30 Oktober 2016

Mengajak Anak Berbagi

                       





Pernahkah Ibu melihat anak kita enggan berbagi makanan dengan teman-temannya? Padahal kita sudah memberikan contoh untuk berbagi. Atau jangan-jangan tanpa sadar kita pernah mencontohkan perilaku pelit tersebut kepada anak?

Tenang Ibu, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan. Ibu bisa mencoba cara ini, yaitu memberikan kesempatan kepada anak yang tidak mau berbagi untuk belajar membagi makanan di acara kumpul keluarga. Arisan keluarga juga bisa. Begini caranya, pada saat Ibu ingin membagi kue, mintalah anak yang melakukannya untuk memberikan kepada anggota keluarga yang datang. Tentunya dengan aturan main ya.

Masing-masing boleh mengambil bagian kuenya terlebih dahulu, anak Ibu yang membagi mendapat giliran terakhir. Hal ini dapat mengajarkan anak bahwa sesuatu harus dibagi. Dengan mendapatkan giliran terakhir ia akan memahami bahwa harus bisa membagi dengan adil, agar ia tidak kebagian kue yang paling kecil atau jumlah yang paling sedikit.

Atau cara yang lain juga bisa Ibu lakukan. Pada saat bermain dengan adik atau kakaknya, ajarkan anak untuk menggunakan benda mainannya secara bergantian. Tentunya Ibu harus memberikan batas waktu. Menggunakan timer atau jarum panjang sesuai dengan kesepakatan untuk berganti dengan pemain kedua. Sepakati juga konsekuensi jika salah satu melanggar aturan. 

Perlahan, anak akan memahami konsep berbagi, karena pada dasarnya anak sangat taat aturan kalau kita sebagai orangtua memberikan aturan yang jelas dan konsisten.

#Tulisanlama
#BelajarArtikel

Jika Anak Berteriak

"Ibu, buatkan susu!" 





Apa yang akan Ibu lakukan jika putra atau putrinya berteriak ketika meminta sesuatu? Atau membentak dengan suara yang lantang saat berbicara? Apakah Ibu akan balas bersuara lantang juga?

Emak yang super kece, anak berteriak dan membentak tentu ada yang dia jadikan contoh sehingga membentuk perilakunya. Emak tidak perlu membalasnya dengan berteriak. Tidak juga dengan memenuhi permintaan anak agar segera berhenti berteriaknya. Bukan!

Yang harus Emak lakukan adalah sejajarkan posisi kita dengan anak. Tatap matanya,  berkatalah dengan lembut dan suara yang rendah.

"Nak, Ibu akan membuatkan susu kalau bilangnya baik-baik. Ayo, katakan sekali lagi!"

Awalnya mungkin anak akan menolak permintaan Emak. Dia akan malu-malu mengatakannya. Terus minta dia untuk bicara baik-baik tanpa berteriak. Bisa juga anak akan menolak dan justru bersikeras dengan keinginannya, tetap berteriak. Jangan Emak turuti!

Tunggu saja hingga anak mengalah dan melakukan apa yang Emak inginkan. Jika anak masih juga mengatakan dengan berteriak, Emak perlu bertindak TEGAS. Katakan kepadanya, "Tidak ada minum susu hingga kamu memintanya dengan lembut. Silahkan menangis dan duduk di kursi ini. Kalau sudah selesai menangis, kamu boleh datang ke Ibu dan meminta susu."

Jika hal di atas kita lakukan secara terus menerus dan konsisten Emak terapkan, lama kelamaan kebiasaannya berteriak akan hilang. Tentunya contoh dari kita sebagai orangtua untuk bersuara lembut sangat diperlukan. Jadi, masih ingin berteriak juga di rumah?

#Tulisanlama

Mengatasi Anak Pemalu


Pernah melihat anak yang enggan berkumpul dengan teman-temannya ketika acara ulang tahun salah satu temannya? Atau mungkin melihat anak yang suka menyendiri, tidak mau bergabung pada suatu acara?

Anak saya yang kedua masuk dalam tipe ini. Setiap kali saya mengajaknya untuk ikut acara keluarga, dia lebih senang ada di belakang saya. Tidak mau bergabung dengan saudaranya yang lain. Ngekor melulu di belakang saya. 

Lambat laun mulai terbangun keneraniannya berkumpul dengan saudaranya yang lain jika ada acara. Sudah mau bergabung dan bermain. Bertahap tentunya. Sedikit saya ceritakan bagaimana dia mulai mengurangi sifat pemalunya.

Saya tidak pernah menyebutnya 'pemalu' atau membandingkan dengan temannya yang lebih berani. Saya selalu memotivasi dengan menggunakan kalimat yang membuatnya lebih percaya diri. Meskipun itu jauh dari harapan saya.

Setiap ada acara kegiatan selalu saya semangati untuk ikut. Lalu saya akan berkata, "Ummi bangga lho, kamu tadi sudah berani menyapa terlebih dahulu."
Pujian yang saya berikan, setahap-demi setahap meningkatkan kepercayaan dirinya. Saya pun tak lupa menghargai sekecil apa pun usahanya. Walaupun itu hanya berani bergabung saja tanpa terlibat seru dengan yang lainnya.

Dengan selalu memberikan motivasi, secara bertahap rasa percaya diri anak akan meningkat. Jangan pernah memberikan label "pemalu" kepada anak. Tapi katakanlah bahwa ia anak yang perasa. 

#Tulisanlama

28 Oktober 2016

Pada Satu Keputusan

Ketika kau buka...
Bagian hatimu yang terluka
Menyisakan sedikit rongga
Untukku bernapas lega

Ketika kau buka...
Satu sisi tersibak
Memberiku ruang hayal
Sejenak untuk singgah

Ketika kau buka...
Dan aku kau ijinkan
Untuk ada
Bersamamu dalam luka

Ketika kau buka...
Sejenak menatap tajam
Tepat pada hati yang dalam
Berjanji akan tetap bersama
Tanpa lelah
Hingga ujung masa

Pelangi Hatiku, 28 Oktober 2016



Mati





Aku mati...
Hatiku merintih
Tanganku seperti terjepit
Enggan mengetik

Aku mati...
Otakku tak lagi jernih
Lenyap oleh panasnya api
Lebur dalam titik didih

Aku mati...
Dalam gelap sepi
Berjalan sendiri
Atau terbang menyendiri

Aku mati...
Oleh rasa yang kau beri
Oleh ikatan tali
Yang tak pernah kau ganti

Aku mati...
Terkubur dalam peti
Hilang semua imajinasi
Menguap dari pikir

Aku mati...
Dan kau berdiri
Hanya diam sendiri
Tak lagi peduli

Pelangi Hatiku, 28 Oktober 2016

26 Oktober 2016

Ketika Tangisan Menjadi Senjata

"Beliin itu, Ma!" Habib merengek kepada mamanya, minta dibelikan sebuah mainan. Mama Habib hanya menggelengkan kepala, tanda menolak. Lalu dengan suara lantang Habib menangis dan berteriak. Menahan malu, akhirnya mainan yang diminta Habib dibeli.

