27 April 2016

Selamanya Tetap Teman

"Dasar anak koruptor!" suara gaduh terdengar saat kaki Sakura memasuki ruangan kelas VIII-10.  Suara yang sama seperti kemarin, menyudutkan Hening, teman sekelasnya, yang ayahnya ditangkap oleh KPK karena kasus korupsi. Seminggu lalu peristiwa penangkapan ayah Hening terjadi, dan beritanya juga ramai disiarkan di televisi.

Hening hanya diam, mendapatkan perlakuan dan ucapan teman-temannya. Ia merasa tak perlu membantah ataupun memberikan alasan apapun. Toh ditutupi seperti apapun, kabar itu sudah mendunia, ibarat bangkai yang sudah tercium kebusukannya tak mungkin untuk dibungkus lembali serapi apapun. Hanya membisu yang bisa Hening lakukan, meskipun dalam hati ia merasa sedih, marah dengan sikap dan perlakuan teman-temannya. Menyudutkan, mencibir sinis, bahkan menjauhi Hening. Enggan berteman, sekedar bercakap ataupun menyapa Hening. Mereka, teman sekelas dan seluruh teman satu sekolah. Kabar itu cepat meluas sehingga sempurna menempatkan Hening dalam ruang sepi tanpa teman. Kalau sudah begitu, Hening hanya bisa mematung, lalu menyibukkan diri membaca buku.

Pemandangan Hening yang menyendiri setelah perbuatan ayahnya, membuat Sakura berpikir bagaimana caranya agar teman-temannya tidak memperlakukan Hening seperti ini. Seolah-olah yang bersalah adalah Hening. Sakura ingat perbincangannya dengan Bunda semalam tentang masalah Hening ini.

"Bunda, kasihan deh temen aku. Dikata-katain setiap hari sebagai anak koruptor. Hanya karena ayahnya ketangkap KPK melakukan korupsi." Sakura mengawali ceritanya kepada Bunda usai sholat isya berjamaah sambil menunggu kepulangan ayah yang kerja lembur hari itu.

"Terus, Ka?"

"Ya nggak terus-terus, Bunda. Emang lagi parkir? Bunda lucu," jawab Sakura mendapati Bundanya menanggapi ceritanya seperti orang parkir kendaraan.

"Maksud Bunda, temen Kaka diperlakukan bagaimana di kelas?"

"Dijauhi, Bund. Nggak ada yang mau berteman dengan dia. Menyapa saja nggak mau, Bund, Kaka nggak tega."

"Kenapa Kaka nggak mengajaknya bercakap seperti tak pernah ada apa-apa?"

Sakura memandang wajah Bunda. Bunda tidak bercanda menanggapi ceritanya. Tapi kenapa Bunda memintanya begitu?

"Tapi, Bund..."kalimat Sakura menggantung.

"Ka, yang korupsi itu ayahnya Hening, bukan Hening. Nggak seharusnya Hening mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman hanya karena perbuatan ayahnya. Bunda yakin, Hening juga tidak mau ayahnya terlibat korupsi sehingga membuat dia mendapatkan malu di sekolah." panjang lebar Bunda menjelaskan kepada Sakura sambil menggengam tangannya. Menyakinkan putri semata wayangnya agar tak ikut-ikutan memojokkan Hening. Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan penjelasan Bunda. Seandainya ia ada di posisi Hening, pasti menyakitkan juga. Mendapatkan perlakuan tidak baik padahal bukan dia yang melakukannya. Bibir Sakura menyunggingkan senyum manis untuk kemudian memeluk Bunda. Malam ini ia mendapatkan pemahaman baru bagaimana seharusnya bersikap.

"Terima kasih, Bunda."
"Iya, sayang. Mulai besok, bercakaplah kembali dengan Hening. Bicarakan juga hal ini dengan teman-teman Kaka. Mudah-mudahan mereka mengerti."

Dan pagi ini, Sakura akan mewujudkan apa yang semalam dibicarakan dengan Bunda. Ia akan mengajak Hening bercakap-cakap seperti biasanya. Dan ia akan mengajak teman-temannya melakukan hal yang sama. Hening tetap teman bagi Sakura dan selamanya akan tetap menjadi teman.


