30 September 2016

Permen Jahe bagian 2

Mbak Murti berlari masuk kamar dengan menjulurkan lidahnya ke arahku. Majalah yang sedang kubaca segera melayang sebelum pintu kamarnya ditutup. Lumayan, mengenai bahu kanannya. Puas membalas ledekannya, kuambil kembali majalahnya. Berjalan mendekati ibu yang masih asyik dengan jahitannya.

“Kalau tidak suka permen jahe, bilang sama Bapak. Jangan dibuang,” kata ibu tanpa melepas kesibukannya dari mesin jahit. Aku yang berdiri di samping kiri ibu hanya mengangguk. Membenarkan ucapan ibu.

Benar saja ya, jika aku bilang tak suka permen jahe, pasti bapak tak akan lagi memberikannya padaku, gumam hatiku.

Kuputuskan untuk berkata apa adanya kepada bapak, bahwa aku tak suka permen jahe. Dari pada aku buang setiap diberi, lebih baik jangan dikasih lagi. Bisa buat bapak di perjalanan. Sayang kalau terbuang.

Sebelum kaki melangkah ke kamar bapak, kulihat tubuh tingginya sudah ada di samping kanan ibu. Tersenyum menatapku. Mungkin bapak sudah tahu maksudku.

“Kamu nggak suka permen jahe to, Nduk?”

Wajahku menunduk, “Nggeh, Pak.”

Kembali senyum yang selalu kurindukan dari wajah bapak mengusir ketakutanku selama ini untuk berkata jujur tentang permen jahe pemberiannya. Perlahan kepalaku memandang wajah bapak.
“Maafkan Bapak, ya, Nduk. Besok-besok akan diingat, supaya permen jahenya tidak terbuang.”

Mendengar perkataan bapak, aku langsung menghambur ke pelukannya. Mudah-mudahan bapak akan selalu ingat, bahwa aku tak suka permen jahe.


#OneDayOnePost
#RinduDenganMbakMurtidanDeNing
#KenanganBersamaAlmarhumBapak

Permen Jahe bagian 1

Terdengar sepeda ontel bapak dari kejauhan memasuki pagar rumah yang tidak pernah dikunci. Beliau selalu membunyikan bel sepedanya jika memasuki pagar rumah. Alasannya agar semua orang dalam rumah mendengar kedatangan bapak. Dan kami anak-anaknya, biasanya akan berebutan bergegas menyambut. Ada yang sibuk membawakan tas bapak, ada pula yang sibuk menanyakan oleh-oleh. Dan yang ini adalah kesukaanku. Paling sibuk mencari kantong plastik bungkus oleh-oleh.

Seperti siang ini, bel sepeda bapak terdengar. Aku sedang membaca majalah kesukaan dengan tiduran, berlari menghampiri. Nuning adikku hanya melihat sekilas. Ia masih asyik dengan boneka, tak ingin ikut menyambut. Hanya aku dan mbak Murti yang berlari menuju pintu.

Takzim kami berdua mencium tangan bapak. Mbak Murti mengambil tas beliau. Aku seperti biasa mencari bungkusan kue. Ibu yang ada di ruangan tengah sedang menjahit, hanya tersenyum melihat tingkahku.

“Bapak nggak bawa kue ya?” polos aku bertanya memastikan kebiasaannya yang selalu membawa oleh-oleh.

Mataku masih celingukan mencari bungkusan yang mungkin saja masih menggantung di stang sepeda ontel bapak.

Bapak tersenyum mengelus kepalaku. “Bapak nggak bawa kue hari ini. Hanya bawa permen. Lisa mau?” Tangan keriput bapak merogoh kantong saku celana bagian kanan. Mengambil sebungkus permen yang disimpan dalam plastik. Ada banyak permen aku lihat. Terbungkus dengan plastik warna oranye dan plastik putih setiap permennya. Bercampur jadi satu. Permen yang dibungkus warna oranye adalah permen warna hitam, rasanya lebih pedas dari permen jahe.

“Wah, permen apa itu, Pak?” tanya mbak Murti setelah meletakkan tas kerja Bapak ke meja seperti biasanya.

Aku hanya melihat sekilas seplastik permen punya bapak. Dari bungkusnya aku bisa menebak kalau permen itu adalah permen yang selalu di kantong. Tak berminat untuk meminta, aku kembali menekuni majalah kesyanganku. Membacanya sambil tiduran.

Bapak mendekatiku. Tahu jika aku hanya menyukai permen tertentu. “Nggak pengen permen, to, Nduk? Ini permen biar badanmu anget.” Bapak mengambilkan dua jenis permen untukku, “ini permen jahe, Nduk. Biar badanmu anget dan sehat.”

Mataku melirik permen yang diletakkan dekat majalah. Bapak kemudian berdiri masuk ke dalam. Mbak Murti sangat suka permen jahe ini. Rasanya yang pedas di lidah sering membuatku enggan menerimanya, sebetulnya. Tapi nggak enak hati mengatakan tidak mau sama bapak. Jadi setiap dapat permen ini, aku pasti akan membuangnya. Menyimpannya di tempat sampah agar beliau tidak tahu.

Segera kumasukkan dua permen ini ke saku. Mbak Murti yang sudah hapal kebiasaanku berteriak. “Bapak, permennya akan dibuang oleh Lisa!”


Aku melotot memandang mbak Murti. Kadang-kadang mbakku yang satu ini susah diajak jaga rahasia.  


Bersambung...


#OneDayOnePost

29 September 2016

Belajar Lebih Baik


Ruangan kelas VI Abu Ma’syar terlihat gaduh. Dua puluh anak nampak sibuk saling memperlihatkan kertas ulangan yanng baru saja dibagikan oleh ketua kelasnya. Sebentar lagi jam istirahat. Akbar, ketua kelas sengaja membagikan sesaat setelah bu Aisyah keluar kelas. Suara gaduh saling menunjukkan hasil ulangan kepada sesama teman, membuat Akbar kesulitan mengatur kelasnya menjadi tenang kembali.