Pernah Anda mengalami hal di atas? Apakah Anda melakukan hal yang sama seperti Mama Habib? Ketika anak menangis karena meminta barang yang dia inginkan, maka Anda mengabulkannya. Padahal barang tersebut mungkin sudah ada dalam deretan mainan anak.

Sebagai seorang Ibu kita pasti tidak tega ya, ketika anak meminta sesuatu dan kita menolaknya. Ditambah mintanya dengan menangis. Eit, hati-hati! Jika ini terus terjadi maka anak akan menggunakan tangisannya sebagai senjata untuk meminta sesuatu di lain kesempatan. Karena dia menganggap, orang tuanya akan mengabulkan jika ia menangis. Maka menangis menjadi andalannya. Lalu bagaimana dong?

Ayah dan Ibu, jika kita menolak apa yang diminta anak karena pertimbangan satu hal dan lainnya, maka katakan sejak awal. Misalkan rencana awal ke mall hanya untuk belanja kebutuhan pokok. Bukan untuk membeli mainan. Awalnya anak akan sulit kita ajak konsisten. Kuncinya ayah ibu harus tegas dan konsisten. Apabila anak menangis, biarkan saja. Berikan waktu sampai ia cukup untuk bersedih. Katakan dengan tenang, " Mama kasih waktu sepuluh menit ya, untuk menangis. Mama yakin kamu anak baik, tak akan lama menangis."

Jika tangisan anak sudah reda, peluk dia. Tak perlu mengungkit lagi kejadian tersebut. Lakukan hal ini secara terus menerus. Supaya anak mengerti, bahwa tangisan dia tidak mempan untuk membujuk orang tuanya.

#OneDayOnePost

22 Oktober 2016

Pendusta Kecil


Kue itu berwarna hijau dengan hiasan kelapa parut. Berbentuk bulat dengan lubang di tengah. Dimasak dengan cara dikukus. Orang menyebutnya putu ayu. Wangi dan menggoda mata untuk menikmatinya. Hanya ada satu tergeletak di atas piring kecil. Aroma pandan sudah menyebar ke seluruh ruangan. Menggoda hidung setiap yang melihat. 

Kaki kecilnya melangkah mengendap-mengendap. Kedua retinanya menatap seluruh ruangan. Kepalanya celingukan. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan dan tegang. Ada sesuatu yang akan ia lakukan tapi tak ingin diketahui oleh orang lain. Jantungnya berdegup keras. Jika didengarkan dengan alat stetoskop pasti akan nyaring sekali seperti bunyi genderang perang yang sedang ditabuh. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggungnya.

Langkah pelannya mengantarkan ia sampai di meja. Tinggal satu tangkapan, maka putu ayu itu akan berpindah dalam mulutnya. Sekali lagi matanya tajam mengitari ruangan. Masih sepi. Hanya ada dia dan kue hijau ini. Hati kecilnya mengatakan sebuah kebaikan. 

“Itu kue bukan milikmu. Jangan pernah makan barang haram!” bisikan itu halus terdengar dari hatinya.

Kakinya terhenti. Membenarkan kata hatinya. Perutnya berontak.

“Aku lapar. Dari kemarin perutku kosong. Kapan akan kau penuhi agar cacing di dalamnya berhenti berontak?”

Tangan mungilnya mengelus perut ratanya. Sangat kempis. Rasa sakit melilit sudah tidak lagi mempan baginya. Kalah tersingkir oleh keadaan yang memaksa.

Kedua kaki telanjangnya tanpa juga terhenti. “Jangan kau lakukan. Berhentilah! Usah lanjutkan langkahmu hanya untuk menambah dosa.”

Mata hitamnya menatap dua ujung pada kakinya. Kuku panjang berwarna hitam menandakan jarang dirawat. Jempol kakinya bergerak atas bawah. Mempertimbangkan kata hati, perutnya, dan kakinya.

Setelah yakin kondisinya aman, kedua tangannya yang mungil berniat untuk mengambilnya. Terhenti ketika tangannya menjerit. “Tangan mungilmu akan berdosa lagi. Mengambil makanan yang bukan milikmu.”

Peduli amat, kata kepalanya. Rasa laparnya sudah membesar. Tak bisa lagi dikempiskan. Dengan gerakan secepat kilat, putu ayu sudah berpindah ke mulutnya. Satu kali suapan. Dikunyah dengan terburu-buru. Khawatir ada orang yang akan masuk. Tersedak sesaat. Tapi tidak dihiraukan. Tetap mengunyah dan akhirnya tertelan, masuk meluncur ke dalam lambungnya.

Tak ingin minum, bergegas akan melangkah keluar ruangan. Mendadak muncul  tubuh besar berjalan masuk dalam ruangan. Wajahnya langsung pias. Tangan dan kakinya gemetar. Kedua matanya menatap tubuh mungil dengan pandangan curiga.
“Sedang apa kau?”

“Ti...ti...dak apa-apa.” Tergagap menjawab.

“Kau ingin mencuri?” tanya wanita bertubuh besar.

“Tidak!” kali ini mulut mungilnya menjawab dengan tegas. Hati kecilnya mengeluh. "Kau kembali berbohong. Padahal baru saja kau mencuri makanan di atas meja."

Perut ratanya membela. "Biarkan saja, daripada kelaparan. Hanya kue putu ayu kecil, satu pula!"

Kedua kaki tanpa alas berlari menjauh. "Sudah, ayo kita pergi saja! Sebelum pertanyaan tak bisa lagi kau jawab!"


#OneDayOnePost

21 Oktober 2016

Ganti saja!

