30 Juni 2016

Secangkir Maaf dalam Kopi

Undangan dengan warna biru, berpita warna senada, menghias indah. Tangannya gemetaran ketika membaca nama mempelai yang tertulis di undangan. Benarkah yang ia baca? Ataukah matanya mulai rabun?

Kembali matanya membaca huruf demi huruf dari nama yang terangkai. Benarkah ini? Tak mendengar kabarnya secara intens selama hampir lima bulan, tiba-tiba undangan ini yang mampir. Kenapa tak ada pemberitahuan sebelumnya? Setidaknya sinyal kepadanya bahwa hubungan mereka harus berakhir. Dan tentunya bisa dibicarakan baik-baik. 

Nanar mata Fatan membaca tanggal pernikahan yang tertulis. Masih seminggu lagi. Masih ada waktu, pikir Fatan. Sebelum janur kuning melengkung, ia akan menanyakan kenapa tanpa kabar Hana memilih menikah dengan pria lain. Siapa tadi nama mempelai pria yang dibacanya? Bima? Siapa dia? Fatan tak mengenalnya. 

Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja kecilnya. Memencet nomor sahabatnya Hana, Sinta.

Terdengar nada menunggu. Mungkin Sinta masih di kantor. Dicobanya sekali lagi. Kali ini usahanya berhasil. 

"Inget aku, Mas, kok tumben nelfon?" spontan Sinta menjawab telefon Fatan tanpa membalas ucapan salamnya.

Di seberang, Fatan hanya bisa garuk kepala yang tak terasa gatal. Setali tiga uang Sinta dengan Hana. Nyaris memiliki persamaan sifat. Juteknya suka keluar di saat yang tidak diinginkan.

"Sin, aku minta penjelasan darimu!" langsung Fatan menyampaikan maksudnya.

"Benarkah Hana akan menikah?" kalimat barusan yang keluar sungguh menyakitkan hati Fatan. Pelan tapi bergetar suaranya. Tanda ia menahan emosi.

Sinta tertawa mendengar pertanyaan Fatan.

"Hei, kemana aja selama ini? Hana mau menikah, Mas baru muncul. Kemarin-kemarin Mas kemana saja? Saat Hana begitu mengharap kehadiran Mas, Mas Fatan justru menghindar kan?" tanpa memberi kesempatan kepada Fatan untuk menjawab. Sinta mengungkapkan kejengkelannya. Bagaimana Fatan membiarkan Hana tanpa kejelasan apa-apa, bagaimana Hana harus terseok-seok saat berusaha menganggap perlakuan Fatan mungkin hanya karena banyak masalah, hingga akhirnya sahabatnya benar-benar hampir putus asa. Lima bulan tanpa memberi kabar dengan intens, hanya sesekali menjawab bbm atau wa Hana, itupun dengan jawaban singkat dari Fatan.

Fatan terdiam. Oh, Tuhan, beginikah wanita? Tak pernah bermaksud meninggalkan Hana, wanita yang sejak lama bertahta di kerajaan cintanya, ia hanya butuh waktu sendiri dulu. Kenapa harus berakhir begini? Fatan begitu mencintai Hana, dan tentunya ingin dialah yang akan menjadi suami Hana. Bukan orang lain.

"Aku akan ke Bogor. Naik kereta sore ini. Akan kutemui Hana dan meminta penjelasan darinya. Aku mencintainya, Sin. Aku ngaku salah, tapi jangan meninggalkanku dengan cara begini," Fatan menjawabnya dengan pelan. Nyaris tak terdengar oleh Sinta.

"Mau apa..." terputus suara Sinta karena telefon sudah ditutup oleh Fatan. Sinta hanya menggelengkan kepalanya. Hana perlu tahu ini. Senyum terlukis dari wajah Sinta.

**********
"Kita kelewatan nggak sih?" tanya Hana usai Sinta menceritakan telfon dari Fatan. Setiap mengurai cerita tentang lelaki itu, Hana selalu menampakkan wajah muram. Diacuhkan oleh Fatan tak membuat Hana mudah melupakannya. Sinta segera memeluk Hana sebelum telaga itu menumpahkan airnya. 

"Nggak! Kita nggak kelewatan kok. Kalau benar ia mencintaimu, maka ia benar akan datang besok, ke sini. Jika tidak," Sinta mengangkat bahunya sebelum melanjutkan.

"Kamu harus melupakan mas Fatan, selamanya. Dia tak pantas untukmu."

Hana mengangguk. Ini seperti hitungan matematika. Menunggu peluang yang akan diambil oleh Fatan. Jika perhitungannya tepat, maka semua akan berjalan sesuai rencana. Andai Fatan benar datang menggunakan kereta, pagi hari ia sudah tiba di Jakarta. Jakarta Bogor bukan jarak yang jauh. Paling lama siang Fatan akan sampai di kost an Hana. 

Tapi jika tidak? Berarti prasangka Hana tentang Fatan selama ini benar. Kebisuannya adalah upayanya untuk menghindar dari Hana. Meski sebelumnya Fatan mengatakan, ia butuh waktu sendiri. Namun haruskah dengan cara seperti ini? Nyaris tak ada komunikasi. Yang biasanya hampir tiap hari saling berkabar, tiba-tiba berubah. Tentu saja membuat Hana bermain dengan banyak prasangka. Fatan juga tidak pernah membantahnya jika Hana mengatakan keraguannya. Menjelaskan pun tidak. Dan menunggu waktu hingga esok siang itu adalah hal yang paling menyiksa menurut Hana dan Sinta.

************

Matahari siang sudah digantikan oleh cahayanya yang mulai redup oleh waktu yang bergeser dari putarannya. Dua sahabat yang menunggu kedatangan Fatan mulai cemas. Hitungan yang mereka perkirakan kemarin ternyata meleset. 

Sinta mulai sibuk menenangkan Hana yang sudah berurai tangisan sejak siang tadi. Fatan yang ditunggu tak ada kabarnya juga. Untunglah hari ini Sabtu, mereka leluasa menunggu Fatan. Melihat kondisi Hana, Sinta berjanji akan menemaninya sampai esok pagi. 

