17 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 2)

Duduk berkumpul melihat daftar menu, membacanya untuk menentukan pilihan. Helena dan Awan menawarkan ayam kampung dan ikan gurame bakar saja. Tambah lalapan dan sayur asem. Sasya mengiyakan pilihan Helena. Sedangkan Altamira meminta ikan gurame diperbanyak. Bosan dengan ayam kampung bakar, katanya. 

Sasya duduk merapat ke tubuh Ayub, sesaat setelah merasakan hawa dingin kembali menyergap. Hidungnya mulai terasa gatal, bersin-bersin, pertanda tubuhnya mulai melakukan penolakan terhadap udara dingin. Tangan kanan Ayub merangkul tubuh mungil Sasya, mengelus pundaknya, sekedar membantu mengusir hawa dingin dari tubuh Sasya.

"Dingin, Yank?" tanya Ayub. Wajahnya menatap Sasya yang mulai sibuk dengan tisu.

"Nggak bawa jaket, lupa," lirih Sasya menjawab. Matanya tak lepas membalas tatapan Ayub. Lelaki yang dicintainya mulai terlihat khawatir setiap ia bersin-bersin karena kedinginan.

Tangan Ayub kembali mengusap lengan kanan Sasya. Menyumbangkan hawa hangat miliknya, sekedar mengurai hawa dingin agar pergi dari Sasya. Ingin rasanya ia memeluk Sasya, agar lebih hangat. Tapi tak mungkin dilakukan. Ada Helena, Awan, Altamira, dan Alphon yang belum juga kembali dari kamar mandi. 

"Ehem...ehem...!" deheman dari Altamira dan Helen menyadarkan Sasya dan Ayub, ada mereka juga.

"Romantisnya dilanjutkan nanti lagi ya," kata Altamira tegas disambut tawa oleh Ayub dan Sasya. 

"Heran deh, nggak di rumah, nggak di luar, bikin iri saja!" kembali Altamira melanjutkan serangannya. Dijawab juluran lidah oleh Sasya, dengan tubuh makin merapat ke Ayub, memeluk dengan sengaja. Ayub hanya tertawa kecil mendapat perlakuan seperti itu. Awan melirik sekilas, tersenyum melihat tingkah sahabat istrinya. Pun Helena melakukan hal yang sama.

"Kakak lama amat sih ke kamar mandinya?" semprot Altamira ketika melihat Alphon baru bergabung. Yang mendapat semburan hanya tertawa kecil. Ia sudah hafal dengan istrinya, meskipun terdengar galak, tapi sesungguhnya ia sangat baik. Sehari tanpa teriakan Altamira seperti sayur tanpa garam, begitu Alphon menggambarkan tentang istrinya.

"Tata kebiasaaan! Jangan galak-galak sama Bang Alphon!" kata Sasya. Tata adalah panggilan sayang dari Sasya untuk Altamira. Terlalu panjang jika panggil nama lengkap, makanya ia hanya ambil nama singkatnya. Dan Altamira tidak keberatan dengan panggilan barunya.

Sasya mengamati kedua sahabatnya. Altamira yang dikenal galak, cerewet terhadap suaminya. Hampir setiap bertemu diwarnai dengan perdebatan kecil khas mereka. Bumbu pernikahan milik mereka. Herannya jika Altamira dalam sehari tidak adu argumen dengan Alphon, ia merasa rindu, ada yang hilang katanya. Menurut Altamira, dengan berantem mereka akan tambah mesra. Pernyataan yang aneh menurut Sasya yang selalu bengong mendapati mereka terkadang berdebat di depannya.

Lain Altamira, lain dengan Helena. Helena yang menginginkan romantis dengan suaminya, sering tak ditanggapi. Hanya gerutuan jika Helena melakukannya. Yang dianggap lebailah kata Awan. Awan sendiri dianggap suami yang super duper cuek menurutnya. Bahkan ke anak-anaknya juga. Seperti sekarang ini, melihat Ratu yang mulai mengantuk dan minta gendong, Awan tidak menawarkan untuk menggendong Ratu. Jadilah Helena menggendong tubuh Ratu yang perlahan matanya mulai tertutup kalah oleh rasa kantuk menunggu pesanan yang belum datang.

Bagi Sasya memiliki dua sahabat seperti Altamira dan Helena seperti memiliki harta benda yang berlimpah. Ia ingat betul bagaimana mereka dipertemukan dalam satu tugas, ditempatkan di daerah paling timur dari Kabupaten Bogor, tahun 2012 silam. Ingatan Sasya terbang sejenak menikmati waktu pertama kali dikumpulkan dalam satu tugas mulia, mengabdi menjadi guru SD.

"Aku Helena," gadis berkerudung itu menjabat tangan Sasya setelah urusan pemberkasan dan pelaporan di sekolah yang ditugaskan selesai. Sedangkan di sebelah Helena berdiri wanita yang tinggi, hitam manis dengan model rambut sebahu. Membawa travel bag. 

Sasya tersenyum menanggapi perkenalannya dengan Helena. Berasal dari Garut, gadis Sunda yang ramah, putih, pipi agak tembem, tidak terlalu tinggi tapi yang jelas lebih tinggi dari Sasya. Kemudian gadis sebelah Helena memperkenalkan diri sebagai Altamira. Jauh dari Ambon mengikuti seleksi CPNS dan ditempatkan bersamaan dalam satu sekolah. Awalnya Altamira sedikit canggung. Dia yang berbeda keyakinan, takut tidak diterima. Sasya sendiri berasal dari Jawa. Paling pendek dari mereka. Hingga akhirnya bertiga memutuskan tinggal dalam satu kontrakan.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

10 komentar:

denik mengatakan...

Wah...belum-belum kisah mesra-mesraannya bikin iriiii...hehe

Nychken Gilang mengatakan...

Waaah jadi ingin gurame. mereka buat aku cemburu mesra gitu hehe

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Asyik nih ceritanya

jadi penasaran

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Cieeeee ...
Mben riyoyo tak ceritakno cahe kisah iki .
Hahahaa

lisa lestari mengatakan...

Hahahahha...

Na mengatakan...

Romantis yank..eh. hehehe (^-^)

Vinny Martina mengatakan...

Serunya kisah persahabatan. Mbak. Jadi kepikiran bakal ada konflik apa yah?

Ainayya Ayska mengatakan...

Suami helena ko cuek, ya? Menyebalkan. Hehe

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Lha ne tokohnya nyata thow mbak??

Riendra siswin Rohmawatiningrum mengatakan...

Tuch kan mbak lisa....makin bikin aq ngiri ama shasya..... hmmm... #cari yg mirip mas ayub dimana ya ,

Aq koq malah gagal fokus ke ceritanya yah...kan tokoh utama e helena yach...#khilaf mbk lisa...hehhehe

Posting Komentar