"Buang saja hape yang kamu anggap bagus itu!" sungut gadis di hadapanku dengan nada kesal. Wajahnya yang imut makin menggemaskan. Ingin tangan jahilku memencet hidungnya sebagai tanda kalau aku gemes.

"Kenapa harus dibuang?" polos aku bertanya.

"Ganti saja dengan hape masa gitu!" masih kesal rupanya.

"Mosok muka masa gini pake hape harus masa gitu?" masih ingin membuatnya tersenyum kutirukan sebuah iklan.

"Daripada nggak bisa dipake online, balik aja ke hape masa gitu."

"Nanti nggak bisa video call, gimana?"

Ia mengambil napas, lalu menghembuskan dari mulut. "Aku lebih suka saat kamu masih pake hape jadul, bisa selalu sms dan telfon aku setiap saat. Dan aku jadi prioritasmu." tenang menjawabnya, tapi membuat hatiku mencelos. Sebuah sindiran halus.

"Aku merindukan suasana seperti itu. Bisa mendengarmu setiap saat." selesai mengucapkannya, ia berjalan menjauh. Tanganku tak mampu mencegahnya pergi.


#OneDayOnePost

Mengenalkan Matematika Melalui Dongeng

Apa yang ada dalam pikiran anak-anak ketika mendengar kata Matematika? Apa yang akan dikatakan oleh anak-anak setelah mereka tahu Matematika? Tidak hanya anak-anak, saya yakin orang tua juga akan mengatakan hal yang sama jika mendengar kata Matematika.

Satu kata terdiri dari sepuluh huruf, namun dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi siapa saja yang mendengar. Jika kita tanyakan kepada anak kita yang sudah bersekolah tentang pendapatnya mengenai Matematika, inilah jawaban mereka.

Matematika itu pelajaran yang susah
Belajar Matematika itu keluar kelas langsung terbakar
Pasti pusing kalau belajar yang sudah ngitung-ngitung, Matematika oohh
Aku suka Matematika, tapi gurunya itu loh, yang membuatku ilfill belajarnya. Nggak enak banget ngajarnya.

Di atas adalah beberapa pendapat yang dikemukakan apabila kita menanyakan kata sakti tersebut. Tentunya masih banyak lagi pendapat yang mengatakan bahwa, Matematika itu sungguh mata pelajaran yang jadi angker, horor, menakutkan, menegangkan bagi setiap anak. Jadi boro-boro kita memberikan penjelasan bahwa Matematika itu asyik ketika dalam benak anak-anak sudah terjejal kata-kata negatif tentang Matematika.

Padahal kita bisa belajar Matematika dengan cara yang menyenangkan dan mengasyikkan. Bisa dimulai pula dari rumah. Mengenalkan Matematika sejak anak balita. Banyak cara yang bisa kita lakukan agar Matematika menjadi kegiatan yang tidak membosankan.

Kegiatan yang bisa kita lakukan dan berkaitan dengan Matematika saat anak kita masih balita adalah melalui permainan yang mereka sukai. Ikut terlibat dalam permainan mereka, kemudian memasukkan konsep Matematika di saat anak asyik bermain. Sehingga tanpa sadar balita kita sudah mengenal Matematika. Contohnya seperti ini. Pada saat anak asyik bermain mobil-mobilan, Ibu bisa mengatakan sambil menunjukkan bahwa mobil-mobilan yang dimiliki ada dua, atau tiga. Jika ada yang sama jenis mobilnya bisa dikelompokkan berdasarkan jenisnya. “Lihat truknya ada empat ya, punya Adek,” salah satu ungkapan yang bisa kita tunjukkan. Sehingga tanpa sadar  akan tertanam dalam benak anak bahwa kegiatan mengenal angka itu menyenangkan.

Bisa juga melalui kegiatan mendongeng. Menceritakan sebuah cerita yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari anak.  Di bawah ini contoh dongeng yang bisa digunakan untuk mengenalkan matematika di kelas rendah. Mengenalkan konsep angka kepada anak kelas satu SD.

Hari ini kita akan mendengarkan cerita tentang keluarga Bebek.  Di sebuah hutan tinggallah keluarga Bebek yang bahagia. Keluarga Bebek memiliki anak yang banyak dan berwarna-warni. Anak Bebek yang berwarna putih ada lima ekor.  Di sini guru bisa berhenti sejenak dan meminta anak menunjukkan angka lima menggunakan jarinya. Lalu bisa dilanjutkan. Sedangkan anak Bebek yang berwarna putih ada tiga ekor. Setiap ada penyebutan angka, kita bisa berhenti dan meminta anak untuk menunjukkan jarinya sebanyak angka yang disebutkan dalam cerita.

Di atas hanya salah satu contoh dongeng sederhana. Kita bisa mengembangkan cerita yang lain berdasarkan materi yang ingin disampaikan. Contoh sederhana tentang dongeng ada di bawah ini, untuk mengenalkan penjumlahan sederhana di kelas rendah.

Pagi hari yang cerah sekelompok burung pipit asyik bernyanyi di atas pohon apel. Di dahan yang besar ada tiga ekor burung pipit. Burung pipit yang besar berkumpul dengan kawanannya. Mereka berjumlah lima ekor. Di dahan yang paling tinggi terlihat satu ekor burung pipit dengan warna yang berbeda. Bisakah kalian menghitung banyaknya burung pipit yang ada di pohon apel?

Kegiatan mendongeng tersebut bisa digabung dengan permainan sederhana, tambahkan alat untuk mendongeng dengan menunjukkan benda konkret. Pasti akan memberikan pengalaman yang menyenangkan pada anak. Sehingga diharapkan pembelajaran di kelas berikutnya tidak akan memberikan kesan menakutkan.

Matematika ada dalam kegiatan kita sehari-hari. Matematika juga kita gunakan dalam kehidupan dan akan selalu dijumpai oleh anak. Kita bisa mengubah cara pandang Matematika dari hal yang menakutkan menjadi menyenangkan, tentunya dengan hal-hal yang mengasyikkan saat memberikan atau mengajarkan Matematika.

Ayo, mulai dari sekarang, kenalkan Matematika dari rumah sebagai hal yang menyenangkan, dengan berbagai cerita yang bisa kita ciptakan, agar nantinya ketika anak-anak memasuki masa sekolah mereka tetap menyenangi Matematika.

