11 April 2016

Sayangi Kami

"Pergi jauh-jauh! Awas kalau aku kembali melihatmu!" teriak pemilik rumah sambil melemparkan batu ke arah Abu. Suara Abu melengking ketika batu itu mengenai punggungnya. Pasti sakit. Sudah terlalu sering Abu mendapat perlakuan yang kasar dari orang-orang sekitar. Abu mengendus kesal sambil mengibaskan ekornya. Matanya melotot ke arahku. Aku mencoba tersenyum kepadanya.

"Makan di tempatku saja, Abu. Makananku masih banyak, masih cukup untuk membuat perutmu kenyang," tawarku kepada Abu. Sudah sering aku menawari dia menghabiskan sisa makananku, tapi lebih sering ditolaknya. Kata dia makananku terlalu enak, tak cocok untuk perutnya yang terlalu ndeso.

Abu menghentikan langkahnya. Dipandangnya aku dengan tatapan matanya yang sangat tajam. Badannya yang dua kali lebih besar dari badanku, sedikit membuat nyaliku ciut juga. Abu jago berantem dengan teman-temanku lainnya. Wajar saja jika di tubuhnya terdapat bekas luka akibat berkelahi ataupun lemparan benda-benda aneh dari orang-orang. Ekornya panjang dengan warna senada. Seluruh tubuh Abu berwarna sesuai aku memanggilnya. Sebenarnya aku tak tahu siapa nama yang diberikan oleh tuannya. Namun sepertinya Abu memang tak pernah bertuan, ia hanya berpindah-pindah tempat untuk mengisi perutnya yang lapar. Keadaan terpaksa barulah Abu akan mengambil jatah makanku, setelah aku kenyang tentunya.

"Kita main yuk, Bang. Ke sana, ke tempat teman-teman kita berkumpul," kata Abu mengajakku. 
"Ayolah, jangan jadi anak rumahan, toh nyonyamu sedang di dapur kan? Main sebentar saja, terus nanti kamu pulang lagi," lanjut Abu yang melihatku hanya terdiam dengan ajakannya.

Aku berpikir, kalau aku mengikuti ajakan Abu, aku pasti kena sentilan nyonyaku. Badanku pasti ketularan bau yang tak sedap dari mereka yang tidak pernah mandi. Badanku pun sering gatal-gatal jika usai berkumpul dengan mereka. Tapi sesekali aku juga ingin tahu rasanya berkumpul dan berbincang dengan teman-temanku lainnya. Meskipun ada dari mereka yang suka galak terhadapku. Baiklah, aku terima saja tawaran Abu. Dan aku hanya akan bermain sebentar.

"Ayolah, Bu, aku mau."
Berdua kami berjalan menyusuri kebun di belakang. Dekat dengan empang ikan lele, kami berhenti. Sudah berkumpul tiga temanku yang lain. Mereka keheranan melihatku berjalan bersama Abu. Aku yang jarang bisa bersama, tiba-tiba akan bergabung.

"Hei, Babang, tumben kamu datang ke sini bersama Abu. Awas nanti kalau nyonyamu menyentil kupingmu!"

Mendengar itu aku hanya menjawab dengan kibasan ekorku yang tidak panjang. "Aku ingin bermain bersama kalian sebentar saja." jawabku.
"Ayolah kita mulai bermain. Kita bermain lari tercepat ya, siapa yang paling cepat boleh makan ikan yang baru saja aku curi dari ibu gendut tadi pagi." kata si belang yang kutahu dia tertua di antara lainnya. Oh, tidak! Belang baru saja mencuri ikan.

"Kenapa kamu mencuri ikan lagi, Belang?" tanyaku.

Belang tertawa. "Kami kelaparan, Bang. Kami bukan sepertimu yang bisa makan enak setiap saat. Yang selalu dibelikan makanan tanpa pernah kelaparan. Kami hanya mengambil sedikit dari mereka yang tak pernah mau membaginya dengan kami. Kami hanya ingin perut kami kenyang. Jika mereka tak beri kami makan saat kami minta, maka mencurilah yang kami lakukan. Biarpun kami kena lempar atau pukul jika ketahuan."

Mendengar itu aku tertegun. Ternyata mereka hanya minta makan. Tak banyak, asal perutnya kenyang.  Mencuri menjadi pilihan kalau tak ada yang berbaik hati memberi makan. Kasihan teman-temanku, gumamku dalam hati.

"Sudahlah, ayo kita mulai balap larinya!" suara Abu mengingatkan kita. 
Berjajarlah kita bak pelari maraton untuk segera mengejar satu sama lain agar sampai di garis finish, garis ikan curian itu berada. Aku yang tak pernah berlari, pasti akan kalah dengan mereka yang terbiasa berlari cepat ketika berburu ikan curian. Lagian ikan itu mentah, aku tak pernah makan ikan mentah. Nyonyaku selalu menggorengnya terlebih dahulu jika memberiku ikan. Namun jarang, karena nyonyaku tak ingin aku keselek duri ikan. Alhasil aku lebih sering makan makanan instan, kue kering aku menamainya. Lebih lezat sih, dan tidak membuat mulutku belepotan nasi serta bau ikan. Aku juga tak perlu bersusah-susah memilah ikan dari durinya. Itulah aku, begitu dimanja oleh nyonyaku. Makan, tidur, bermain sebentar, makan lagi, dan tidur lagi. Otomatis badanku gendut sekali. Jika aku berlari, bagian.perutku akan ikut bergoyang bersama bunyi kalung di leherku. Aku juga tak punya cakar. Nyonyaku rajin memotong kuku ku setiap kali memanjang. Setiap Minggu aku akan dimandikan, disampo wangi, disisir sambil dijemur agar hangat. Aku akan duduk di pangkuannya, dielus dengan sayang, dirapikan kumisku dengan gunting, dan wangilah aku. Nyaris aku tak tahu cara mencuri ikan, cara berlari dengan cepat, karena aku selalu kenyang. Tidurku juga di dalam rumah, di atas bantal yang disediakan oleh nyonyaku. Hangat dan nyaman. Bahkan terkadang aku ikut tidur di atas kasur, dalam pelukan nyonyaku. Aku tidak ingin menang, aku hanya ingin bersenang-senang saja.

