16 September 2016

Seperti Dipaksakan




Ah, Daring. Satu kata yang akhir-akhir ini ngetrend kembali seiring kesibukan untuk memulai kegiatan tersebut. Daring atau disebut Dalam Jaringan, atau online, adalah salah satu model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru di Indonesia yang berdasarkan nilai UKG tahun 2015 kemarin mendapatkan raport merah sebanyak tiga sampai lima kompetensi. Maka yang bersangkutan wajib ikut kelas daring. Asal jangan darling ya, hehehe...

Bicara Daring, membuat saya sedikit garing. Mengapa? Karena saya ditunjuk sebagai mentor. Dengan keterbatasan saya yang minim IT, hal inilah yang membuat saya menjadi garing. Meskipun saya kebagian mentor Daring Kombinasi, online tapi ada pertemuan untuk tatap muka dengan guru peserta. Hanya saja saya merasa program ini terlalu dipaksakan, kesannya. Entah karena pemikiran saya pribadi atau karena keterbatasan saya. Mengapa saya katakan begitu?

Pertama, program Guru Pembelajar ini adalah programnya Bapak Anis Baswedan ketika beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Begitu beliau lengser, kita sempat berpikir program ini akan batal. Ternyata tidak. Tetapi selama perjalanannya, program ini serasa berhenti. Dan tiba-tiba dimunculkan lagi untuk segera bergerak. Kemudian ada pemberitahuan lagi akan diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Nah...

Dan kabar terakhir, program ini serentak harus berjalan per tanggal 14 September 2016, dengan sistem yanng ternyata belum siap semua. Apa yang saya pelajari sebagai mentor ketika pelatihan, jauh berbeda untuk bisa masuk dalam sistem. Sedangkan awal pemberitahuan, sistem untuk program ini akan siap. Ternyata tidak. Dan ini membuat kami sedikit kelabakan.

Kedua, Video Call yang harusnya sudah siap, ternyata juga mengalami banyak kendala di lapangannya. Guru peserta tidak semuanya bisa mengakses jaringan internet dan menguasai IT. Untuk login saja kita harus bergantian. Dan ini sedikit menghambat pelaksanaan di lapangan. Ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, padahal video call hanya bisa dilaksanakan melalui install di PC atau laptop.

Saya jadi berpikir, jikalau memang belum siap dengan semuanya, sistem dan segala MOU dengan Telkom, kenapa kita tidak menggunakan satu model saja? Yaitu model Tatap Muka. Tanpa ada online. Kita langsung berhadapan dengan peserta, belajar bersama, buka modul bersama, berdiskusi, dan akan selesai. Itu dalam bayangan saya yang rasanya memang awam dengan ini.

Akhirnya, sudahlah. Saya yang harus belajar lagi lebih baik menguasai IT, tetap bersemangat melaksanakan tugas sebagai mentor, agar program ini berjalan baik. Meskipun kenyataan di lapangan, banyak guru yang belum siap.

#OneDayOnePost
#CurcolDikit

5 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Daring:garing??

Semangat mb

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Daring:garing??

Semangat mb

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Kalau aku Darling aja Lis .
Hahaha =D

lisa lestari mengatakan...

hahahaha...

lisa lestari mengatakan...

hahahaha...

Posting Komentar