31 Mei 2016

Kotak Bekal untuk Teman (bagian 2)

Mama kembali duduk berjongkok sejajar dengan tinggi Bulan. Memeluk Bulan untuk membuatnya tenang. Diusap dengan lembut air matanya. Mama mencium pipi Bulan. 

"Ada yang Bulan ingin ceritakan ke Mama tentang Mila?" Mama bertanya lembut. Mengusap punggungnya, memberikan ketenangan kepada putrinya. Mama mengajaknya duduk.

Bulan terdiam. Bibirnya menutup rapat. Dua tangannya terkepal. Jari-jari tangannya sibuk dia gerakkan. Matanya menunduk menatap lantai. Seperti ada yang dipikirkan.

Kembali Mama menyentuh tangan Bulan.

"Sayang, siapa Mila?" lembut suara Mama bertanya.

"Temanku," jawab Bulan setelah lama terdiam.

"Mama kok baru dengar namanya. Bulan tidak pernah menceritakan ke Mama." Kata Mama melanjutkan. Bulan sudah mulai menatap wajah Mamanya. Tak ada kemarahan di wajah Mama. Ini membuat Bulan merasa nyaman bercerita.

"Mila pindahan dari Jakarta, Ma. Dia artis kecil." Bulan menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.

"Aku ingin dekat dengan Mila, Ma. Untuk itu aku harus baik dengannya."

Mama masih mendengarkan kelanjutan cerita Bulan. Bulan kembali diam. Mengatur duduknya. Memandang Mama. Mencari ketenangan dari Mama. 

"Kalau aku bawakan makanan buat Mila, aku pasti akan jadi teman dekatnya. Kan enak, Ma, bisa punya teman dekat artis." Terdengar nafas lega dari Bulan. Alasan yang membuatnya membawa bekal lebih banyak, sudah dia katakan ke Mama. 

"Mama marah ke aku?" Bulan bertanya.

Mama tersenyum. 
"Tidak, Sayang. Mama tidak marah."

"Berarti hari ini aku bawa bekalnya tambahin, ya, Ma," rengek Bulan.

Mama tersenyum. 
"Sayang, jika ingin dekat dengan teman bukan harus membawakan makanan setiap hari."

"Maksud, Mama?" tanya Bulan.

"Jika ingin dekat dengan temanmu, jadilah teman yang baik. Kalau Mila anak yang baik, tanpa Bulan bawain makanan Mila akan tetap berteman dengan Bulan." Jelas Mama.

"Kalau Mila tidak mau berteman denganku, Ma?" ada ragu dan takut dalam pertanyaan Bulan.

"Berarti Mila bukan teman yang baik. Dia hanya berteman karena makanan Bulan."

"Bulan masih bisa berteman dengan yang lain. Teman Bulan banyak kan?" Lanjut Mama.

Bulan tersenyum. Dia mengerti sekarang. Ingin menjadi teman Mila tak harus memberikan selalu makanan kepadanya. Dipeluknya Mama. 

"Ayo, Mama antar kamu ke sekolah pake motor. Nanti Bulan terlambat." Mama menggandeng tangan Bulan. Tas Bulan juga dibawa oleh Mama. Sambil bernyanyi kecil Bulan melangkah bersama Mama. 

Tamat.

#OneDayOnePost

30 Mei 2016

Kotak Bekal untuk Teman bagian 1

Bulan mendekati mamanya yang sedang sibuk menyiapkan bekal sekolahnya. Memasukkan roti tawar yang sudah dioles selai coklat kesukaannya. Tak ketinggalan susu kotak rasa vanila juga dimasukkan ke dalam tasnya. Ragu-ragu Bulan hendak bicara. Dia hanya memandang mamanya. Dua tangannya memegang pinggir rok merah. Memilinnya untuk mengusir rasa takut. Ya, tiba-tiba Bulan takut untuk bicara dengan mama. 

"Ma, " pelan suara Bulan terdengar. Tangan kanannya masih memegang rok seragam. Tangan kirinya memegang tangan mama. 

"Iya, Sayang," Mama menatap putri keduanya penuh selidik. Ada sesuatu yang sepertinya ingin dibicarakan oleh Bulan. Tampak dari wajahnya yang sedikit bingung. Dan tangan kanannya menjelaskan ke Mama. Kebiasaan Bulan jika sedang cemas, takut, atau ada yang mengganggunya.

Mama duduk jongkok. Dua tangan Mama diketakkan ke pundak Bulan. Penuh sayang Mama menatap wajah Bulan. Hal ini membuat Bulan sedikit lebih tenang. Dia tersenyum. Tangannya yang tadi asyik memainkan rok merah berhenti. Berganti memegang pipi Mama.

"Ma, boleh ya, hari ini aku bawa roti tawarnya tiga lembar. Untuk temanku."

Mama tak langsung menjawab. Hari ini sudah kelima kalinya Bulan selalu meminta membawa bekal lebih banyak. Mama mulai curiga. Setiap  ditanya alasannya untuk temannya. Tapi kok setiap hari? Sesekali bolehlah berbagi dengan temannya.

"Mama boleh nanya?" tanya Mama.

"Nanya apa, Ma? Nggak boleh ya, aku bawain buat temen aku?"

"Bukan begitu. Mama hanya ingin tahu. Sebenarnya buat siapa sih, Bulan selalu bawa bekal lebih banyak?"

Ditanya seperti itu oleh Mama, Bulan terdiam.

"Buat siapa, Sayang?"

"Buat temanku, Ma." Lirih Bulan menjawab. Mama semakin curiga.

"Siapa nama temannya?"

"Mila, Ma," Akhirnya Bulan menjawab dengan suara hampir tidak terdengar. Mama mengernyitkan dahinya. Mama baru mendengar nama teman Bulan. 

"Oh... satu lagi buat siapa?"

"Temannya Mila." Kali ini Bulan tak bisa berkutik. Rasa penasaran meminta jawabannya.

Mama berdiri. "Maaf, ya, Sayang. Hari ini Bulan bawa bekalnya untuk Bulan sendiri saja yaa. Soalnya tidak ada lagi roti tawarnya." 

"Tapi, Ma..." Kepala Bulan langsung tertunduk. Dua tangannya mulai memilin pinggir rok merah yang dipakai. Mama terus mengamati. Ada yang aneh.

"Nah, sekarang berangkat ya. Bekal sudah siap di tas Bulan." Kata Mama memberikan tas sekolah ke Bulan. Meletakkan di punggung Bulan. Namun Bulan tak juga beranjak dari tempatnya berdiri.

"Ayo, Sayang. Keburu siang lho!"

"Bulan tidak ke sekolah kalau hanya bawa bekal roti satu. Bulan takut," Terdengar suara Bulan. Bersamaan dengan suara isak tangis Bulan. Masih berdiri mematung. Tas dipunggungnya diletakkan kembali dekat kaki Mama. Mama terkejut dengan perkataan Bulan.

Bersambung...