#OneDayOnePost

26 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Nyaris nggak ada cela mb
Klo eyd..saya msh blm pandai mbenerin

Ainayya Ayska mengatakan...

Betul tuh, tidak sepantasnya kita menghakimi seseorang sebab kesalahan orang lain...

Rahim dani mengatakan...

Teman yang baik...

Kasihan si Hening ia ttp diam walau dia berbicara.. He..

Ciani L mengatakan...

Jagonya deh Mbak Lisa klo buat cerita keluarga...

Sakifah Ismail mengatakan...

Mb lisa mau jd spesialis cerita anak dan parenting?
Selalu keren ide ceritanya

Nissa Maisaroh mengatakan...

aku like deh dengan tulisan" mba lisa.. tapi menurut saya sih kalimat,"Bunda, kasihan deh temen aku" nah apa sebaiknya tanpa menggunakan "a"

"Bunda, kasihan deh temen ku.

#hanya saran saja, kalo saya salah persepsi tolong di perbaiki mba hehe

Nychken Gilang mengatakan...

Nama tokohnya lucu-lucu hehe

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Iya neh mbak lisa banget deh.. kalau genre ini mbak kifa..😆

khofiyaa rizki mengatakan...

mbak ada di typo di kalimat pd prgraf 2 "lembali" ^^
ohya mbak.. dsini "puti semayta wayang" maksudnya putri satu-satunya kan mbak? maksdnya... dia punya anak lebih dr satu (krn dipanggil kakak), dan hanya sakura yang bjenis kelamin cewek? hehehe mmaffin ya mbak
ada lanjutannya ga mbak?
tetap semangat \^_^/

khofiyaa rizki mengatakan...

*putri semata wayang

Vinny Martina mengatakan...

Mbak lisa... semakin jagoan bikin cerpen..

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Konsisten di genre iki ae Kis.
Ojok gonta ganti aliran ae ... heheee

lisa lestari mengatakan...

siiippp..makasih yaaa, jeli deh,

lisa lestari mengatakan...

mundak kegowo aliran sesat yooi...hahaha

lisa lestari mengatakan...

masih harus belajar mb vin

lisa lestari mengatakan...

masih harus belajar mb vin

lisa lestari mengatakan...

mundak kegowo aliran sesat yooi...hahaha

mual limah mengatakan...

hm.. ortu yg bikin salah, tp anak hrs ikut merasakan akibatx..

lisa lestari mengatakan...

itulah yg sering terjadi di masyarakat kita

Riendra siswin Rohmawatiningrum mengatakan...

Mbak lisa....tulisannya keren...
Selalu menyimpan pesan moril mendalam di balik kisah2 nya....

Bener kata temen2...mbak.lisa mahir dalm genre semacam ini....

Lanjutkan mbak ...

Khikmah Al-Maula mengatakan...

Kalau ada Ayah Edi yang jago soal penanganan anak, di ODOP ada Bunda Lisa ^^

Riendra siswin Rohmawatiningrum mengatakan...

Mbak lisa....tulisannya keren...
Selalu menyimpan pesan moril mendalam di balik kisah2 nya....

Bener kata temen2...mbak.lisa mahir dalm genre semacam ini....

Lanjutkan mbak ...

Indri Mulyani Bunyamin mengatakan...

Keyyen mba... salute! Aku terbayang sesosok bunda yang sangat bijaksana...

Abdul Wahab mengatakan...

Keren bu, tapi sedikit kritik boleh kan? Ada loncatan informasi di bagian percakapan Sakura dengan Bundanya. Di awal percakapan, Sakura belum menyebutkan nama temannya, tetapi di akhir percakapan tiba-tiba Bundanya sudah tahu dan menyebut nama Hening.
Hal itu sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika penulis mengasumsikan Bunda Sakura sudah mengetahui berita tersebut dari siaran televisi.hehe
Dan satu lagi, kata baku yang benar adalah "sekadar" bukan "sekedar".

lisa lestari mengatakan...

suwuuuun pak wahab

Na mengatakan...

Ah..sudahlah, saya cuma bisa angkat 2 jempol. Good job!

Posting Komentar