23 Juli 2016

Daring yang Beken

Wuaaaa...lama nian saya tidak memposting uneg-uneg dalam blog ini. Entah kenapa rasanya jika tidak ada tantangan menulis kok tangan ini malas digerakkan untuk menekan tuts-tust di HP. Baiklah, hari ini saya akan mencoba berbagi sedikit yang saya rasakan dan sudah mengendap dalam pikiran saya. Ciee..

Hari Senin tanggal 18 Juli 2016 sebuah pesan BBM masuk. Thing...mengabarkan bahwa nama saya ada dalam daftar pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor pada tanggal 18 Juli sampai 27 Juli 2016. Di pesan BBM tersebut, dilampirkan surat tugas saya dan keterangan bahwa saya sudah harus cek in di Hotel Rizen Preimere sampai pukul 12.00 dan acara pembukaan pukul 15.00.

Syok langsung melanda saya. Bagaimana tidak? Saat saya terima pesan tersebut waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Panik mulai menyerang saya, mulai mencari info dari teman-teman yang terlampir namanya dalam daftar pelatihan tersebut. Telfon punya telfon hingga usut punya usut, ternyata semua baru terima email dari UPT Kecamatan selepas magrib. Agak tenanglah saya, berarti kesalahan bukan pada saya, tetapi pada pesawat televisi anda! Hehehehe...

Oke, saya tidak akan menceritakan bagaimana saya bak bik buk menyiapkan apa saja yang akan saya bawa. Akhirnya saya cuuuss meluncur menujuu TKP pada hari Selasa tanggal 19 Juli 2016. Sampai waktu ini saya menulis, saya berada dalam kelas saat pelatihan, dan hari ini sudah melampaui enam hari dengan pemadatan jadwal dari jadwal semula yang sempat tertunda karena miss komunikasi sebelumnya.

Pelatihan ini berkaitan dengan hasil UKG para guru yang dikerjakan tahun 2015 kemarin. Sebagai akibat dari hasil yang dianggap belum memenuhi standar yang ditentukan, maka akan diberikan bimbingan agar materi yang belum dikuasai dapat terlampaui di UKG tahun 2016 nanti. Saya pribadi yang sedikit sekali menguasai IT, rasanya seperti berlari dalam menerima materi dan mengerjakan tugas. Kami peserta pelatihan diberikan materi yang akan kami berikan nantinya kepada rekan guru di kecamatan. Hingga rasanya kepala tuing-tuing karena sudah membayangkan bagaimana bentuk kerja kami di lapangan nantinya.

Materi pelatihan ini mengenalkan pada kami dengan istilah keren, yaitu daring, dalam jaringan atau sebetulnya melalui jaringan internet. Daring ini juga menjadi beken pada saat kita ada dalam ruang makan hotel. Kelakar tentunya keluar dari bapak-bapak. Begini kelakarnya, "Nanti gaji kita juga akan diberikan melalui daring, kirim gambar uang segebok, jika sudah terima kita kirim balasan kepada Dinas." Mendengarnya sedikir memberikan hiburan dari segala penatnya tugas pelatihan yang memenjara.

Sekilas laporan yaa, mengurai apa yang sudah berlompatan dalam angan. Terimakasih....

#OneDayOnePost
#Isengmenulismencuriwaktusaatpresentasikelompoklain
#Melemaskan jari


16 Juli 2016

Sajak Rindu dalam Maaf

Aku terisak, tergugu dalam tangisan. Duduk memeluk kedua kakiku, menenggelamkan kepala di antara dua lutut, dan membiarkan tangis ini pecah tanpa kendali. Bahuku terguncang, mengikuti irama hujan dari mataku, dari hatiku juga. Makin perih jika mengingatnya. 

Kenapa nggak diangkat aku telfon via WA?

Tanyamu dalam WA. Dan aku menjawabnya dengan segenap perasaan. Campur aduk hingga tak tahu rasanya.

Sengaja.

Kenapa?

Kalau aku nggak bilang kangen suaramu, apa kamu juga akan menelfonku? Aku nggak mau kalau telfon hanya karena terpaksa.

Ya sudah, ngikut saja.

Itu awal percakapan dari WA sebelum telaga panas ini memuntahkan laharnya. Kenapa begitu sulit menghubungiku setelah sekian lama waktu terlibas tanpa ampun? Apakah itu yang dinamakan rindu? Betah dalam diam tanpa ada keinginan untuk bercakap dalam telefon?

Kuraih layar sentuh android dan menatap kontak WA. Sedang online. Terus ditatapnya tanpa berkedip dari layar. Masih berharap agar dia mengirim pesannya. Ternyata tidak!

Akhirnya kuketik pesan singkat.

Online dari tadi tapi nggak WA aku. Masih marahkah?

Dari pada disalahkan terus, lebih baik aku diam.

Oh, tidak! Dia kembali marah. Dari tulisannya jelas dia marah denganku. 

Blokir saja WA ku agar kamu tak perlu mendiamkanku lagi. 

Tak ada balasan. Tapi terbaca. Kuketik lagi pesanku.

Aku hanya ingin ditelfon, nggak pengen apa-apa. Tapi pengennya ditelfon tuh bukan karena aku yang minta. Ingin lihat sejauh mana kamu kangen aku. Masak sekian waktu kamu nggak kangen aku?

Masih tak berbalas.

