14 Oktober 2016

Ciko Jadi Monster

Namaku Ciko, seekor cicak jantan yang memiliki banyak mimpi. Kegiatanku sama seperti temanku yang lainnya. Berburu serangga saat malam hampir menjelang. Menunggunya dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Karena kami tidak bisa terbang seperti serangga yang kumakan. Kakiku yang lengket dengan perekat menjadi sennjata andalanku ketika merayap di dinding rumah. Ditambah lidahku yang panjang, menambah kekuatanku untuk mendapatkan seekor nyamuk kecil untuk mengisi peruutku.

Tapi entahlah, malam ini aku merasa agak malas untuk berburu. Aku memilih tempat paling sudut hanya untuk melihat teman-temanku. Celo, teman akrabku rupanya mengkhawatirkan keadaanku yang hanya bengong. Tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat berburu serangga. Aku punya impian, ya sebuah keinginan yang ditertaweakan oleh Celo ketika aku mengatakan kepadanya.

“Aku ingin punya badan lebih besar. Tidak hanya merayap di dinding, tapi bisa juga tinggal di bawah. Setidaknya badanku lebih besar dari ukuranku yang sekarang. Sebesar Tokek mungkin,” kataku seorang diri. Anganku sudah jauh berkelana, membayangkan jika aku benar-benar seperti impianku.

Malam semakin larut merangkak meninggalkan senyap yang semakin merayap. Aku sudah berada di bawah, di lantai dengan ukuran badanku yang besar, seperti ukuran badan tokek. Senangnya hatiku, akhirnya aku bisa merayap, menginjak lantai untuk menemukan mangsakku. Perutku sudah menagih janjinya. Melilit rasanya.

Lampu ruangan ini sudah dipadamkan. Sehingga aku leluasa berjalan. Ada banyak nyamuk yang tergeletak di lantai. Mungkin terbunuh akibat semprotan serangga. Ingin lidahku mengambilnya. Tapi tidak, tentu rasanya tak akan seenak jika ia masih terbang dan aku menangkapnya. Aku ingin menikmati berjalan di bawah, melihat sekelilingku yang sudah terlelap.

Mendadak langkahku terhenti. Dengkuran seekor kucing membuatku mundur dua langkah. Makhluk tersebut sungguh membuatku takut. Tubuhku merasa gemetar, kakiku langsung terasa lemas, tak mampu bergerak. Harusnya aku segera berlari agar tidak menjadi mangsanya, tetapi aku seperti tidak memiliki tenaga.

Aku hanya diam mematung, menatap penuh harap agar sosok berambut tersebut tetap pulas tertidur. Kulanjutkan mencari mangsa dengan bergerak pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidurnya.

Kulihat ada tiga ekor nyamuk terbang di atas kepalaku. Dengan sigap kujulurkan lidahku untuk menangkapnya. Hup, dapat. Nyam, nyam, nikmat sekali. Sekali telan langsung tiga mangsa aku dapatkan. Tapi tunggu, perutku belum kenyang. Oh, iya, tubuhku sekarang menjadi lebih besar. Pantas tiga ekor belum membuat perutku puas.

Kulanjutkan berburuku. Sekawanan nyamuk nampak ada di atas kepala kucing. Sepertinya dia masih pulas bergelut dengan mimpinya. Mengendap kulangkahkan kaki untuk lebih mendekat. Yakin sekali, sekali tangkapan, pasti akan masuk dalam mulutku. Kalau tak salah hitung, ada sekitar tujuh ekor nyamuk.

Hup, dapat empat ekor yang berhasil masuk dalam mulutku. Mantab sekali buruanku di bawah, gumamku. Jika masih di atas, tak mungkin aku akan mendapatkan banyak mangsa. Tak sengaja kakiku menyenggol ramut yang ada di leher makhluk berambut tebal ini. Dan dengan cepat, dua matanya yang bulat menatap tajam tubuhku seperti hendak menerkamku.
Jantungku berdegup dengan keras, tubuhku gemetar. Ketakutanku akan dimangsanya membuat otakku tak bisa berpikir dengan jernih.

Makhluk itu menguap, memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang besar dan siap mencabik tubuhku. Kaki depannya dengan kuku tajamnya mengayun ke arahku. Terlambat sudah untuk bergerak mundur. Badanku terhimpit tak bisa berkutik. Aku hanya menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Berusaha melepaskan cengkeraman kucing. Oh, tidak, terjebak dengan makhluk berambut ini tak pernah ada dalam bayanganku jika aku tinggal di bawah, meskipun dengan tubuh lebih besar dari sebelumnya.

Aku menjerit ketika melihat mulut besarnya menganga siap menelanku. Aku berteriak keras, bermaksud mengusir keinginannya menelanku. “Jangan!” sekali lagi aku berteriak lantang. Tak ingin berakhir dengan tragis.

“Ciko, Ciko. Hai, kamu bayangin apa? Hingga berteriak seperti itu!” kaget Celo.

Kedua mataku langsung terbuka. Jantungku berdegup tak berirama. Naik turun seperti habis berlari. “Oh, Celo, ternyata aku belum menjadi monster. Tubuhku masih kecil dan aku masih ada di atas. Syukurlah,” berkata seperti itu Ciko tersenyum memeluk Celo.

“Kamu berhayal ya?” tanya Celo.


Ciko hanya mengangguk. Celo menggelengkan kepalanya. Mudah-mudahan keinginan Ciko untuk tinggal di bawah sudah tak ada lagi. Semoga juga Ciko menjadi lebih bersyukur dengan ukuran tubuhnya yang sekarang.

#OneDayOnePost

4 komentar:

Ciani L mengatakan...

Waaahhh keren mbak lisaa

el rina laila mengatakan...

waaah, saya harus bersyukur karena saya besar nih, ehehe

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Keren Mb lis

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

Mantap mba Lisaa

Posting Komentar