#OneDayOnePost

27 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 10)

Sasya tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya mengembara mengingat setiap kepingan kenangan bersama Ayub suaminya. Bagaimana mereka menjaga hingga sampai pada harapan yang nenyenangkan. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama. Seketika Sasya ingat, dia ngambek seperti ini saat berargumen dengan Ayub masalah tinggal setelah pernikahan mereka. Sasya yang mengabdi di Sukamakmur, sedangkan Ayub bekerja di Jakarta. Mereka terpisah jarak. Jika Ayub memaksa tinggal dengan Sasya dan melaju ke tempat pekerjaannya, sangatlah jauh. Tentunya akan melelahkan raganya.

Ayub pernah memintanya untuk sedikit mengalah. Mengambil tempat tinggal di tengah-tengah kedua pekerjaan mereka. Ke tempat pekerjaan Sasya dan pekerjaan Ayub. Sehingga mereka bisa bertemu setiap hari. 

"Yank, kita tinggal di Citeureup saja. Sayy ke sekolah naik motor. Jadi kita bisa pulang dan bertemu tiap hari." jelas Ayub waktu itu.

Sasya terdiam, tak bisa memberikan jawaban. Dalam hati ia membenarkan alasan suaminya memilih tinggal di Citeureup. 

"Yaank, kok diam?"

Sasya menggeleng.
"Jauh, Sayy. Biarlah kita berjauhan, ketemu seminggu sekali. Biar kaya pacaran terus," rajuk Sasya sambil matanya memandang wajah suaminya. Memasang tampang melas, berkedip-kedip matanya, dua tangannya menggenggam tangan Ayub. Jurus rayuan Sasya keluar. 

Ayub tertawa. Menikmati perilaku manja dari Sasya, dan itu selalu membuatnya merasa berarti. Dipeluknya tubuh Sasya, sebelumnya dengan gemas dipencet hidung Sasya. 

"Kamu itu, Yank, kalau sudah ngeluarin jurus rayuan, aku bisa apa? Aku bakal merindukanmu terus saat jauh."

"Itu yang kumau, Say selalu merindukanku. Jadi pas ketemu, kita punya tabungan rindu."

Itu baru awal, belum ada keluhan apapun. Hingga kejadian demi kejadian membuat Ayub harus mendiamkan Sasya. Masih dengan masalah tempat tinggal. Ketika waktunya off Ayub tak bisa karena pekerjaan, Sasya akan ngambek. Dan akhirnya memunculkan perkataan dari Ayub.

"Makanya Saayy, ngalah lah. Kita tinggal di Citeureup. Setiap hari kita bisa bertemu. Aku bisa pulang!" dengan nada tinggi Ayub mengeluarkan kekesalannya sampai Sasya terdiam. 

"Aku nggak mau capek, Saayy," jawab Sasya tak kalah tinggi suaranya.

"Say pikir aku tidak capek? Pulang kerja dari resto terus melaju ke sini. Capek, Yankk..." Ayub menahan agar suaranya tak semakin tinggi. 

"Aku nggak mau, Yank. Terserah Sayy, mau pulang atau tidak!" dengan ketus Sasya justru menantang Ayub. 

Dan mereka sibuk dengan perang dingin yang tercipta. Sasya merayunya setelah tiga hari Ayub mendiamkannya. Tapi tampaknya Ayub masih kuat berdiam diri. Tak membalas pesan, mengangkat telfon Sasya. Akhirnya Sasya menyusul ke Jakarta, merayu suaminya, cairlah suasana kaku tersebut.

Kantuk itupun belum datang. Sasya membuka lembaran buku kejujuran tulisan Ayub. Ada catatannya saat perang dingin itu terjadi.

Aku lelah Yaank...jika harus seminggu menahan kangen untuk berjumpa. Kenapa kamu tak mau mengalah juga? Ayolah, Saayy, jika kita tinggal bersama, bertemu tiap hari, itu akan sangat menyenangkan bagi kita. Akan banyak cerita yang bisa kita ciptakan. 

Tanpa terasa mata Sasya panas. Menyadari betapa egoisnya dia selama ini. Tak mau mengalah untuk kebahagiaan berdua. Jika tinggal di Citereup, pasti tak akan terjadi hal seperti sekarang ini.

"Saayy, maafkan aku. Siang ini aku akan menyusulmu," lirih ucap Sasya. Matanya mulai terasa berat, terpejam sesaat sebelum adzan shubuh berbunyi.

********

Selesai dengan tugasnya sebagai abdi negara, Sasya sibuk menyiapkan diri akan ke Jakarta. Meminta maaf dan akan membicarakan lagi dengan matang rencananya tinggal di pilihan Ayub. Bulat sudah rencana Sasya. Harus mengalah, agar tak terulang kejadian semalam. 

Dipilihnya bahan kaos untuk bepergian siang hari. Hanya akan membawa satu potong baju kerja untuk hari besok. Belum selesai memasukkan baju, terdengar salam dari pintu. Suara seseorang yang membuat jantungnya meloncat kaget.

"Kok bengong, Yank. Salamku nggak dijawab lagi. Nggak kangen? Masih ngambek?" tanya pemilik suara sambil mengecup kening istrinya. Tanpa jawaban, Sasya langsung memeluk tubuh suaminya. Membiarkan tangis tumpah di dada Ayub.

"Aku kangen, maafkan aku ya , Sayy. Aku egois."

"Hei, sudahlah. Aku juga salah. Maafkan aku juga ya," semakin erat dipeluknya tubuh Sasya. Tak pernah ingin melihat ada air mata sedih mengalir dari matanya. Apalagi jika dia penyebabnya. Pelan diusap airmata Sasya. Dikecup dengan sepenuh hati kedua pipi Sasya. 

"Aku mau tinggal di Citeureup, Yank. Supaya kita bisa bertemu tiap hari. Agar kau bisa memelukku setiap malam."

"Benarkah, Saayy?"

Sasya menjawab dengan anggukan kepalanya. Bahagianya Ayub mendengar keputusan Sasya. Akhirnya. 

"Makasih ya, Saayy..."

Keduanya kembali berpelukan. Jika ada yang mengalah, rasanya akan indah. Tak perlu ada perang dingin lagi.

Tamat

#OneDayOnePost


#TantanganMenulisCerbung

26 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 9)

Sasya ngambek! Dan itu artinya sampai pegal jarinya mencet nomor HP Sasya, dia tak akan mengangkatnya. Ayub sudah hafal bagaimana watak istrinya. Wanita yang dicintainya memang mudah ngambek, tapi hanya sesaat. Tak pernah berlama-lama. Pernah Ayub menanyakan hal itu. Jawaban Sasya adalah aku tak kuat menahan rindu. Ayub tersenyum tanpa dia sadari. Nanti malam akan dia coba menghubungi lagi. Hari ini memang harusnya dia pulang. Tapi job tambahan tak bisa dia alihkan. Akhir-akhir ini banyak yang hajatan dan menggunakan jasa tempatnya bekerja. Dan tidak ada yang menggantikannya. 

Pulang dari resto dengan segala keletihannya, Ayub mengambil handphone. Bercelana pendek dengan kaos singlet pakaian kebesarannya ketika tidur. Pandangannya sejenak memandang layar HP nya. Foto dirinya, menggendong Sasya di punggungnya. Senyum ceria dari wajah keduanya. Gambar ini diambil ketika mereka pulang ke kota kelahiran. Mengunjungi tempat wisata berdua. Ah, memandang Sasya selalu membuatnya makin merindu. 

