30 Agustus 2016

Kepingan LDR bagian 3

Sekuat mungkin butiran bening ini kutahan agar tidak tumpah menjadi tangisan. Pantang bagiku menangis untuk kedua kalinya di hadapan mas Fian. Makin besar saja hidungnya nanti.

Tangan kokoh mas Fian masih erat mencengkeram tangan kiriku. Menahanku agar duduk kembali. Ibu masuk ke dalam dapur. Aku tak bisa berkutik.

"Lepaskan, Mas!" teriakku tertahan.

"Tidak akan aku lepaskan, sebelum kita bicara baik-baik tanpa emosi."

Kutatap mata elangnya. Tak ada tawar menawar dari sorot matanya. Tegas dan memintaku agar duduk kembali. Tubuhku masih menolak ajakannya. Berdiri mematung menatapnya tak berkedip.

"Apa yang akan kita bicarakan? Cepetan, aku mau pulang!"

"Kalau tidak duduk, tak akan kumulai percakapan ini. Duduklah, De!" lembut bicaranya sambil mengusap lenganku. Perlahan namun mampu membuatku duduk. Dia masih meraja di hatiku, tak kuasa aku membangkangnya. Rasa rindu mulai menyergap hatiku. Sekian lama tak bertemu, terakhir adalah pertengkaran hebat kami di ujung telefon.

"Apa yang kau inginkan, De?" tanyamu saat aku menangis hebat di ujung telefon. 

Kukatakan dengan emosi yang memuncak. "Aku nggak mau nikah denganmu, Mas!"

Diam tanpa suara. Entah apa yang ada dalam pikirannya kala itu. Padahal acara lamaran akan berlangsung kurang dari seminggu. Dan aku membatalkannya. Tak kuat rasanya harus berlanjut ke jenjang pernikahan jika mas Fian tetap seperti ini. Hatiku lelah menghadapinya.

"Ya sudah kalau memang ingin batal. Aku tinggal bilang ke ibu, untuk tidak jadi melamarmu." putusmu. Dan selesailah kami. 

Rencana untuk hidup bersama dalam satu biduk perahu kandas. Sebelumnya memang sudah terjadi perang dingin di antara kami. Mas Fian menyebalkan, menurutku. Tak pernah bisa terbuka setiap ada masalah. Ujung-ujungnya hanya mendiamkanku dalam waktu lama. Tidak pernah mau mengangkat telfonku jika sedang marah. Betah berhari-hari bahkan berminggu-minggu dalam diamnya. Hingga memaksaku menjadi pengemis maafnya jika kami selesai berdebat. Dia nggak pernah memulai kata maaf. Hingga akhirnya aku menangis hebat dan memutuskan untuk membatalkan semuanya.

Ya, masih ingat,  ketika aku membatalkan semuanya. Waktu itu mas Fian juga mengiyakan. Tidak berusaha membujukku kembali atau merayu hatiku agar menarik keputusanku. Hingga akhirnya, kami seperti dua orang yang tidak saling kenal. Menjadi asing. Kontak di antara kami terputus.

Harga diriku mengatakan untuk melakukan hal yang sama. Diam tak ingin berkabar. Mas Fian juga enggan sepertinya. Padahal dia masih menjadi raja di hatiku.

Kugigit bibir bawahku tanpa sadar. Mataku lekat menatapa wajah di hadapanku. Wajah yang sangat aku rindukan beberapa minggu ini. Butiran bening sudah terkumpul.

"Kalau Mas ingin ambil rumah yang sudah kita bayar bersama, ambil saja. Aku akan cari kost lagi," lirih suaraku terdengar. 

Rumah mungil yang aku dan mas Fian  beli, sempat aku kembalikan ke ibu. Namun kata ibu, aku diminta menempati. Sayang dari pada kotor dan rusak nantinya, begitu kata beliau. Aku tidak tahu, apakah mas Fian tahu keputusan ibu.

Terdengar tawa ringan dari mas Fian setelah perkataanku.

"Tempati saja, De. Aku nggak akan memintanya darimu. Aku hanya ingin kita melanjutkan hubungan kita. Kita menikah."

Kutatap wajah yang selalu menghiasi mimpi malamku. Ada kesungguhan dalam kata-katanya. Si kepala batu, begitu julukan adik-adiknya, memintaku melanjutkan rencana yang sudah pernah matang.