“Eh, Akbar, siapa kali ini yang mendapatkan nilai 100?” tanya Zulfa.

Akbar berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat dari sekian kertas ulangan tadi siapa saja yang mendapat nilai sempurna.

“Sepertinya masih Husnul, Fa. Kenapa?”

Zulfa tersenyum. “Tidak apa-apa, Bar. Aku belum bisa ya, menyaingi nilai Husnul.” Berkata seperti itu Zulfa tertunduk. Husnul adalah anak yang pandai. Selalu mendapat nilai sempurna hampir di semua mata pelajaran. Zulfa belum mampu menandingi kelebihan Husnul. Dari kelas satu hingga kelas enam ini.

“Hei, tak perlu bersedih. Toh nilai kamu selalu ada di bawah Husnul. Dibandingkan denganku, masih bagus punyamu lah,” Akbar membesarkan hati Zulfa. Zulfa mengangguk. Mereka pun tertawa seiring bel istirahat berbunyi.

Dalam hati Zulfa ada keinginan untuk bisa mengalahkan Husnul. Bersaing dengan sehat. Berarti Zulfa harus belajar lebih giat, agar mampu mengalahkan nilai Husnul. Bu Aisyah pernah bilang, jika dia rajin mengulang setiap pelajaran yang telah diberikan, maka ia akan mudah mengingatnya.

Ya, Zulfa harus lebih rajin mengulang pelajaran apapun. Ada jam bermain yang akan dia kurangi. Tekadnya kuat mengalahkan Husnul. Perkataan Husnul beberapa waktu lalu rupanya melecut semangatnya.

“Hai, Husnul. Boleh aku bertanya bagaimana caramu belajar sehingga nilaimu selalu paling tinggi di antara kami?” tanya Zulfa ketika Husnul duduk di taman depan kelas. Husnul menatap Zulfa dan tersenyum.

“Aku kan sudah pinter dari lahir. Jadi tanpa belajar pun nilaiku tetap akan tertinggi!” dengan suara angkuh Husnul menjawabnya. Zulfa tediam. Hatinya sedikit tersinggung dengan jawaban Husnul.

Kejadian itulah yang melecut semangatnya untuk merubah cara belajarnya selama ini. Ia akan bertekad, lebih giat belajar. Meskipun Ummi mengingatkan agar niatnya belajar lebih baik tidak dikotori dengan keinginan yang lain, belajar lebih baik hanya untuk mengalahkan nilai Husnul. Itu sudah niat yang tidak baik, menurut Ummi.

Beberapa hari Zulfa lebih sering berada di dalam kamarnya. Biasanya sepulang sekolah dia akan keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman satu komplek, kali ini tidak. Zulfa terlihat memegang buku pelajaran. Membacanya berulang-ulang kemudian membuat coretan kecil di kertas lain. Mengulangnya dengan menuangkan dalam tulisan apa saja yang baru dibacanya. Dibuat dengan gambar menarik dan warna-warna mencolok. Lalu ditempelkan dekat dinding tempat tidurnya, agar ia membaca kembali sebelum tidur. Ummi selalu memberikan semangat setiap melihat tempelan baru hasil belajar Zulfa.

Pagi ini setelah aktivitas tahfiz dan sholat dhuha, akan ada pengumuman penting berkaitan dengan hasil latihan Try Out yang diadakan oleh lembaga belajar dari luar sekolah. Zulfa ingat, dia begitu bersemangat waktu itu saat mengerjakan. Hasilnya akan ditempel di mading masing-masing kelas enam.

Begitu pengumuman sudah ditempel, Zulfa segera menyusul teman-temannya untuk ikut bergerombol melihat hasilnya. Mata Zulfa seolah tak percaya dengan apa yang ditempel. Namanya menempati urutan teratas dengan nilai yang sangat memuaskan.

Dua tangan Zulfa menutup wajah. Ada haru tiba-tiba menyeruak. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat oleh matanya. Semua mata teman-temannya menatap dengan bangga.

“Zulfa hebat!  Akhirnya Husnul tergeser! Selamat Zulfa!” Akbar segera menghampiri Zulfa dan memberikan ucapan selamat. Yang lainnya juga ikut memberikan ucapan selamat.

Tak jauh dari mereka berdiri, Husnul melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Nama Husnul ada di urutan no empat, nomor yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Husnul terduduk dengan lemas. Zulfa segera menghampiri temannya. Begitu pula Akbar.

Zulfa memeluk Husnul. “Kamu tetap hebat, Husnul. Buktinya selama ini kamu selalu menjadi yang teratas. Baru kali ini saja kan, namamu tergeser.” Zulfa mencoba membesarkan hati Husnul. Akbar yang berada di sampingnya mengangguk.

“Aku sombong, merasa sudah pandai dari lahir. Hingga aku lalai tidak perlu belajar lagi karena selama ini nilaiku selalu bagus. Maafkan aku ya, Fa. Pernah menyombongkan diri di depanmu.” Tangan Husnul terulur ke arah Zulfa. Zulfa memeluk Husnul.

“Terimakasih ya, teman, kalian tetap menganggapku teman. Aku akan belajar lagi seperti Zulfa. Aku nggak mau kalah lagi.” Berkata begitu Husnul tertawa. Zulfa dan Akbar ikut tertawa.


#OneDayOnePost

28 September 2016

Masih Ada Esok

Ah, melihatmu pulas berteman mimpi malam ini, tak tega rasanya membangunkanmu hanya sekedar untuk menemani kebiasaan malamku yang enggan terpejam sebelum bercerita banyak kepadamu.

Nampak lelah dari wajahmu. Entah apa yang sudah kau lakukan seharian ini tanpaku, hingga kau begitu lelap dan aku kau abaikan. 

Tapi di saat malam memelukmu, aku bisa puas menatap wajahmu yang selalu menemaniku. Wajah yang menghadirkan senyum untukku, kapan saja saat aku membutuhkanmu. Mataku semakin lekat memandangnya, menghadirkan sejuta rasa yang selalu sama untukmu.