Jarinya kembali menekan angka milik Sasya. Sudah hampir dini hari, tapi kalau tidak sekarang telfonnya, Sasya akan makin ngambek. Ayub tak ingin itu. Celoteh dan bawelnya merupakan pelengkap kehidupannya. 

Sekali terdengar nada dering, tapi tak diangkat. Dua kali, tiga kali, hingga empat kali. Tidak diangkat oleh Sasya. Mungkin tertidur lelap, pikir Ayub. Dicobanya lagi, berharap kali ini akan diangkat. Tolong angkat, Yank, gumam Ayub.

"Hmm, siapa?" suara serak, malas memjawab salamnya. Ayub tersenyum lega. 

"Sudah tidur ua, Say?"
Menyadari yang menelfon adalah Ayub, seketika Sasya menutup telefon tanpa berkata apapun. 

"Saayyy..."  Ayub memanggil Sasya dengan suara tertahan. Belum sempat dia berbincang, telefon sudah ditutup. Ngambeknya sudah akut, hingga tak mau mengangkat telfon.

Ayub meletakkan telfonnya. Percuma jika mencoba lagi, Sasya masih anteng dengan aksi ngambeknya. Biarlah, lebih baik memejamkan mata, pikir Ayub. 

**************

Sasya yang sudah terbangun karena suara telfon, tak bisa lagi memejamkan matanya. Berharap Ayub akan merayunya, menelfonnya lagi karena memang dia punya alasan untuk ngambek. Ingin tahu sejauh mana, seberapa Ayub menganggap dirinya berarti dan penting. Tapi rupanya tidak. Ayub hanya mencoba menelfon sekali. Karena tahu dia ngambek, Ayub tak mencobanya lagi. Ah, Sasya hafal sekali bagaimana watak Ayub suaminya. Setiap Sasya ngambek, dia tak akan perrnah merayunya. Hanya memberikan waktu kepada Sasya untuk cooling down dan setelah waktu yang disepakati, mereka akan membahasnya. 

Lelah menunggu, diambilnya buku kejujuran. 

Yank, kenapa sih setiap aku ngambek, Sayy tak pernah merayuku seperti aku merayumu ketika ngambek? Kamu selalu diam, membiarkanku yang merayumu. Ini salahmu, Saayy...
Harusnya waktumu bersamaku, bukan dengan pekerjaan-pekerjaanmu!

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

25 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 8)

Waktu terasa lambat berganti bagi hati yang merindu. Itulah yang dirasakan Sasya saat menanti hari berganti Selasa malam atau menjelang Rabu pagi. Jarum jam sudah bergeser menunjukkan kuasanya di angka sembilan malam. Sasya gelisah menunggu kabar dari Ayub. Perjalanan dari Jakarta menuju Sukamakmur bukanlah jarak yang dekat. Hampir dua jam duduk di atas motor jika dilajukan dengan kecepatan sedang. Whatsapp Sasya belum terbaca dari selepas magrib tadi.

Sasya terlentang menatap langit kamar kontrakannya. Ada banyak tempelan stiker bintang yang sengaja mereka tempel. Ayub selalu membisikkan di telinga Sasya.

Jadilah bintang di langit, agar ketika aku merindukanmu, aku akan menemukanmu di antara pendar cahaya bintang. Menemani malam-malamku yang pastinya akan terasa panjang tanpamu. Tapi dengan melihat langit, aku merasa kita bersama memetik dawai kerinduan untuk menghabiskan sisa malam.

Kalimat sederhana, namun membuat Sasya selalu merindukan Ayub. Kembali matanya melirik jam dinding. Sudah bergeser sepuluh menit dari jam sembilan. Gelisah mulai menyergap perasaan Sasya. Ada rasa takut dan cemas. Mengingat jalan menuju kontrakannya melewati kebun karet yang sepi. Kalau liburnya berbarengan dengan suami Altamira, biasanya mereka pulang berdua. 

Sayy, kamu di mana? Aku cemas sekali...

Kembali Sasya mengirim WA ke Ayub. Tetap tak terbaca. 

Dua puluh menit berlalu. Mata Sasya sudah mulai tak kuat menahan kantuk. Ketika tiba-tiba HPnya bergetar. Dengan cepat Sasya membuka pesan dari Ayub.

Sayy, sudah tidurkah? Aku telfon ya?

Dibalas oleh Sasya.

Nggak jadi pulangkah, yaank?

Terkirim, dan langsung terbaca. Terlihat dari layar HP Ayub sedang mengetik pesan. Sasya menunggu.

Aku telfon aja ya, Sayy?

Okeee..

Jawab cepat Sasya. Pertanyaan yang sebetulnya tak membutuhkan jawaban. Karena biasanya tanpa ijin, Ayub akan menelfonnya. Berbincang lama mengurai benang kerinduan.

Nada dering terdengar. Langsung Sasya menekan tombol terima panggilan.

"Saayy ada di mana?"  Salam belum dijawab, Sasya sudah memberondong dengan pertanyaan. Sesaat Ayub tertawa.

"Masih di resto, Yank. Ada job tambahan. Nggak bisa pulang. Maaf yaa, Yank." Ayub hati-hati menyampaikannya. Ia hafal betul bagaimana Sasya akan ngambek jika ia tak pulang. Sudah dua kali waktunya off ia harus menerima order, sehingga jadwal bertemu istrinya tercinta harus gagal.

Sasya terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Ada sedih dan jengkel bermain di hatinya. Nggak kangen apa ya, kok terima job lagi. Begitu batinnya berkata.

"Sayy..." panggil Ayub.

"Emang nggak ada orang lain lagi, Yank? Harus Saayy?" lirih Sasya mengucapkannya. Nyaris tak terdengar.

"Nggak ada orang, Yank."
"Ya sudah."
Klik! Telefon langsung ditutup Sasya tanpa mengucap salam. Ayub hanya melongo. Tak biasanya Sasya menutup telefon tanpa pamit. Dipencetnya kembali nomor Sasya. Berdering tanpa diangkat pemiliknya. Berkali-kali Ayub mencoba. Berkali-kali pula tak mendapat jawaban. Sasya sudah meletakkan telfonnya di sudut kasur dan ia tutup dengan bantal. Air matanya sudah mengalir, diambilnya buku kejujuran.

Kembali kamu nggak inget aku, Saayy. Tak pulang lagi, padahal aku sudah merindumu. Begitu berartikah sampai kamu tak bisa minta ijin? Bilang sama bosmu, kalau kamu punya istri yang tinggalnya jauh. Aku sebel ma Saayy...Lihat saja, aku nggak akan angkat telfonmu!