"Babang!" Sebuah suara mengejutkan lariku. Itu seperti suara nyonyaku. Lantang memanggilku yang sudah siap untuk lari maraton. "Pulang nggak? Atau masih mau main?" lanjutnya. Semua temanku menghentikan larinya dan melihat ke arahku. "Kalau masih mau main, nggak usah pulang ke rumah sekalian!"

Waduh, gawat kalau aku tidak boleh pulang ke rumah. Bisa-bisa aku kelaparan seperti teman-temanku. Kulangkahkan.kakiku menghampiri nyonya. Kuelus kakinya sambil kukeluarkan suara manjaku, agar aku tak disentilnya. Diambilnya tubuhku, diciumnya kepalaku, sambil bicara. " Aku nggak suka Babang main sama mereka. Mereka itu kotor, suka mencuri. Makanannya juga jorok. Nanti Babang sakit."
Aku hanya mengeong menjawab gerutuannya. Andai dia tahu, temanku juga butuh makan seperti aku. Andai dia mau merawatnya sekalian, tentu mereka tak akan kotor. Andai temanku diberi makan, mereka tak akan mencuri. Ah, banyak andai yang ingin kuucap. Tapi hanya meong yang keluar dari mulut ku.

"Kalau teman Babang mau bermain sama kamu, ajak saja mereka ke rumah. Makan makanan punya Babang juga boleh, tapi setelah Babang kenyang. Nggak boleh mencuri lagi."
Mendengar nyonyaku mengatakan itu, senangnya hatiku. Kuteriakkan apa yang diucapkan nyonyaku ke teman-temanku, supaya mereka tidak jadi pencuri lagi. Senangnya hatiku, nyonyaku mengerti dan berbaik hati.

"Aku tunggu kalian besok ke tempatku ya, kita main bersama," teriakku disambut gembira oleh teman-temanku.

Digendongannya aku tersenyum senang. Mudah-mudahan ada banyak tangan yang siap menolong kami yang masih suka kelaparan dan berkeliaran, maka kami juga akan berzikir mendoakan kalian yang sudah berbaik hati.

#OneDayOnePost
Edisi merindukan Babang kucing kesayangan yang sudah tiada.

23 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Aku juga punya kucing di rumah banyak Mba. Jangan bersedih mba hehe

Vinny Martina mengatakan...

Wah.. bisa kadi cerita buat anak2 nih mbak.. hihi

Nabela Atika mengatakan...

waah bagus bunda, ditunggu biar jd buku
*-*
kpn hari sy k toko buku, sedikit sekali yg cocok buat adik, pdhal klo sejak kecil suka baca cerita gt kan besok bkal suka membaca :\

Ciani L mengatakan...

Waww... Mbak Lisa jago ih klo buat cerita anak-anak

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Bagus mb..top bgt

Tety Di Sini mengatakan...

jadi ingat kucing Tety yang sudah lama pergi.. hiks..

Khikmah Al-Maula mengatakan...

Dirumahku juga sering dijadikan tempat tidur kucing mba Lisa, kadang di sofa bahkan dikasur, haha...

Lukisan Tinta mengatakan...

Ada makna disebalik cerita

Sasmitha A. Lia mengatakan...

jadi kangen ma Mueeza.. hikz..

denik mengatakan...

Cerita soal kucing saya juga dulu punya Mba Lisa. Namanya Chokie..tapi mati diracun orang. Sedih rasanya. Karena dia mati dipangkuan kita dengan mulut berbusa.

lisa lestari mengatakan...

yg ini mati di depanku mb, pas aku lgi sholat isya, nangisku ky kehilangan anak

lisa lestari mengatakan...

kucing mb sas?

lisa lestari mengatakan...

hehehe, sama, disini jadi rumah bersalin para kucing malah

lisa lestari mengatakan...

hehehe, sama, disini jadi rumah bersalin para kucing malah

lisa lestari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
lisa lestari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HERU WIDAYANTO mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HERU WIDAYANTO mengatakan...

Aku paling takut sama kucing Lis.
Suerr iki, gk guyon :(

juni dwiriyanti mengatakan...

Baru tahu, itu mas heru beneran takut sama kucing?
Anakku yg paling kecil sukanya main sama kucing.

juni dwiriyanti mengatakan...

Baru tahu, itu mas heru beneran takut sama kucing?
Anakku yg paling kecil sukanya main sama kucing.

Dewi Mariyana mengatakan...

Cernak yang keren, mak

Fika AJ mengatakan...

Cek Gu memang pandai sekali bercerita.^^

Raida mengatakan...

Kucingku hilang entah di manaa...hiksss jadi kangen

Posting Komentar