"Sudah ya, Han, ingat janjimu." Sinta mengelus pundak Hana. Hana mengangguk.

"Biarkan aku menangis lagi kali ini, Sin. Agar esok aku sudah bisa tersenyum lagi. Tanpa perlu mengingat  mas Fatan yang pernah hadir di hidupku." bahu Hana kembali terguncang. Menangis memang cara paling ampuh meredakan duka. Sinta akhirnya memeluknya kembali. Matanya mulai ikut berair. Mengingat bagaimana Fatan dan Hana bisa sejauh ini. Tapi harus selesai dengan cara seperti ini. 

"Menangislah kalau itu buatmu lega." Sinta berucap pelan. Tangis Hana memilukan hati yang mendengar. Menggambarkan begitu luka hatinya akan penantian Fatan yang membisu. 

Cukup lama Hana melepaskan sedihnya. Meratap pilu berada di pelukan Sinta. Sore sudah tergantikan gelap. Mereka hanya membisu dalam kamar Hana. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang mengembara. Hana berbaring di kasur, Sinta hanya duduk di tepian ranjang. Menatap majalah wanita yang tak sungguh-sungguh ia baca. Sedangkan mata Hana terpejam. Bukan tertidur, hanya sekedar memejamkan mata.

Sinta mendengar suara pintu diketuk seseorang. Hana tidak mendengarnya. Terbukti mata Hana masih terpejam.

Kamu saja yang bukakan pintu," kata Hana sebelum Sinta sempat bertanya. Sinta terkekeh. 

Berdiri di depan pintu kamar kost Hana. Lelaki bertopi dengan ransel di punggung. Kaos warna hijau garis putih dipadu dengan celana selutut. Sandal gunung melindungi kakinya. Sinta menatapnya dari atas hingga ujung kaki. 

"Hana ada, Sin?" tak peduli bengongnya Sinta.

"Naik siput ya, jam segini baru muncul." masih dengan bengong Sinta berkata dengan jutek.

"Nanti aku jelaskan. Aku butuh Hana sekarang. Mana dia?"

"Han..." Sinta memanggil Hana yang ternyata sudah ada di belakang Sinta. 

"Kita perlu bicara, Saayy," tamu yang tak lain adalah Fatan langsung menarik tangan Hana untuk duduk di teras. Hana hanya mengekor. Sinta ikut duduk di depan mereka. 

"Mau bicara apa, Mas?"

"Batalkan pernikahan itu, Yank. Menikahlah denganku. Aku nggak rela kalau Say menikah dengan orang lain."

Hana menatap wajah Fatan. Ada cemas, takut tergambar dari wajah lelaki yang dirindukannya selama ini. Wajah penuh penyesalan nampak pula di samping wajah lelah setelah menempuh Jogja Bogor.

"Kau tak pernah mencintaiku, Mas. Bahkan merindukanku pun tidak. Kalau kau merindukanku, pastilah Mas akan sering berkabar padaku. Bukan mendiamkanku hingga aku menyimpulkan sikapmu." panjang lebar Hana mengungkapkan perasaannya. 

Fatan meraih tangan Hana, menggenggamnya. Ingin rasanya Fatan memeluk Hana, begitu dilihatnya mata bening itu mulai berair. 

"Aku mencintaimu, Hana sayang. Bahkan aku selalu merindukanmu. Maafkan aku yang kamu anggap hanya diam beberapa bulan ini. Aku ikut terpuruk setiap membalas wa mu, dan saay selalu ragu denganku. Aku jadi minder, merasa tak bisa membuatmu bahagia."

"Tapi bukan dengan mendiamkanku, Mas. Mas bisa bantah semua perkataanku. Agar aku tak selalu hidup dalam prasangka buruk. Memangnya dengan mendiamkanku Mas yakin sudah membuatku bahagia?" Hana mengatakan di sela-sela tangisnya. Fatan makin tersayat hatinya. Begitu terlukanya wanita di hadapannya, hingga air matanya masih mengalir. 

"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," Fatan makin erat menggenggam tangan Hana. Ditariknya tubuh Hana dalam pelukannya. Membiarkan Hana menangis. Sinta ikut menangis melihat keduanya dalam kesedihan. Fatan nampak masih mencintai Hana, begitu pula Hana. Sinta menarik nafas, harus diakhiri permainan ini, putus Sinta dalam hati.

"Aku ke dalam dulu buatkan kopi buat Mas Fatan," putus Sinta dijawab anggukan oleh Hana. Tak tega ia berlama-lama bersama mereka.

"Mas, aku mau ngomong sesuatu padamu. Maafkan kami sebelumnya." Kata Sinta setelah meletakkan kopi di hadapan Fatan. 

Pandangan Fatan beralih ke Sinta. 

"Tapi, minum dulu kopinya, Mas."

Fatan mengangguk, mengambil cangkir kopi. Di bawah cangkir terdapat kartu kecil bertuliskan maaf. Fatan mengambil kartu tersebut. Dari matanya ia meminta penjelasan kepada Sinta. 

"Tenang, Mas. Akan aku jelaskan, tapi minum dulu kopinya." tambah Sinta mencoba mengalihkan penasaran Fatan. Fatan pun menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap. Hana sudah terlihat tenang. Segaris senyum terlihat dari bibirnya. 

"Tolong jelaskan ini!" pinta Fatan menunjuk pada kartu kecil.

" Mas, sebetulnya undangan yang Mas terima itu hanya undangan palsu. Kami, terutama aku hanya ingin tahu sejauh mana Mas sebetulnya serius dengan Hana. Mas boleh marah. Tapi aku sudah nggak tahu caranya bagaimana agar Mas keluar dari kediaman yang membisu." jelas Sinta.

"Jadi..."

"Ya, aku ngerjain Mas. Hana tidak menikah dengan laki-laki yang kutulis dalam undangan itu. Hana masih menunggumu, dan hanya ingin menikah denganmu. Tuh, lihat badannya, lima bulan Mas cuekin, turun tuh berat badannya!" penjelasan Sinta disambut tawa kecil Hana.