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung




24 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 7)

Buku Kejujuran

Sasya dan Ayub menamainya demikian. Dan hanya kalimat itu yang pas untuk menggambarkan keseluruhan isi dalam buku. Buku ini sudah sangat lama, buku tebal yang digunakan keduanya ketika mulai saling mengenal. Ya, ketika masa belum secanggih sekarang ini, mereka menggunakan buku ini untuk mengungkapkan segalanya. Tidak setiap saat, hanya waktu-waktu tertentu. Hingga mereka berjodoh, buku ini akhirnya mereka namai Buku Kejujuran. Meskipun zaman sudah beralih dengan teknologi Bbm, Whatsapp, atau lainnya, mereka tetap yakin, buku inilah penengah di antara mereka.

Ada ungkapan cinta ala monyet, Sasya menyebutnya dulu. Karena memang saat mengungkapkannya Ayub dan Sasya masih SMP. Hanya ungkapan I Love U, tapi sudah memiliki sejuta makna bagi keduanya yang memang waktu itu menyimpan rasa yang sama. Jatuh tanpa rasa sakit untuk pertama kalinya, tapi justru membuat mereka melambung. Mereka saling jatuh cinta. Hingga Sasya menuliskan sebaris kalimat untuk Ayub dalam buku ini. 

Kita masih SMP. Bisa saja suatu saat nanti, pas SMA, kuliah, atau kerja, kamu akan jatuh cinta bukan lagi untukku. Mari kita jaga bersama rasa yang sama, dalam cangkir yang berbeda. Dimana suatu hari nanti, cangkir ini akan kembali dalam satu nampan. Selama itu, kita kejar apa yang ingin kita raih, untuk mengindahkan nampan kita kelak.

Ketika selesai menulis, Sasya akan menyerahkan buku itu kepada Ayub. Entah bertemu di perpustakaan, di parkiran sepeda, atau di tengah jalan sepulangnya mereka dari sekolah. Pokoknya ketika bertemu, buku itu akan berpindah tangan, tanpa waktu yang pasti. Hanya bahasa mata dan hati yang menggambarkan kala itu.

Perpisahan mereka karena saling mengejar impian, tak membuat Sasya ataupun Ayub menghentikan kegiatan ini. Jarak yang terbentang ketika masa kuliah, membuat buku ini lebih sering menginap lama di salah satu dari mereka. Diambil kalau Sasya atau Ayub pulang ke rumah.

Sasya ingat sekali, setiap ada masalah yang mengganjal di hatinya, akan ia tuliskan di sini. 

Minggu ini, off kapan, Yank? 
Whatsapp Sasya terkirim untuk Ayub.

Bisa menikah dengan Ayub, meskipun tinggal di tempat yang berbeda karena pekerjaan, membuat hubungan mereka serasa tetap seperti sebelum menikah.

Lama tak berbalas.

Yaaaank...
Kembali Sasya mengirim whatsapp. Kali ini terbaca oleh Ayub.

Off hari Rabu dan Kamis, Sayy. Mudah-mudahan nggak ada job tambahan. 

Hari ini Senin, gumam Sasya seorang diri dalam kamar kontrakannya. Masih lama pikirnya.

Kenapa, Yaank? Udah kangen ya?

Sasya tersenyum ditebak seperti itu oleh Ayub. Jikalau dulu semasa SMA dan kuliah, mereka tak pernah mengungkapkan tentang kerinduan, setelah menikah, kata-kata itu sering terucap. 

Nanti aku telfon ya, Yank... ada pesenan tiga meja lagi nih!

Sasya tidak membalas pesan Ayub. Ia tahu betul, tak akan terbaca jika Ayub sudah mengatakan ada pesanan tiga meja lagi. HP sudah pasti masuk kantong. Ia hanya perlu menunggu kedatangan Ayub di Selasa malam, atau Rabu pagi. 

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

23 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 6)

Hadeh, Helena, HP diberi password sudah membuatnya curiga. Ni pasangan sepertinya tidak ada yang mau mengalah untuk memadamkan titik-titik api yang mulai membesar. Jika hal ini dibiarkan, maka sinyal bahaya sudah di depan mata. Pikir Sasya. Hal yang sama dirasakan oleh Altamira. 

"Sekarang maunya apa?" tanya Sasya pelan. Lembut mengelus punggung Helena. Tangisnya sudah mulai reda. Altamira mengambilkan minun untuk Helena.

"Minumlah dulu," Altamira memberikan minumnya. Langsung diambil oleh Helena dan meminumnya sampai tandas. Sasya tersenyum melihatnya.

"Boleh kami memberikan saran?" hati-hati Altamira bertanya. Duduk di depan Helena, memegang tangannya. Mencoba memberikan kekuatan kepada Helena.

Altamira menarik nafas. Sedikit bingung jika akan memulai dengan Helena, kepala batu yang senangnya hanya mengikuti kata hatinya.

"Len, coba bicarakan baik-baik dengan Awan. Nggak boleh ada emosi. Katakan apa keinginanmu. Tanyakan juga apa keinginan Awan. Semuanya akan selesai jika dibicarakan dengan kepala dingin. Awan tidak akan pernah tahu yang menjadi keinginanmu jika kamu hanya mendiamkan saja. Buang gengsimu. Tak akan jatuh harga dirimu hanya karena memulai duluan pembicaraan ini. Semoga kamu mengerti."

Sepi terdiam. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Entahlah, apakah Helena bisa menerima pendapat Altamira. 

"Harus dicoba, Len. Kalau diam-diaman begini, memang enak?" lanjut Sasya.

"Aku enak saja. Toh Awan juga nggak pernah bertanya jika aku diam saja." jawab Helena.

"Kok betah ya?" Sasya dan Altamira bersamaan menanyakan hal yang sama. Helena tertawa mendengar pertanyaan yang sama dari dua sahabatnya.

"Betahlah," sekenanya Helena menjawab. Berdiri mengambil tas yang tergeletak di dekat meja kecil Sasya. Mata Helena tertuju pada sebuah buku yang kelihatannya sudah sangat tua. Warna sampul buku sudah kusam. Helena tertarik, mengambil buku itu dan membukanya. Sampul pertama ada foto Sasya. Foto lama, semasa sekolah sepertinya. Ada tulisan BUKU KEJUJURAN.

"Ini buku apa, Sa?" matanya tidak lepas dari buku Sasya. Mendapat pertanyaan dari Helena, Sasya langsung melompat dan merebut buku yang dipegang Helena.

"Eits! Ini buku kejujuran kami."
"Maksudmu?" Helena masih penasaran. Altamira ikut melongok buku yang dimaksud. Penasaran juga, namun bisa ditahan. Biarkan Sasya menjelaskan.

Sasya mendekap bukunya di dada, merasakan begitu berartinya buku itu baginya. Helena tertawa melihat tingkah Sasya.

"Lebay kamu, Sa." Dorong Helena geli. 
"Timbang buku sampai dipeluk kaya gitu. Apa istimewanya buku itu?"

Sasya terkekeh pelan. Dua sahabatnya mulai kepo. 

