06 Oktober 2016

Di Bawah Jembatan



“Aduh!” teriakku saat sekantong plastik besar menimpaku. Pasti ada lagi yang secara sengaja menjatuhkan kantong kresek berbau ini ke sini. Padahal tempat ini sudah penuh sesak dengan berbagai barang yang teronggok. Ada tumpukan karung bekas dengan segala isinya yang tak pernah kutahu. Paling banyak mendominasi adalah kantong-kantong plastik beraneka warna. Terikat dan sekali lagi, aku tak pernah tahu apa isi di dalamnya. Semua yang dijatuhkan ke tempatku dalam keadaan terikat.

Aku tak ingat secara pasti kapan orang-orang di sekitarku mulai melakukan hal ini. Dengan seenaknya menjatuhkan benda-benda yang tak kukenal ke tempatku. Bahkan orang yang sengaja hanya melewati jalanku, lebih sering melakukannya. Bukan orang asli sini yang aku kenal, tapi orang asing yang hanya sekedar lalu lalang.

Jembatan ini memang bukan jembatan dengan air yang mengalir. Aku ada di sini, sebuah jembatan yang di bawahnya kokoh dipasang rel kereta api panjang. Menghubungkan ke arah kota menuju Jakarta. Hanya sesekali kereta melewatiku. Lebih sering kereta barang yang mengangkut puluhan sak semen yang akan dikirim.

Aku hanya sebuah tempat yang berada di bawah jembatan, di tepian rel kereta api. Tapi kini aku mulai nampak tak nyaman dalam pandangan setiap orang yang lewat. Ada banyak barang yang dijatuhkan. Banyak lalat mengerubuti tempatku. Kucing-kucing liar sibuk mengais makanan sekedar mengenyangkan perutnya. Bau busuk selalu menyebar ke sekitarku.

Ingin berkata kepada mereka. Aku ingin menjadi bersih seperti dulu. Sebelum ada rel kereta memanjang. Aku dijadikan tempat duduk orang yang berolah raga di pagi hari. Atau anak-anak kecil yang berlarian. Aku lebih senang seperti itu. Bukan seperti sekarang, berbau dan sangat jelek dilihat.

Kepedulian orang di sekitarku tentang kebersihanku mulai tak ada. Hanya beberapa saja yang aku dengar berteriak marah jika ada yang menjatuhkan kantong ke tempatku. Ah, andai semua orang peduli dengan kebersihan. Tentunya aku tidak akan berbau dan penuh lalat seperti sekarang ini. Tulisan di papan “DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI” nampaknya tak pernah berlaku bagi orang yang tak sadar akan kebersihan.

#OneDayOnePost


6 komentar:

Ciani L mengatakan...

Ohh sungai yang Malang...

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Mbak lisa keren banget..baru tau pas terkhir kalau "aku" itu sungai..

denik mengatakan...

Yuhuuu... kejebak nih pembacanya

Ainayya Ayska mengatakan...

Ka Sas terkecoh. Alhamdulillah Ainayya selamat, hihi

Keren, bun lis

Ran Ran mengatakan...

turut prihatin sama kondisi lingkungan saat ini..

Vinny Martina mengatakan...

Keren mbak lisa tulisannya yang ini beda dari tulisanmu yang biasa mbak..

Posting Komentar