24 Mei 2016

Karena Cinta (bagian 7)

Buku Kejujuran

Sasya dan Ayub menamainya demikian. Dan hanya kalimat itu yang pas untuk menggambarkan keseluruhan isi dalam buku. Buku ini sudah sangat lama, buku tebal yang digunakan keduanya ketika mulai saling mengenal. Ya, ketika masa belum secanggih sekarang ini, mereka menggunakan buku ini untuk mengungkapkan segalanya. Tidak setiap saat, hanya waktu-waktu tertentu. Hingga mereka berjodoh, buku ini akhirnya mereka namai Buku Kejujuran. Meskipun zaman sudah beralih dengan teknologi Bbm, Whatsapp, atau lainnya, mereka tetap yakin, buku inilah penengah di antara mereka.

Ada ungkapan cinta ala monyet, Sasya menyebutnya dulu. Karena memang saat mengungkapkannya Ayub dan Sasya masih SMP. Hanya ungkapan I Love U, tapi sudah memiliki sejuta makna bagi keduanya yang memang waktu itu menyimpan rasa yang sama. Jatuh tanpa rasa sakit untuk pertama kalinya, tapi justru membuat mereka melambung. Mereka saling jatuh cinta. Hingga Sasya menuliskan sebaris kalimat untuk Ayub dalam buku ini. 

Kita masih SMP. Bisa saja suatu saat nanti, pas SMA, kuliah, atau kerja, kamu akan jatuh cinta bukan lagi untukku. Mari kita jaga bersama rasa yang sama, dalam cangkir yang berbeda. Dimana suatu hari nanti, cangkir ini akan kembali dalam satu nampan. Selama itu, kita kejar apa yang ingin kita raih, untuk mengindahkan nampan kita kelak.

Ketika selesai menulis, Sasya akan menyerahkan buku itu kepada Ayub. Entah bertemu di perpustakaan, di parkiran sepeda, atau di tengah jalan sepulangnya mereka dari sekolah. Pokoknya ketika bertemu, buku itu akan berpindah tangan, tanpa waktu yang pasti. Hanya bahasa mata dan hati yang menggambarkan kala itu.

Perpisahan mereka karena saling mengejar impian, tak membuat Sasya ataupun Ayub menghentikan kegiatan ini. Jarak yang terbentang ketika masa kuliah, membuat buku ini lebih sering menginap lama di salah satu dari mereka. Diambil kalau Sasya atau Ayub pulang ke rumah.

Sasya ingat sekali, setiap ada masalah yang mengganjal di hatinya, akan ia tuliskan di sini. 

Minggu ini, off kapan, Yank? 
Whatsapp Sasya terkirim untuk Ayub.

Bisa menikah dengan Ayub, meskipun tinggal di tempat yang berbeda karena pekerjaan, membuat hubungan mereka serasa tetap seperti sebelum menikah.

Lama tak berbalas.

Yaaaank...
Kembali Sasya mengirim whatsapp. Kali ini terbaca oleh Ayub.

Off hari Rabu dan Kamis, Sayy. Mudah-mudahan nggak ada job tambahan. 

Hari ini Senin, gumam Sasya seorang diri dalam kamar kontrakannya. Masih lama pikirnya.

Kenapa, Yaank? Udah kangen ya?

Sasya tersenyum ditebak seperti itu oleh Ayub. Jikalau dulu semasa SMA dan kuliah, mereka tak pernah mengungkapkan tentang kerinduan, setelah menikah, kata-kata itu sering terucap. 

Nanti aku telfon ya, Yank... ada pesenan tiga meja lagi nih!

Sasya tidak membalas pesan Ayub. Ia tahu betul, tak akan terbaca jika Ayub sudah mengatakan ada pesanan tiga meja lagi. HP sudah pasti masuk kantong. Ia hanya perlu menunggu kedatangan Ayub di Selasa malam, atau Rabu pagi. 

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung

4 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Hmm serasa kembali muda
Suka dengan tulisannya

Indri Mulyani Bunyamin mengatakan...

Mba keren... aku suka... aku suka... dulu aku soalnya begitu juga. Pas hbs nikah lsg ditinggal jauh.

Ainayya Ayska mengatakan...

Suka dengan tulisannya... keren iramanya

Vinny Martina mengatakan...

Mbak lisa.. makin jago bikin ceritanya!

Posting Komentar