06 Juni 2016

Tak Sehangat Pelukanmu (bagian 2)

Miko mengeong panjang sebelum meninggalkan Ibunya. Terbayang sudah bagaimana ia akan bebas di luar. Makan apa saja tanpa ada yang melarang. Bermain pun begitu. Jika sore datang, tak akan ada yang menyuruhnya pulang. 

Dengan langkah tegap, dada membusung, Miko melangkah mantab. Tujuan awalnya adalah menghampiri Boni. 

Miko sudah agak jauh dari wilayah bermainnya. Kebun pisang yang cukup luas sudah ia lewati. Matanya mencari keberadaan Boni. Biasanya Boni suka tidur di kebun pisang.

Miko memanggil Boni. Ia mengeong sekali. Belum muncul juga yang dipanggil. Dua kali Miko bersuara. Kali ini suara meongnya lebih keras. Masih belum nampak tubuh gagah Boni.

Kaki Miko seperti tulang yang dipatahkan. Pegal sekali. Ia tak terbiasa berjalan jauh. Akhirnya Miko memutuskan duduk di bawah pohon pisang. Merebahkan tubuhnya pada daun-daun kering. Sedikit risih yang ia rasakan. Terbiasa dengan alas empuk ketika tidur.

Rasa tak enak karena beralaskan daun pisang kering coba disingkirkan Miko. Ia kembali bersuara. Meyakinkan dirinya bahwa keputusannya keluar rumah sudah tepat. Kali ini Miko melihat tubuh Boni berjalan mendekatinya. Di mulutnya tampak kepala ikan. Ekornya berkibas dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Melihat ada Miko, Boni segera menghampirinya.

Diketakkan kepala ikan di tanah. Boni terkekeh melihat Miko. 

"Boleh keluar dari istanamu?" tanya Boni sambil mulutnya mengunyah kepala ikan. Matanya tak berpindah dari lauk yang disantapnya. Tak melihat Miko. Miko hampir ngiler karena ingin mencoba.

"Iya, Ibuku mengijinkan."

"Wah, asyik nih. Nanti akan aku ajarkan bagaimana mencari makan." jelas Boni di sela kunyahan terakhirnya. Miko pun hanya menelan ludah. Perutnya sudah seperti konser. Meminta jatah untuk diisi. 

"Aku lapar, Boni," lirih Miko mengatakannya. Boni hanya meliriknya. Ia asyik menjilati kaki depannya bergantian. Perutnya sudah kenyang. 

"Cari saja makanan di tong sampah sana!" tunjuk Boni. Miko mengikuti petunjuk Boni. Huf, tempat sampah? Bagaimana rasanya?

Mendengar tempat sampah, perut Miko seperti diaduk. Terasa mual dan ingin muntah. Sebesar ini Ibunya tak pernah mengajarkan mencari makanan di tempat sampah.


Bersambung...

#OneDayOnePost

9 komentar:

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Ahhhhh ...
Wedi poll aku kr mereka.

Ainayya Ayska mengatakan...

Wah... miko keluar rumah... ntar pulang lagi ditempat nyaman. Hehe

Ainayya Ayska mengatakan...

Jangan jauh2 mainnya. Ntar hilang, :D

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

wah kucingpun ada rasa jijik juga ya

muhammad jundii mengatakan...

saya *belum baca yang pertama, tapi sudah mbayangkan kalau judulnya itu tentang cinta2 an, eh meong2 an,, hhe,,

keep writing, semangat

Ciani L mengatakan...

Boni bantu miko yaa...

lisa lestari mengatakan...

kucingku asli itu mb wid

lisa lestari mengatakan...

hehehehe,,,kena deh

lisa lestari mengatakan...

hehehehe,,,kena deh

Posting Komentar