Tidurlah, sayang. Masih ada esok hari untuk mendengarkan ceritaku, memelukku sepanjang aku di sampingmu hingga aku terlelap.

#OneDayOnePost

Ketika El Sakit

Dari hari Jumat malam El kecil menangis, ada sesuatu yang dirasakan. Badannya demam. Sampai malam ini kondisinya belum membaik. Saya rindu celotehnya saat bertanya banyak hal, saya rindu suara tertawanya ketika melihat kucing kecilnya melompat-lompat karena sedang bermain. Kakaknya juga merindukan keramaian El.

Saat sakit, bukan main rewelnya El kecil. Apa-apa salah di matanya. Saya hanya diajaknya berbaring, tidak boleh bergeser. Jika bergeser sedikit saja, dengarlah suara tangisnya akan pecah melengking. Meminta saya untuk kembali ke posisi yang dia inginkan. Tak mau ditinggal barang sejenak. Hingga saya nyaris tak bisa ngapa-ngapain.

Diajak oleh siapapun juga tidak mau. Hanya ingin berada dalam gendongan saya. Yang biasanya akan tertawa kepada siapapun, kali ini hanya menatap lesu. Sedih melihatnya.

Yang semakin membuat saya sedih, ketika saya berusaha meminumkan obat, adegan itu selalu berakhir penolakan. Jika saya memaksanya, El akan berontak hingga hanya sedikit obat yang tertelan. Hanya madu yang bisa saya berikan. Memaksanya minun obat, membuat air mata saya selalu ikut menetes, rasa tak tega menyergap.

Ayo, El, sayang, lekas sehat kembali. Lihatlah, Kakak dan Ummi sudah kangen tertawamu. Hush, sana sakit, pergi jauh dari dd El soleh.

#OneDayOnePost
#SehatElSayang

Waktu yang Berlalu

Aku menunggumu
Sekedar untuk merayuku
Mengajakku membuang rindu
Bersenandung nada pilu

Tapi waktu telah berlalu
Membuang kelu hingga larut
Dan aku...
Masih menunggumu
Berharap kau terbangun
Memelukku...
Berbisik di telingaku
Bahwa malam ini dan seterusnya
Tak akan ada pembatas waktu

Pelangi Hatiku, 28 September 2016

#OneDayOnePost

25 September 2016

Raja di Hatiku

Kupeluk tubuh lelaki yang amat kucintai ini. Bersamanya selama empat tahun membuatku masih sering terkaget-kaget dengan sikapnya yang terkadang masih sulit kupahami. Tapi aku yakin, cinta di antara kita mampu merekatkan kembali jika kami mulai merasa jauh. Seperti sekarang ini. 

Aku membuatnya marah dan dia mendiamkanku. Hanya sekilas mengecup keningku sesaat setelah adzan subuh membangunkannya. Biasanya dia akan memelukku lama sambil membisikkan kata-kata yang selalu menerbangkan hatiku hingga langit ke tujuh.

Aku mencintaimu, Sayy, akan selalu mencintaimu.

Dan aku membalas pelukannya dengan manja. Aku sungguh mencintainya, jatuh cinta sejak dia menghitbahku.

Maka pagi ini, aku tak ingin marahnya berlanjut. Kupeluk dia dengan manja.

"Yank, udah dong marahnya. Lain kali aku nggak ketiduran deh, kalau Ayank lagi cerita. Habis suara Ayank seperti mengajakku untuk merem."

Raja di hatiku membalikkan badannya. Tubuhku yang lebih kecil darinya diangkat menghadapnya, duduk di kursi. Dia tetap berdiri menatapku. Ada cinta di matanya. Marah itu sudah menguap rupanya.

Dua tangannya mengunciku dari arah samping. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Bisa kurasakan hembusan napasnya. Kupasang tampang imut agar dia tak kembali merajuk.

"Dihukum ya, karena semalam meninggalkanku, merem duluan saat aku masih cerita." katanya sambil memencet hidungku.

Aku menghindar. Kucium pipi kanannya. "Asal hukumannya nggak berat."

Dia tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih rapi berjejer.

"Sayy, aku tak pernah bisa marah denganmu. Hukumannya, temani aku nonton film di bioskop nanti malam. Siap Ratuku?"

"Siap, Yank," jawabku dengan memeluknya. Aku tahu, dia tak pernah mendiamkanku terlalu lama jika sedang marah. Sebab kami tahu, kami saling jatuh cinta, hingga kami tak ingin hati menjadi luka.



#OneDayOnePost

Kau yang Abadi

"Kenapa tulisanmu selalu tentangku?" tanyamu suatu hari setelah membaca tulisanku yang kuposting di salah satu akun medsosku.

Aku tertawa ringan, entah apa yang aku tertawakan. Sepertinya aku juga tidak tahu kenapa selalu dia yang menjadi penggambaran tokoh dalam ceritaku.

"Entahlah," jawabku

Kau tertawa mendengar jawabanku.

"Nggak ada jawaban lainnya?" masih penasaran rupanya.

"Karena kau yang di hatiku. Sehingga selalu kau yang akan menjadi tokoh dalam tulisanku. Aku ingin kau abadi selalu, dalam karya yang aku lahirkan."



#OneDayOnePost

24 September 2016

Ketika Adik Sakit


“De, makan dulu ya, nanti buburnya keburu dingin,” kata Salsa sambil mengguncang lembut tubuh adiknya yang berselimut tebal. Tubuh adiknya tak bereaksi, terbungkus selimut sampai pundaknya.

“De Riska, bangun ya, Kakak suapin,” kembali lembut Salsa mencoba membangunkan adiknya. Riska mulai mengerjapkan mata, nampak silau dengan cahaya matahari yang menerobos memaksa masuk melalui jendela kamarnya yang tadi dibuka oleh Ummi.