#Tugas1@JoeraganArtikel

#OneDayOnePost

Review Joeragan Artikel


Menulis artikel menurut beberapa orang merupakan hal yang tidak mudah dilakukan, termasuk saya. Dahi saya harus berkerut berkali-kali untuk menuangkan gagasan yang ada di pikiran ke dalam sebuah tulisan. Rasanya tangan lebih mudah menekan tuts-tuts di keyboard untuk membuat tulisan khayalan atau fiksi, dibandingkan dengan tulisan artikel.

Tekad yang kuat untuk bisa menulis artikel membuat saya mencari info yang bisa membantu saya membuat tulisan berbobot, enak dibaca, dan tentunya bisa menghasilkan. Kemudian saya dikenalkan dengan Indiscript Training Centre atau disingkat ITC. Lembaga tersebut berada di bawah naungan Indiscrip Creative, sebuah perusahaan dengan CEO Indari Mastuti. Memiliki konsen dalam pemberdayaan perempuan khususnya di dunia bisnis dan menulis.

ITC kemudian bekerja sama dengan Agensi Artikel bernama @JoeraganArtikel mengadakan training online fokus pada meningkatkan skill peserta dalam membuat artikel pesanan, job review, dan cara berpenghasilan melalui blog.

Uniknya para peserta selain mendapat materi training juga beroleh kesempatan praktik langsung magang mengerjakan artikel pesanan. Lebih serunya lagi, lulusannya langsung direkrut menjadi team penulis inti di emakpintar.asia dan memeroleh binaan lanjut guna menapaki jenjang karir kepenulisan berikutnya.

Di sini saya mulai tertarik untuk mengikuti kelas training menulis artikel yang ditawarkan oleh ITC. Dengan mengikuti kelas online yang diadakan, tentunya saya berharap bisa menulis artikel dengan baik, seperti harapan di awal. Training menulis artikel ini dilakukan dalam grup facebook. Sebuah grup tertutup dengan anggota yang sudah mendaftar terlebih dahulu. Lalu setiap minggu kita akan diberikan materi tentang kepenulisan. Materi awal adalah mengenalkan tentang ITC dan apa itu artikel. Serta bagaimana langkah-langkah membuat artikel yang baik dan berbobot. Di bagian akhir kelas training menulis artikel kita akan mendapat tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan.

Bagaimana dengan Anda?  Apakah juga tertarik untuk mengikuti kelas menulis artikel? Memberdayakan kemampuan yang ada untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Mari memulai dari sekarang, menggali kemampuan sendiri untuk meningkatkan kualitas  diri menjadi lebih berarti.

Untuk informasi training, bisa menghubungi Ummi Aleeya selaku Trainer @JoeraganArtikel di akun facebooknya.

#Tugaske-2JoeraganArtikelgel09

#OneDayOnePost

Tidak Pilih Kasih, Tapi...



 “Jadi, dalam kehidupan sehari-hari kita harus adil. Tidak boleh pilih kasih,” kata seorang guru PMP, pelajaran jaman dahulu kala sebelum berganti menjadi PKn.

Serentak yang ada dalam kelas menjawab, “Kami sekarang tidak akan pilih Kasih, Pak.”

Sang guru manggut-manggut tersenyum. “Bagus, berarti paham ya?”

“Iya, Pak. Kami tidak akan pilih Kasih, tapi akan pilih Lisa.” Lagi-lagi jawaban hampir serempak dari satu kelas. Kali ini guru sedikit mengerutkan dahinya dengan jawaban yang dilontarkan.

“Maksudnya bagaimana? Bapak kata, tidak boleh pilih kasih!”

“Iya, Pak. Kami akan pilih Lisa saja. Sudah terlalu sering kami pilih Kasih, sekarang pilih Lisa saja ya, Pak.” Jawaban kali ini akhirnya membuat tawa guru PMP pecah. Barulah beliau menyadari kenapa satu kelas menjawab kompak “Tidak pilih Kasih, tapi pilih Lisa.” Karena Kasih dan Lisa duduk dalam meja yang sama dan satu kelas dari kelas satu SMU.

#OneDayOnePost

#LeluconSingkatDiBangkuSekolah

18 Oktober 2016

Celito

Rumah Paman Lato di atas pohon meranti. Pohon yang konon sudah berdiri sebelum ia lahir. Bahkan usianya lebih tua dari usia Paman Lato. Dahannya yang besar tak muat jika kedua tangan Celito memeluknya. Ia senang sekali bermain di dahan rumah pamannya ini, bergantungan sambil menikmati madu yang berhasil Celito dapatkan dari buruannya.

Hutan di wilayah Borneo ini sebenarnya adalah konservasi. Tidak hanya Celito dan keluarganya yang tinggal di sini. Ada pula buaya dan segerombolan monyet. Mereka menempati lahan yang sama seperti keluarga Celito. Di tanah yang luas, dengan pohon-pohon besar seperti Sengon, Meranti. Pohon yang besar dengan dahan yang kokoh untuk tinggal para beruang madu seperti Celito.

Dengan kukunya yang tajam pada bagian kaki depan, Celito bergegas memanjat pohon meranti, rumah paman Lato. Terlihat oleh Celito Paman Lato sedang asyik rebahan. Adik ayah yang satu ini jika sudah kenyang berburu madu, maka akan tiduran saja dengan mata merem melek menikmati semilirnya angin yang menyusup dari dahan pohon.

“Paman Lato,” dengan suara lirih Celito membangunkan pamannya. Berjalan mendekat dan duduk di dekat kakinya. Meletakkan madu yang diwadahi dalam batang kayu di sebelah tubuh paman Lato.

Paman Lato membuka matanya perlahan. Menatap pada suara yanng baru saja memanggilnya. Keponakannya datang dengan membawa madu yang ia berikan tadi pagi. Terlihat wajah Celito yang ketakutan.

“Ada apa, Celito? Kenapa madunya kamu kembalikan?”

“Ayah memintaku untuk melakukan sebuah pekerjaan agar aku pantas menerima madu dari Paman.”

Paman Lato menganggukkan kepalanya. “Baiklah, supaya madu itu bisa kamu bawa pulang aku ingin kamu membersihkan rumah Paman dari ranting-ranting yang jatuh. Bisa?”

Celito dengan semangat menganggukkan kepalanya. “Bisa, Paman!”

