09 Agustus 2016

Pada Satu Hujan



Hujan ini mengguyur bumi dari pagi tanpa henti. Membuatku malas bergerak untuk melakukan aktifitas setelah menyelesaikan rutinitas pekerjaan di rumah sebagai ibu rumah tangga. Entahlah, melihat hujan dari balik kaca ditemani secangkir coklat panas rasanya lengkap menemani sore menghitung titik air langit. Sejenak ingatanku melayang pada satu nama yang selalu terucap dalam setiap doa-doaku. Ya, satu nama yang cintanya membuatku selalu melambung, selalu merasa diistimewakan, menerbangkan semua anganku hingga tinggi ke awan. Aku membingkai namanya dengan segenap cinta yang kupunya. Berusaha memanjakan dan memberinya kenyamanan agar cintanya tak pernah berpaling dariku. Ah, aku tersenyum mengingat namanya.
Mas Mawan, lirih kusebut namanya. Sedikit melambungkan angan tentang tiga hari ini. Ada kebisuan yang tercipta di antara kami. Aku tidak tahu, apa yang membuat kami kali ini betah berlama-lama diam. Bukan diam sepenuhnya, karena aku masih memanjakannya. Masih kubuatkan sarapan, menghidangkan teh ketika malam dia pulang kerja. Hanya memijitnya dengan manja yang tak kulakukan tiga malam ini. Mas Mawanku tidur tanpa memelukku, memunggungi aku karena kejengkelannya dengan sikapku.
Kucoba mengurai benang merah ini. Aku sudah merindu, sangat merindukannya.  Merindukan candanya setiap malam sebelum kami lelap dalam mimpi, pelukannya agar aku terlelap terlebih dahulu, bahkan pijitan balasan karena aku sudah memijitnya. Padahal pijitannya tak lebih hanya usapan lembut setengah iseng menggelitikku agar aku tertawa.
“De, kenapa ngambek? Mas salah lagi ya?” tanyamu sebelum kita terdiam.
Tak kubalas pertanyaanmu. Aku hanya mengangguk.
“Salah Mas kali ini apa, De?”
“Mas nggak ngabari aku seharian. Telfonku nggak diangkat. Bahkan chatku juga hanya dibaca. Mas nggak tahu, bagaimana aku cemas?”
Mas Mawan mengambil nafas. Masalah yang selalu sama. Lupa memberi kabar dan sedikit cuek, menurutku. Meskipun tak sepenuhnya ia merasa cuek.
Saat itu Mas Mawan tak memelukku sebagai permintaan maaf. Hanya ucapan maaf dengan pelan kemudian berlalu pergi begitu saja. Duduk menghabiskan waktu di taman belakang. Aku yang melihat itu akhirnya makin marah menuju kamar. Sudah sering hal ini diungkapkan. Aku hanya ingin kabarnya, menyapaku, menanyakan kegiatanku ketika ia punya kesempatan. Karena waktu bertemu  hanya malam hari dan pagi sebelum aku berangkat dengan rutinitaskku. Sedangkan Mas Mawan menjelang sore baru berangkat. Aku tidak mengiring kepergiannya, karena aku masih di perjalanan pulang. Itulah sebabnya kami lebih sering berkomunikasi lewat handphone. dan ketika Mas Mawan lupa atau enggan berkabar sehari itu, maka yang terjadi adalah aku selalu ngambek.
Mungkin keinginanku terlalu berlebihan. Menuntut ceritanya saat kesempatan menghampiri. Sebelum dia berangkat kerja, di jam istirahatku. Tapi mungkin keinginanku menurutnya berlebihan. Ah, aku adalah wanita yang selalu ingin dimengerti, ingin selalu menjadi prioritasnya. Karena akulah wanita yang ada di hatinya.
Aku menuntut perhatian, karena aku selalu punya waktu untuk Mas Mawan. Berusaha memberi kabar di sela kesibukanku. Tak sadar aku menangis. Coklat panas terasa mulai dingin. Sedingin hatiku. Aku harus menyudahinya. Memcah kebisuan. Meskipun segala rayuan sudah terkirim via chat. Belum juga menyudahi kebisuan ini. Sungguh aku merindumu, Mas, kuucap pelan dengan sgenap hatiku.

#OneDayOnePost
#Postinglagi
#Memintamaafmu

3 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

selamat dtang mbak lisa
hahahahhaha
ceritanya kembali membaperkan hati

lisa lestari mengatakan...

hahahah..iyooo mbak...edisi ga iso turu hbs edit antologi pendidikan

Vinny Martina mengatakan...

Mbak... keren masih bisa konsisten ... mas mawan, hampir semua lelaki begitu yah? Lupa ngabarin istri. 😝

Posting Komentar