Fatan bergantian memandang kedua wanita ini. Ada perasaan lega. Undangan itu hanya undangan palsu. Wanita yang dicintainya tetap akan menjadi miliknya, bukan orang lain.

"Oh, Tuhan...Kalian yaaa..." Fatan berseru sambil menutup wajahnya.

Sinta makin tertawa keras demi melihat wajah Fatan. Wajah Fatan yang tadinya kalut, nampak mulai gembira. 

Fatan memeluk Hana dengan erat. Dan berbisik lembut, "Menikah denganku, ya. Aku akan segera melamarmu sebelum kedua kali kalian ngerjain aku."

Hana membalas pelukan Fatan. Bahagia yang membuncah dalam rongga dadanya. Sinta bertepuk tangan, gembira melihat kedua sahabatnya bahagia.

#OneDayOnePost
#TantanganBaperlicious

28 Juni 2016

Sejuta Impian

"Aku pulang aja yaa. Nggak berani bertemu Ibu," lirih suara Nilam. Tangannya memegang erat tangan kanan Arya, lelaki di sampingnya. Arya justru tersenyum.

"Masa jauh-jauh sudah ke sini mau pulang.  Ketemu dulu sama Ibu, ya," kembali Arya berkata lembut. Seolah membujuk hati wanita yang dilihatnya sangat cemas. 

"Aku takut," keluar juga alasan Nilam tak ingin dibawa ke rumah ibunya Arya. 

"Ibuku nggak nyeremin kok!"

Nilam tertunduk menatap ke bawah, ujung kakinya yang sedari tadi asyik ia mainkan dengan tanah. Menggambar berbagai bentuk di atas tanah. Tangan kirinya masih erat memegang tangan Arya. Mencari kenyamanan untuk mengusir rasa takut yang menyergap.

"Apa kata keluargamu jika aku menemuinya?" Nilam lirih menanyakannya.

Arya tertawa lirih. Dengan segera direngkuhnya pundak Nilam. Wajah mungil nan ayu yang tertunduk coba diangkatnya. Mata Arya tepat menatap ke retina Nilam. Bola mata berwarna coklat milik Nilam selalu mampu membangkitkan sisi lain dari Arya. Menatap matanya seperti masuk ke sebuah dunia milik Nilam, dunia yang membuat Arya tak ingin berpindah.

"Saayy, semua tentang kita Ibu sudah tahu. Aku sudah menceritakannya.Jadi, tak ada alasan tidak ke rumah ya, Ibu pasti sudah menunggu kita."

Nilam mengerjapkan dua matanya. Tanda merayu sekali lagi kepada Arya. Nilam tahu Arya paling tak bisa jika ia sudah mengedipkan mata. Kode untuk membujuknya.

Arya tertawa sambil memencet hidung Nilam. 

"Sudah, ah! Ayo, kita pulang. Ibu pasti sudah cemas menunggu. Dari tadi kita ngobrol di taman hampir dua jam." ajak Arya menggandeng paksa tangan Nilam. Nilam seolah seperti patung yang diseret. Berat melangkahkan kaki mengikuti langkah-langkah lebar Arya. 

Pertemuannya dengan ibunya Arya adalah pertemuan yang sangat ditakutkan. Siapalah Nilam, mungkin ia hanya dianggap sebagai perusak keluarga kecil Arya. Dan Nilam tak sanggup menghadapinya.

Arya adalah lelaki yang Nilam cintai. Dengan cara yang rumit menurutnya. Bertemunya mereka dengan kondisi yang tidak mereka inginkan. Arya sudah memiliki keluarga. Dan Nilam hadir sebagai pengganggu keluarga Arya, setidaknya itu menurut penilaian Dewi, istrinya Arya. 

Cinta yang mereka miliki tetap sama. Arya akhirnya menikahi Nilam tanpa sepengetahuan Dewi. Nilam menjadi istri sah Arya, sah menurut agama. Dan itu membuat Nilam bahagia. Namun sekarang, ketika mereka berdua berada di kota kelahiran Arya, tanpa Dewi, Nilam ketakutan ketika Arya mengajaknya bertemu Ibu. Tentu saja ini membuat jantung Nilam tak berhenti berpacu seperti derap pasukan kuda perang. 

Anggapan keluarga Arya pastilah buruk. Ia pasti dianggap hanya perusak rumah tangga. Dan Nilam takut membayangkannya. Takut jika ia tidak diterima dengan baik. Membayangkan hal itu, Nilam semakin erat menggenggam tangan Arya. Keringat dingin mulai ia rasakan. Arya menggenggam erat tangan Nilam. Aku bersamamu, Nilam, gumam Arya dalam hati.

**********

Nilam dengan takzim mencium tangan wanita yang sudah melahirkan Arya. Ibu membalasnya dengan pelukan. Hal ini tentu saja mencairkan ketakutan Nilam. Nilam merasa diterima dengan baik.

Bercakap-cakap dengan Ibu, benar-benar membuat Nilam nyaman. Ibu banyak menceritakan tentang masa kecil Arya. Di luar dugaan Nilam, Ibu dan adiknya Arya menerima dengan baik. Cukup membuat Nilam tersenyum lega. 

"Terima kasih, Ibu." ujar Nilam dalam hati. Di sebelahnya, Arya memeluknya erat. Masih banyak hal yang akan mereka hadapi dengan pilihan hidup yang mereka ambil. Keduanya tersenyum, siap menghadapi apapun di depan mereka nantinya.

#OneDayOnePost

27 Juni 2016

Setumpuk Maaf di Balik Kebisuan bagian 2

Sudah beberapa hari Nata tak melihat Andin muncul di kostnya. Kesibukan Nata di kantor juga membuatnya belum sempat menanyakan kabar sahabatnya. Apa yang terjadi setelah peristiwa menelfon tengah malam yang dilakukan Andin? Sore sepulang kerja ini, Nata bermaksud akan menelfonnya.

