07 Oktober 2016

Ayo, Belajar Menjadi Pendengar yang Sabar


“Kakak Bila, Dede kan diajak Wa Ita ke Karanggan hari Minggu kemarin,” kata Hawa menceritakan kegiatannya.

“Sudah tahu, kan De Hawa sudah cerita ke Kakak.” Jawab Bila.

“Emang iya? Belum da,” Hawa masih membantah merasa belum menceritakan.

“Udah Dede, di sana ada yang ulang tahun kan? Dede ngasih kado sabun mandi. Namanya Putri yang ulang tahun.” sambil menjulurkan lidahnya menegaskan bahwa adiknya sudah berulang kali mengatakan.

Terkekeh Hawa mendengar jawaban Kakaknya. “Kakak gitu ih, kenapa nggak mau dengerin ceritaku lagi!”

“Basi tauk, De!”

Saya yang sedang menemani El kecil bermain menjadi tersenyum. Sering saya mendengar Hawa yang menceritakan sesuatu hingga berkali-kali. Yang sudah mendengar sampai hafal jalan ceritanya. Sedangkan yang menceritakan merasa belum bercerita. Untungnya kali ini tidak sampai pecah perang. Biasanya Hawa akan ngeyel bercerita meski Kakaknya bilang stop!

“Kak Bila dan Kak Hawa, sini deh!” panggil saya.

Bergegas mereka mendekat. Mumpung El masih anteng dengan mainannya. Saya ingin membicarakan kejadian barusan, agar tidak terulang.

“Ada apa, Ummi?” serempak mereka bertanya.

“Ummi bertanya ya?” tanpa menunggu jawaban mereka saya lanjutkan, “seandainya Kak Bila lupa pernah bercerita kepada temannya lalu Kakak mengulang cerita yang sama dan teman Kakak mengatakan seperti yang Kakak bilang ke De Hawa, bagaimana perasaan Kakak Bila?”

“Kesel sih, Mi. Kan bisa jadi Kakak lupa sudah pernah cerita atau belum.”

“Lalu inginnya Kakak bagaimana?”

“Ya didengarkan. Jangan disela!”

Saya tersenyum. “Begitu juga perasaan adikmu. Saat dia ingin cerita lagi padahal sudah pernah diceritakan, dia inginnya juga didengarkan. Tak perlu mengatakan cerita tersebut sudah pernah atau basi.”

Kakak Bila terdiam, kemudian mengangguk. “Kalau orang lain, Ummi?”

“Apalagi orang lain. Menghargai orang lain salah satunya ya ini. Bersabar menjadi pendengar dengan cerita yang sama, agar orang lain merasa senang. Suatu saat Ummi juga akan menua, pasti akan lupa. Bisa jadi bercerita hal yang sama kepada kalian setiap harinya. Sabar ya, nanti kalau Ummi menjengkelkan seperti itu.”

“Ummi,  Insya Allah Kakak akan sabar menjadi pendengar,” kata sulungku yang lantas memelukku. Kakak Hawa ikut menghambur memeluk. El kecil hanya bertetiak tatkala melihat dua kakaknya memeluk Umminya.


#OneDayOnePost

11 komentar:

Ciani L mengatakan...

Ahhh manis sekali ummi dlm memberikan pengertian...

lisa lestari mengatakan...

Soalnya dua anakku adalah negosiator yg ulung, emaknya harus pinter2 cari kata..

lisa lestari mengatakan...

Soalnya dua anakku adalah negosiator yg ulung, emaknya harus pinter2 cari kata..

Ainayya Ayska mengatakan...

MasyaAllah, luar biasa, bun.
Banyak belajar nih. Hehehe
Bekal nanti kalau sudah menikah. Eaaa
Ahaha

Betul, bun. Ainayya juga sering lupa kalau pernah cerita. Jadi sering diceritakan berulang... Ahihi

Sakifah Ismail mengatakan...

hmm... kl aq pilih diem, sambil ngeliatin yg cerita. "udah belum ceritanya?" haha... kalau belum, tak bantu lanjutin
#senyum jahat

lisa lestari mengatakan...

wkwkwk...de saki

lisa lestari mengatakan...

wkwkwk...de saki

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

emak-emak keren

denik mengatakan...

Hehehe...jd ingat ponakanku

denik mengatakan...

Hehehe...jd ingat ponakanku

Vinny Martina mengatakan...

Tulisan begini nih... mbak lisa banget...

Posting Komentar