"Ini buku kejujuranku dengan Ayub. Apa yang tak bisa kuungkapkan secara langsung karena takut menyinggung, kami tuliskan di buku ini. Tidak ada rahasia dalam buku ini. Tapi terkadang, kami berantem dalam buku ini." Jelas Sasya yang membuat wajah dua sahabatnya makin penasaran.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung



20 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 5)

Jurik atau setan atau dedemit atau apalah julukannya, yang jelas itu adalah istilah yang digunakan oleh Helena untuk menggambarkan sosok yang menyebalkan dalam hidupnya. Sebutan ini muncul ketika awal pernikahan Helena meminta kepada suaminya agar tidak lagi berhubungan dengan si Jurik ini, baik melalui media sosial apapun. Nah, ternyata oh ternyata Awan masih memiliki kontak perempuan yang diberi gelar jurik oleh Helena. Bahkan intens inbok an melalui facebook ataupun BBM. Saat mengetahui hal ini pertama kali, Helena marah luar biasa. Langsung handphone milik Awan menjadi sasaran empuk kemarahan Helena. Dilempar mengenai tembok kamar. Tak ada percakapan apapun, Helena hanya menangis, memutuskan sepihak tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Awan. Tutup kuping rapat-rapat. Helena merasa dikhianati, karena ia merasa di awal menikah sudah mengatakannya.

Kejadian kemarahan Helena tak berlangsung lama. Awan mengalah, memblokir semua media sosial yang berhubungan dengan wanita jurik ini. Awan mengikuti kemauan Helena. Entahlah, untuk kali ini apalagi.

"Jurik kenapa lagi? Godain Awan lagi?"

Helena menggeleng lemah. 
"Aku nggak tahu. Siapa yang membuat Awan sibuk dan tak lepas dari ponselnya. Kemana-mana selalu di kantongnya. Bahkan sekarang diberi password agar aku tak bisa buka. Dia nggak peduli dengan anaknya. Hanya HPnya yang ia pedulikan."

Sasya dan Altamira terdiam dalam pengembaraan pikiran masing-masing. Mungkinkah Awan mengkhianati Helena?

"Kalau masalah cueknya Awan, oke deh! Aku bisa maklum. Dari awal mengenal, Awan memang cuek, nggak romantis. Tapi kalau sampai dia berhubungan lagi dengan Jurik, lihat saja nanti!" geram Helena mengatakannya. Dua tangannya mengepal, giginya gemerutuk menahan emosi.

"Sudah coba ajak bicara baik-baik belum?" tanya Sasya hati-hati.

"Belum. Malas, Sa."

Berdua, Sasya dan Altamira kompak berdehem. Keras kepala Helena sepertinya sedang meraja. Bakal susah, nasehat apapun nggak akan mempan. 

"Cobalah bicara baik-baik dulu. Tanyakan dengan lembut. Biarkan Awan menjelaskan kenapa dia selalu sibuk dengan ponselnya. Siapa tahu mungkin dia sedang bisnis dengan orang lain."

"Tapi nggak perlu dipassword kan HP nya?" masih galak Helena membantah omongan Altamira. Sasya yang melihat hanya tersenyum kecil. Hafal sudah watak Helena.


Bersambung...

#OneDayOnePost


#TantanganMenulisCerbung

19 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 4)

Terhidang di atas tikar pandan menu yang telah dipesan. Dua ekor ayam kampung bakar, gurame bakar tiga kilogram, berbagai lalapan, dan sayur asem serta sambal. Mata Sasya sudah lirik sana lirik sini hendak mencomot makanan kesukaannya. Badannya yang kecil bukan berarti porsi makannya sedikit. Biasanya tak akan berhenti mengunyah sebelum makanan habis, itu prinsip Sasya yang akhirnya diikuti oleh dua sahabatnya, Altamira dan Helena. Para suami mereka hanya tersenyum jika istri-istri mereka masih sibuk menghabiskan makanan, sedangkan mereka sudah selesai. 

"Aku mau makan pake ayam bakar dulu. Say mau makan pake apa?" tanya Sasya. Tangannya sibuk memindahkan nasi ke piringnya, kemudian mengambil ayam bakar bagian paha. 

Yang ditanya tersenyum. "Samaan saja ya, sepiring berdua saja, Yank. Nanti kalau mau nambah gurame, ambil lagi."
Dijawab anggukan kepala oleh Sasya. Helena dan Altamira juga sudah mulai menyantap makanan.

Sibuk menikmati makanan dengan sesekali ditimpali obrolan ringan dan gurauan. Hanya Awan yang masih sibuk dengan ponsel pintarnya. Mungkin ada bisnis atau apalah. Helena sering mengeluhkan perbuatan Awan ini kepadanya dan Altamira.

Terlahir sebagai sulung, tidak serta merta membuat Helena menjadi gadis yang mandiri. Sifat manjanya masih kuat meskipun dia mendapat tugas pengabdian di Bogor, jauh dari orang tuanya. Banyak hal dan pemikiran bahkan sikap dari Helena yang sering membuat Sasya ataupun Altamira harus geleng-geleng kepala. Si kepala batu yang susah diberi nasehat. 

"Sebel sama si Awan. Bosen ah, pengen udahan saja. Nggak mau nerusin pernikahan ini." Keluh Helena siang itu sepulang sekolah di kontrakan Sasya. Sejak Helena menikah disusul Altamira, Sasya akhirnya memilih pindah kontrakan lebih kecil. 

Altamira dan Sasya memandang wajah ayu Helena. Ada bekas tangisan sisa semalam sepertinya. Sudah berkali-kali hal begini dikeluhkan oleh Helena. Sikap Awan yang cuek, nyaris tak perduli dengan Helena dan anak-anaknya. Padahal usia pernikahan mereka belum lama. Tahun 2012 pertengahan Helena memutuskan untuk serius dengan Awan. Perkenalannya yang singkat di desa ini, tak membuat Helena ragu memilih Awan. Padahal kedua orang tuanya sudah menyiapkan pasangan untuk Helena. Lebih kaya dan mapan dibandingkan Awan. Sekalipun mendapat pertentangan dari orang tuanya, Helena tetap keras kepala memilih Awan. Dengan bujuk rayu, akhirnya luluh juga orang tua Helena. 

"Ingat nggak, dulu bagaimana berjuang mendapatkan restu hingga bisa menikah?" sindir Altamira. Sasya mengiyakan dengan anggukan kepala. Helena hanya nyengir tak berarti.

"Nggak ingat kali ya, bagaimana nangisnya berdua dulu, jika tetap tak dapat restu. Ingat juga ketika kita harus bermain petak umpet agar kamu bisa bertemu dengan Awan, sedangkan calon suami yang dibawakan ibumu datang." tambah Sasya tak kalah kerasnya.

Helena semakin menunduk. Tanpa disadari air matanya jatuh perlahan dari bulat matanya. "Jujur aku masih sayang dengan Awan. Tapi kenapa dia cuek? Dia asyik bermain dengan dunianya, yaitu telefonnya. Kalian ingat tentang si Jurik?" pelan Helena menjawab.


Bersambung....

