18 April 2016

Serunya Bermain

"Ummi, lihat de Hawa, mainan lumpur di lapangan sana," lapor ka Bila sepulang sekolah mendapati adiknya asyik bermain lumpur di lapangan kecil dekat rumahnya. Lapangan yang dimaksud bukan lapangan yang besar ukurannya, hanya lapangan kecil dengan ukuran 5 x 5 meter. Di samping utara lapangan terdapat rumah besar bercat coklat berpadu kuning dengan tanaman bunga yang rindang. Samping selatan lapangan kecil terdapat kebun pisang yang rimbun. Di barat lapangan dua empang berjejer, berisi ikan lele. Semalam hujan turun cukup lebat, menyisakan air di tanah, sehingga memudahkan Hawa bermain lumpur dan tak memedulikan bajunya bercampur lumpur hingga tak nampak lagi aslinya.

Ummi hanya tersenyum mendengar aduan sulungnya. Tadi Hawa sudah pamit akan bermain dengan teman-temannya setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Ummi memberikan waktu satu jam untuk bermain sebelum pergi mengaji. Dan baru tiga puluh menit Hawa bermain.

"Nanti sekalian mandi setelah selesai bermain," kata Ummi.
"Bajunya itu lo, Mi. Kotor banget."
"Namanya juga bermain lumpur, Ka. Pasti kotor," Ummi menanggapi masih dengan santai.

Begitulah Ummi, membiarkan kami puas bermain di luar. Ingat dulu kecilnya, lumpur, layang-layang, kelereng, bahkan sampi bermain korek api sudah pernah ia coba. Hingga ia tak pernah penasaran. Bahkan saat malam hari, jika ia ingin bermain, Ummi akan mengajaknya bercerita membayangkan terbang ke langit memetik bintang, lalu membawanya turun untuk disimpan di kamarnya. Bahkan ia pernah menginginkan bintang itu disimpan dalam kotak miliknya, dan akan ia kunci supaya tak ada lagi yang bisa mengambilnya. Tak sadar ia tersenyum membayangkan masa kecilnya. Ada rindu ingin mengulang saat-saat ia puas bereksplorasi seperti adiknya sekarang ini.

"Ummi, kenapa sih, Ummi tak pernah melarang kami, anak perempuan Ummi memainkan pernainan anak laki-laki?" tanya Bila duduk dekat Ummi yang sedang asyik di depan laptopnya. 
"Ummi nggak takut anaknya jadi tomboi?"

Kembali senyum ummi paling manis dihadirkan untuk menjawab pertanyaan sulungnya. 
"Ummi tak pernah takut kalian akan jadi tomboi. Jika kalian pernah bermain permainan anak laki-laki, bukan berarti kalian jadi laki-laki kan? Jadi tomboi atau kemayu untuk anak laki-laki bukan dari pernainannya, tapi pemikiran yang dibentuk."

"Maksudnya, Mi?" tanya ka Bila masih penasaran.

"Ketika anak lelaki bermain masak-masakan, sering orang tuanya mengatakan, jangan mainan ini, ini mainan anak perempuan. Nah, pemikiran begini yang akhirnya secara tak sadar terbentuk di benak anak lelaki, bahwa untuk bisa bermain masak-masakan harus menjadi perempuan. Begitu sayang."
Ka Bila menganggukkan kepalanya. Ummi memang the best deh!
"Panggil adikmu, sudah waktunya mandi dan pergi mengaji," pinta Ummi ke ka  Bila untuk memanggil adiknya.

Belum sampai ka Bila memanggil, adiknya muncul sambil tertawa. "Ummi, aku tadi bikin bakso dari lumpur yang aku bulet-bulet. Seruuuu," cerita Hawa.

"Sekarang mandi ya, lalu mengaji,"
"Siap, Ummi sayang!" Hawa langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan jejak lumpur di lantai, disambut gerutuan kecil ka Bila karena harus membersihkannnya.


#OneDayOnePost
tantangan empat kata dalam tulisan, lumpur, bintang, rindu, kunci

17 komentar:

Riendra siswin Rohmawatiningrum mengatakan...

Nice story mbak lisa.... singkat namun penuh makna. Bener juga ya...membiarkan anak tetap berkreasi sesuka hati namun tetap diarahkan....like this... mbak lisa.

nur apriliyani mengatakan...

Jadi bernostalgia masa kecilku mbak.. hehehee

nur apriliyani mengatakan...

Jadi bernostalgia masa kecilku mbak.. hehehee

denik mengatakan...

Mba Lisa selalu penuh makna ceritanya. Sukaaaa...

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Wah .. wis jawab tantangan
Aku sik buntu ide

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

mbak lisa selalu padai membikin cerita yang luar biasa..

Ciani L mengatakan...

Mantap deh umminya kak bila...

Rahim dani mengatakan...

Salut sama umminya... Salam ya... Ha...

lisa lestari mengatakan...

makasih ka denik

lisa lestari mengatakan...

golek kono, hehehe

lisa lestari mengatakan...

makasih mb

lisa lestari mengatakan...

makasih mb

Vinny Martina mengatakan...

Wihiii.. keren mbak lisa.. skrg seringnya bikin cerpen anak-anal. Keren banget lho..

Indri Mulyani Bunyamin mengatakan...

Keren mba Lisa... paaas banget... semua kata berpadu...

Indri Mulyani Bunyamin mengatakan...

Keren mba Lisa... paaas banget... semua kata berpadu...

khofiyaa rizki mengatakan...

whoaaa.... masyaa Allah.. tulisannya keren mbak lisa :')
semuanya berpadu satu dan saling berkesinambungan. mantappp:)

Na mengatakan...

Aku mau dong..jadi anaknya mba Lisa..😄😄😀

Posting Komentar