17 Juni 2016

Mempersiapkan Kematian

Mendengar berita kematian dari lingkungan kita, secara tidak langsung selalu menghadirkan rasa sedih. Terbesit bayangan, apakah sebentar lagi malaikat maut yang akan berpindah? Berganti mengintai kita atau orang-orang terdekat kita?

Kematian adalah rahasia,  seperti kata Gilang, tak pernah berkabar kepada yang akan diambil nyawanya. Sekedar memperingatkan melalui BBM atau pesan singkat juga tidak. Datangnya tak pernah diminta seperti jalangkung. Eh, kok jadi jalangkung. 

Saya tak hendak membahas tentang kematian dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapinya.  Agak syerem soalnya. Hehehe...

Dari kematian, pernahkah kita sudah menyiapkan orang-orang yang kita tinggalkan nantinya jika maut menjemput kita? Bukan harta atau apapun yang saya maksud. Tapi menyiapkan di sini adalah kondisi jiwa orang yang akan kita tinggalkan.

Kepergian dari orang yang kita kenal tentu selalu meninggalkan kesedihan. Apalagi jika mereka adalah orang terdekat kita. Anak, suami, istri, ataukah orang tua kita. Hati mereka pastinya akan bersedih, bergoncang jiwanya. Dan ini yang perlu kita siapkan.

Membicarakan beberapa kemungkinan andai kita meninggal terlebih dahulu, pernah saya lakukan dengan suami. Saat itu saya diminta untuk berhenti bekerja. Saya katakan, tidak. Saya tidak mau terpuruk andai suami meninggal terlebih dahulu. Dengan bekerja, setidaknya saya akan mampu bangkit dari sisi ekonomi meskipun terpincang. Dan suami menerima argumen saya. 

Bagaimana dengan anak saya? Saya selalu mengajak anak bercakap-cakap ringan tentang hal ini. Sambil menyelipkan sebaris dua baris bagaimana mereka menghadapi, seandainya saya meninggal terlebih dahulu. Juga bekal yang dibawa untuk menghadapi kematian. (Ini saya katakan hanya kepada yang sulung) 

Awalnya mereka marah-marah. Mengatakan kenapa saya membicarakan kematian. Hingga mereka mengerti. Ketika kematian menghampiri orang-orang di lingkungan kita. Selepas mendengar berita duka, mereka akan memeluk saya. Ada rasa syukur yang terucap dari dua putri saya bahwa Umminya masih menemani mereka. 

#OneDayOnePost



4 komentar:

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Aduhhh Lis.
Merinding bacanya ...

lisa lestari mengatakan...

perasaan aku lom posting di grup..kok wes komen yo

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Iya mb..aku juga seeing membicarakan tentang kematian pada anak anak. Terlebih seringnya berita kematian orangtua (seringnya ayah) Dari teman-teman sekolah anak2.

Vinny Martina mengatakan...

Bahas kematian selalu bikin kita ingat akan kematian yah mbak...

Posting Komentar