Bergegas turun dari Vario 125 warna biru, melangkah perlahan ke tempat kost. Sedikit kaget melihat Andin duduk dengan mata terpejam di kursi teras kostnya. Baru saja ia ada dalam angan Nata, tiba-tiba Andin sudah ada di hadapannya. Pelan ditepuknya pipi sahabatnya. Berharap tidak membuatnya terkejut.

"Ndin, lu belum pulas, kan?"

Andin membuka matanya. "Gue nggak tidur kok. Hanya merem aja, Ta."

"Lu sakit, Ndin?" tanya Nata menatap wajah Andin. Sedikit pucat dengan tatapan mata kosong, tak ada sama sekali semangat. Kusut menyimpan masalah. Wajah manis milik Andin seperti baju yang tidak disetrika, penuh lipatan tak teratur.

Andin menggeleng lemah. 

"Lu belum baikan sama mas Candra?"

Kembali hanya gelengan lemah Andin menjelaskan semuanya. Paham sekarang Nata dengan wajah kusut Andin. Masalah yang membuat Nata hanya tidur beberapa jam malam itu. Masalah dengan mas Candra.

Nata memeluk sahabatnya, ketika butiran bening mulai mengalir dari dua mata indah Andin. 

"Gue sudah minta maaf, Ta ke mas Candra. Tapi seperti biasa, mas Candra tak membalasnya. Hanya dibaca. Selalu begini. Begitu besar yaa, salahku, sampai-sampai mas Candra selalu mendiamkanku ketika aku berbuat salah?"

Tangisan Andin semakin pecah. Nata semakin erat memeluknya. 

"Aku sudah tiga kali minta maaf dalam tiga hari setelah kejadian malam itu. Aku nggak mau minta maaf lagi. Aku nggak mau ngemis maafnya lagi," Andin menyudahi ceritanya. Masih dengan tangisan. Nata memberikan segelas air bening untuk Andin, agar Andin lebih tenang. 

"Ya sudah, diamkan dahulu mas Candra seperti itu. Nggak usah dihubungi dulu. Mungkin kalian butuh waktu sendiri. Break dulu aja ya, sementara. Aku yakin mas Candra nggak akan betah tanpa tahu kabarmu." Nata mencoba membuat Andin lebih tenang.

Andin mengangguk menanggapi perkataan Nata. Hatinya mulai tenang. Meskipun masih ada rasa sedih. Hubungannya dengan Candra makin nggak jelas. Berdiam diri berarti membuat perang dingin ini makin lama. Andin yakin itu. Tapi hatinya sudah terlanjur luka. Andin akan melakukan saran Nata. Biarkan semuanya membaik dengan hitungan waktu. Walaupun Andin membenci hal itu. Saling diam, hanya menyimpan maaf di balik kebisuan masing-masing.

#OneDayOnePost

23 Juni 2016

Keluarga Oxy

Kalau hari ini Gilang posting tentang keluarga rimba, saya jadi punya ide. Makasih ya, Lang. Saya juga akan bercerita tentang keluarga Oxy. Siapa Oxy? Sabar pemirsa, nanti akan terjawab penasarannya.

Tahun 2006 saya pindah kontrakan mendekati tempat saya mengajar. Di tempat baru ini, ternyata penghuni lamanya begitu banyak dan cukup meresahkan saya. Karena penghuni lama ini bisa menghabiskan koleksi majalah yang saya punya. Bisa bahaya ini!

Pikir punya pikir, saya dan suami memutuskan untuk adopsi musuh dari penghuni lama. Agar mereka terusir dengan manis, tanpa saya perlu mengeluarkan tenaga. Tanya sana sini, saya  pun dapat musuh bebuyutannya. Waktu saya adopsi, kira-kira umurnya baru empat bulan. Dengan rambut yang cantik, tiga warna, ekor panjang, wajahnya imut banget. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Meminta ijin kepada empunya yang lama, saya gendong anak adopsi  saya ini pulang ke kontrakan.

Mengenalkan tempat tinggal saya padanya perlahan, dengan sayang, hingga memperlakukan dia seperti bagian dari keluarga saya. Karena aslinya saya memang mencintai makhluk yang satu ini. Saya berikan nama Oxy, karena cantiknya dia. Saya juga berikan kalung dengan bunyi nyaring supaya saya mudah mencarinya. 

Oxy kucing yang lincah. Dia sigap sekali menangkap tikus, penghuni lama di kontrakan. Setiap malam dia akan melotot di dapur, siap menerkam mangsanya. Pandainya dia, tikus yang ditangkapnya hanya dikumpulkan tanpa dimakannya. Saya makin sayang dengan Oxy.

Satu lagi kepandaian Oxy. Dia tak pernah keluar dari rumah. BAB ataupun BAK dilakukan di dalam kamar mandi. Sayangnya saya kecolongan, ada kucing jantan yang masuk ke rumah dan menyebabkan Oxy hamil. Tapi saya tetap bahagia menanti kelahiran anak-anak Oxy.

Dari Oxy lah saya memiliki kucing yang cantik dan ganteng. Dan semuanya pandai menjaga kebersihan. Entahlah, mungkin diajari oleh induknya Oxy. Sebut saja anaknya yang hidup. Ada Sinus, Cosi, Secan, Tangen, Brownis, Kukis, Snelli, semuanya adalah anak Oxy yang mengerti kalau mereka juga harus menjaga kebersihan seperti induknya.

#OneDayOnePost

18 Juni 2016

Setumpuk Maaf di Balik Kebisuan

Hhhhhgg..Nata menggeram kesal dengan bunyi telefon dari HPnya. Berdering seolah tak ingat waktu. Matanya baru saja akan terpejam setelah setumpuk tugas dari kantor ia selesaikan. Jarum jam sudah menepi ke angka 02.20. Dan ia harus tidur. Kalau tidak, besok pagi seluruh jadwalnya bisa berantakan.