Hatiku bimbang. Satu sisi aku begitu ingin menikah dengannya. Sisi hatiku yang lain mengatakan, seandainya aku menikah, bagaimana aku menghadapi aksi diamnya jika sedang marah? Kalau hanya sehari dua hari membisu, tak apa. Tapi ini? 

Kepalaku menggeleng lemah. Ada ketakutan terbesar dalam hidupku. Menikah dengan orang yang asyik dalam dunia diamnya. Tidak!

"Kau masih marah denganku, De? Hingga menolak menikah denganku?"

Oh, tak tega aku mendengarnya. Hatiku dibuat bingung.


Bersambung.

#OneDayOnePost

26 Agustus 2016

Kepingan LDR bagian 2

Kuparkir vario hitamku di bawah pohon mangga golek. Sengaja tak kumasukkan hingga teras. Masih belum pasti hati ini memutuskan menginap atau tidak. Hari masih sore. Matahari juga masih menantang menebarkan panasnya. Rumah bercat coklat kebagian panasnya saat sinar angkuhnya berada di ufuk barat. Kebun kecil di sebelah selatan rumah ibu mulai nampak menghasilkan. Ada cabe, terung, kacang panjang, bayam, dan tanaman tomat. Mulai berbuah, membuat siapapun yang melihat gatal untuk memetiknya.

Halaman rumah memang tidak cukup luas. Ada pohon mangga dan jambu biji. Cukup membuat teduh halaman jika siang hari. Di teras rumah, tersedia dua kursi panjang dari bambu. Tiduran kala sore begini, bersantai menikmati indahnya suasana menjelang tenggelamnya sang surya.

Kuedarkan mataku ke seluruh halaman. Masih sama seperti bulan-bulan yang lalu ketika suasananya belum berbeda. Aku sering ke sini, ada mas Fian ataupun tak ada dia. Sudah kuanggap rumahku sendiri, ditambah aku hanya pendatang di kota kecil Ponorogo ini. Terdampar setelah mendapatkan SK penempatan kerja. Aku kost dekat dengan rumah ibu.

Dan aku menjadi bagian dari keluarga mas Fian, jauh sebelum aku akrab dengannya. Aku tak pernah bertemu dengan mas Fian, putra sulung ibu. Meskipun aku sering menemani malam minggu ibu. Karena menurut cerita ibu, mas Fian bekerja di luar kota dan jarang pulang. Ataupun ketika pulang, aku pun pas kebetulan tidak ada di rumah ibu. Jadi kami tak pernah bertemu.

Aku bertemu mas Fian secara tak sengaja. Waktu itu aku asyik bercerita dengan ibu di bangku kayu di teras depan. Muncul mas Fian menyalami dan mencium tangan Ibu. Aku yang berada di samping ibu, terkejut mendapati sosok tinggi cenderung kurus, berkulit sawo matang seperti kulit orang Indonesia kebanyakan. Hidungnya sungguh mancung, dengan mata agak sipit. Dan senyumnya sungguh membuat hatiku tertawan seketika.

Mas Fian menyalami tanganku, menebar senyumnya, dan melihat bagaimana aku terlihat kikuk di hadapannya. Ibu hanya tersenyum simpul mendapati aku salah tingkah oleh anak sulungnya. 

"Hei, lihat apa ya, sampai tidak berkedip!" Sambil tangan kanannya berayun di depan wajahku. 

Tak terbayang, wajahku pasti merah seperti kepiting yang direbus. "Eh, anu Mas, maaf..." Tidak bisa berkata apapun, yang akhirnya aku hanya mampu menundukkan wajah. Tawa mas Fian seketika pecah sambil berlalu masuk ke dalam dengan tas ranselnya. 

" Ibu, aku pulang ke kost saja ya, nggak jadi nginep. Ada mas Fian yang pulang. Takut ganggu kangen Ibu dengan mas Fian." kataku hendak berpamitan. Nggak enak rasanya jika niatku menginap akan mengganggu pertemuan ibu dan anak lelakinya. Meski bekerja di Surabaya, mas Fian jarang pulang. Belum tentu sebulan sekali. Makanya aku berinisiatif untuk tetap di kost an saja.

Ibu tersenyum. "Memang kenapa kalau ada anak lanang Bu e?"

Aku hanya menjawab dengan cengiran. Karena nggak tahu harus jawab apa. Masalahnya aku begitu gugup dan tak bisa berkutik berhadapan dengan mas Fian. Selama ini hanya mendengar dari cerita Ibu, de Wiwik, de Ambar, dan melihat dari foto. Diam-diam aku sudah bermain hati dengannya setiap ibu dengan bangga bercerita tentangnya. Sebagai anak sulung, begitu bertanggung jawab. Lulus SMA memilih bekerja dan membantu biaya sekolah dua adiknya, de Ambar dan de Wiwik.