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

18 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 3)

Sasya, Altamira, dan Helena memutuskan tinggal dalam satu kontrakan. Mereka menyewa satu rumah dengan tiga kamar. Memilih tempat tinggal dekat dengan sekolah, agar lebih irit biaya ongkos. Sekolah  mengabdi mereka adalah sebuah SD di bawah kaki bukit dengan suguhan pohon-pohon hijau di sekelilingnya. Udara dingin, kabut terkadang turun memberi warna pada desa tersebut. Jalanan khas kampung berbatu, berkelok, membuat enggan penghuninya keluar rumah, menyebabkan rumah kontrakan itu selalu ramai dengan cerita setiap harinya. Kebersamaan yang menyenangkan. Bercerita dalam senang dan sedih. Asyik mendalami watak satu sama lainnya. Dengan keunikan masing-masing bawaan dari asalnya. Sedikit selisih dari bertiga, masih dianggap wajar. Yang penting mereka selalu berkomunikasi agar tidak terjadi salah paham.

Kejadian yang Sasya ingat, setelah dua minggu mereka bersama dalam satu sekolah dan kontrakan. Siang itu sepulang sekolah Altamira masuk kamar dengan wajah usai menangis. Sasya dan Helena yang asyik berbincang di ruang tengah, bergegas menghampiri pintu kamarnya. Mengetuk perlahan, menanti jawaban dari empunya kamar. Sepi tanpa jawaban. Hanya isak tangis mulai terdengar menjawab ketukan pintu sahabat.

"Tata, buka pintu dulu!" Sasya mengetuk pintu semakin gugup mendapati suara isak tangis Altamira. Helena pun ikut berteriak menggedor pintu.

"Tata, ada apa? Buka pintunya dahulu!" kembali Sasya meminta. Kembali tanpa respon.

Hening, Sasya dan Helena berdiri di depan pintu, menanti Altamira membukakan pintu. Sasya jongkok, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar Altamira. Kepalanya tertunduk. Helena berdiri, lengan kanan bersandar pintu, matanya menatap Sasya, menunggu perintah apa yang akan dilakukan agar Altamira mau membuka pintu.

Detik berputar dengan menit. Hampir dua puluh menit mereka mematung tak bergerak dari posisi semula. Ketika terdengar gerakan engsel pintu dibuka, reflek Sasya berdiri dari jongkoknya. Kakinya sudah mulai terasa kesemutan.

Muncul wajah kusut, mata merah usai menangis, dari balik pintu, telfon genggam ada di tangan kanan. Sepertinya selesai menelefon seseorang. Mungkin keluarganya yang jauh. Kasihan Altamira, pasti dia merasa sendiri dan jauh dari keluarganya.

Sasya memeluk Altamira, Helena melakukan hal yang sama. 

"Aku nggak apa-apa," lirih Altamira menerangkan kondisinya kepada sahabatnya. Terlihat mereka sangat panik, wajah cemas, saat Altamira masuk kamar tadi.

Sasya melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Altamira. "Ceritakan pada kami, apa yang terjadi?"

Altamira menggandeng tangan kedua sahabatnya, duduk di tepi busa kasur. 

"Aku tadi nyaris adu pendapat dengan Bu Popi. Kalian tahu kan, bagaimana beliau melihatku. Selama ini Bu Popi tak pernah mau bersalaman tangan denganku. Senyum juga enggak, apalagi ngobrol. Kalaupun bercakap, yang keluar kata-kata berbumbu cabe sekilo. Tadi aku bertanya ke beliau, apakah aku berbuat salah sehingga perlakuan beliau judes bin ketus ke aku."

Sasya dan Helen mendengarkan penjelasan Altamira. Mereka tahu betul siapa Bu Popi. Guru senior, cantik, berkerudung lebar, tapi desas desus yang ada, beliau memang judes. Apalagi sikapnya kepada Altamira yang berbeda keyakinan. Nyaris tak pernah mau bercakap ramah atau sekedar bersalaman tangan. Entah apa yang ada dalam pikiran Bu Popi mengenai Altamira. Pernah mendengar bahwa Bu Popi mengatakan hal buruk tentang Altamira dan keyakinannya. Sehingga beliau merasa kotor jika bersentuhan dengannya.

"Aku sedih, aku memang beda agama dengan kalian semua. Tapi apa segitu buruknya aku di mata agama kalian?" ada nada amarah, geram, dari kata-kata Altamira.

"Aku harus berbuat apa?" dua tangan Altamira menangkup di wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sasya dan Helena erat kembali memeluk sahabatnya.

"Untuk sementara kita cuekin dulu Bu Popi. Kamu sahabatku, Ta. Kita memang berbeda. Tapi karena perbedaan itulah kita menjadi indah. Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku." Sasya semakin erat memeluk Altamira yang menangis kembali. 

Bersambung....

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

17 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 2)

Duduk berkumpul melihat daftar menu, membacanya untuk menentukan pilihan. Helena dan Awan menawarkan ayam kampung dan ikan gurame bakar saja. Tambah lalapan dan sayur asem. Sasya mengiyakan pilihan Helena. Sedangkan Altamira meminta ikan gurame diperbanyak. Bosan dengan ayam kampung bakar, katanya. 

Sasya duduk merapat ke tubuh Ayub, sesaat setelah merasakan hawa dingin kembali menyergap. Hidungnya mulai terasa gatal, bersin-bersin, pertanda tubuhnya mulai melakukan penolakan terhadap udara dingin. Tangan kanan Ayub merangkul tubuh mungil Sasya, mengelus pundaknya, sekedar membantu mengusir hawa dingin dari tubuh Sasya.

"Dingin, Yank?" tanya Ayub. Wajahnya menatap Sasya yang mulai sibuk dengan tisu.

"Nggak bawa jaket, lupa," lirih Sasya menjawab. Matanya tak lepas membalas tatapan Ayub. Lelaki yang dicintainya mulai terlihat khawatir setiap ia bersin-bersin karena kedinginan.

Tangan Ayub kembali mengusap lengan kanan Sasya. Menyumbangkan hawa hangat miliknya, sekedar mengurai hawa dingin agar pergi dari Sasya. Ingin rasanya ia memeluk Sasya, agar lebih hangat. Tapi tak mungkin dilakukan. Ada Helena, Awan, Altamira, dan Alphon yang belum juga kembali dari kamar mandi. 

"Ehem...ehem...!" deheman dari Altamira dan Helen menyadarkan Sasya dan Ayub, ada mereka juga.

"Romantisnya dilanjutkan nanti lagi ya," kata Altamira tegas disambut tawa oleh Ayub dan Sasya. 

"Heran deh, nggak di rumah, nggak di luar, bikin iri saja!" kembali Altamira melanjutkan serangannya. Dijawab juluran lidah oleh Sasya, dengan tubuh makin merapat ke Ayub, memeluk dengan sengaja. Ayub hanya tertawa kecil mendapat perlakuan seperti itu. Awan melirik sekilas, tersenyum melihat tingkah sahabat istrinya. Pun Helena melakukan hal yang sama.

"Kakak lama amat sih ke kamar mandinya?" semprot Altamira ketika melihat Alphon baru bergabung. Yang mendapat semburan hanya tertawa kecil. Ia sudah hafal dengan istrinya, meskipun terdengar galak, tapi sesungguhnya ia sangat baik. Sehari tanpa teriakan Altamira seperti sayur tanpa garam, begitu Alphon menggambarkan tentang istrinya.