Salsa membantu adiknya membuka selimut. Duduk bersandar ke tembok, tangannya mengusap matanya. Mata yang sayu, wajah pucat, bibir kelihatan kering. Air minum dalam gelas terlihat masih utuh. Tak berkurang. Tanda Riska tak meminumnya. Adiknya yang satu ini memang susah sekali kalau diminta untuk minum air bening, apalagi dalam kondisi sakit seperti ini.

“Disuapin ya, sama Kakak,” Salsa mulai mengambil sendok dan meminta adiknya untuk membuka mulut.

Kepala Riska menggeleng lemah. Wajah pucatnya semakin ditekuk, memberikan penolakan tidak mau membuka mulut melalui wajahnya. Salsa sangat hapal dengan sikap adiknya.

“Ayo, maem. Supaya cepat sehat, bisa main lagi dengan teman-teman. Kalau nggak mau makan, bagaimana cepat sembuh.”

“Pahit tauk!” sahut Riska dengan nada lemah.

“Namanya sakit makan apapun juga nggak enak. Makanya jangan mau sakit. Makan teratur,” sedikit menggerutu karena Riska masih tak mau untuk membuka mulut.

“Kakak saja yang makan!” bicara seperti itu sambil menutup wajahnya dengan selimut.

Salsa nampak mulai kesal dengan tingkah adiknya. Diletakkan piring bubur ayam di meja kecil dekat dengan tempat tidur. Berjalan keluar kamar meninggalkan adiknya menuju dapur menemui Ummi yang masih berkutat di dapur.

“Adik masih nggak mau makan, Ummi,” menarik kursi dan duduk dengan bibir manyun. Sedih sebenarnya, melihat adiknya sakit. Biasanya ia paling bawel, ada saja yang selalu ditanyakan kepadanya. Meskipun terkadang nyebelin, tapi adik yang asyik untuk diajak main congklak, cepet-cepetan masang puzle, bola bekel, dan masak-masakan. Beberapa hari ini adiknya hanya tiduran, tergolek lemah di atas kasur. Tertutup selimut tebal. Kata dokter, adiknya terkena gejala typhus.

Ummi melirik Salsa, putri sulungnya. “Bujuk lagi coba.”

“Sudah, Ummi. Kakak sudah membujuknya agar mau buka mulut. Tetap saja adik nggak mau makan.” Jelas salsa kepada Umminya.

“Baiklah, Ummi yang akan membujuknya. Yuk, Kakak ikut Ummi.”

Ummi berjalan menuju kamar Riska, putri keduanya. Riska sudah duduk tanpa selimut yang menutup wajah. Melihat umminya yang masuk, bibirnya menyunggingkan senyum. Begitu melihat sosok kakaknya di belakang ummi, bibirnya kembali merengut.

“Pahit, Ummi, kalau mau makan.” Belum sempat Ummi menyendokkan bubur ke mulut Riska, ia sudah memberikan alasannya nggak mau makan.

Ummi tersenyum. “Kakak Riska mau sembuh kan? Sudah kangen bermain dengan teman-temannya belum? Kalau sehat, enak mau main, bisa jalan-jalan sama Ummi, sma Kakak Salsa.”

Riska diam mendengar jawaban Ummi. Iya, benar juga kata Ummi. Sakit seperti ini tidak enak. Hanya duduk dan berbaring sepanjang hari, kata hatinya.

“Tapi sedikit saja ya, Ummi,” masih dengan lemah mencoba merayu Umminya.

“Disuapin Kakak Salsa ya?”

Riska mengangguk. Salsa segera mengambil piring bubur. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin adiknya lekas sehat agar ada teman bermain. Meskipun kadang-kadang menyebalkan, tetap saja membuat Salsa kangen.

“Cepet sembuh ya, De. Biar Kakak ada teman main.”

“Kakak sayang aku?” polos Riska bertanya sambil mulutnya membuka menerima suapan bubur Salsa.

“Sayang dong, De. Ni, buktinya disuapin Kakak.”

Riska memeluk kakaknya. Ada rindu juga lama tidak bermain dengan kakaknya.


#OneDayOnePost

Seperti Iklan


Hari ini, sebetulnya tidak ada yang istimewa dari kegiatan saya di kelas. Berjalan seperti biasanya. Hanya saja entah kenapa kelas saya siang tadi pada saat jam pelajaran Bahasa Indonesia sedikit berbeda. Begini kronologisnya.
-
-
-
Saya meminta anak-anak untuk menuliskan daftar riwayat hidup mereka sendiri setelah mereka memahami bagaimana cara mengisinya. Pas bagian saya untuk berkeliling memeriksa hasil mereka, tanpa sadar mata saya melihat sobekan kecil kertas dengan tulisan “Alis Love Eril”. Mereka berdua adalah murid saya di kelas enam ini. Spontan saya membacanya sambil tangan saya mengambil lembar kerja yang dikerjakan oleh Alis. Kebetulan saya sedang memeriksa pekerjaan Alis. Entah siapa yang menulisnya, tapi karena saya membacanya dengan keras, otomatis anak satu kelas langsung bersorak menanggapi tulisan yang saya baca.

Baru saya tersadar setelah menatap wajah keduanya yang namanya tertulis dalam kertas tadi. Seperti kepiting yang sedang direbus. Memerah, entah karena malu ketahuan saya atau apa. Wah, saya harus ambil bagian ni, pikir saya. Majulah saya ke depan, memberikan sedikit kata-kata, agar anak-anak dalam kelas bisa memaknainya saat ia mulai merasakan perasaan ini. Dengan gaya saya seperti ibu mereka yaa...- bagian ini tidak saya ceritakan...-

Saya jadi ingat dengan curcol anak saya yang sulung.

“Ummi, Kakak naksir tuh, anak yang sedang berjalan, pake tas ransel biru, yang kanan, Mi,” katanya sambil menunjuk tiga orang lelaki yang berjalan. Saya pun mengamati ketiganya, lebih tepatnya yang diidentifikasi oleh kakak. Dalam hati bergumam, nggak ganteng-ganteng amat sih, hehehe...