Satu lagi yang membuat hatiku makin terpesona, mas Fian yang awalnya hanya sebagai waiter di sebuah restoran, akhirnya mampu menjadi seorang chef di tempatnya bekerja. Sebuah perjuangan yang tentunya tidak mudah.

"Lho, ada nak Wulan to?" Sudah dari tadi, Nak?" Suara ibu membuyarkan ingatanku tentang pertama kali aku bertemu dengan mas Fian. Kucium tangan ibu dengan takzim. Memeluk beliau, selalu merasa seperti memiliki ibu kembali. 

"Kangen Ibu, lama tak peluk begini."

Ibu balas memelukku dengan erat. Tersenyum tulus. "Ibu juga kangen. Sehat kan? Sejak pindah, lama nggak ke sini."

Aku hanya menjawab dengan anggukan.

"Ayo masuk!" Ajak ibu menggandeng tanganku. Masih kulingkarkan tanganku ke pinggang ibu masuk menyusuri ruangan dalam rumah berjalan menuju ruang keluarga, tempat kami biasa bercengkerama.

"Ibu, hari ini aku boleh nginap? Tidur dengan Ibu ya?" kataku manja. Duduk di karpet, bersandar di tembok. Di sebelahku ibu ikut duduk dan mengangguk senang atas permintaanku.

"Ada De Wulan, ya, Bu?" sebuah suara khas yang tak pernah kudengar sejak kubatalkan pernikahan. Belum sempat kesadaranku pulih, sosok itu sudah tersenyum di hadapanku. Ikut duduk bersama kami.

Kakiku bersiap untuk pergi begitu dia dengan santainya duduk. Belum sempat aku berdiri, tanganku ditahan olehnya.

"Duduklah, De. Tak kangenkah Ade denganku?"

Dua mataku sudah berusaha menahan tangis. Ada luka melihatnya nyata hadir di hadapanku. Sosok berhidung mancung dengan senyum khasnya. Mas Fian, lelaki yang kucintai.

Bersambung

#OneDayOnePost



24 Agustus 2016

Menulis Seperti Buang Hajat

Mengapa harus menulis?

Sebuah pertanyaaan sederhana yang tentu saja tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Namun pertanyaan ini hampir membuat seluruh indera saya bekerja keras. Berpikir, kira-kira apa ya jawaban yang harus saya siapkan jika dihadapkan dengan pertanyaan ini. 

Selintas maka saya akan menjawab, karena saya suka menulis. Saya suka menuliskan apa saja, tentang apapun, dan saya suka menuangkan setiap helai rasa yang saya rasakan dalam tulisan. Membacanya kembali suatu saat membuat saya seperti berada kembali dalam masa di saat saya menuliskannya. 

Jawaban yang kedua jika saya ditanya kenapa saya menulis adalah karena menulis itu seperti buang hajat. Jika dalam sehari kita tidak buang hajat, maka perut kita akan bermasalah. Berbagai penyakit pasti akan satu persatu mendatangi kita. Benarkah?

Jawaban yang kedua saya dapatkan setelah saya membaca sebuah tulisan di grup. Bahwa menulislah seperti buang hajat. Jika saya pikir, benar adanya. Menulis dapat saya ibaratkan buang hajat. Lho kok bisa?

Coba sekarang merenung. Resapi apa yang kita rasakan. Sebuah perasaan apapun pasti kita mampu merasakannya dengan halus. Entah itu perasaan sedang marah, jatuh cinta, jengkel kepada seseorang, atau sebuah perasaan yang membuat kita ingin menjadi seorang pembunuh. Abaikan kalimat yang terakhir. 

Di saat kita mengalami perasaan apapun, akan terasa plong jika kita menguraikannya lewat tulisan. Seperti buang hajat kan? Kita keluarkan apa yang ada di dalam perut, setelah keluar, lega rasanya.

Ingat Bapak BJ Habibi ketika pertama kali ditinggal oleh Ibu Ainun Habibi? Beliau mengalami depresi yang amat berat. Pertanyaan dokter hanya satu. Pak Habibi dihadapkan pada pilihan, untuk mengonsumsi obat setiap hari atau melakukan terapi dengan menulis. Dan Pak Habibi memilih menulis.