"Tata kebiasaaan! Jangan galak-galak sama Bang Alphon!" kata Sasya. Tata adalah panggilan sayang dari Sasya untuk Altamira. Terlalu panjang jika panggil nama lengkap, makanya ia hanya ambil nama singkatnya. Dan Altamira tidak keberatan dengan panggilan barunya.

Sasya mengamati kedua sahabatnya. Altamira yang dikenal galak, cerewet terhadap suaminya. Hampir setiap bertemu diwarnai dengan perdebatan kecil khas mereka. Bumbu pernikahan milik mereka. Herannya jika Altamira dalam sehari tidak adu argumen dengan Alphon, ia merasa rindu, ada yang hilang katanya. Menurut Altamira, dengan berantem mereka akan tambah mesra. Pernyataan yang aneh menurut Sasya yang selalu bengong mendapati mereka terkadang berdebat di depannya.

Lain Altamira, lain dengan Helena. Helena yang menginginkan romantis dengan suaminya, sering tak ditanggapi. Hanya gerutuan jika Helena melakukannya. Yang dianggap lebailah kata Awan. Awan sendiri dianggap suami yang super duper cuek menurutnya. Bahkan ke anak-anaknya juga. Seperti sekarang ini, melihat Ratu yang mulai mengantuk dan minta gendong, Awan tidak menawarkan untuk menggendong Ratu. Jadilah Helena menggendong tubuh Ratu yang perlahan matanya mulai tertutup kalah oleh rasa kantuk menunggu pesanan yang belum datang.

Bagi Sasya memiliki dua sahabat seperti Altamira dan Helena seperti memiliki harta benda yang berlimpah. Ia ingat betul bagaimana mereka dipertemukan dalam satu tugas, ditempatkan di daerah paling timur dari Kabupaten Bogor, tahun 2012 silam. Ingatan Sasya terbang sejenak menikmati waktu pertama kali dikumpulkan dalam satu tugas mulia, mengabdi menjadi guru SD.

"Aku Helena," gadis berkerudung itu menjabat tangan Sasya setelah urusan pemberkasan dan pelaporan di sekolah yang ditugaskan selesai. Sedangkan di sebelah Helena berdiri wanita yang tinggi, hitam manis dengan model rambut sebahu. Membawa travel bag. 

Sasya tersenyum menanggapi perkenalannya dengan Helena. Berasal dari Garut, gadis Sunda yang ramah, putih, pipi agak tembem, tidak terlalu tinggi tapi yang jelas lebih tinggi dari Sasya. Kemudian gadis sebelah Helena memperkenalkan diri sebagai Altamira. Jauh dari Ambon mengikuti seleksi CPNS dan ditempatkan bersamaan dalam satu sekolah. Awalnya Altamira sedikit canggung. Dia yang berbeda keyakinan, takut tidak diterima. Sasya sendiri berasal dari Jawa. Paling pendek dari mereka. Hingga akhirnya bertiga memutuskan tinggal dalam satu kontrakan.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

16 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 1)

Rumah Makan Banoraya 2 merupakan tempat yang sengaja dipilih oleh Helena untuk bertemu dengan kedua sahabatnya yang lain. Awalnya Helena memilih Rumah Makan Banoraya 1, yang letaknya ke atas lagi. Makanan yang disajikan pun lebih beragam. Bisa memesan ikan bakar ataupun ayam kampung bakar. Bahkan masih ada menu pilihan berbagai pepes dan sayur. Lalapan juga disediakan cukup banyak. Tinggal memilih petai, terong bulat, kacang panjang, daun singkong rebus, kol, timun, selada, dan daun-daunan lalapan lainnya. Sedangkan di sini, tidak ada aneka pepes. Sayur juga hanya ada sayur asem, lalapan juga terbatas terong, selada dan timun. Tapi tak apa-apalah, daripada berdebat lagi dengan Sasya si bawel. Takut hujanlah, takut kemalemanlah, takut licinlah, dan masih banyak lagi tadi argumen Sasya diiringi cemberut Helena karena tak bisa membantah sahabatnya yang satu ini.

Helena turun dari X Over putihnya, menggendong si cantik Ratu anaknya yang kedua. Memakai celana hitam dipadukan dengan blouse coklat muda, kerudung warna senada menambah ayu paras putih Helena. Sepatu sandal hitam teplek ia kenakan kali ini. Bahu kirinya menyangga tas kecil berwarna coklat. Kaca mata hitam kotak masih bertengger di atas kepalanya. Ratu yang digendong dengan tangan kanannya tampak tertawa gembira. Berjalan di sebelahnya lelaki tampan, tubuh atletis, sibuk dengan telefon pintarnya, adalah ia, suami dari Helena. Awan namanya. Berkaos putih dan bercelana hitam. Sandal carvil coklat menjadi pilihan kakinya. Melihat Helena kerepotan menggendong Ratu, Awan hanya melirik sekilas. Selama istrinya tidak meminta bantuan kepadanya, maka ia kembali sibuk dengan teleponnya. Menjawab pesan singkat ataupun BBM sepertinya.

Masuk Rumah Makan Banoraya 2 akan disambut senyum oleh waitres cantik, mempersilahkan tamu untuk memilih tempat yang paling nyaman. Bangunan berbentuk panggung dengan kolam ikan di bawahnya menambah asyik pemandangan. Tatapan mata akan disuguhkan dengan eloknya bukit-bukit kecil yang menghampar di sekelilingnya. Pohon-pohon besar dan rindang menghadirkan udara sejuk, sehingga pengunjung akan merapatkan jaket ataupun sweaternya. Tidak besar bangunan panggung ini,  tapi cukup luas untuk menerima tamu, dengan tikar pandan menikmati makanan ala lesehan. Ada dua bangunan rumah panggung. Satu bangunan lagi ada di seberang kolam ikan. Lebih besar dari rumah panggung yang pertama. Halaman parkir yang disediakan cukup luas untuk lima sampai sepuluh mobil. Parkir kendaraan roda dua ada di sebelah kanan bangunan, terpisah dari parkir roda empat.

Di belakang mobil Helena, dua sepeda motor beriringan. Satu sepeda motor N Max hitam dikendarai oleh Altamira dengan suaminya Alphon. Keduanya berperawakan tinggi besar dengan kulit hitam manis khas orang timur. Rambut Altamira sebahu, tebal hitam. Keduanya berjalan bersisian setelah memarkir sepeda motornya di sebelah X Over putih Helena. Turun dari motor menunggu satu sepeda motor lagi yang baru saja parkir di sebelahnya.

Sasya berboncengan dengan suaminya, Ayub. Memeluk mesra punggung suaminya. Turun dari Vario hitam terdengar suara tertawa lepas. Sasya bertubuh mungil, mengenakan celana hitam dengan blouse panjang kembang-kembang kecil warna biru. Dipadu dengan kerudung biru gelap. Wajah manis dengan bola mata bulat, bibir tidak terlalu tipis. Tapi cukup ramai bila  bercerita apalagi berdebat.  Berbanding terbalik dengan suaminya, Ayub. Bertubuh tinggi, rambut belah tengah, manis, dan terlihat agak pendiam. Bercelana jeans sedengkul dengan kaos garis merah marun. Tas kecil diselempangkan di bahu. Merangkul Sasya berjalan mendekati Altamira dengan suaminya.