Dengan segera Celito turun dari rumah paman Lato. Dengan cekatan diambilnya ranting-ranting kecil yang berserakan di bawah rumah pamannya. Tidak butuh waktu lama Celito mampu menyelesaikan pekerjaan yanng diberikan. Terbayang sudah madu yang manis bisa ia nikmati setelah jerih payahnya membantu paman Lato. Dalam hati Celito berjanji, akan selalu ingat pesan ayah untuk tidak menerima barang jika belum melakukan apapun, karena itu sama halnya dengan korupsi.



#OneDayOnePost
#Sesaatsebelumseminarmulai

17 Oktober 2016

Berusaha Dahulu, Yuk!

"Aku ingin beli kaos BTS ya, Mi," kata sulung saya.

"Boleh, kumpulkan dulu uangnya."

"Kakak kasih kerjaan dong, biar cepet ngumpulin duitnya!" lanjut si kakak.

"Nanti sore Ummi bawain kerjaan tambahan. Bantu ngoreksi ya," jawab saya disambut anggukannya.

Emak-emak kece, sepertinya tega sekali ya, ketika anak menginginkan suatu barang dan kita memintanya mencari sendiri uangnya. Pernahkah Emak seperti saya?

Bukan tega, tetapi saya ingin mengajarkan anak untuk berusaha jika ingin membeli sesuatu yang dia inginkan. Agar tahu bahwa mendapatkan uang atau barang yang sangat diinginkan itu tidaklah mudah. Harus bekerja dahulu atau melalukan hal di luar kebiasaannya agar ia mendapatkan uang jajan lebih. Dan itu sudah saya terapkan ketika anak-anak memasuki sekolah dasar. Tidak ada yang gratis atau cuma-cuma. Harus dimulai dengan usaha.

Maka anak akan belajar menghargai barang yang sudah dia dapatkan dengan keringatnya sendiri. Biasanya saya hanya meminta anak untuk mencuci motor saya atau milik abinya, untuk mendapatkan tambahan uang. Atau membantu mengoreksi kertas ulangan murid saya.

Di samping anak akan menghargai barang yang dia beli dengan usahanya, anak pun bisa mengendalikan diri untuk minta dibelikan sesuatu karena dia tahu, orangtuanya tak mudah dibujuk. 

Nah, bagaimana dengan emak kece lainnya? Apa ada cara lain?


#OneDayOnePost

15 Oktober 2016

Terpenjara Rindu dan Ego (bagian 2)


Iseng kubuka lagi status di BBM nya.
Aku hanya ingin masuk ke dalam ruang rindu milikmu, yang kini sudah berbatas dinding. Aku tak bisa melampauinya, meski hanya sekedar melihatmu sejenak. Tembok itu begitu tinggi...
Rupanya dia belum tidur. Kubaca statusnya, ada ngilu yang mendadak mengiris hatiku. Duh, Tuhan, apa yang ada dalam benaknya? Apakah dia benar merindukanku? Kenapa tanganku begitu angkuh untuk mengetik beberapa kata sekedar memastikan keadaannya?

Kutekan tombol off, agar hatiku tak merintih. Biarkanlah semuanya begini. Yakin, waktu akan menyembuhkan luka. Jika aku kembali menghubunginya, aku takut akan membuatnya makin terluka. Rekaman tangis dan suaranya saat menanyakan kenapa aku marah, sudah membuatku seperti ditusuk-tusuk ribuan pisau.

Mencoba merebahkan penatnya tubuh di atas kasur. Memejamkan mata meski kantukku sudah menguap pergi. Elok, andai kautahu, hatiku begitu merindukanmu.tapi aku nggak tahu harus memulai dari mana lagi?

Berbagai bayangan hadir berseliweran. Wajah Elok yang tertawa manis saat aku berhasil membuat hal lucu. Atau hanya sekedar wajah manyunnya saat aku berpamitan pergi dari sisinya. Semuanya bergantian memenuhi langit kamarku. Tak mampu mengusirnya pergi. Aagghhh, aku berteriak tertahan.

Keputusanku untuk diam hanya tak ingin menambah lukanya. Aku merasa tak pantas untuk gadis sebaik dia. Biarlah Elok belajar mencintai lelaki lain. Meskipun aku tahu, Elok bukan gadis yang mudah jatuh cinta. Tak sanggup rasanya harus melihatnya menangis. Semoga dia mengerti keputusanku.


Kantuk yang sudah menguap memaksaku berjalan menuju ruang depan. Menyalakan TV, memencet asal stasiun TV yang masih tayang. Sedangkan pikiran masih saja penuh dengan bayangan Elok. 

#OneDayOnePost

Celito


“Kamu dapatkan madu ini dari mana, Celito?” suara Ayah makin meninggi.  Celito tak berani memandang. Mata ayah pasti melotot. Ibu tidak menolong sama sekali. Hanya terdiam, membiarkan ayah bersuara tinggi dan memarahi Celito.

‘Jawab, Celito!” bentak ayah membuat Celito terlonjak kaget. Keringat dingin sudah membasahi tubuh hitam Celito. Rambut hitamnya terlihat mengkilat. Berkilau terkena cahaya matahari yang menyusup dari sela-sela dahan pohon.

“A... a...ku dapatkan dari Paman Lato,” tergagap Celito menjawab pertanyaan ayahnya.

Hembusan napas ayah terdengar masih kesal. Celito sadar dengan kesalahannya. “Kenapa kamu menerimanya?”

“Paman Lato memaksaku,” pelan suara Celito. Masih ketakutan. Kepalanya menunduk melihat gundukan tanah yang ada di bawah. Dahan yang dia gunakan untuk duduk  seperti akan menelan Celito karena kemarahan ayah.

“Ayah selalu katakan agar tidak menerima barang dari siapapun tanpa bekerja terlebih dahulu. Masih belum jelas perkataan Ayah kepadamu?” kali ini suara ayah mulai melunak. Ibu sudah turun dari dahan. Duduk di bangku kecil. Tangannya sibuk memasukkan madu ke dalam kayu-kayu kecil.

Kepala Celito mengangguk pelan. Selama ini peraturan di rumah pohon harus ditepati. Dia tidak boleh menerima barang  tanpa melakukan usaha apapun. Harus berusaha, baru mau terima imbalan. Jika tetap menerima tanpa bekerja dahulu, berarti korupsi, kata ayah. Dan semua penghuni  memahami peraturan ini.