Beliau tuangkan semua perasaannya sejak ditinggal oleh istri tercinta. Terapi ini lebih manjur dari pada obat. Perlahan beliau mampu bangkit dari kesedihan. Hingga tulisan beliau menjadi tulisan yang abadi, bahkan diangkat dalam sebuah film.

Di atas adalah contoh begitu ampuhnya manfaat dari tulisan. Maka tidak salah kan jika saya katakan menulis seperti buang hajat. Menulis menjadi terapi, obat yang paling ampuh. Merasa penuh, kita tuliskan, lega rasanya.

Lalu bagaimana dengan pendapat bahwa mau menulis dimulai dari mana?

Akan saya katakan dari mana saja kita ingin memulainya. Apa yang ingin kita tulis, tuliskan saja. Bukankah ketika kita ingin buang hajat, kita tidak pernah memikirkan kita akan buang hajat kapan waktu yang tepat bukan? Mules datang, keluarkan, dan selesai.

Jika kita katakan menulis seperti buang hajat, maka membaca adalah makanannya. Menulis tanpa membaca ibaratnya kita tak pernah makan, mana mungkin kita akan buang hajat. 

Kalau ingin buang hajat, ya harus makan teratur. Ingin menulis, ya harus membaca. Ketika jari kita mentok, maka membacalah agar ide mengalir terus. Jadi membaca dan menulis bagaikan dua sisi mata uang. Saling berkaitan seperti saya katakan di awal, menulis seperti buang hajat. Agar buang hajatnya rutin, berarti kita harus makan. Makanan bagaikan membaca. 

Alasan lainnya menulis adalah menulis akan membuat kita kekal abadi. Ingat tulisan Kartini? Tulisannya masih abadi sampai saat ini. Kertini sudah tiada, tapi tulisannya abadi sepanjang sejarah.

Saya pun berharap seperti itu. Ketika saya sudah fana di dunia ini, saya memiliki sesuatu yang akan diingat terus. Sebuah tulisan yang mungkin sangat sederhana. Tulisan yang mungkin hanya berkisah tentang perjalanan hidup saya, agar keturunan saya mengetahui bagaimana sebelum mereka ada. 

Dengan menulis, sekecil apapun tulisan kita, berharap memberikan kebaikan kepada orang lain. Memberikan manfaat, dan mudah-mudahan membawa perubahan yang baik. Meskipun saya merasa tulisan saya tidak memiliki arti apapun. Namun keinginan menulis walaupun tulisan sederhana, tetap menyala. Menulis untuk kebaikan.

Akhirnya, akan saya katakan. Menulislah untuk kesehatan, menulislah agar kita abadi, dan menulislah untuk menebarkan kebaikan. Salam Literasi.

#Menulis untuk tugas KMO
#OneDayOnePost

22 Agustus 2016

Kepingan LDR

Mataku kembali menatap kalender. Sudah berapa bulatan dengan tinta merah yang kubuat untuk menandai hari-hari yang melelahkan. Letih sangat, bukan fisikku, tapi lebih tepat hatiku. Hari ini kembali jariku melingkari angka, mencoba berhitung dengan keberuntungan. 

Ah, keberuntungan itu sudah enggan bersamaku, gumamku lirih. 

Kuletakkan tas ransel yang sejak masuk rumah mungil ini belum terlepas dari punggung. Tanganku bergerak membuka kulkas, mengambil botol air minum dingin dan menuangkannya dalam gelas. Habis kutenggak untuk mengusir dahaga selama perjalanan dari tempat kerja. 

Tubuh penat tanpa berganti baju terlebih dahulu, kusandarkan punggung ke kursi. Menatap kosong ke seluruh ruangan kecil bercat hijau muda, yang kusebut dapur. Sengaja kubuat kecil, bukan aku, tapi kita. Salah satu ruangan yang kita impikan. Dengan jendela dan pintu menghadap taman kecil dengan kolam ikan kesukaanmu. Jadi ketika kita makan, kita tidak melulu di dalam dapur. Bisa keluar dapur, menikmati kolam ikan sambil menikmati sore. Berdua, ya, berdua bersamamu.

Tanpa sadar aku menggeleng lemah. Jari tanganku mengusap titik-titik air yang terbentuk di luar gelas. Rumah kecil yang kita rancang, hanya menimbulkan nyeri tiada akhir.

Bergegas berdiri sebelum kepingan anganku lebih jauh. Retinaku juga mulai terasa panas. Mandi rasanya lebih menyegarkan dari pada melamun merangkai kepingan luka, putusku.

