28 November 2016

Si Bungsu

Hasil gambar untuk gambar keluarga ayam
image by google

“Ayo, De. Bangun ah!” tarik kakak pertama mencoba membangunkan si bungsu untuk segera menyambut pagi. Lima kakak lainnya sudah melakukan senam pagi dengan ayah dan ibu di depan.

“Malas ah, Kak. Masih gelap juga. Subuh baru saja selesai. Masa harus sepagi ini bangunnya?” masih beralasan agar bisa meringkuk hangat.

“Ade bungsu, nggak baik ya bangun terlalu siang. Nanti keburu habis makanan kita!” kakak pertama masih sabar menghadapi. Maklum adik bungsunya adalah istimewa.

Bungsu mengerjapkan matanya. Berkata lirih dengan malas. Mengepakkan dua sayapnya yang tidak bisa ia gunakan untuk terbang. Menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa malas yang sebenarnya masih memeluknya.

“Nah, gitu dong. Ayo, ke depan!” kata kakak pertama berjalan mendahului ke depan. Berkumpul dengan lima adiknya, ayah, dan ibunya. Jadi ayah dan ibu memiliki tujuh ekor anak. Si bungsu adalah anak paling istimewa. Memilliki badan paling kecil. Dengan kaki yang tidak sempurna. Salah satu kakinya tidak memiliki cakar untuk mengais makanan. Sebelah kanan sayapnya juga tidak sempurna seperti saudaranya yang lain. Ini yang membuat bungsu berjalan tidak bisa dengan cepat. Terhambat saat mengais makanan.

Ayah memberikan isyarat dengan suaranya yang gagah. Memanggil setiap makhluk agar segera beranjak dari rasa malas. Untuk kemudian bertebaran  di atas bumi Allah. Kukuruyuk...Kukuruyuk...

Bungsu berjalan tertatih mengikuti langkah panjang dan cepat kakak pertama. Kakinya yang istimewa membuatnya susah untuk mengimbangi agar berjalan sejajar. Dillihatnya ayah sudah lantang berbunyi. Bersahutan dengan suara kakak kedua dan ketiga. Ya, kakak pertama hingga ketiga memiliki kesamaan dengan ayah. Memiliki tubuh yang kekar, jengger berwarna merah yang mulai tumbuh di atas kepalanya, dan jalu yang kokoh. Tidak seperti dia, hanya bisa merepotkan.

Ketika ayah mengais makanan di tanah, ibu akan membantu. Lalu memanggil anak-anaknya agar mematuknya. Kemudian ayah dan ibu akan meminta ketujuh anaknya belajar mengais makanan menggunakan paruh dan kakinya. Dan bungsu akan selalu ketinggalan. Kesulitan melakukannya, hingga keenam kakaknya akan membantunnya.

Tapi kemarin ayah sudah berpesan. Bungsu harus berusaha sendiri. Tidak boleh tergantung kepada kakaknya. Mencari makanan sendiri meskipun hanya dengan satu kaki yang bisa digunakan untuk mengais. Masih bisa memanfaatkan paruh. Ayah dan ibu ingin bungsu juga mandiri. Karena nantinya ia tidak selamanya tinggal dengan ayah dan ibu.

Ayah dan ibu sudah berjalan mencari titik-titik tempat harta karun yang banyak terpendam. Sisa hujan semalam memudahkan tanah untuk dikorek dicari cacingnya. Semua anaknya sudah menyebar. Bungsu ketinggalan. Suaranya mencicit tidak jelas. Ada rasa sedih dan marah kepada bentuk tubuhnya yang tidak sama dengan saudaranya.

Di tengah kebun, matanya hanya menatap kosong. Saudaranya mulai acuh. Sibuk mengais makanan. Tak lagi memedulikan dirinya yang belum juga mendapat makanan. Terseok kakinya mencoba mengais tanah basah. Tak mendapatkan apa-apa. Bungsu berpindah tempat. Masih dengan langkah tak sempurnanya. Sekali lagi tak memeroleh apapun. Bungsu mencicit memanggil kakaknya. Kakak pertama yang mendengar suaranya hanya menatap sekilas.

“Ayo, De. Kamu pasti bisa!” semangat kakak pertama.

“Aku belum mendapatkan cacing seekorpun, Kak.” pelan dengan nada putus asa hampir menangis bungsu menjawab.

“Semua juga berusaha, Sayang,” lembut ibu berkata. Menentramkan hati bungsu.
“Ibu yakin kamu juga bisa. Jangan jadikan kakimu sebagai alasan untuk meminta makanan dari kakakmu.” lanjut ibu menasehati. Sayap kiri ibu memeluk tubuh kecil bungsu.

“Iya, Bu. Aku akan berusaha lagi mengais tanah.” Bungsu membusungkan dadanya. Berjalan tertatih tapi dengan keyakinan. Bahwa ia pasti juga bisa mendapatkan makanan dengan usahanya sendiri.

#OneDayOnePost

#TantanganCerpenTentangAyam

27 November 2016

Dua Hati



"Masih  marah denganku?"
"Tidak ."
"Masih  membenciku?"
"Sangat."
"Tapi,  masih adakah cinta untukku?"
"Masih. Perasaanku nggak pernah berubah."
"Lalu,  kenapa membenciku juga?"
"Entahlah."
"Bagaimana bisa benci dan cinta bersatu?"
"Jangan tanya padaku.  Tanyakan saja pada hatimu,  apakah perasaanmu juga masih sama denganku."

Diam. Semua termenung  dalam kebisuan yang tiba-tiba memeluk. 

"Kamu ragu dengan perasaanku?"
"Iya."
"Kok bisa?"
"Karena kamu  tak pernah membuatku yakin."

Desahan napas mewakili kesepian.  Nyanyian tak bernada nyaris sempurna menambah kebisuan. 

"Harus dengan apa aku meyakinkanmu?"
"Tanyakan hatimu."
"Aku juga tidak tahu,  harus bertanya seperti apa."
"Ya sudah. Tak ada artinya kan?"
"Ada."
"Apa artinya?"

Kembali tak ada jawaban hingga semuanya berlalu. 

#OneDayOnePost

25 November 2016

Ruang Rindu

Hasil gambar untuk gambar ruang rindu
image by google

Aku datang ke ruangan ini, hanya untuk sekedar mengurai cerita yang kembali menyesakkan dada. Entahlah, apakah kamu juga akan datang ke ruangan ini. Ruangan ini dahulu adalah  milik kita. Ketika kita saling merindu, maka dengan tak sengaja kita selalu bertemu di sini. Untuk kemudian saling berbincang dan mengurai tawa hingga kita lelah. 

Mataku berkeliling mengamati keadaan. Tak ada yang berubah. Hanya terasa lebih sepi. Aku rindu dengan suara nakalmu yang sering menggodaku agar aku cemberut sesaat. Di mana kamu sekarang? Sering meninggalkanku sendirian dalam ruang yang pernah kita cipta.

Kemarahanmu selalu melenyapkan semua hal indah yang biasa kita buat. Dan aku tak pernah bisa mengusir ketika amarah itu menguasaimu. Aku seperti sehelai benang basah, makin terpuruk di saat kamu marah hanya karena kesalahan kecil yang sering kubuat.

Apakah kamu masih memiliki rasa yang sama? Sama-sama merinduku? Ataukah rasa rindu milikmu sudah enggan untuk singgah sejenak?

Ya, aku belum terbiasa sendirian dalam ruang rindu ini. Karena apa? Karena kita membangunnya sudah empat tahun lebih. Bersamamu dalam tawa canda dan kadang dengan air mata. Kamu yang selalu ada buatku. Siap m,emelukku dari jauh kala semua sedih sempurna menyatu dalam hidupku.

Ingatkah kamu beberapa slide kenangan yang pernah tercipta? Kalaupun sudah tak ingat, tak apa. Aku juga tak memaksamu untuk mengingatnya. Aku hanya akan sendirian mengingat semuanya. Untuk kemudian menyimpannya rapi dalam bingkai yang indah, dalam palung hatiku.

Sketsa tentangmu selalu abadi, meski ragamu tak akan pernah abadi bersamaku.

#OneDayOnePost
#SajakRinduUntukmu



23 November 2016

Roti Palsu bagian 2


Hasil gambar untuk gambar kucing menggigit donat
image:google

“Boleh aku menukar makananku dengan punyamu?” tanyanya. Aku melihatnya. Ia menggigit roti yang aku inginkan. Roti dengan lubang di tengah. Tapi yang ini berbeda dengan yang dibawa ibu. Yang ini masih utuh. Belum digigit. Warna coklat yang menghias permuakaannya begitu menggodaku. Dia sepertinya baru. Aku belum pernah melihatnya. Tapi kenapa dia baik mau berbagi denganku? Ada sedikit curiga bermain di hatiku.

“Aku bosan dengan makanan seperti ini. Aku belum pernah makan selain roti ini. Makanya melihatmu makan roti itu, aku ingin sekalli menukarnya. Tentunya kalau kamu tidak keberatan.” jelasnya. Dia bersih, bertubuh putih bercampur hitam. Badannya lebih besar dari tubuhku. Terlihat terawat. Sepertinya dia memang baik.

“Kamu nanti tidak akan kenyang,” kataku masih berdalih.

Dia tertawa memamerkan gigi taringnya yanng tajam. “Perutku juga tidak terlalu lapar kok. Boleh aku tukar?” tanyanya lagi setengah memaksa.

Akhirnya aku memberikan roti yang kudapat dari Abu. Keinginanku yang begitu besar bisa menikmati roti berlubang tengah itu mengalahkan keraguanku. Segera kusodorkan roti milikku. Dia langsung menyambarnya dan berlari menjauh sambil mengucapkan terimakasih.

Dengan senang hati aku gigit roti yang berlubang tengah tersebut. Bermaksud untuk menunjukkan kepada ibu, Putih, dan Hitam saudaraku. Bahwa aku akhirnya mendapatkan roti yang aku inginkan karena kebaikan seseorang. Sambil bersiul riang dengan pongah aku berjalan pulang.

“Ibu...Putih...Hitam!” panggilku. Kuletakkan roti berlubang di hadapanku.

“Lihatlah,  yang aku bawa!”

Yang kupanggil bergegas mendekat. Mata Hitam dan Putih berbinar melihat apa yang kudapatkan. “Dari mana kamu dapat roti itu, Belang?” tanya Hitam dengan heran.

“Dari seseorang yang rela memberikan rotinya untukku.” jawabku.

“Aku akan memakannya sendirian. Kalian tak akan kubagi!” kataku lagi.

“Jangan dimakan!” kata Ibu tiba-tiba. Mulutku yang hendak menggigitnya urung kulakukan. Mataku menatap Ibu.

“Sepertinya roti itu palsu, Belang.” kata ibu sebelum aku sempat bertanya.

Aku tidak percaya dengan perkataan ibu. Dengan cepat aku menggigit bagian coklat. Tidak bisa kugigit. Lalu aku mencoba menggigitnya di bagian lain. Sama. Kenyal tidak bisa aku gigit. Gigiku seperti susah untuk mencabiknya. Berkali-kali aku mencoba menggigitnya. Hingga aku lelah. Tubuhku berkeringat.

Putih dan Hitam tampak kasihan melihatku. Mencoba membantukku, tapi aku tangkis tangannya. Kue itu aku dekap dengan dua kaki depanku.

Ibu mendekatiku. “Ini bukan roti asli, Belang. Ini hanya roti palsu yang bentuknya mirip dengan yang kamu inginkan. Lihatlah. Tidak bisa kamu gigit kan?” ibu menjilati kepalaku dengan sayang. Wajahku sangat sedih. Perutku sudah lapar. Dengan pandangan memelas aku bersembunyi di ketiak ibu.

“Makanlah bagianmu tadi pagi. Putih sengaja menyimpannya untukmu.” kata ibu lembut memberikan jatah roti untukku pagi tadi. Dengan lahap aku memasukkannya ke dalam mulut. Biarpun sedikit rasanya lebih nikmat dari pada roti palsu ini.


#OneDayOnePost

Roti Palsu bagian 1


Hasil gambar untuk gambar kucing menggigit donat
image:google

Cahaya keemasan menyilaukan mata memaksaku untuk segera bangun dan menyusul kedua saudaraku yang sudah terlebih dahulu beraktifitas. Kulirik sekitarku. Alas empuk milik Putih dan Hitam sudah terlipat rapi. Pasti mereka sudah asyik bercanda dengan yang lainnya di halaman depan. Biasanya pagi-pagi begini mereka akan bermain hingga puas sambil menunggu jatah sarapan.

Kulengkungkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Sekedar melemaskan otot-otot yang kaku dari semalam. Dengan langkah malas kuayunkan kaki bergerak menuju depan. Ibuku masih asyik mengawasi gerakan Putih dan Hitam. Melihat kedatanganku, Ibu mendekatiku.

“Sudah bangun rupanya kau, Belang,” kata ibu sambil menjilati tubuhku dengan sayang. Aku paling suka diperlakukan seperti ini oleh ibu. Seperti masih kecil. Kuenduskan kepalaku di ketiak ibu. Ekorku berkibas manja.

“Ibu, hari ini aku ingin makan yang berbeda. Bosan aku dengan makanan itu-itu saja.” kataku kepada ibu. Mendengarnya ibu hanya tersenyum. Aku sudah terlalu sering mengatakan kepada ibu tentang kebosanankku dengan makanan yang diberikan. Sesekali lidahku ingin mencoba yang lainnya.

“Kamu ingin makan apa?” tanya ibu. “Nanti Ibu carikan. Siapa tahu ada makanan yang berbeda untuk kita hari ini.” lanjut ibu.

Aku mengangguk senang. Bayanganku ingin menikmati sepotong roti yang biasa disantap setiap pagi. Liurku selalu menetes ketika melihat anak kecil di sebelah rumah menikmatinya. Roti dengan lubang tengah. Bertabur warna coklat. Coklat itu penuh melingkari. Sekali gigit rasanya nikmat sekali. Dan ibu memahami keinginanku. Semoga ibu membawakan makanan yang sangat aku inginkan.

Ibu memintaku dan kedua saudaraku untuk menunggu. Ibu hanya akan pergi sebentar. Kami asyik bermain berkejaran. Saling menubruk, berguling, mencakar, kemudian tertawa bersama. Hal yang paling membuatku bahagia. Tubuhku yang paling besar dengan warna belang dan ekor panjang. Putih dan Hitam tubuhnya tidak sebesar tubuhku. Kami tiga jantan jagoan ibu.

Dari jauh aku melihat ibu berjalan menggigit roti yang kuimpikan. Ada bekas gigitan di bagian tepinya. Tapi hanya sedikit. Aku melompat kegirangan. Tubuhku berlari berputar-putar. Putih dan Hitam hanya tertawa menyaksikanku.

“Ayo, makanlah bagian kalian masing-masing.” kata ibu memotongnya menjadi tiga bagian. Aku sedikit cemberut. Jatah makanku berkurang. Harusnya kue ini menjadi santapanku semua. Tanpa perlu dibagi. Aku hanya diam menatap bagian kue yang disodorkan ibu. Hilang sudah selera makanku.

“Kok kamu tidak makan, Belang?” tanya Hitam sambil mengunyah makanannya.

“Sudah nggak selera,” jawabku sekenanya.

Putih menatapku. Disodorkan bagiannya yang tinggal sedikit. “Kamu kurang ya? Nih, makan punyaku.”

Aku tetap menggeleng tak berselera. Inginku utuh, bukan dibagi-bagi begini. Ibu dan Putih menatapku. Tampak ibu sedikit kecewa.

“Kamu nggak ingin makan bagianmu, Belang?” lembut ibu bertanya.

“Aku ingin semuanya, Bu. Bukan dibagi bertiga. Mana aku kenyang!” jawabku dengan kesal. Berlalu meninggalkan ibu dan saudaraku. Lebih baik aku pergi mencarinya sendiri. Meskipun perutku sudah sangat lapar. Masih kudengar suara ibu dan Putih memanggil namaku. Tapi tak kuhiraukan panggilan mereka. Aku sudah terlanjur kesal.

Kuikuti ke mana kakiku ingin melangkah pergi. Bunyi perut yang lapar sudah kuabaikan. Berharap ada yang berbaik hati melempar makanannya kepadaku. Sekedar mengisi perutku agar tidak melilit.

Dari jauh aku melihat si Abu sedang menggigit sebuah roti. Bukan roti yang aku inginkan. Namun perutku sudah tidak tahan minta diisi. Kuberanikan untuk meminta sedikit saja bagiannya. Dan Abu tidak keberatan. Aku menggigitnya. Berniat menjauh dari tempat Abu makan. Tidak tahan dengan bau badannya yang jarang tersentuh oleh air.

Belum sempat aku menggigit pemberian Abu, aku dikagetkan oleh suara.


Bersambung....

#OneDay OnePost

21 November 2016

Macaroni'n Cheese

Hasil gambar untuk gambar makaroni cheese dalam roti cone
image:google

“Kenapa sih, kalau masak selalu pedas? Aku kan nggak suka pedas!” ketus mengatakannya sambil mulut menahan rasa cabai yang tak hilang juga meski sudah menghabiskan dua gelas air bening.

Martha hanya tertawa melihat Vio masih mengusir rasa pedas. “Salah siapa masih nekat makan. Aku sudah bilang, ini pedas, Vio.”

Masih ber hu ha hu ha... Vio menjawab. “Tapi kamu menggodaku untuk mencobanya.”

“Idih, siapa coba yang menggodanya. Kamu sendiri yanng tergoda.” Balas Martha tak mau kalah.

Dengan kesal Vio memukul lengan kanan Martha yang sengaja selalu memasakkan makanan dengan cabai tak pernah memakai ukuran perutnya. Padahal dia tahu, Vio tak kuat dengan pedas. Namun sepertinya Martha tak pernah lelah mengajaknya untuk selalu mencoba lagi bereksplorasi dengan cabai.

Martha hanya tertawa kecil. “Ini kan resepmu, Vio. Tapi aku tambah saja dengan cabai.” Sahut Martha cuek. Vio makin gemas dibuatnya.

“Auk ah gelap!” Vio bergegas ke dapur mengambil gula pasir dan air hangat untuk menetralisir rasa yang baginya seperti monster.

“Vio, makaroni ini harus kita eksekusi lebih baik lagi. Jangan hanya diwadahi dalam mangkok saat kita akan menjualnya.” Masih saja Martha berkata-kata meskipun Vio sudah tidak di sampingnya.

Vio menyahut dengan deheman. Ide untuk membuka usaha ini adalah ide berdua. Membuat makaroni dengan campuran cheese yang pas di lidah tentunya bukan usaha mudah. Rasa sudah kami dapatkan dipadu dengan berbagai varian rasa sepertinya sudah cukup membuat menu yang kami tampilkan akan berbeda. Hanya saja menurut Martha, wadahnya harus berbeda dengan yang lain. Kalau sama menggunakan mangkok, rasanya tidak akan memiliki nilai jual. Itu diskusi kami tadi malam.

“Jadi, mau pake wadah apa?’ tanya Vio setelah mengelap tangannya dengan tisu. Duduk kembali di hadapan Martha. Percobaan makaroni cheese dengan varian rasa cabai rawit, keju, dan saus bolognaise ternyata cukup berhasil. Terbukti Martha menandaskan sampai tidak besisa.

“Kau doyan atau lapar?” tanya Vio membolak-balik mangkok kecil.

Martha hanya nyengir. “Asli enak, Vio. Hanya saja kalau sesuai seleramu, kurang pas. Makanya tadi aku variasikan dengan cabai rawit. Enak kan?”

Vio membenarkan. Jika hanya mengandalkan saus bognaise, rasanya memang kurang. Harus ditambahkan dengan irian cabai rawit. Barulah enak. Untuk yang menyukai rasa pedas. Bagi Vio itu adalah menu yang menyiksa.

“Hei, ayo kita pikirkan. Wadahnya jangan menggunakan cup. Pakai apa ya?” colek Martha membangunkan lamunan Vio.

Vio manyun. Sebetulnya dia sudah menemukan wadah yang unik. Tapi ia ragu, apakah Martha akan setuju dengan usulnya?

“Kau pasti ada ide ya?” selidik Martha. Vio hanya mengangguk. “Apa idemu?” lanjut Martha.

Vio membenahi duduknya. Menyilangkan kakinya dan memasang wajah serius. “Bagaimana kalau kita gunakan wadahnya dari roti berbentuk cone. Rotinya harus lembut tapi cres saat digigit. Akan berpadu dengan gurih dari makaroni cheesenya. Bagaimana?” Vio meminta pendapat Martha.

Martha tampak berpikir sejenak. Membayangkan roti yang Vio katakan. Kemudian kepala Martha mengangguk paham. Wajahnya kelihatan senang sekali.

“Ide bagus sepertinya. Mari kita eksekusi agar segera tahu rasanya.” Kata Martha menyeret Vio kembali ke dapur.

Vio hanya mengekor ditarik oleh Martha. Impian untuk segera memiliki usaha sendiri sungguh sudah di depan mata. Membuat keduanya selalu bersemangat untuk mengeksekusi setiap  ide yang muncul.


#OneDayOnePost
#TantanganCerpenKuliner

Daring dan Luring


Hasil gambar untuk gambar kucing putih dan kucing abu
image:google

Dia berjalan perlahan. Kalung yang membelit lehernya nampak mulai kekecilan. Bandul yang menggantung di lehernya memantulkan cahaya karena terkena sinar matahari. Aku seperti tidak asing melihatnya. Tubuhnya tidak berbeda denganku. Hampir sama malah. Hanya warna kami yang berbeda. 

Ingin rasanya segera berlari menghampiri. Tapi aku takut salah. Jangan-jangan aku hanya terbawa ilusi.

Kembali mataku beralih ke burung-burung kecil yang ikut bergoyang di atas rumput. Senangnya melihat mereka asyik berayun di batang yang tak berkayu itu. Tak pernah aku berniat untuk menerkamnya. Hanya sesekali iseng ingin mengajaknya bermain. Dan tentu saja untuk mengasah kecepatan berlariku.

Keasyikanku kembali terusik dengan bayangan yang kulihat dari kejauhan. Kalungnya mirip denganku. Hitam dengan bandul yang akan nyaring berbunyi jika berlari. Oh ya, ada inisial lambang namaku di kalung. D adalah inisial namaku. Apakah kalungnya berinisial L?

Secepat angin kugerakkan kakiku menuju sosok yang membuatku penasaran. Kuhentikan langkahnya. Dia menggeram, menatapku tajam. Sikap waspada karena dia mencium aroma tubuhku. Aku mencoba menyeringai. Dia mengibaskan ekornya ketika didapatnya aku tidak gentar dengan geramannya.

“Siapa kamu? Apa maumu?” cepat dia bertanya. Aku tak langsung menjawabnya. Mataku mencari inisial dari kalungnya. Siapa tahu benar dugaanku. Tapi apa yang kucari tak ada. Kalung itu hanya sama warna denganku. Bandul yang berbunyi gemerincing yang kutemukan. Membuat semangatku langsung turun.

“Aku hanya ingin memastikan tentangmu.” jawabku pelan.

“Oh...kalau begitu minggir! Aku ingin lewat!” sahutnya cepat melangkah meninggalkanku.

Dia berjalan melewatiku. Ekor panjangnya berkibas. Ekor itu benar sekali mirip dengan yang aku cari. Kembali aku menghadang langkahnya.

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?” nampaknya dia mulai geram dengan sikapku.

“Kamu Luring bukan?” tanyaku di sela-sela penasaran.

Sejenak dia terdiam. Mengamatiku dari ujung ke ujung tanpa berkedip. Semoga dia mengingatku. Lama dia melakukannya. Kemudian perlahan dia berjalan mengitari tubuhku. Mencium bauku. Aku hanya mendengus. Sedikit kesal karena dia tak mengenalku. Sedangkan aku hanya butuh sedikit waktu untuk yakin bahwa dia Luring.

“Kamu siapa? Bisa tahu nama kecilku.” dia mulai menjawab dengan santai.

“Oh.... Luring. Aku Daring. Lupakah?” teriakku histeris. Benar dugaanku. Dia Luring adikku.

Kami dua bersaudara yang dibuang terpisah dengan induk kami. Beruntung aku dan Luring dibawa pulang ke rumah dan dirawat oleh seseorang . Hanya tiga minggu kami bersama. Dan tiba-tiba Luring tidak ada bersama kami. Aku dan yang merawat kami mencari berhari-hari. Sudah tiga bulan sejak hilangnya Luring tak sengaja aku berpapasan hari ini.

Luring mengamatiku. Pandangan matanya mulai melunak. Menatap lembut kepadaku.

“Kamu Daring?” bertanya untuk memastikan. Kemudian Luring berlari memelukku. Ada rasa haru menyeruak. Tiga bulan tidak bertemu dengannya membuatku sungguh rindu. Apalagi kulihat sekarang tubuhnya sangat gagah. Dengan rambut sedikit hitam keabu-abuan berpadu warna putih di beberapa bagian tubuhnya semakin menambah keelokan dirinya. Ekor panjangnya berwarna putih. Berbeda denganku. Seluruh tubuhku hanya polos berwarna putih. Berekor pendek pula.

“Kamu ke mana saja, Luring? Aku mencarimu.” kataku melepas pelukan.

“Aku dibawa pergi oleh anak laki-laki kecil. Dia mengambilku saat kamu tertidur dengan pulas waktu itu. Aku sudah menjerit minta tolong padamu. Tapi kamu tak mendengarku. Untungnya aku dirawat dan dibesarkan dengan baik. Hanya saja namaku bukan Luring.”

“Lalu siapa namamu sekarang?”

“Namaku sekarang Leo. Tapi inisial L terlepas saat aku bermain.” jelas Luring.

“Aku tinggal tak jauh dari sini, Daring. Apakah kamu masih tinggal di sini?”

Aku mengangguk. “Di mana tinggalmu?”

“Di ujung jalan depan. Rumah bercat coklat. Hari ini aku tiba-tiba ingin bermain ke sini. Eh, malah bertemu denganmu.” kata Luring sambil tertawa.

“Kamu senang bersama anak itu?” tanyaku pelan. Takut membuatnya tersinggung.

Luring menjawab pertanyaanku dengan mengangguk mantab. Aku bernapas lega. Tak apalah aku jauh dengan Luring, asalkan dia dirawat. Eh, sekarang namanya Leo. Pantas saja ketika aku panggil Luring dia hanya terdiam.

“Kapan-kapan mainlah ke tempatku,” ajak Leo. “Aku harus bergegas pulang. Nanti aku dicari.” Berkata begitu Leo berjalan meninggalkanku. Aku hanya bengong melihat kepergiannya. Ingin mengejarnya. Namun aku tak punya kekuatan. Mungkin Leo sudah melupakanku. Tak menganggapku lagi saudaranya. Aku bergegas berbalik. Berjalan menuju tempat ternyamanku. Ada sedih dalam langkah gontaiku.

Mendadak aku dikejutkan oleh pelukan dari belakang. “Daring, aku akan datang lagi esok hari. Jangan bersedih. Aku sungguh merindukanmu juga.”

Daring balas memeluk tubuh yang tak lain adalah Leo. Kami berpelukan erat. Rumah memang memisahkan kami, tapi tidak menghapus ikatan saudara kandung.

#OneDayOnePost

#Tantangan500Kata 

19 November 2016

Kehilangan Kembali


Hasil gambar untuk gambar pohon meranti di hutan
image:google

“Kamu mendengar apa yang tadi dibicarakan di pinggir hutan?” kata seekor burung yang hinggap di tubuhku. Aku masih menunggu percakapan selanjutnya.

Sebelum menjawab, kudenngar cicitnya. “Ya, sebentar lagi hutan ini akan ditebang. Bagaimana dengan nasib kita?” kudengar suaranya mulai sedih.

“Apa yang baru saja kalian dengarkan? Ceritakanlah kepadaku.” Kata seekor semut merah keluar dari lubang.

Dua ekor burung yang kebetulan hinggap menoleh. Sedikit terkejut. Dipikirnya percakapannya dengan temannya tidak ada yanng mendengar. Mereka sepertinya hanya singgah sebentar.

“Maafkan kami. Mungkin kami salah mendengar.” Sahut salah satu burung yang berbulu kuning.

“Yang kami dengar bahwa hutan ini akan ditebang pohonnya. Seperti tempat tinggal kami yang kini hanya berupa tanah tandus tanpa pohon.” Lanjutnya.

“Maksudmu, semua pohon di hutan ini akan ditebang?” kembali semut mengulang pertanyaannya.

Kedua burung mengangguk. Aku yanng mendengar menjadi sedih. Bercampur dengan marah. Sudah banyak yang menjadi korban jika akku dan teman-temankku selalu berakhir tragis di gergaji mesin. Mereka akan mengiris tubuh kami dengan sadis. Tanpa ampun memotongnya menjadi pendek. Bergidik aku membayangkannya.

“Lalu kapan mereka akan mulai menebang?” tanya semut.

“Tadi aku mendengar besok pagi hutan ini akan dibabat habis.”

“Pohon besar, apa yang bisa aku lakukan kalau memang benar orang di luar hutan akan menebangmu juga?” pertanyaan semut dengan wajah cemas dan ketakutan. 

Aku hanya termenung. Semut sudah berpindah berkali-kali. Dari satu hutan ke hutan lainnya. Rumahnya selalu menjadi korban orang-orang yang menebang pohon tanpa peduli dengan hewan yang menetap di tempatku.

Kuambil napas sebanyak yang aku bisa. “Pergilah dengan segera, sebelum tubuhkku ambruk. Agar keluargamu bisa selamat dan mendapatkan tempat lebih cepat.”

Semut mengangguk. Mengumpulkan semua keluarganya. Menyiapkan apa saja yang bisa dibawa. Kesibukan mulai terlihat. Aku hanya mengamati saja. Tak terkecuali laba-laba yang menempati dahanku paling rendah. Tanpa banyak bertanya, dia bergegas mencari tempat baru.


Dengan sedih kupandangi satu persatu sahabat yang biasanya selalu ada bersamaku. Berbincang setiap hari. Sebentar lagi tubuhku juga akan tergolek oleh gergaji. Dahan-dahanku akan terpotong oleh kapak-kapak pekerja yang tak kenal ampun. Bagaimana aku dan temanku lainnya akan menjaga hutan dari longsor jika manusia masih senang menebang kami?

#OneDayOnePost

16 November 2016

Percakapan dalam Kelas


image:google

Ruangan kelas berukuran 8 x 8 meter ini sudah tidak menunjukkan geliat apapun. Semua yang sibuk dari pagi hingga siang sudah keluar. Pintu juga sudah tertutup. Menyisakan jendela yang tidak tertutup untuk membiarkan angin dari luar menggantikan udara yang ada dalam kelas.

“Hoam...rasanya badanku pegal sekali. Digeser ke kanan, ke kiri, kadang ke depan ke belakang.” kata sebuah suara memecah kesunyian. Ternyata itu adalah suara meja. Kursi yang ada di dekatnya ikut tersenyum.

“Benar sekali, Meja. Tubuhku sakit semua. Kamu tahulah, siapa yang duduk di badanku? Anak yang paling gendut.. nggak mau diam pula. Tubuhku selalu diayun dan bergoyang. Ingin sekali aku menjatuhkannya agar kapok menggoyangkan tubuhkku.” Panjang lebar Kursi mengatakan keluhannya.

“Ha...ha...ha...” terdengar tawa keras dari arah dinding. Pandangan berpindah ke depan. Mencari tahu siapa yang tertawa keras. Rupanya suara dari papan tulis berwarna putih yang menggantung di tembok.

Seketika papan tulis menghentikan tawanya. Merasa semua mata menatapnya dengan heran. “Ups...maaf, tertawaku membangunkan ya?”

Penghapus yang berada paling dekat dengannya mengangguk mengiyakan. “Apa yang membuatmu tertawa?” tanyanya.

Kembali papan tulis mengeluarkan suara khasnya. “Tentu saja aku mentertawakan kalian. Memangnya hanya meja dan kursi saja yang merasa badannya sakit semua?”

Semua yang ada di dalam kelas saling berpandangan. “Kamu juga merasa sakit?” penasaran penghapus mewakili penasaran lainnya.

“Iya.” Mantab papan tulis menjawab.

“Apa yang kamu rasakan?” kembali penghapus yang bertanya.

“Apa pernah kalian membayangkan digantung sepanjang hari, lalu dicoret-coret tubuh kalian? Pastinya sakit semua.”

Meja, kursi, penghapus akhirnya mengangguk. Mencoba memahami yang dirasakan oleh papan tulis.

“Kita di sini semuanya pasti capek, badan pegal semua. Tak ada yang enak sendiri. Karena kita harus memberikan manfaat untuk anak-anak yang belajar di kelas ini. Jadi jangan pernah mengeluh dan merasa paling capek sendiri.”  Nasehat sebuah suara yang tak lain adalah lemari yang penuh berisi buku-buku pelajaran.

“Benar, kita tidak boleh merasa paling capek. Semuanya pasti capek karena melakukan tugasnya masing-masing.” Lanjut lemari.

Semuanya terdiam setelah mendengar penjelasan lemari. Dalam hati membenarkan. Semuanya pasti lelah dan capek. Tapi ini adalah sebuah kewajiban untuk memberikan manfaat bagi anak-anak. Jadi, tak ada gunanya mengeluh bukan?


#OneDayOnePost

15 November 2016

Pohon Akasia dan Ilalang

Hasil gambar untuk pohon akasia dan ilalang
image;google

Angin kali ini hanya berhembus perlahan. Menyapa lembut setiap makhluk yang bersenandung atas pagi yang cerah. Begitu pula dengan Ilalang. Tak lepas dia bersiul riang dengan kehadiran matahari dan buaian angin. Ilalang berdiri sepanjang tanah yang tidak begitu luas. Dalam kebun yang tidak terawat milik Pak Jangkung. Kebun ini hanya penuh berisi ilalang dan satu pohon Akasia yang menjulang tinggi di tengah ilalang.

“Hoaam...” Akasia meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Melemaskan ototnya setelah malam berganti dengan indahnya pagi.

Ilalang mendongak ke atas. Tersenyum mendapati Akasia sudah bangun. “Nyenyak sekali tidurmu.”

Akasia tertawa. “Angin begitu memanjakanku dari semalam. Hanya bergerak lembut. Tidak kencang seperti malam-malam sebelumnya.” sahut Akasia.

Ilalalang menganggukkan kepalanya. Membenarkan perkataan akasia. Biasanya angin akan menghembuskan kekuatannya dengan besar. Sehingga Ilalang akan kewalahan menghadapinya. Tubuh kecilnya akan bergerak mengikuti angin. Ingin rasanya berpegangan pada Pohon Akasia. Tetapi dia ingat bagaimana Akasia tak mau dibuat pegangan.

“Sana pergi! Jangan berpegang pada tubuhku. Makanya punya badan yang besar. Jangan hanya tubuh kecil dan selalu bergoyang jika angin datang.” Itu ucapan Akasia ketika angin mencoba bertiup sedikit lebih kencang. Dan Ilalang akan tetap mengingatnya. Tidak akan membuat Akasia terbeban lagi.

“Hai, Ilalang, tahukah kamu bahwa nanti malam akan ada badai besar?”

Ilalang menggeleng. “Kamu tahu dari mana?”

“Semalam Angin mengatakan kepadaku. Jadi, bersiaplah.”

“Bersiap apa?” tanya Ilalang tak mengerti.

Akasia tertawa mendapat pertanyaan dari Ilalang. “Lihatlah, Ilalang. Tubuhmu saja tidak memiliki batang yang kokoh. Bagaimana kau akan bertahan dari badai nanti malam?” ledek Akasia dengan sombong.

“O...,” jawab Ilalang. “Aku tak perlu takut, Akasia. Aku juga tak akan berpegang pada tubuhmu. Justru kamulah yang harus berhati-hati dengan badai itu.”

“Apa kau bilang? Tak lihatkah tubuhku sangat kokoh. Tak mungkin angin kuat menggoyangkan badanku.” Semakin sombong Akasia menjawab.

“Kita lihat saja nanti. Siapa yang masih kokoh setelah badai nanti malam.” Putus Ilalang menghentikan perdebatan. Karena jika diteruskan, Akasia tak pernah mau kalah dengan Ilalang. Dia selalu merasa paling kuat.”

Ilalang melanjutkan nyanyiannya. Tertawa senang bersama Ilalang lainnya. Sesekali bercengkerama dengan burung-burung kecil yang lewat. Ataupun dengan para kumbang yang melintas. Ilalang sungguh merasa gembira. Akasia hanya mengamati kegiatan Ilalang. Hanya sesekali ia ikut bercakap. Selebihnya ia hanya berbincang dengan angin.

Malam yang dijanjikan akan ada badai datang begitu mencekam. Langit nampak gelap meyelimuti seluruh kebun. Suara petir bersahutan membelah langit. Hujan turun dengan deras diikuti oleh angin kencang. Ilalang melemaskan tubuhnya. Gemulai tertiup oleh angin yang begitu kasar menyapu. Sempat mendengar suara keras dari Akasia ketika amukan badai mulai menggila. Kemudian terdengar jeritan merintih sakit. Ilalang tidak berani membuka mata. Ada takut yang mencekam. Hingga pagi datang barulah Ilalang berani membuka mata.

Terlihat olehnya tubuh kokoh akasia roboh. Sebagian batangnya tumbang. Pasti oleh badai semalam. Ilalang dengan sedih menatap tubuh akasia. “Maafkan aku, Akasia. Semalam tidak berani membuka mata. Tidak menyangka tubuhmu akan tumbang oleh badai.”

Akasia merintih menahan sakit. “Ternyata aku salah. Aku pikir tubuhku yang akan kuat menahan badai. Ternyata tubuh kokohku tak cukup kuat. Justru tubuhmu yang tak memiliki batang kuat mampu bertahan.” kata akasia.

Ilalang menanggapi dengan senyum. “Semua makhluk di bumi sudah diciptakan sedemikian sempurna. Jadi, tidak ada yang lebih kuat ya.”


Akasia membalas senyum Ilalang. “Maafkan aku ya, Ilalang.” Ilalang mengangguk.

Indahnya persahabatan jika tidak dicampur dengan sikap merasa paling hebat.


#OneDayOnePost
#MingguTemanSedunia

14 November 2016

Tanpa Nama bagian 4


Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google

Genta


Napasnya tersengal seperti orang yang habis berlari maraton. Terbangun tengah malam dengan mimpi aneh. Alika, gadis yang pernah ia cintai memberinya sepucuk surat. Dan ia membaca hingga selesai. Alika yang memintanya untuk membacanya sesaat setelah ia pergi meninggalkan Genta. Dalam mimpinya, wajah Alika pucat pasi, berbalut gaun warna putih. Tersenyum dengan manis. Masih sama seperti senyum yang ia lihat pertama kali mengenalnya.

“Alika...” lirih Genta menyebut namanya. Keputusannya untuk mengakhiri hubungan bukan tanpa alasan. Ia merasa Alika yang sekarang menjadi lebih cerewet. Lebih sering ngambek, meskipun ngambeknya tak pernah lama. Hanya bertahan beberapa jam. Lalu menguap berganti dengan cerita-cerita ramainya. Genta tak suka dengan gaya Alika yang mulai berubah. Ia tak ingin disidang ataupun dihakimi. Ya, ini memang terkesan egois. Meminta Alika yang selalu memahaminya. Jujur ia juga sangat merindukan Alika. Perasaannya tak pernah berubah hingga detik ini, ketika mimpinya tentang Alika.

Jantungnya masih berdegup kencang. Bergegas diambilnya segelas air bening. Ditenggaknya tak bersisa. Mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Memencet tombol power. Berharap ada chat dari Alika, gadis yang tak pernah menyerah merayu ketika dia marah. Kosong. Hanya ada panggilan tak terjawab berkali-kali dari Tyas.

Genta ingin menelfonnya, tapi diurungkan manakala melihat jam yang sudah bergeser mendekati waktu pagi. Pukul tiga. Mendadak pikirannya teringat Alika. Ada rasa aneh yang tiba-tiba hadir. Resah, gelisah, dan semacam ketakutan. Ada apa dengan Alika? Chatnya terakhir menunjukkan waktu siang. Berarti dia belum online sejak siang. Tumben...

Tangan Genta hendak meraih handphone untuk mengetik chat menanyakan kepada Tyas kabar terakhir Alika. Belum selesai jarinya mengetik, Tyas menelfon.

“Genta...” tanpa mengucap salam Tyas langsung menyebut namanya. “Segera ke sini. Alika kecelakaan tadi siang dan koma.” suara Tyas mengejutkan Genta.

“A...a..apa, Tyas?”

“Sudah jangan bengong! Buruan naik bis terpagi yang berangkat. Sebelum kamu menyesal!”

Tanpa dikomando dua kali Genta bergerak secepat kilat menuju kamar dan berganti pakaian. Menyambar beberapa potong pakaian, memasukkan dengan tangan gemetar ke tasnya. “Ya Tuhan, selamatkan Alika,” tanpa sadar matanya panas. Ia ingat dengan mimpinya, dengan isi surat yang ia baca. Permintaan maaf Alika dan segala alasan ia begitu bawel.

“Alika, bertahanlah. Kamu harus kuat.”


Bukan menuju rumah sakit yang dibilang oleh Tyas. Genta diminta untuk segera meluncur ke pemakaman begitu ia mengabarkan sudah tiba di Baranangsiang. Bandung Bogor yang hanya ia tempuh sekitar empat jam tak mampu membuat Alika bertahan. Tuhan berkehendak lain. Alika menghadap Tuhan dengan senyum termanis yang ia berikan. Senyum yang sama di malam ketika Genta bermimpi.

Genta mengusap air matanya. Masih bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang basah. Genta tak sempat menggenggam jemarinya memberinya kekuatan, bahkan di saat terakhirnya.

Tangan Tyas menepuk lembut pundaknya. “Kecelakaan itu merenggut nyawa Alika. Di tas Alika aku menemukan sepucuk surat. Ada namamu, berarti untukmu. Bacalah, mungkin ada sesuatu yang ingin Alika sampaikan.” Tyas menyodorkan surat untuk Genta. Gemetar tangan Genta menerimanya. Mimpi malam itu kembali mengusiknya. Bentuknya sama.

Dibukanya perlahan amplop putih yang tidak direkatkan. Dibacanya perlahan barisan kalimat yang Alika tuliskan untuknya. Membuat tubuh Genta semakin tegang. Tak sadar Genta terisak. Tyas kembali menepuk lembut pundaknya.

“Surat Alika sudah kubaca tadi malam dalam mimpiku. Ia datang dengan wajah pucat, tersenyum manis kepadaku. Isinya sama persis,” terdengar getaran suara Genta. Tubuhnya terasa lemas tiba-tiba.

“Alika....” Genta menyebut nama Alika. “Aku masih begitu mencintaimu. Maafkan aku.”


Selesai....

#OneDayOnePost







Tanpa Nama bagian 3


Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google

Genta...
Satu kata yang selalu ingin aku ucapkan untukmu. Bahwa bertemu denganmu adalah anugrah yang sangat berharga yang pernah kudapatkan. Melihat senyummu, mendengar suaramu, melihatmu tertawa atas sikap konyolku atau celoteh cerewetku.

Jujur aku sungguh menyesal dengan pertengkaran kecil yang terjadi antara kita. Aku pikir kamu akan memaafkanku seperti biasa. Lalu kita damai dan bercengkerama lagi di sela-sela kesibukanmu. Tapi rupanya aku salah kali ini. Kamu sungguuh serius untuk menyudahi perjalanan kita. Padahal aku begitu mencintaimu. Aku tak pernah berpikir kalau kita akan berakhir setelah empat tahun lebih.

Kamu pernah berjanji, aku adalah impianmu yang akan kamu raih saat waktunya tiba. Dan aku begitu berharap itu terjadi, meskipun aku tahu, banyak hambatan di antara kita. Dari keluargaku dan keluargamu. Namun kita juga telah sepakat untuk saling menguatkan dan bergandeng tangan, agar kita tak lelah berjalan sendirian. Ingatkah kamu, Genta? Sesakit apapun yang terjadi antara kita, jangan pernah menyerah, tetaplah untuk bertahan!

Ternyata janjimu tak mudah kupegang ya? Seperti janjimu di tahun ini. Yang akan menelfonku setiap saat. Oh, tidak! Kamu selalu lupa menelfonku. Akulah yang selalu memulai, dan kamu menjawab maaf atas semua janji yang terlupa.

Genta...aku hanya ingin kamu tahu. Inginku hanya sederhana, aku selalu menjadi prioritasmu. Tempatmu bersandar ketika kamu lelah seharian dengan penatnya pekerjaanmu. Ingat, jarak yang terbentang di antara kita harus dipendekkan dengan komunikasi yang kita lakukan. Hingga kamu bisa penuhi janjimu untuk membawaku ada di sampingmu selalu.

Kita sudah usai. Aku menangis, Genta. Aku masih belum bisa berdamai dengan semua yang kamu katakan. Keinginanku yang sepele rupanya sangat berat untuk kamu wujudkan. Aku bukan lagi prioritasmu seperti tahun-tahun sebelumnya. Kamu selalu menyempatkan untuk menelfonku sekedar hanya mengingatkan jam makanku. Aku sungguh sedih.

Ketika aku ngambek, aku hanya ingin mencuri perhatianmu. Agar terlena dari kesibukanmu sesaat saja. Nyatanya aku tak berhasil di tahun ini. Menahanmu untuk tetap ada bersamaku.

Sekali lagi maafkan aku, membuatmu marah. Suratku ini bukan untuk membuatmu merubah keputusan. Aku sudah pasrah. Mungkin ini surat terakhir yang kamu lihat dariku. Bawel terakhirku. Makasih ya untuk hati yang pernah ada bersamaku.

Bersambung...

#OneDayOnePost