Iya ya, Ummi. Kasihan adik bayi, belum bisa bangun atau jalan sendiri. Kalau Kaka Hawa kan udah gede ya. Udah bisa jalan, bisa bikin susu sendiri. Hehehe..." berkata begitu Kaka Hawa sambil tertawa. Diciumnya pipi adik El.

Dipekuknya Kaka Hawa oleh Ummi. "Makasih ya, Ka. Ummi harap Kaka bisa sabar kalau minta apa-apa ke Ummi."

"Iya, Ummi. Maafkan Kaka, ya. Nanti kaka jagain kalau Ummi bikinin susu buat kaka. Eh, Kaka bisa bikin sendiri ding!"

"Hebat anak Ummi. Ummi bangga deh sama Kaka yang mandiri."

"Iya dong, anak Ummi," berkata begitu sambil berlalu menuju dapur. Ketika ditanya Ummi, ia menjawab akan bikin susu sendiri.

#OneDayOnePost#
Tantangan menulis sekali duduk, jam 01.18 - 01.52

11 komentar:

Ciani L mengatakan...

Typo nya dikit banget Mbak, pdhl ceritanya keren dan lumayan panjang...
Hebat... Tantangan terlewati.

Nychken Gilang mengatakan...

Rasanya gurih seperti membaca novel serial anak mamak Tere liye

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Mbak lisa kerennnnn....😍😍😍

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Keren..typonya dikit mb. Tp ceritanya mengalir bagus.

Khikmah Al-Maula mengatakan...

wih, waktu nulisnya singkat dan tulisannya mengalir...
bisa belajar jadi ibu yang baik juga lewat ceritanya ^^

denik mengatakan...

Asyik ceritanya Mba. Keren.

fatimah zahro mengatakan...

Bagus banget ceritanya bu lisa...

fatimah zahro mengatakan...

Bagus banget ceritanya bu lisa...

Kholifah Hariyani mengatakan...

sekali duduk, memang cocoknya malam nih kayaknya... hehe...
ini kisah nyata ya, mbak...

Miftahul Rohmah mengatakan...

Keren kak, ada typo yaa tp dikit kok..
Ceritanya bikin baper 😂😂

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Wow .... hampir sempurna, minim typonya.
Pdhl panjang ceritanya Lis.

Posting Komentar