Ringtone lagu Padi kembali terdengar. Nata menutup telinganya dengan bantal. Tapi tetap saja dering telefon itu tak mengerti kondisi matanya. Akhirnya dengan malas dipencetnya tombol terima di HP.

"Siapa sih, malam-malam telfon? Nggak bisa nunggu besok apa?"

Terdengar suara tawa khas milik Andin, sahabatnya. Iseng banget nih bocah, gangguin tidur Nata. 

"Lu, Ndin. Besok aja yaa kalau mau curhat. Gue mau tidur nih. Ngantuuk, cos tadi jam satu mata gue baru merem." Sambil menahan kantuk, Nata nyerocos duluan. Takut keduluan bawelnya Andin bisa bahaya. Alamat nggak akan tidur kalau Andin sudah bicara.

Kembali Andin terkekeh. 
"Iya deh, lu tidur aja lagi. Besok gue ke kost an lu, ya. Siapin ember yang gede!" kata Andin menutup telefonnya.

Nata menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur. Meneruskan hasratnya untuk tidur. Tapi matanya justru enggan terpejam. Melotot menatap langit kamar. Pikirannya terbang ke Andin sahabatnya. Andin memang suka iseng, menelfon malam-malam dan sekedar cerita ringan sudah sering dilakukan. Gokil habis-habisan dengannya selalu menyenangkan.

Nata bergumam sendirian. Memikirkan Andin membuat matanya tetap terbuka. Suara Andin tadi sedikit serak. Pasti ada hal penting.

Nata mengambil handphonenya. Ditekan nomer milik Andin. Langsung diangkat oleh Andin, terdengar dari suaranya.

"Katanya lu mau tidur?"

"Nggak bisa tidur jadinya. Takut lu jadi hantu trus nyekik gue karena gue tolak cerita. Nah, sekarang lu cerita dah, dari pada lu nangis sendirian gitu. Gue temenin kalau lu mau nangis."

Yang terdengar justru suara isak Andin. Nata hanya terdiam. Tak mungkin menyediakan bahu saat hanya bisa mendengar lewat telefon. Lima belas menit berlalu, Andin mulai tenang. Terdengar dari tarikan nafasnya. 

"Masalah sama masku, lagi, ya?" pelan Nata bertanya. Tak biasanya Andin menangis seperti ini jika bukan karena ulah Mas Candra, sepupunya. Andin orang yang cuek, masalah apapun tak akan membuatnya baper. Kecuali satu hal, masalah dengan belahan hatinya. 

"Aku dilarang WA lagi sama masmu. Nggak usah WA kalau hanya ngajak debat. Aku sebeeel sama mas Candra. Kalau bukan aku yang kirim WA duluan, mana pernah ia duluan nanya kabarku? Seolah-olah mas Candra nggak butuh aku. Atau memang sudah nggak butuh aku sejak Desember kemarin?" cerita Andin berhenti, ia menarik nafas, bersiap melanjutkan ceritanya. 

"Gue masih sakit hati saat mas Candra ngilang bulan Desember kemarin. Diemin aku, nyuekin aku, nggak balas setiap aku WA. Kalau mau putus, bilang. Tapi ini kan enggak ada keputusan. Tiba-tiba nggak ada kabar, lalu muncul lagi. Hilang lagi setiap aku tanyakan kenapa nggak balas WA ku. Jika marah denganku, mas Candra juga betah dengan diamnya. Tak hanya sehari dua hari. Awet berhari-hari bahkan berminggu-minggu."

Nata mendengarkan cerita Andin. Ia paham benar bagaimana Andin terseok saat mas Candra menghilang tanpa sebab. Hanya kalimat sedang ada masalah, menyebabkan Andin tak bisa mendapat kabar Candra. Berusaha menghubungi setiap hari, menyempatkan waktu untuk sekedar berhalo ke Candra. Namun lebih sering Andin harus meneteskan air mata sedih. Tak pernah mendapat balasan. Setiap ditanya ada apa, Candra juga tidak memberikan jawaban. Hanya diam hingga Andin merasa putus asa. Merasa bahwa ia diabaikan oleh Candra.

Keadaan ini diperparah ketika ulang tahun Andin. Mas candra hanya mengucapkan ultah melalui WA. Tak berusaha meneleponnya seperti biasanya. Candra makin betah dengan kebisuannya, kebiasaan menelfon Andin tak pernah dilakukannya lagi. Bahkan di hari yang dianggap istimewa bagi Andin.

"Nata, lu tidur ya?" tanya Andin karena hanya dia yang bercuap-cuap tanpa ditimpali suara Nata.

"Gue dengerin lu, kok. Teruskan ceritamu!" jawab Nata memangkas ingatannya tentang Candra.

"Gue makin kesel sama masmu, Nat. Kemarin dia bilang kalau kartunya hangus, tidak bisa digunakan lagi. Padahal aku ingin mendengar suaranya. Makin lengkap rasa jengkelku. Merasa banget kalau mas Candra memang tak ingin lagi menelfonku. Berkirim kabar padaku saja mungkin terpaksa karena aku yang ngeyel selalu WA duluan."

"Ah, mas Candra, selalu saja bikin ceweknya nangis. Cueknya itu loh, kebangetan." gregetan aku membalas curhatan Andin. Gemes dan kesel bercampur. Harusnya sesekali mas Candra perlu menjadi wanita, menjadi Andin, agar tahu bagaimana rasanya dicuekin.

"Lu sekarang maunya gimana, Ndin?"

"Karena masmu yang minta agar aku tak WA duluan, akan aku lakukan. Aku harus kuat!" jawab Andin.

"Nggak bakal kangen kah? Pasti nanti kalau kangen lu bakalan WA duluan ke Mas Candra seperti biasanya." seloroh Nata yang hafal bagaimana Andin. Sahabatnya ini nggak pernah bisa ngambek lama. Akan mulai duluan berkirim kabar atau menanyakan kabar. 

"Hehehe..." Andin terkekeh mendengar selorohan Nata. "Kayak e kali ini aku ikutan diem deh. Nggak mau ngalah lagi. Aku sudah terlalu sering ngalah. Mana pernah masmu ngalah dan gigih meminta maaf kalau salah." lanjut Andin.

