26 Oktober 2016

Ketika Tangisan Menjadi Senjata

"Beliin itu, Ma!" Habib merengek kepada mamanya, minta dibelikan sebuah mainan. Mama Habib hanya menggelengkan kepala, tanda menolak. Lalu dengan suara lantang Habib menangis dan berteriak. Menahan malu, akhirnya mainan yang diminta Habib dibeli.

Pernah Anda mengalami hal di atas? Apakah Anda melakukan hal yang sama seperti Mama Habib? Ketika anak menangis karena meminta barang yang dia inginkan, maka Anda mengabulkannya. Padahal barang tersebut mungkin sudah ada dalam deretan mainan anak.

Sebagai seorang Ibu kita pasti tidak tega ya, ketika anak meminta sesuatu dan kita menolaknya. Ditambah mintanya dengan menangis. Eit, hati-hati! Jika ini terus terjadi maka anak akan menggunakan tangisannya sebagai senjata untuk meminta sesuatu di lain kesempatan. Karena dia menganggap, orang tuanya akan mengabulkan jika ia menangis. Maka menangis menjadi andalannya. Lalu bagaimana dong?

Ayah dan Ibu, jika kita menolak apa yang diminta anak karena pertimbangan satu hal dan lainnya, maka katakan sejak awal. Misalkan rencana awal ke mall hanya untuk belanja kebutuhan pokok. Bukan untuk membeli mainan. Awalnya anak akan sulit kita ajak konsisten. Kuncinya ayah ibu harus tegas dan konsisten. Apabila anak menangis, biarkan saja. Berikan waktu sampai ia cukup untuk bersedih. Katakan dengan tenang, " Mama kasih waktu sepuluh menit ya, untuk menangis. Mama yakin kamu anak baik, tak akan lama menangis."

Jika tangisan anak sudah reda, peluk dia. Tak perlu mengungkit lagi kejadian tersebut. Lakukan hal ini secara terus menerus. Supaya anak mengerti, bahwa tangisan dia tidak mempan untuk membujuk orang tuanya.

#OneDayOnePost

0 komentar:

Posting Komentar