“Kembalilah ke rumah Paman Lato. Mintalah pekerjaan terlebih dahulu,baru kau berhak mendapatkan madumu!” ujar ayah. Celito mengangguk. Turun dari satu dahan ke dahan berikutnya. Berjalan pelan menuju rumah paman Lato. Ibu melihat Celito dan memberikan senyumnya sesaat Celito akan menuju rumah paman.

Tunggu lanjutannya yaa...

#OneDayOnePost

14 Oktober 2016

Ciko Jadi Monster

Namaku Ciko, seekor cicak jantan yang memiliki banyak mimpi. Kegiatanku sama seperti temanku yang lainnya. Berburu serangga saat malam hampir menjelang. Menunggunya dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Karena kami tidak bisa terbang seperti serangga yang kumakan. Kakiku yang lengket dengan perekat menjadi sennjata andalanku ketika merayap di dinding rumah. Ditambah lidahku yang panjang, menambah kekuatanku untuk mendapatkan seekor nyamuk kecil untuk mengisi peruutku.

Tapi entahlah, malam ini aku merasa agak malas untuk berburu. Aku memilih tempat paling sudut hanya untuk melihat teman-temanku. Celo, teman akrabku rupanya mengkhawatirkan keadaanku yang hanya bengong. Tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat berburu serangga. Aku punya impian, ya sebuah keinginan yang ditertaweakan oleh Celo ketika aku mengatakan kepadanya.

“Aku ingin punya badan lebih besar. Tidak hanya merayap di dinding, tapi bisa juga tinggal di bawah. Setidaknya badanku lebih besar dari ukuranku yang sekarang. Sebesar Tokek mungkin,” kataku seorang diri. Anganku sudah jauh berkelana, membayangkan jika aku benar-benar seperti impianku.

Malam semakin larut merangkak meninggalkan senyap yang semakin merayap. Aku sudah berada di bawah, di lantai dengan ukuran badanku yang besar, seperti ukuran badan tokek. Senangnya hatiku, akhirnya aku bisa merayap, menginjak lantai untuk menemukan mangsakku. Perutku sudah menagih janjinya. Melilit rasanya.

Lampu ruangan ini sudah dipadamkan. Sehingga aku leluasa berjalan. Ada banyak nyamuk yang tergeletak di lantai. Mungkin terbunuh akibat semprotan serangga. Ingin lidahku mengambilnya. Tapi tidak, tentu rasanya tak akan seenak jika ia masih terbang dan aku menangkapnya. Aku ingin menikmati berjalan di bawah, melihat sekelilingku yang sudah terlelap.

Mendadak langkahku terhenti. Dengkuran seekor kucing membuatku mundur dua langkah. Makhluk tersebut sungguh membuatku takut. Tubuhku merasa gemetar, kakiku langsung terasa lemas, tak mampu bergerak. Harusnya aku segera berlari agar tidak menjadi mangsanya, tetapi aku seperti tidak memiliki tenaga.

Aku hanya diam mematung, menatap penuh harap agar sosok berambut tersebut tetap pulas tertidur. Kulanjutkan mencari mangsa dengan bergerak pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidurnya.

Kulihat ada tiga ekor nyamuk terbang di atas kepalaku. Dengan sigap kujulurkan lidahku untuk menangkapnya. Hup, dapat. Nyam, nyam, nikmat sekali. Sekali telan langsung tiga mangsa aku dapatkan. Tapi tunggu, perutku belum kenyang. Oh, iya, tubuhku sekarang menjadi lebih besar. Pantas tiga ekor belum membuat perutku puas.

Kulanjutkan berburuku. Sekawanan nyamuk nampak ada di atas kepala kucing. Sepertinya dia masih pulas bergelut dengan mimpinya. Mengendap kulangkahkan kaki untuk lebih mendekat. Yakin sekali, sekali tangkapan, pasti akan masuk dalam mulutku. Kalau tak salah hitung, ada sekitar tujuh ekor nyamuk.

Hup, dapat empat ekor yang berhasil masuk dalam mulutku. Mantab sekali buruanku di bawah, gumamku. Jika masih di atas, tak mungkin aku akan mendapatkan banyak mangsa. Tak sengaja kakiku menyenggol ramut yang ada di leher makhluk berambut tebal ini. Dan dengan cepat, dua matanya yang bulat menatap tajam tubuhku seperti hendak menerkamku.
Jantungku berdegup dengan keras, tubuhku gemetar. Ketakutanku akan dimangsanya membuat otakku tak bisa berpikir dengan jernih.

Makhluk itu menguap, memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang besar dan siap mencabik tubuhku. Kaki depannya dengan kuku tajamnya mengayun ke arahku. Terlambat sudah untuk bergerak mundur. Badanku terhimpit tak bisa berkutik. Aku hanya menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Berusaha melepaskan cengkeraman kucing. Oh, tidak, terjebak dengan makhluk berambut ini tak pernah ada dalam bayanganku jika aku tinggal di bawah, meskipun dengan tubuh lebih besar dari sebelumnya.

Aku menjerit ketika melihat mulut besarnya menganga siap menelanku. Aku berteriak keras, bermaksud mengusir keinginannya menelanku. “Jangan!” sekali lagi aku berteriak lantang. Tak ingin berakhir dengan tragis.

“Ciko, Ciko. Hai, kamu bayangin apa? Hingga berteriak seperti itu!” kaget Celo.

Kedua mataku langsung terbuka. Jantungku berdegup tak berirama. Naik turun seperti habis berlari. “Oh, Celo, ternyata aku belum menjadi monster. Tubuhku masih kecil dan aku masih ada di atas. Syukurlah,” berkata seperti itu Ciko tersenyum memeluk Celo.

“Kamu berhayal ya?” tanya Celo.


Ciko hanya mengangguk. Celo menggelengkan kepalanya. Mudah-mudahan keinginan Ciko untuk tinggal di bawah sudah tak ada lagi. Semoga juga Ciko menjadi lebih bersyukur dengan ukuran tubuhnya yang sekarang.

#OneDayOnePost

13 Oktober 2016

Surat

Tak pernahkah kamu tahu, wahai jiwa yang kucintai? Ketika aku merindukanmu, aku sungguh akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan bagimu. Aku hanya ingin perhatianmu untukku seorang. Bukan kepada lainnya. Sulitkah memahami ini?

Sesaat saja sapamu untukku sudah cukup mengobati rinduku. Tanyakan bagaimana perasaanku. Jangan hanya tidak tahu harus berbuat apa. Bukan hanya berkabar jika aku yang memintanya.