Anakku sudah besar ternyata, mulai merasakan suka dengan lawan jenis di kelas IX ini. Sedikit was-was, tapi saya jawabnya santai.

“Kakak naksir apanya?” tanya saya. Nggak saya katakan langsung bahwa yang ditaksir nggak ganteng-ganteng amat menurut versi emaknya. Ya, kalau diberi nilai, cukuplah untuk melewati KKM. Eh...

Sulung saya tertawa. “Dia juara umum, Mi. Pinter , pandai main basket, nyanyi juga.”

“Ooo,” mulut saya langsung membentuk kata paham. Ada kelebihan yang membuat anak saya menyukainya.

“Kakak kenal? Satu kelas nggak?” lanjut saya bertanya.

“Nggak, dia kelas IX-2. Kakak cuma kenal nama. Dia nggak kenal kakak. Kakak juga nggak berani menyapanya.”

Aish, ternyata anak saya hanya jadi pengagum rahasianya. Saya akhirnya tersenyum. Rasa khawatir saya akhirnya tidak terjadi. Tapi saya harus tetap mengarahkan, agar dia memahami sejak awal. Saya lanjutkan obrolan saya dengan si sulung.
“Sudah banyakkah teman kakak yang pacaran?”

“Banyak sih, Mi.” Lalu dia sebutkan teman-temannya yang katanya sudah pacaran.

“Mereka ngapain saja, Kak, kalau cerita?” masih ingin menggali info lebih jauh tentang pemahaman anak saya mengenai pacaran ini.

“Kakak nggak pernah nanyain. Kepo amat nanya begituan sama mereka. Lagian yang sudah pacaran di kelas, anak-anak gitu tu, Mi. Alay-alay gitu.”

Nah, bagian kalimat terakhir saya agak nggak ngerti. Tapi saya manggut-manggut saja. Masih penasaran soalnya.

“Menurut Kakak, pacaran itu gimana sih?”

Agak lama dia nggak langsung menjawab. Mikir dulu sepertinya.

“Jalan bareng, nonton bareng, begitu kali ya, Mi.” Jawab anak saya. Saya kembali tersenyum dengan jawaban anak saya. Baiklah, saya akan masuk ke intinya.

Saya peluk si Kakak, saya bisikkan bahwa saya sangat menyayanginya, karena ia lahir lebih dahulu dan lebih lama menemani saya. Dia membalas pelukan saya,

“Kak, perasaan suka dengan lawan jenis itu wajar. Yang tidak wajar jika Kakak menyikapi dengan berlebihan. Ketika kita suka dengan seseorang, hanya melihatnya dari jauh, pasti sudah membuat hati kita senang. Tanpa perlu berduaan. Apalagi pegang-pegangan tangan. Nanti kalau bertemu, maunya pegang tangan, sesudahnya ingin lebih dari pegang tangan, karena penasaran. Dan akhirnya Kakak hanya akan diambil keuntungannya oleh orang yang kakak sukai.”

Saya ambil napas sebentar.

“Jika ada lelaki yang menyukaimu dan melakukan hal itu, berarti dia bukan laki-laki yang baik. Laki-laki yang baik tak akan memegangmu, ia akan menjagamu, karena dia sayang. Seperti Kakak yang sayang dengan kucing Kakak. Tak boleh kan jika disakiti? Nah, jika ada lelaki yang suka dengan kakak, lalu dia inginnya jalan berdua, pegang-pegang tangan kakak, berarti dia hanya ingin mengambil untung dari kakak.”

“Berarti Kakak nggak boleh pacaran ya, Mi?”

“Menurut Kakak?” saya balik bertanya.

Tawa khas sulung saya terdengar. Terkekeh.

“Nanti kalau Kakak pacaran, kakak jalan berdua, terus penasaran, coba-coba, dan akhirnya merugikan kakak bagaimana? Kakak pasti nggak mau kan menghianati Ummi? Nggak mau juga kan harusnya sekolah lalu harus punya bayi? Nah,dari pada penasaran lebih baik dihindari. Sukanya dijaga dengan baik. Bukankah tadi dengan melihat darinjauh saja Kakak sudah senang kan?”
Si Kakak memeluk saya. “Kakak sayang Ummi. Iya, Kakak paham yang Ummi katakan. Kakak masih ingin sekolah dahulu.”

“Maafkan Ummi ya, jika suatu hari nanti Ummi jadi seperti iklan Baygon. Menyebalkan bagi Kakak, karena Ummi akan selalu mengingatkan Kakak.”

Kakak hanya tertawa dan kembali memeluk saya. Semoga dialog ringan kali ini mampu membuka wawasan anak saya dalam berinteraksi dengan lawan jenisnya.


#OneDayOnePost

21 September 2016

Angka Nol bagian 2

"Raja, benar kan, kalau aku yang ada di depan? Bukan angka sembilan ini?” tanya angka satu dengan lantang. Merasa tak ingin kalah, angka sembilan segera mendorong angka satu hingga terjengkang ke belakang menabrak angka nol yang dari tadi hanya diam saja melihat adu mulut mereka.

“Aku yang harus di depan, bukan kamu!” teriak angka sembilan.

Raja hanya tersenyum melihat tingkah mereka. “Berbarislah dimulai dengan angka nol. Lanjutkan dengan angka satu, dua, berakhir di angka sembilan.”  Dengan bijak Raja berkata. Semua angka akhirnya mengikuti perintah dari raja. Berbaris sesuai permintaan raja.

“Tugas kalian nanti adalah menemukan pasangan kalian, yaitu sekumpulan awan yang banyaknya sesuai dengan kalian. Carilah, agar kalian bisa berkumpul. Lakukan petualangan kalian dengan semangat.” Jelas Raja dengan wibawa. Semua angka mengangguk, tanda mereka paham dengan tantangan yang diberikan.

Dengan irama peluit yang dipimpin oleh raja, mereka menuju halaman kerajaan. Sudah berkumpul awan-awan dengan warnanya yang cantik. Semua menyambut petualangan angka baru dengan gembira.