Benar kata Andin. Setiap mereka berantem, Andin selalu memulai duluan. Bertanya kabar dan meminta maaf. Jika Andin hanya diam, mas Candra lebih sering juga ikut.diam. Tak berusaha gigih. Sekali mencoba dan kalau Andin masih ngambek, dia akan ikutan diam sampai Andin hilang ngambeknya. Padahal wanita sesekali perlu juga dirayu agar tak larut dalam marahnya.

Mungkin memang gengsi dan egois bagi laki-laki memulai sebuah kebisuan. Memilih ikut diam dengan dalih tak ingin perparah keadaan. Padahal jika memang cinta, kenapa harus ada gengsi untuk mencairkan sebuah kekakuan?

"Kalian udahan sajalah, dari pada selalu berantem hanya masalah sepele. Gue tahu, kalian saling cinta, saling nggak bisa jika salah satu tak berkirim kabar. Udahan saja, ya?" 

Andin terdiam ditanya seperti itu oleh Nata. Masak sih, harus dia lagi yang memulai? Sedangkan Candra sudah melarangnya berkirim WA. Meskipun Andin yakin, mungkin itu emosinya sesaat karena ulahnya juga. Selalu mengungkit masalah kediamannya, sedangkan Candra sudah tak ingin membahasnya. Sifat wanita, jika kesenggol hal sepele, maka ia akan terus teringat.

"Aku nggak mau udahan. Aku masih sayang sama mas Candra," pelan Andin menjawabnya. 

Nata tertawa mendengar jawaban Andin.

"Ya udah, mulai sono lu duluan! Gue mau lanjutin mimpi gue." jawab Nata sambil menguap. Ditutupnya telfon dengan Andin. Mereka hanya gengsi meminta maaf duluan. Dan Nata kembali terpejam melanjutkan mimpinya. Berharap besok Andin dan mas Candra sudah kembali akur seperti semula. Membayangkannya dalam mimpi, membuat Nata tersenyum dalam tidurnya.

#OneDayOnePost

17 Juni 2016

Aku Masih Merindukanmu (catatan kedua)

Aku selalu memanggilnya Sinus. Memanjakannya melebihi peliharaanku sebelumnya. Sinus yang sepertinya mengerti jika aku bicara. Kuajarkan ia agar BAB dan BAK di kamar mandi. Dan ia melakukan itu. Ia hanya makan makanan yang diketakkan di piringnya. Tak pernah mengambil makanan di atas meja kami, ataupun di piring kami. Dengan anakku, ia senang bermain. Perutnya akan bergoyang karena gendutnya. 

Dan peristiwa sedih itu terjadi. Kesalahan kecil yang kulakukan berimbas fatal padanya. Pagi itu aku terburu-buru berangkat sekolah. Memberikan makan pada Sinus tanpa membuang semua duri ikan makanannya. Aku hanya berpesan saat ia makan, agar hati-hati karena durinya masih ada. Kuelus sayang, kucium kepalanya, sebelum aku berangkat.

Baru kusadari kesalahanku setelah sore sepulang sekolah. Tubuh Sinus lemas, sambil kaki depannya sibuk mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Tenggorokannya seperti hendak memuntahkan, tapi tak keluar. Kupegang tubuh Sinus. Agak demam. Rasa panik langsung menyelimutiku. Sinus sakit!

Dan aku ingat, soal duri di makanannya pagi tadi. Jangan-jangan Sinus keselek duri. Oh, tidaaak!!! Aku panik, segera kukepal nasi hangat, mencoba memasukkan bulatan kecil ke mulutnya. Tak berhasil, Sinus masih berusaha mengeluarkan. Mencoba membantu, tapi tak tahu bagaimana caranya. Akhirnya hanya memeluk tubuh Sinus dengan terisak. Menyusup rasa khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya.

Empat hari berlalu. Sinus tak mau makan. Aku hanya bisa meneteskan madu dan susu di mulutnya. Kutidurkan ia di kasur agar hangat. Hingga hari kelima selepas sholat isya, ia turun dari kasur, menghampiriku yang sedang berzikir. Duduk di pangkuanku lalu menjilati tanganku saat aku akan mengelus tubuhnya. Seketika tangisku pecah. Khawatir itu seperti menyatu dengan rasa takut kehilangan. Di sela isak tangis, kukatakan padanya, jika ingin pergi, aku ikhlas.
Dan malam itu ternyata malam terakhir kupeluk tubuh hangatnya, karena esoknya ia benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya. Tubuh dengan rambutnya yang lembut dan tebal tak pernah lagi kutemui. Aku masih merindukanmu, Sinus...

#OneDayOnePost




Mempersiapkan Kematian

Mendengar berita kematian dari lingkungan kita, secara tidak langsung selalu menghadirkan rasa sedih. Terbesit bayangan, apakah sebentar lagi malaikat maut yang akan berpindah? Berganti mengintai kita atau orang-orang terdekat kita?

Kematian adalah rahasia,  seperti kata Gilang, tak pernah berkabar kepada yang akan diambil nyawanya. Sekedar memperingatkan melalui BBM atau pesan singkat juga tidak. Datangnya tak pernah diminta seperti jalangkung. Eh, kok jadi jalangkung. 

Saya tak hendak membahas tentang kematian dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapinya.  Agak syerem soalnya. Hehehe...

Dari kematian, pernahkah kita sudah menyiapkan orang-orang yang kita tinggalkan nantinya jika maut menjemput kita? Bukan harta atau apapun yang saya maksud. Tapi menyiapkan di sini adalah kondisi jiwa orang yang akan kita tinggalkan.

Kepergian dari orang yang kita kenal tentu selalu meninggalkan kesedihan. Apalagi jika mereka adalah orang terdekat kita. Anak, suami, istri, ataukah orang tua kita. Hati mereka pastinya akan bersedih, bergoncang jiwanya. Dan ini yang perlu kita siapkan.