Berulangkali selalu kukatakan apa inginku. Aku ingin berbincang denganmu banyak hal. Aku tak pernah meminta apapun yang sulit kau penuhi. Tapi rupanya dua hal itu pun menjadi hal tersulit yang kamu rasakan. 

Diammu bukan bukti bahwa kau perhatian denganku. Bukan juga sebagai wujud tak ingin memyakitiku. Diammu justru membuat lukaku semakin melebar. Luka kecil di saat diammu beberapa waktu lalu belum sembuh benar. Kini kau buat makin menganga.

Ya, sudahlah. Mungkin kamu memang tak pernah ingin berkabar denganku. Mungkin juga kamu lelah dengan sifat ngambekku jika kamu cuek. Dan mungkin pula kau memang tak pernah merindukanku. Tak pernah ingin tahu kabarku dari mulutku sendiri.





12 Oktober 2016

Ciko jadi Monster?



Hore, hari sudah mulai beranjak malam. Cahaya dari lampu-lampu mulai menerangi setiap rumah. Senang rasanya sebentar lagi aku akan keluar dari tempat persembunyianku.

Meliukkan tubuh, menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Wow, teranng sekali lampu dalam ruangan ini. Ruangan 4x4 meter diterangi dengan lampu neon 25 watt. Dengan sigap kakikku langsung merayap mendekat ke arah teman-temanku yang mungkin sudah berkumpul lebih dahulu.

Di sudut atas terlihat Ciko, teman sepermainan untuk mencari mangsa bersama-sama, hanya terdiam. Tidak seperti biasanya yang selalu berlari terlebih dahulu mengejar mangsanya. Aku mencoba mendekatinya. Ciko bengong, hingga tak sadar kedatanganku.

“Apa yang kamu pikirkan?”

Ciko hanya menoleh sekilas, mendengus sebal.

“Kamu marah padaku?”

Ciko menggelengkan kepalanya. “Aku hanya sebal dengan keadaaan tubuh kita. Kecil, hanya mampu merayap di dinding rumah, mencari makanan tidak bisa leluasa.” Dengan  nada marah ia menjelaskan alasan kenapa wajahnya terlihat bersungut-sungut.

Aku hanya terdiam. Tubuh kami memang kecil. Merayap di dinding rumah-rumah. Dengan makanan serangga-serangga kecil yang beterbangan. Hanya perlu kewaspadaan tingkat tinggi, kemudian, hap. Serangga itu akan berpindah ke lidahku dan masuk dalam perutku.

“Lalu apa yang kamu inginkan?” tanyaku akhirnya.

Ciko mengambil napas sebanyak-banyaknya dan tersenyum memandangku. Matanya nampak berbinar gembira. “Aku ingin tubuhku menjadi lebih besar dari ini. Dan aku ingin tidak hanya bisa merayap di dinding. Bisa berada di bawah dan mencari makanan bersama makhluk lainnya yang ada di bawah. Rasanya pasti akan menyenangkan sekali.”

Mau tak mau aku tertawa mendengar jawaban Ciko. “Untunglah aku tak pernah ingin menjadi seperti keinginanmu. Menyeramkan lho,”

Sinis Ciko menatap wajahku. “Itu karena kau tak punya nyali besar!” ketus Ciko menjawab.


Aku memutuskan pergi meninggalkan Ciko dengan hayalannya. Biarkan saja ia bermimpi sesaat. Mungkin dia belum pernah tahu bagaimana rasanya tinggal di bawah. 

#OneDayOnePost

11 Oktober 2016

Air dan Api


Aku adalah air, berbentuk cair. Tubuhku sangat luwes. Aku bisa berbentuk apa saja sesuai wadahku. Jika aku ditempatkan dlam gelas, maka aku akan berbentuk seperti gelas. Apabila aku ditempatkan di sebuah mangkok, maka aku akan berbentuk mangkok. Aku zat yang paling penurut.

Aku juga merupakan zat yang banyak memberi manfaat kepada manusia. Tahukah kalian, jika sebagian bumi ini isinya adalah aku. Sebagian besar tubuh manusia juga berisi aku. Jika tidak ada aku, tidak terbayang apa yang akan terjadi di bumi ini.

Tidak hanya manusia yang membutuhkan aku untuk minum, mandi, mencuci pakaian, ataupun kegiatan lainnya. Banyak yang membutuhkanku. Tumbuhan, hewan terutama. Dapat dibayangkan jika aku habis, tak ada lagi di bumi.

Aku lebih hebat dari api. Api yang mampu melahap habis benda apa saja, akan kalah berhadapan denganku. Tapi ingat, aku juga bisa menjadi bahaya jika berkumpul. Banjir adalah bahaya yang aku timbulkan, akibat ulah manusia.

Manusia yang sering membuang sampah ke sungai membuat aliran terhambat. Jadilah akku berkumpul menerjang dan meluap. Melahap habis apa saja yang ada di depanku. Hutan yang banyak ditebang juga menjadi penyebab aku menjadi berbahaya. Tak ada lagi yang bisa menahan air hujan yang jatuh dari langit. Sehingga tanah pun akan longsor dan menimbulkan banjir bagi manusia.

Namun apabila dikelola dengan baik, aku juga mampu menggerakkan generator untuk menghasilkan tenaga listrik. Mengalirkan listrik hingga ke rumah penduduk. Membuat desa yang tadinya gelap menjadi terang. Tidak hanya itu. Airku yang berkumpul banyak bisa untuk mengairi sawah. Membantu petani agar tanamannya tidak kering. Itulah aku, Air. Aku lebih bermanfaat dari Api kan?


#OneDayOnePost

Daring jadi Raja


Suara motor yang membawa sisa-sisa ayam di dalam gerobaknya membuatku sangat senang. Motor biru itu selalu menyisakan potongan ayam yang sudah dijualnya untuk aku dan kawan-kawanku. Kami berempat selalu setia menunggu kedatangannya.

Aku bertubuh paling besar di antara lainnya. Berwarna hitam hampir seluruh badanku. Ada warna putih di bagian kakiku dan sebelah mataku. Satu lagi yang sama jenisnya denganku. Berwarna abu-abu. Badannya dulu lebih besar dariku. Tapi karena seringnya ia merantau, akhirnya tak hanya penuh luka tubuhnya, tapi juga mulai terlihat kurus.