Begitu genderang kerajaan dipukul, angka-angka menyebar. Mereka berusaha mengumpulkan awan yang ada di sekitar kerajaan sesuai dengan dirinya. Jika angka satu, maka ia hanya perlu mencari satu awan. Angka dua, ia mencari dua awan. Dan seterusnya. Hanya angka nol yang mengalami kebingungan. Ia hanya memandang teman-temannya berhillir mudik mengumpulkan awan.

“Nol, apakah yang membuatmu bingung?” tanya awan hitam mendekat.

Nol tersenyum. “Aku merasa tak punya kawanan. Karena aku nol. Aku tak punya kumpulan. Benar begitu?”

Awan hitam tertawa. “Nol, kamu akan berarti jika berpasangan dengan angka satu atau dua, atau sembilan. Mereka akan membutuhkanmu. Percayalah, suatu saat kamu akan sangat dibutuhkan.”

“Kenapa aku harus bergabung dengan mereka?”

“Jika kamu sendiri, kamu memang tak memiliki kumpulan. Tapi lihatlah, apa yang terjadi jika kamu bersanding dengan angka satu? Kamu akan menjadi angka puluhan, yaitu sepuluh. Begitu pula andai kamu bersama angka dua, kamu akan menjadi angka dua puluh. Sungguh luar biasa bukan?”

Mendengar penjelasan awan hitam, angka nol manggut-manggut tanda paham. Wajahnya yang semula bersedih, langsung terlihat berseri-seri. Dengan semangat ia memberikan tepukan untuk teman-temannya yang lain.

#OneDayOnePost





Angka Nol bagian 1

Kerajaan ini bukanlah sebuah kerajaan yang besar. Hanya kerajaan kecil yang berada di atas awan. Awan yang mengelilingi kerajaan ini sungguh berwarna-warni. Ada warna hijau, warna putih, warna ungu, bahkan ada pula awan yang berwarna hitam. Nah, yang hitam ini terlihat menyeramkan dibandingkan dengan awan lainnya. Setiap awan hidup berkelompok sesuai dengan warnanya. Yang berwarna hijau akan berkumpul dengan yang hijau saja. Begitu juga dengan warna merah dan warna lainnya.

Di dalam kerajaan berkumpul barisan angka dari angka nol hingga sembilan. Masing-masing angka berbeda warna. Mereka berbaris dengan rapi. Angka yang sudah terlebih dahulu lahir, nampak berjajar untuk menyelesaikan tugas dari pemimpin angka. Angka yang sudah terlebih dahulu lahir adalah angka yang awalnya seperti angka satu sampai sembilan, yang semuanya sudah bercampur dengan pasukan puluhan dan ratusan.

Lihatlah, angka satu hingga sembilan terlihat sangat gembira. Karena mereka akan memulai perjalanan baru untuk merasakan berbagai petualangan. Hanya angka nol yang tidak nampak gembira. Kata raja tadi, mereka akan menerima tantangan pertama kali dengan mencari pasangan dirinya. Wow, sangat menyenangkan. Pasangan angka ini adalah kumpulan benda-benda yang akan mereka temukan di luar kerajaan.

Peluit tanda berkumpul sudah dibunyikan. Pasukan angka satuan segera berkumpul dan berbaris. Sungguh ramai suara mereka. Berlarian ke sana ke mari untuk bisa berbaris rapi. Awalnya angka sembilan merasa bahwa dialah yang harus di depan. Yang lain disuruhnya mundur. Tetapi angka satu ngotot bahwa dialah yang merasa paling lebih dahulu akan disebut. Adu mulut terjadi di antara mereka. Untung saja raja angka segera menengahi pertikaian tersebut.

Bersambung

#OneDayOnePost


Angka Nol bagian 1

Kerajaan ini bukanlah sebuah kerajaan yang besar. Hanya kerajaan kecil yang berada di atas awan. Awan yang mengelilingi kerajaan ini sungguh berwarna-warni. Ada warna hijau, warna putih, warna ungu, bahkan ada pula awan yang berwarna hitam. Nah, yang hitam ini terlihat menyeramkan dibandingkan dengan awan lainnya. Setiap awan hidup berkelompok sesuai dengan warnanya. Yang berwarna hijau akan berkumpul dengan yang hijau saja. Begitu juga dengan warna merah dan warna lainnya.

Di dalam kerajaan berkumpul barisan angka dari angka nol hingga sembilan. Masing-masing angka berbeda warna. Mereka berbaris dengan rapi. Angka yang sudah terlebih dahulu lahir, nampak berjajar untuk menyelesaikan tugas dari pemimpin angka. Angka yang sudah terlebih dahulu lahir adalah angka yang awalnya seperti angka satu sampai sembilan, yang semuanya sudah bercampur dengan pasukan puluhan dan ratusan.

Lihatlah, angka satu hingga sembilan terlihat sangat gembira. Karena mereka akan memulai perjalanan baru untuk merasakan berbagai petualangan. Hanya angka nol yang tidak nampak gembira. Kata raja tadi, mereka akan menerima tantangan pertama kali dengan mencari pasangan dirinya. Wow, sangat menyenangkan. Pasangan angka ini adalah kumpulan benda-benda yang akan mereka temukan di luar kerajaan.

Peluit tanda berkumpul sudah dibunyikan. Pasukan angka satuan segera berkumpul dan berbaris. Sungguh ramai suara mereka. Berlarian ke sana ke mari untuk bisa berbaris rapi. Awalnya angka sembilan merasa bahwa dialah yang harus di depan. Yang lain disuruhnya mundur. Tetapi angka satu ngotot bahwa dialah yang merasa paling lebih dahulu akan disebut. Adu mulut terjadi di antara mereka. Untung saja raja angka segera menengahi pertikaian tersebut.

Bersambung

#OneDayOnePost


Menari bersama Hujan

Tak kusangka dirimu hadir di hidupku
Menyapaku dengan sentuhan kasihmu

Kusesali cerita yanng kini terjadi
Mengapa di saat ku telah berdua

Maafkan bila cintaku
Tak mungkin kupersembahkan seutuhnya
Maaf bila kau terluka
Karena ku jatuh di dua hati

Maafkan bila cintaku
Tak mungkin kuperseembahkan seutuhnya
Maaf bila kau terluka
Karena ku jatuh
Karena ku jatuh di dua hati

Lirik lagu Cinta Dua Hati yang didendangkan oleh Afgan seolah menemani perjalananku menyusuri jalanan. Satu dua tetes hujan beriring dengan tangisan langit menambah suasana hatiku, bertambah hanyut dalam lagu yang kudengarkan dari MP3. Lagu yang nyaris menggambarkan bagaimana keadaanku saat ini. Tak ingin bersedih bersama hujan yang ramai berlomba mengguyur bumi, tapi entah kenapa setiap sampai di lagu ini, tiba-tiba saja rasa sedih menyelimuti hatiku.
Perjalanan untuk sampai di tujuan masih jauh, sedangkan aku masih di sini, terjebak dengan hujan dan masa lalu. Slide masa lalu kembali hadir, seolah menari bersama hujan yang masih enggan berhenti. Sengaja tak kulanjutkan perjalanan, kutepikan kuda besi yang kunaiki, sejenak menunggu hujan. Duduk di emper toko yang sedang tutup.

Slide pertama mencoba hadir mengingatkanku tentang semuanya. Kugigit bibir bawahku. Ada sesuatu yang mendesak dari sudut mata, meminta untuk segera keluar. Mencoba kutahan agar tak menjadi tangisan seperti hujan di hadapanku.

“De, kalau aku bilang tresno ke De, apa jawabanmu?” tanyamu saat itu setelah kebersamaan kita yang baru seminggu. Tak kujawab, bibirku terkatub, bingung harus menjawab apa. Aku tahu posisimu dan posisiku seperti apa. Kau mengulang lagi pertanyaanmu.

“Apa jawabanmu, De?”

“Harus kujawab, Mas?” pelan aku mencoba menenangkan gemuruh yang tiba-tiba hadir di hatiku. Bagaimanapun dia pernah menjadi seseorang yang istimewa. Meskipun dia saat itu tak pernah mengungkapkannya. Namun aku tahu apa yang ada di hatinya lewat matanya yang coklat.

Kudengar helaan nafas beratmu. Aku tahu, ini berat bagi kita. Bukan hanya kamu, tapi juga aku. Karena kita mampu merasakan hal yang sama.

“Sebetulnya aku sudah tahu jawabanmu. Boleh aku tebak?”

Anggukan kepalaku sebagai jawaban.

“Kau masih mencintaiku. Benar?” berkata seperti itu, kau menggenggam tanganku. Menambahkan kekuatan walaupun aku tahu, semuanya tak berarti untuk saat ini. Mataku menjawabnya dengan butiran bening yang mengalir dari sudut. Aku menangis, bukan sesal dengan semua yang baru saja dia ucapkan. Ada kemarahan di hatiku, ada bahagia dengan ungkapan hatinya, tapi ada rasa takut dengan kenyataan. 

“Maafkan aku, De. Aku bukan laki-laki yang pantang menyerah untuk berusaha mencarimu. Kita bertemu dengan kondisi yang sangat tidak enak. Maafkan aku.”

Tangisku makin pecah. Tak ada yang bisa kukatakan. Semuanya sudah terwakili oleh air mata. Genggaman tangannya kurasakan makin erat. Kulihat kilatan bening di mata coklatnya. Dia juga menangis, hanya saja egonya sebagai laki-laki tentunya tak akan ia lakukan.

“Maafkan aku juga, Mas. Bukan salah kita. Bukan pula salah keadaan yang akhirnya memertemukan kita seperti ini. Semuanya sudah menjadi catatan cerita kita. Tak usah sesali apa yang sudah terjadi.” Panjang lebar aku berusaha membuatnya tenang. Untuk diriku tentunya.

Kilatan cahaya di langit dan bunyinya cukup membuatku tersadar dari slide masa lalu. Semoga semuanya akan indah pada waktunya, tanpa perlu kita paksakan seperti keinginan kita. Senyumku terbentuk seiring hujan yang mulai menari perlahan dan menyisakan rintik-rintik.



#OneDayOnePost

18 September 2016

Sesaat Singgah

Dari jauh sudah terlihat bayangnya. Tubuh tinggi, hidung mancung, rambut dibelah tengah, senyum khasnya sudah terbayang di mataku. Tanpa sadar senyumku mengembang. Sebentar lagi tanganku akan menyentuh raganya. Sungguh aku merinduinya. Membayangkan akan memeluknya, dadaku bergemuruh seperti ombak di lautan.

Takzim kucium tangan kanannya kala ia hanya berjarak kedipan mata di hadapanku. Masih dengan senyumnya dipeluknya tubuhku. Kuresapi aroma tubuhnya, kupejamkan mata agar wangi ini meresap ke hatiku.

"Aku merindukanmu, melebihi orang yang baru jatuh cinta," bisikmu lirih di sela-sela pelukanmu.

Kueratkan pelukanku, tanda aku merasakan hal yang sama. 

Mataku terbuka. Bayangmu menghilang dari pelukanku. Dan ternyata....

Ah, hanya mimpi sesaat yang singgah menemani malam panjangku.


#OneDayOnePost

16 September 2016

Demplon

Azan Asar sudah kudengar dari masjid seberang jalan. Masjid besar yang hanya bisa kulihat kubahnya dari tempatku berdiri. Menatap jalanan yang ramai dengan sibuknya berbagai jenis kendaraan yang berseliweran. Mengantarkan orang kepada kesibukan yang mengikatnya. Rasanya 24 jam kebisingan di atas aspal hitam ini tak pernah berhenti. Ada saja yang masih berputar. Entah itu mobil besar seperti bus ataupun truk besar. Atau hanya roda empat seperti angkot dan mobil pribadi. Tak jarang sepeda motor ikut meramaikan selama 24 jam tersebut. Maklum, jalanan ini dekat dengan jalan tol arah Jakarta dan Bogor.