Ya sudah, aku saja yang blokir. Biar kamu tak pernah terganggu dengan WA ku. Maaf atas semua salah.

Terkirim dan dibaca. Tanpa menunggu waktu lama, aku blokir kontak WA nya. Sesudahnya, inilah yang terjadi. Menangis hebat sebagai bentuk dari segala rasa di hati. 

WA sudah kublokir, kalau memang sayang pasti akan BBM. Tapi mungkin tidak. Aku sangat hafal setiap hal tentangnya. Marahnya akan terpenjara dalam diam. Dan butuh waktu lama agar marahnya menguap. Dan aku bukan perayu ulung untuk melunakkan hatinya agar tak marah padaku.

#OneDayOnePost

11 Juli 2016

Be Your Self

"Kamu benar akan memilih menganyam sebagai kegiatan ekskul?" tanya Bu Arin sambil menatap lembar kertas pemilihan kegiatan ekskul.

"Bukan kelas Matematika seperti Kak Ratna?" lanjut Bu Arin.

Mantap Ratih mengangguk. Sejak awal ia hanya ingin ikut kelas menganyam. Setiap selesai belajar di TK, Ratih selalu melongok kelas menganyam yang letaknya bersebelahan dengan kelas Ibunya. Ia akan anteng mengikuti setiap petunjuk pembuatan benda anyaman. Dan Ratih mampu mengikuti meski ia masih TK B.

Sekarang Ratih sudah kelas tiga, waktunya boleh memilih ekskul, maka dengan yakin Ratih memilih kelas menganyam. Tapi kenapa Bu Arin sepertinya meragukan pilihannya? Mengapa seolah-olah Bu Arin memintanya mengikuti seperti kakaknya yang mengambil kelas Matematika?

"Ratih tak ingin tanya Ibunya dahulu?" kembali Bu Arin meragukan. Hal inilah yang membuat Ratih harus menghadap ibunya.  

Sepulang dari sekolah, masih dengan seragam lengkap, Ratih mendekati Ibunya. Ratna kakaknya yang duduk kelas lima memandang curiga ketika adiknya duduk di sebelah Ibu dengan kepala menunduk. Pasti ada sesuatu yang akan diceritakan ke Ibu.

"Ada apa, De? Kayaknya mau minta sesuatu ya?" selidik Ratna. Ratih hanya nyengir.

Ratih kemudian menyodorkan kertas pilihan ekskul kepada Ibunya. Ibu membacanya, lalu mengernyitkan dahi tanda bingung. 

"Ade sudah pilih kelas menganyam kan?"

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ibu, Ratih mengangguk. Ratna yang ikut melihat kertas Ratih, terlihat juga bingung.

"De Ratih ingin ganti?" tanya Ratna.

Gelengan kepala Ratih sebagai jawaban. Ibu dan Kak Ratna makin bingung.

"Lalu?" bersamaan Ibu dan Ratna bertanya. Menunggu jawaban dari Ratih.

"Kata Bu Arin Ade suruh tanya Ibu lagi. Tadi Bu Arin juga menanyakan kenapa Ade nggak milih kelas sama seperti Kak Ratna."

"Kelas Matematika?"

"Iya, Bu."

Ibu tersenyum. "Ratih, ambillah kelas ekskul sesuai yang kamu suka. Ibu membebaskan pilihan itu ke Ratih. Nggak usah ikut seperti Kakak, wong kamu sukanya nganyam, kenapa mau masuk matematika?"

Ratih tertawa. "Jadi nggak apa-apa kan Ade ikut kelas tidak sama dengan Kakak?"

Ibu mengangguk sambil mengelus kepala Ratih dengan sayang dan memeluknya. Kak Ratna tertawa melihat tingkah adiknya. 

"Harus jadi diri sendiri, Dek. Nggak boleh ngikut-ngikut orang. Be Your Self!" jelas Ratna ikut memeluk adiknya.



#OneDayOnePost
#Nulissekaliduduklagimumpungadaide

08 Juli 2016

Menjadi Raja

Kangen nulis, maka lahirlah tulisan ringan ini. Sekedar melepaskan apa yang ada dalam angan. Bukan angan ding, wong dirasa terus hadir dalam pikiran. Ala curhatan emak-emak gitu. Hehehe...

Setelah menikmati opor ayam, ketupat lebaran, dan teman-temannya saat lebaran, sudah saatnya lebaran kedua saya ingin menikmati sayuran hijau. Begitu bayangan saya, makan sayur bayam ditambah jagung, pasti segar. Meluncurlah saya ke pasar di lebaran kedua.

Sampai di pasar, memang belum banyak yang berjualan. Hanya beberapa pedagang, dan hanya menjual barang dagangan sedikit sekali. Alhamdulillah saya menemukan penjual sayur bayam dan jagung yang saya inginkan. Pas saya bertanya berapa harga bayam seikatnya, wow, saya terkejut! Bayam yang biasanya seikat hanya dua ribu rupiah, kali ini dijual dengan harga fantastis. Lima ribu rupiah! Dan saya tertawa tanpa bisa menawarnya. Tapi tetap saya beli.

Dan pagi tadi, sayuran sudah mulai hadir di tukang sayur, tanpa perlu pergi ke pasar. Meskipun harganya masih melangit. Harga sayur memang selalu jadi raja ketika lebaran telah usai. Masih bersyukur karena bisa membelinya dan menikmatinya. Alhamdulillah.

#OneDayOnePost