Membicarakan beberapa kemungkinan andai kita meninggal terlebih dahulu, pernah saya lakukan dengan suami. Saat itu saya diminta untuk berhenti bekerja. Saya katakan, tidak. Saya tidak mau terpuruk andai suami meninggal terlebih dahulu. Dengan bekerja, setidaknya saya akan mampu bangkit dari sisi ekonomi meskipun terpincang. Dan suami menerima argumen saya. 

Bagaimana dengan anak saya? Saya selalu mengajak anak bercakap-cakap ringan tentang hal ini. Sambil menyelipkan sebaris dua baris bagaimana mereka menghadapi, seandainya saya meninggal terlebih dahulu. Juga bekal yang dibawa untuk menghadapi kematian. (Ini saya katakan hanya kepada yang sulung) 

Awalnya mereka marah-marah. Mengatakan kenapa saya membicarakan kematian. Hingga mereka mengerti. Ketika kematian menghampiri orang-orang di lingkungan kita. Selepas mendengar berita duka, mereka akan memeluk saya. Ada rasa syukur yang terucap dari dua putri saya bahwa Umminya masih menemani mereka. 

#OneDayOnePost



16 Juni 2016

Aku Masih Merindukanmu

Tujuh tahun sudah tak membersamaimu. Rindu dan cinta ini masih sepaket untukmu. Tak akan lekang oleh waktu yang sudah terlampaui jauh di belakang. Aku masih mengingatmu. Memahat setiap detil pesonamu dalam relung hatiku. Kau terpahat indah di palung hatiku. 

Awal tahun 2007 kamu lahir. Hanya seorang diri, membuat kami sangat menerimamu dengan baik. Memanjakanmu dengan segenap limpahan kasih sayang kami. Kamu tumbuh dengan baik. Gemuk dan menyenangkan. Kusematkan nama indah untukmu dengan kalung indah agar kau mudah dikenali.

Sinus nama yang kami berikan. Setiap kupanggil namamu, kamu pasti akan berlari mendekatiku. Meringkuk manja di dadaku dan aku pasti akan memelukmu. Mengelus sayang kepalamu, beradu hidung denganmu, dan aku akan menciummu dalam waktu lama. 

Kamu sangat manja denganku. Tidur selalu bersamaku. Hangat di atas dadaku atau dalam dekapanku. Sehingga sering membuat iri yang lainnya. Makananmu selalu kujaga. Tak pernah makan makanan yang kurang bersih. Ikan pun kuberikan sudah tanpa duri. Bahkan urusan mandi pun Sinus rutin setiap minggunya. Kubersihkan dengan shampo wangi. Kuku akan kupotong rapi. Kotoran di telinga juga ikut kubersihkan. Sinus akan duduk manis di pangkuanku. Sambil berjemur di pangkuanku. Sinus akhirnya akan tertidur pulas.

Bersambung...

#OneDayOnePost



15 Juni 2016

Mencoba Mengerti

No hape XL sudah nggak aktif lagi. Lupa nggak isi pulsa, jadinya hangus. 

Itu bunyi pesan singkatmu lewat bbm ketika kuutarakan niatku menelfonmu. Sudah lama aku tak mendengar suaramu. Hampir sebulan. 

Kok bisa hangus?
Kenapa nggak ingat? Ketahuan banget nggak ingin telfon aku!!!

Akhirnya kubalas dengan sedikit nada jengkel. Entah kau merasa atau tidak. Yang jelas aku merasa ada yang tersayat. Di dalam sini, perih rasanya. 

Namanya lupa ki nggak inget, Yank. Tahu-tahu tadi malam aku cek sudah nggak bisa diisi pulsa.

Emang asli nggak ada niat untuk telfon aku ya?? Makanya nggak inget untuk isi pulsa!


Masih kulanjutkan balasanku dengan nada makin jengkel. Kau hanya menganggap itu urusan sepele. Bukan urusan besar. Tapi bagiku? Ini sangat besar. Urusan perhatian dan sejauh mana kau melakukannya untukku.

Kok balas gitu sih?

Iyalah, aku pasti mikir begitu. Sudah kamunya cuek, lama nggak telfon aku, bagimu ini hal biasa kan?

Diam, seperti biasa aku yakin kau tak akan membalasnya lagi. Kau diam dan memilih aman. 

Aku ya begini. Cuek itu sudah bawaan  dari bayi.

Balasan terakhir membuat darahku makin mendidih. Orang seperti ini perlu direbus dan dicuci otaknya agar sadar, bahwa aku butuh perhatian juga. Bukan melulu harus paham. Meskipun aku hanya sebagai yang kedua bagimu. 

#OneDayOnePost

13 Juni 2016

Mereka Tetap Anak-anak

"Bu, hari ini nggak usah belajar ya. Mas capek. Bantuin Mas ngerjain soal Kumon saja ya?" pinta Akbar kepadaku. Seperti biasa hari ini adalah jadwalku datang ke rumahnya. Setiap hari pukul 19.00. Membantunya belajar. Meskipun aku tahu, Akbar yang baru kelas 3 SD adalah anak yang cukup mampu menerima pelajaran.  Nilainya sudah di atas rata-rata. Tapi menurut orang tuanya, Akbar masih perlu dibantu belajarnya. 

Aku tersenyum sebelum menjawab.

"Memang PR Kumon Mas banyak?"

"Banyak banget, Bu. Mas udah bisa semua pelajaran hari ini." jawab Akbar sambil menepuk dada. 

Aku tertawa kecil. Badannya yang sedikit lebih gemuk dibandingkan anak seumurannya, membuatku membayangkan seperti artis Boboho. 

"Mas habis ngapain capek hari ini?" akhirnya kubuka percakapan ringan dengan murid lesku satu ini. Tubuhnya sudah direbahkan di atas kasur empuknya. AC ia nyalakan. Di tangannya tergenggam buku Kumon. Aku duduk di pinggir kasur. Menatap wajahnya. 