"Assalamualaikum..." ucap salam dari depan. 

Kaki yang hendak melangkah ke kamar mandi urung. Berbalik ke arah salam yang kudengar. Sepertinya aku mengenal suara itu dengan baik. Suara Ambar, adiknya mas Fian.

"Masuk, De. Sendirian?"

"Iya, Mbak, sendiri. Disuruh Ibu ngantar makanan buat ke sini. Kata Ibu, ini makanan kesukaan Mbak."

Tersenyum mendengar jawaban Ambar. Ibu, masih ingat saja makanan kesukaanku. Sambal tumpang, sejenis sayur terbuat dari tempe yang sudah semangit disantan, dengan aroma daun kemangi. Hmm, bisa nambah makannya.

"Wah, Ibu. Masih ingat kesukaanku."

"Sama Ibu juga minta Mbak ke rumah. Sudah lama nggak ke rumah. Jangan karena pernikahan dengan mas Fian batal, Mbak nggak mau ke rumah lagi."

Pelan yang dikatakan Ambar. Tapi cukup membuatku tertegun. Benar kata Ibu, dua bulan ini aku belum ke rumah ibu.

"Iya, De, nanti selepas isya, aku ke rumah."

"Bener ya, Mbak. Ditunggu. Kalau bisa nginep ya," Pinta Ambar sambil memegang tanganku. Berharap aku memenuhi keinginannya. 

Aku menjawabnya dengan senyuman. Tak bisa menolak, namun juga belum tentu mengiyakan. Hanya ingin membuat Ambar tenang.

Bersambung...

#OneDayOnePost

15 Agustus 2016

Hatiku Kembali Menangis

Hatiku Kembali Menangis
                        Sebetulnya dari hari Sabtu tanggal 13 Agustus 2016 tulisan ini ingin saya buat. Tapi entah karena apa, kok saya hanya mengendapkan dalam angan. Tak mau beralasan karena sok sibuk, pokoke saya tidak ingin menari di atas keyboard android saya.
                        Sepulang sekolah hari Sabu kemarin saya sengaja mampir ke pasar sebelum pulang ke rumah. Membeli beberapa kebutuhan di dapur yang sudah berteriak untuk dipenuhi, juga untuk bersilahturahim dengan wali murid saya yang berjuaalan di pasar.  
                        Saya berkeliling mencari barang-barang yang sekiranya saya butuhkan. Berhenti dari satu penjual ke penjual lainnya. Ketika berhenti di satu penjual, saya disapa oleh seorang anak.
                        “Assalamu’alaikum, Bu...” sambil mencium tangan saya dengan takzim.
                        Sedikit lupa nama anak tersebut, maklum saya belum lama di tempat ngajar yang baru dengan murid 50 anak. Masih sering tertukar namanya dengan wajahnya. Tapi saya ingat betul bahwa dia murid saya di kelas enam yang baru saja lulus. Saya pun menjawab salamnya dan menanyakan apa yang dia lakukan di pasar. 
                        Keur naon, Jang, aya di pasar?” tanya saya.
                        Gawe, Bu.”

                        “Gawe naon?” tanya saya lagi.
                      “Jadi kuli panggul, Bu.” Jawabnya. Selesai menjawab dia pamit untuk masuk kembali ke dalam pasar.
                        Sedih saya mendengarnya. Anak seusia dia, lulusan SD menjadi kuli panggul. Saya tidak tahu persis alasan apa yang membuatnya harus bekerja. Padahal saya cukup berpesan sebelum mereka lulus. Tetaplah bersekolah, lanjutkan sekolah, kejar cita-cita. Rupanya nasehat saya belum bisa dilakukan.
                        Kejadian ini bukan sekali dua kali saya temui. Masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah ke SMP, meskipun di daerahnya sudah ada SMP swasta yanng membebaskan dari biaya apapun. Kendala selalu datang dari pihak orang tua. Melarang anaknya untuk bersekolah. Cukup bisa baca, berhitung, bagi mereka sudah bagus. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Dan hal ini selalu membuat saya menangis. Sedih luar biasa.
                        Akhirnya kegiatan belanja saya cukupkan. Saya memutuskan untuk pulang. Di sepanjang jalan saya benar-benar menangis. Merasa tak mampu membuat mereka tetap bersemangat menuntut ilmu. Doa saya dalam hati, mudah-mudahan suatu saat nanti, anak-anak saya yang hanya lulus SD kembali punya keinginan untuk bersekolah. Dan orang tuanya memberikan dukungan.