"Nggak jadi ke atas? Katanya ke Banoraya 1?" tanya Ayub ke Altamira. Altamira hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya.

"Mmhh, " Sasya menggumam menanggapi jawaban Altamira. "Apa karena tadi aku ngomel ya? lanjut Sasya. Ia ingat, sebelum ke sini tadi mereka bertiga sempat ramai memilih tempat. Mungkin Helena memilih mengalah.

"Ya sudah, kita nyeberang. Helen sudah menunggu tuh." Kata Sasya melihat lambaian tangan Helena yang sudah mengambil tempat di panggung kedua. Menempati karpet paling ujung dekat dengan pinggir kolam. Ratu asyik melihat ikan nila, mujair, dan ikan mas yang berada di bawahnya. Sesekali tangan Ratu melambai dan tertawa kecil melihat ikan yang muncul ke permukaan air.

Berempat berjalan mendekati Helena dan Awan. Sasya bergelanjut manja berpegang tangan kanan Ayub. Altamira berjalan di depannya. Alphon sudah mendahului mereka berjalan dengan tergesa karena ingin ke belakang, panggilan alam katanya.  Sasya, Ayub, dan Altamira menghampiri Helena.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

13 Mei 2016

Setumpuk Kata dalam Sepi (bagian10)

Memutar semua kenangan tentang pernikahanku dengan Mei, menghadirkan warna tersendiri dalam hatiku. Meskipun dalam catatan buku birunya, Mei banyak menuliskan kesedihan dibandingkan kebahagiaannya. Rentang waktu yang boleh dibilang bukan pernikahan seumur jagung, aku ingin bukan hanya dalam lima tahun ke depan atau sepuluh tahun ke depan, tetapi selamanya. Membenahi lubang-lubang dalam kapal rumah tangga kami dengan menutupnya. Tidak membuat lagi lubang lainnya dalam kapal, agar kapal ini tidak tenggelam.

Mei banyak melukiskan perasaannya, terluka dalam pernikahannya denganku, namun bertekad tetap memberikan yang terbaik sebagai istri. Aku yakin, seiring waktu Mei akan mencintaiku. Ah, tanpa cinta pun Mei sudah mampu menunjukkan baktinya kepadaku dengan baik. Tak perlulah cintanya. Aku tersenyum menanggapi perbincangan kecil dalam hatiku.

Satu lembar dalam catatan Mei membuatku melambung terbang tinggi.

Sesakit apapun yang pernah tergores, mungkin akan tetap membekas. Tapi yakin akan bisa memudar. Akan berusaha menjadi akar. Tak nampak dari luar keberadaannya, akan tetapi selalu memberikan kekuatan untuk batang agar tetap berdiri kokoh, menjadi sandaran, dan tetap kokoh hingga tak diperlukan lagi.

"Assalamu'alaikum," terdengar suara salam dari pintu depan. Sepertinya itu adalah suara tiga bidadariku. Mei istriku, Bintang sulung kami, dan Bulan adiknya Bintang. Segera kututup buku biru Mei dan kumasukkan lagi ke dalam laci berkumpul dengan benda simpanan Mei.

"Wa'alaikumussalaam..." jawabku beranjak dari kursi kerja Mei membukakan pintu. Bertiga bidadariku tersenyum mencium tangan kananku. 

Usai mencium tanganku, Mei menuju dapur. Meletakkan beberapa barang ke dalam lemari kecil. Aku mengekor di belakangnya. Dua bidadariku yang lain sudah asyik ada dalam kamarnya. Kupandangi wajah Mei yang terlihat dari samping. Masih tirus namun tetap terlihat ayu. Janji yang sudah kupatri kuat untuk tidak melukainya, kini bertambah kuat setelah membaca buku birunya. Aku memang bukan suami yang diharapkan Mei di awal pernikahan, tapi aku akan memintanya kuat bertahan ketika badai menghantam perahu kami.

"Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Ibu?" tanya Mei risih aku perhatikan sedari tadi.

"Bu, jika nanti seiring perjalanan pernikahan kita, ada masalah besar yang menghadang, berjanjilah kepadaku, agar Ibu tetap bersamaku. Apapun yang terjadi."

Mei menatapku dan tersenyum menganggukan kepalanya. Kupeluk Mei sambil kubisikkan permintaan maafku.


"Maafkan Ayah, ya, Bu."
"Iya, Yah. Maafkan Ibu juga, belum bisa menjadi istri yang sempurna buat ayah."


Tamat

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

12 Mei 2016

Setumpuk Kata dalam Sepi (bagian 9)

Mei kembali pada aktifitas kesehariannya. Tak ada yang berubah dari Mei setelah peristiwa permintaan tak masuk akalnya sebab pertanyaanku. Janji yang sudah kuucapkan untuk tidak bertanya lagi hal yang menyakitkan bagi Mei, aku lakukan. Mei ku sudah tersenyum kembali, menjadi bidadariku dan malaikat bagi Bintang. Bintang mampu menjadi penerang di rumah kontrakan kami, tak hanya malam hari, tetapi setiap waktu yang kami lalui. Bintang begitu dekat dengan Mei, ibunya. Denganku Bintang tak pernah bermanja. Meminta apapun juga ke ibunya, bukan kepadaku.

Awal-awal aku merasa tersingkir. Penghasilan Mei yang lebih besar dariku sering membuatku sedikit perasa. Meskipun Mei tak pernah merendahkanku. Ia tetap menghormatiku sebagai suami. Terkadang muncul rasa bangga, aku tak perlu pusing seperti suami-suami yang lain. Bingung memikirkan mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Aku nyaris tak pernah tahu. Aku terlena dan merasa enak. Ditambah Mei tak pernah meminta gajiku jika aku tak pernah memberinya. Semua dicukupi oleh Mei. Perlahan dan pasti gengsiku sebagai kepala rumah tangga tersingkir dengan sikap lembut Mei yang tak pernah mempersoalkan. Pernah kutanyakan hal itu kepadanya.

"Gaji Ibu makin besar, tidak malu punya suami seperti Ayah? Buruh pabrik dengan gaji jauh dari UMR. Mudah-mudahan Ibu selalu menghormati Ayah."

Kulihat Mei tersenyum dengan ucapanku. Diciumnya punggung tangan kananku sebelum berucap.

"Ayah adalah suami Ibu. Penghasilan Ibu ya uang kita. Mungkin saat ini beban keluarga ada di pundak Ibu, Allah memberikan lewat Ibu. Tapi kita tak tahu beberapa tahun ke depan. Bisa jadi Ayah yang akan mendapatkan kesempatan memiliki penghasilan lebih besar."

Adeeem rasanya mendengar penjelasan Mei. Spontan kupeluk tubuhnya. Bintang yang melihat kami berpelukan, berlari ikut masuk dalam pelukan sambil tertawa lucu.

"Ayah dan Ibu seperti Teletubbies."

Kami menimpali perkataan Bintang dengan pelukan berpindah kepadanya. Saat itu aku merasakan dunia hanya milik kami bertiga. Bahagia tak tergambarkan, semoga seperti ini selamanya.

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung