13 Oktober 2016

Surat

Tak pernahkah kamu tahu, wahai jiwa yang kucintai? Ketika aku merindukanmu, aku sungguh akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan bagimu. Aku hanya ingin perhatianmu untukku seorang. Bukan kepada lainnya. Sulitkah memahami ini?

Sesaat saja sapamu untukku sudah cukup mengobati rinduku. Tanyakan bagaimana perasaanku. Jangan hanya tidak tahu harus berbuat apa. Bukan hanya berkabar jika aku yang memintanya.

Berulangkali selalu kukatakan apa inginku. Aku ingin berbincang denganmu banyak hal. Aku tak pernah meminta apapun yang sulit kau penuhi. Tapi rupanya dua hal itu pun menjadi hal tersulit yang kamu rasakan. 

Diammu bukan bukti bahwa kau perhatian denganku. Bukan juga sebagai wujud tak ingin memyakitiku. Diammu justru membuat lukaku semakin melebar. Luka kecil di saat diammu beberapa waktu lalu belum sembuh benar. Kini kau buat makin menganga.

Ya, sudahlah. Mungkin kamu memang tak pernah ingin berkabar denganku. Mungkin juga kamu lelah dengan sifat ngambekku jika kamu cuek. Dan mungkin pula kau memang tak pernah merindukanku. Tak pernah ingin tahu kabarku dari mulutku sendiri.





1 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

BFF mbak lis

Posting Komentar