#OneDayOnePost
#Yuk isi blog lagi
# Untuk Ahmad dan anak-anakku lainnya

09 Agustus 2016

Pada Satu Hujan



Hujan ini mengguyur bumi dari pagi tanpa henti. Membuatku malas bergerak untuk melakukan aktifitas setelah menyelesaikan rutinitas pekerjaan di rumah sebagai ibu rumah tangga. Entahlah, melihat hujan dari balik kaca ditemani secangkir coklat panas rasanya lengkap menemani sore menghitung titik air langit. Sejenak ingatanku melayang pada satu nama yang selalu terucap dalam setiap doa-doaku. Ya, satu nama yang cintanya membuatku selalu melambung, selalu merasa diistimewakan, menerbangkan semua anganku hingga tinggi ke awan. Aku membingkai namanya dengan segenap cinta yang kupunya. Berusaha memanjakan dan memberinya kenyamanan agar cintanya tak pernah berpaling dariku. Ah, aku tersenyum mengingat namanya.
Mas Mawan, lirih kusebut namanya. Sedikit melambungkan angan tentang tiga hari ini. Ada kebisuan yang tercipta di antara kami. Aku tidak tahu, apa yang membuat kami kali ini betah berlama-lama diam. Bukan diam sepenuhnya, karena aku masih memanjakannya. Masih kubuatkan sarapan, menghidangkan teh ketika malam dia pulang kerja. Hanya memijitnya dengan manja yang tak kulakukan tiga malam ini. Mas Mawanku tidur tanpa memelukku, memunggungi aku karena kejengkelannya dengan sikapku.
Kucoba mengurai benang merah ini. Aku sudah merindu, sangat merindukannya.  Merindukan candanya setiap malam sebelum kami lelap dalam mimpi, pelukannya agar aku terlelap terlebih dahulu, bahkan pijitan balasan karena aku sudah memijitnya. Padahal pijitannya tak lebih hanya usapan lembut setengah iseng menggelitikku agar aku tertawa.
“De, kenapa ngambek? Mas salah lagi ya?” tanyamu sebelum kita terdiam.
Tak kubalas pertanyaanmu. Aku hanya mengangguk.
“Salah Mas kali ini apa, De?”
“Mas nggak ngabari aku seharian. Telfonku nggak diangkat. Bahkan chatku juga hanya dibaca. Mas nggak tahu, bagaimana aku cemas?”
Mas Mawan mengambil nafas. Masalah yang selalu sama. Lupa memberi kabar dan sedikit cuek, menurutku. Meskipun tak sepenuhnya ia merasa cuek.
Saat itu Mas Mawan tak memelukku sebagai permintaan maaf. Hanya ucapan maaf dengan pelan kemudian berlalu pergi begitu saja. Duduk menghabiskan waktu di taman belakang. Aku yang melihat itu akhirnya makin marah menuju kamar. Sudah sering hal ini diungkapkan. Aku hanya ingin kabarnya, menyapaku, menanyakan kegiatanku ketika ia punya kesempatan. Karena waktu bertemu  hanya malam hari dan pagi sebelum aku berangkat dengan rutinitaskku. Sedangkan Mas Mawan menjelang sore baru berangkat. Aku tidak mengiring kepergiannya, karena aku masih di perjalanan pulang. Itulah sebabnya kami lebih sering berkomunikasi lewat handphone. dan ketika Mas Mawan lupa atau enggan berkabar sehari itu, maka yang terjadi adalah aku selalu ngambek.
Mungkin keinginanku terlalu berlebihan. Menuntut ceritanya saat kesempatan menghampiri. Sebelum dia berangkat kerja, di jam istirahatku. Tapi mungkin keinginanku menurutnya berlebihan. Ah, aku adalah wanita yang selalu ingin dimengerti, ingin selalu menjadi prioritasnya. Karena akulah wanita yang ada di hatinya.
Aku menuntut perhatian, karena aku selalu punya waktu untuk Mas Mawan. Berusaha memberi kabar di sela kesibukanku. Tak sadar aku menangis. Coklat panas terasa mulai dingin. Sedingin hatiku. Aku harus menyudahinya. Memcah kebisuan. Meskipun segala rayuan sudah terkirim via chat. Belum juga menyudahi kebisuan ini. Sungguh aku merindumu, Mas, kuucap pelan dengan sgenap hatiku.

#OneDayOnePost
#Postinglagi
#Memintamaafmu