Selalu kuhabiskan waktu soreku setelah azan berada di sini. Menunggu seseorang yang akan memasang tenda, sebuah warung sederhana yang menyajikan pecel lele, pecel ayam, soto ayam, tempe dan tahu goreng. Sebentar lagi usai azan asar, biasanya ia datang dan segera menyiapkan lapaknya.

Dan aku akan menanti dengan sabar hingga tenda warungnya siap berdiri sepanjang jalan yang ramai ini, bersama tenda-tenda lainnya. Ada bubur kacang hijau Madura, nasi dan mi goreng, ketoorak, martabak bangka, semuanya berjajar rapi merapat ke tepian jalan.

Aku paling suka berdiri di sini. Menanti kehadiran satu persatu penyantap hidangan. Kata orang sambalnya enak, sehingga warung ini terlihat selalu paling ramai dibandingkan dengan warung lainnya yang juga membuka warung dengan menu yang sama. Warung yang berjarak empat warung lainnya.

Saat warung ini sudah siap, tak lama kemudian para penikmat pecel lele akan berdatangan. Memesan makanan. Ada yang dimakan di sini, atau hanya dibungkus. Pemiliknya seorang yang ramah, berusia sekitar lima puluh tahun. Berjanggut rapi, berwajah teduh. Aku suka memandangnya. Meski dia tak pernah menyentuhku, tapi dia sangat baik padaku.

Yang kusuka adalah istrinya. Sangat baik terhadapku. Berlemah lembut jika bicara denganku. Aku paling suka berdekatan dengan istrinya. Konon pasangan ini belum dikaruniai seorang anak. Makanya istrinya begitu sayang padaku.

Aku di sini sudah beranak pinak. Aku dan anak-anakku pengunjung setia warung ini. Bahkan anakku ada yang diadosi oleh istrinya, dibawa ke rumahnya. Istrinya selalu menceritakan kepadaku tentang anak-anaknya yang sudah dia rawat.

Nah, itu dia istrinya datang. Gamis dengan kerudung besar membalut tubuhnya. Setelah siap lapaknya, ketika pengunjung belum ramai, aku akan berada dalam pelukannya. Dicium dengan lembut.

"Doakan ya, Demplon, warungnya ramai hari ini. Biar kamu kebagian makanan yang banyak,"

Dan aku senang sekali dengan permintaannya. Aku akan mengeluarkan suara yang panjang, tanda aku mengaminkan doanya. Selanjutnya aku akan menanti sisa-sisa dari makanan penyantap. Tulang ayam atau kepala lele. Makanan terlezat yang selalu aku nanti setiap hari. 

"Duduk dulu ya, Demplon. Mau bantu jualan dulu. Nanti aku pangku lagi," begitu katanya jika ramai pengunjung.

Dan aku akan menjawab " meooong..."




#OneDayOnePost

Seperti Dipaksakan




Ah, Daring. Satu kata yang akhir-akhir ini ngetrend kembali seiring kesibukan untuk memulai kegiatan tersebut. Daring atau disebut Dalam Jaringan, atau online, adalah salah satu model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru di Indonesia yang berdasarkan nilai UKG tahun 2015 kemarin mendapatkan raport merah sebanyak tiga sampai lima kompetensi. Maka yang bersangkutan wajib ikut kelas daring. Asal jangan darling ya, hehehe...

Bicara Daring, membuat saya sedikit garing. Mengapa? Karena saya ditunjuk sebagai mentor. Dengan keterbatasan saya yang minim IT, hal inilah yang membuat saya menjadi garing. Meskipun saya kebagian mentor Daring Kombinasi, online tapi ada pertemuan untuk tatap muka dengan guru peserta. Hanya saja saya merasa program ini terlalu dipaksakan, kesannya. Entah karena pemikiran saya pribadi atau karena keterbatasan saya. Mengapa saya katakan begitu?

Pertama, program Guru Pembelajar ini adalah programnya Bapak Anis Baswedan ketika beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Begitu beliau lengser, kita sempat berpikir program ini akan batal. Ternyata tidak. Tetapi selama perjalanannya, program ini serasa berhenti. Dan tiba-tiba dimunculkan lagi untuk segera bergerak. Kemudian ada pemberitahuan lagi akan diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Nah...

Dan kabar terakhir, program ini serentak harus berjalan per tanggal 14 September 2016, dengan sistem yanng ternyata belum siap semua. Apa yang saya pelajari sebagai mentor ketika pelatihan, jauh berbeda untuk bisa masuk dalam sistem. Sedangkan awal pemberitahuan, sistem untuk program ini akan siap. Ternyata tidak. Dan ini membuat kami sedikit kelabakan.

Kedua, Video Call yang harusnya sudah siap, ternyata juga mengalami banyak kendala di lapangannya. Guru peserta tidak semuanya bisa mengakses jaringan internet dan menguasai IT. Untuk login saja kita harus bergantian. Dan ini sedikit menghambat pelaksanaan di lapangan. Ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, padahal video call hanya bisa dilaksanakan melalui install di PC atau laptop.

Saya jadi berpikir, jikalau memang belum siap dengan semuanya, sistem dan segala MOU dengan Telkom, kenapa kita tidak menggunakan satu model saja? Yaitu model Tatap Muka. Tanpa ada online. Kita langsung berhadapan dengan peserta, belajar bersama, buka modul bersama, berdiskusi, dan akan selesai. Itu dalam bayangan saya yang rasanya memang awam dengan ini.

Akhirnya, sudahlah. Saya yang harus belajar lagi lebih baik menguasai IT, tetap bersemangat melaksanakan tugas sebagai mentor, agar program ini berjalan baik. Meskipun kenyataan di lapangan, banyak guru yang belum siap.

#OneDayOnePost
#CurcolDikit