"Mas tuh hari ini les banyaaaak banget, Bu. Pulang sekolah berangkat Kumon. Selesai Kumon les bahasa Inggris. Capek," Ceritanya kepadaku. Aku hanya manggut-manggut. 

Wow, sekecil ini ia sudah diminta les ini itu sesuai keinginan orang tuanya. Bukan keinginan anak. Karena Akbar pernah mengeluhkan hal ini. Ia tak suka les sana les sini. Akbar ingin main bersama teman-teman. Itu keluhannya. Sayangnya hal itu tak disadari oleh orang tua. Mereka menganggap anak adalah orang dewasa dalam bentuk mini. Bisa melakukan banyak hal sesuai keinginan orang tua. 

Kebanyakan murid les saya dianggap seperti itu oleh orang tuanya, manusia dewasa dalam bentuk mini. Harus ikut bermacam les. Belum tentu  les yang diikutkan, sesuai dengan keinginannya. Bakat yang sudah ada, terkadang harus terkubur bersama tumpukan kegiatan les di sana sini yang sama sekali tak mendukung minat bakatnya. Dan saya hanya bisa prihatin.

Berharap orang tua menyadari anaknya adalah anak-anak, bukan manusia dewasa. Meskipun saya tak pernah bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa memberikan masukan untuk orang tua. Selebihnya saya tetap kembalikan semua keputusan kepada orang tua. Semoga kita selalu belajar untuk menjadi orang tua yang benar, karena tak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua.


#OneDayOnePost
#akukangenmuridmuridleskuyangsetahunkutinggalkan

10 Juni 2016

Ramadan yang Sama

Tubuh itu teronggok tak bergerak. Bedanya ia masih memiliki nyawa. Mampu bergerak dengan kedua kaki yang lengkap dan anggota tubuh lainnya. Berjalan dan memenuhi kebutuhannya seperti manusia normal pada umumnya.

Tapi tubuh itu hanya seperti mayat berjalan. Mengikuti apa saja yang ia inginkan. Berdasarkan akal pikirnya saja. Tak pernah melakukan segala sesuatu dengan hatinya. Pun dengan bulan yang mulia.

Katanya bulan Ramadan adalah sama seperti bulan sebelumnya. Hanya berbeda ritme makan dan minumnya. Baginya Ramadan tak memiliki arti khusus apapun. Bangun seperti kebanyakan orang, ikut sahur dan berbuka. Ikut tak makan selama waktu siang. Namun hanya seperti itu setiap Ramadan.

Tidak ada lantunan indah ayat suci. Tak ada doa indah yang dia panjatkan. Tak inginkan banyak kebaikan yang ia kumpulkan. Bulan ini sama baginya. Masih disibukkan oleh pesona dunia.

Nanti saja pikirnya. Esok Ramadan pasti akan bertemu lagi. Anggapnya, umur ia yang tentukan. Lupa bahwa ada pemilik segalanya. Berkuasa untuk mengambilnya kapan Dia mau.

#OneDayOnePost

09 Juni 2016

Tak Sehangat Pelukanmu (bagian 4)

Ini sudah hari kelima Miko meninggalkan rumah. Meninggalkan ibunya. Tidur di mana saja untuk memejamkan mata. Beralaskan apa saja. Tak peduli hanya kertas bahkan tanah yang dingin. Ketika langit memuntahkan airnya, Miko akan berlari mencari tempat berteduh. Terkadang badannya sudah kuyub barulah dapat berlindung dari air langit. 

Badan Miko terlihat kurus. Tak terawat. Rambutnya nampak kusut. Bercampur tanah. Miko makan dengan apa yang dia dapatkan. Masih tak ingin mencari dari tempat sampah. Menunggu sisa Boni. Saat ia mendapatkan tulang ikan, terkadang direbut paksa oleh temannya yang lain. Miko hanya pasrah. Tak pernah melawan. Perut lapar ditahannya. Pernah seharian perut Miko hanya berisi air.

Miko ingin pulang. Ia rindu makanan rumah yang selalu sama tiap harinya. Rindu teriakan empunya setiap sore agar segera pulang dari bermain. Begitu merindukan, apalagi dengan dekapan hangat Ibunya setiap tidur. Jilatan Ibunya di sekujur tubuhnya. Empuknya alas ia tidur juga sangat Miko rindukan.

Miko mengeong pelan. Tubuhnya bangkit dari rebahan. Dikibaskan ekornya berkali-kali. Kepalanya menggeleng. Kalung di lehernya berbunyi. Ia harus segera pulang. Pengalaman lima hari ini sudah cukup baginya. Berjuang mencari makanan sendiri sungguh tak enak. Bersaing dengan mereka yang sudah terlebih dahulu dibesarkan alam. Miko tenggelam karena tak terlatih.

Kemarin sudah ia ungkapkan kepada Boni keinginannya pulang. Boni hanya tertawa dan mengatakan pengecut padanya. Miko tak peduli. Keinginannya.sudah bulat untuk kembali pulang.

Miko berjalan menyusuri kebun pisang tempatnya tinggal saat malam menyelimuti. Ia gunakan segenap inderanya untuk berjalan pulang. Rindu akan Ibu dan semuanya. Tak peduli lelah kakinya. Terkadang Miko berlari kecil agar segera sampai di rumah. Bau tubuh Ibu sudah tercium. Miko mempercepat larinya. 

Tubuh terengah. Tapi Miko senang. Dijilati tubuh Ibunya sambil mengeong dan berputar. Ibunya juga melakukan hal sama. Menjilati tubuh kusut Miko yang berbau.

"Aku rindu Ibu." teriak Miko.

Ibu tersenyum. "Apa yang sudah kau dapatkan dari luar, Anakku?"

"Nanti saja Miko akan cerita. Sekarang Miko lapar, Ibu," jawab Miko.

Ibu tertawa. Keduanya berjalan bersisian. Menikmati sepiring nasi dengan remukan ikan. Disantap berdua. Sungguh tak ada lagi nikmat yang ingin Miko cari di luar sana. 

Tamat.

#OneDayOnePost