Dua lagi pesaingku untuk mendapatkan jatah sisa ayam adalah dua kucing betina. Berwarna belang dan oranye seperti warna wortel. Mereka berdua seringnya kalah olehku dan Abu-abu. Tentunya tubuh kecil mereka tak mampu bersaing denganku saat sisa ayam itu dijatuhkan ke tanah. Jika aku sedang berbaik hati dan merasa iba saja, maka akan aku bagi mereka.

Tapi tidak pagi ini. Ada satu lagi yang bakal ikut berebut dengan kami. Tubuhnya masih kecil, dengan warna putih di seluruh badannya. Kutaksir umurnya baru dua bulan. Belum punya pengalaman, pikirku. Gampang untuk disingkirkan jika ia berani merebut jatah ayamku, gumamku.

Ternyata aku salah menduga. Kucing kecil putih itu diberi nama Daring oleh Ummi – wanita yang selalu memberikan kami makanan saat sore hari -. Daring pernah ikut berebut sisa ayam dengan kami. Tapi suara Ummi membuat nyaliku dan yang lainnya menciut.

“Hitam dan Abu-abu!” lantang suara Ummi memanggil kami. Sekilas kepala kami menengok arah suara Ummi.

“Jangan sakiti Daring ya, dia kucing baru punya Ummi. Awas kalau kalian berani galak sama dia. Nggak ada lagi jatah makan buat kalian!” ancam Ummi.

Waduh, bisa celaka tujuh puluh kalau Ummi sudah memberi maklumat seperti itu. Kami tak berani berkutik. Akhirnya kami berempat hanya memandangnya jika Daring ikut merebut jatah makanku dari sisa ayam. Awalnya aku hanya bersungut kesal. Bagaimana dengan nasib perutku yang masih lapar? Sedangkan jatah makan dari Ummi baru aku dapatkan sore hari?

Syukurlah Daring hanya sesekali saja ikut bergabung. Selebihnya ia lebih suka hanya melihat perebutan yang kami lakukan. Mungkin makanan yang diberikan oleh Ummi lebih enak dibandingkan sisa ayam yang kami makan. Daring benar-benar jadi raja kecil di antara kami, kucing-kucing liar yang berkeliaran. Dan kami sangat senang dengan Daring, karena sisa makanan di pagi hari sering dibagikan kepada kami. Terimakasih Daring!


#OneDayOnePost 

Kisah Sebuah Pensil



Ruangan ini tidaklah cukup besar untukku dan yang lainnya. Berdesak-desakan mencari udara dengan bergantian menyembulkan diri jika lama berada di dalamnya. Rasanya seperti ada di dalam sebuah penjara tua. Sedikit udara dan tanpa cahaya matahari. Hanya sesekali bisa memandanng indahnya di luar sana.

Kemarin satu lagi yang berhasil dijejalkan, menambah sempit dan kami harus berebutan oksigen agar bisa bertahan. Melihat dari tampilan luar, sepertinya dia termasuk berkelas. Dengan polesan luarnya bergaris hitam putih bagaikan zebra.  Lebih panjang dari kami yang sudah terlebih dahulu ada di sini. Namun nampaknya dia belum beradaptasi dengan kami.

Penuh takut dan ragu-ragu ketika masuk. Matanya tak berkedip memandang kami bergantian. Apalagi ketika melihatku yang sudah pendek. Senyumku dibalas dengan senyum takut-takut.

“Hei, masuklah!” ajakku untuk mengusir rasa gugup yang kulihat terpancar dari wajahnya.  Perasaan semacam ini akan selalu hadir jika baru pertama kali.

“Masuklah, mari kita bercakap-cakap!” ajak yang lainnya juga. Barulah kulihat senyum itu menghiasi wajahnya.

“Apa kabar? Bagaimana rasanya berada di sini?” tanyanya pelan.

Kami semua tersenyum. Satu persatu perkenalan dimulai. Berbincang banyak hal agar ketegangan yang dimiliki menguap. Matanya masih memandangku tanpa bekedip. Aku hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.

“Hai, aku baru datang. Tidak terlambat untuk obrolan yang penting kan?” tiba-tiba muncul suara berat dari ruangan paling sudut. Ruangan yang sempit sekali, hanya bisa ditempati berdua.

Melihat kemunculan suara yang baru didengarnya, ia langsung berteriak histeris. Wajahnya nampak pucat pasi, tubuhnya menggigil ketakutan. Seolah-olah ia melihat hantu yang akan memangsanya. “Kenapa dia ada di sini juga? Dia adalah makhluk yang membuatku takut. Aku sangat membencinnya,” terbata ia mencoba menjelaskan.

Pemilik suara berat hanya bisa melongo keheranan. Kenapa ia begitu histeris? Dipandangnya keseluruhan tubuhnya, dari atas hingga bawah, begitu seerusnya. Barulah dapat dipahami, ternyata penghuni baru, jadi belum mengenal dengan baik.

Aku tertawa mencoba menjernihkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Semua mata melotot kepada penghuni berkostum zebra. “Justru kami di sini sangat berjasa kepadanya.” Tunjukku kepada sosok yang membuatnya ketakutan.

“Dia berjasa apaan? Membuat takut mah iya!”

Mendengar suaranya yang masih gemetar, kami tertawa. Tidak terkecuali pemilik suara berat.

“Dia sering menyakiti kami,” suaranya semakin lirih.  Tubuhnya merosot pelan. Tubuh berkostum seperti zebra bersandar, kepalanya tertunduk.

Perlahan aku mendekatinya. “Kau ingat pesan yang dititipkan oleh Tuanmu sebelum dirimu masuk ke sini?” pertanyaanku dijawab anggukan lemah dan suara yang nyaris tak terdengar.

“Kita adalah pensil. Tuan kita sudah berpesan agar kita memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada manusia yang memakai. Tubuh kita memang akan sakit saat diserut, tapi kita harus masuk dalam mesin penyerut. Agar kembali memberi manfaat. Semakin sering digunakan, di situlah letak kebahagiaan kita.” Aku mencoba menjelaskan.

Pensil dengan corak zebra tergugu. Serutan dan pensil yang ada dalam kotak terdiam. Memandang Pensil Zebra dengan harapan ia mampu memahami untuk apa ia dibuat. Memberikan manfaat untuk manusia.


#OneDayOnePost