08 November 2016

Ibuku, Pahlawanku bagian 1


Hasil gambar untuk gambar seorang ibu dan anak
image:google

“Lihatlah, anaknya tidak jauh berbeda dengan kelakuan ibunya,” bisik tetangga ketika aku baru turun dari sepeda motor. Diantar oleh Arif teman sekelasku. Aku turun persis depan rumah. Tetangga yang ada di sebelah rumah seperti biasa sudah asyik bergerombol membicarakan topik hangat yang siap jadi bahan gosip menyenangkan.

Arif menatapku meminta penjelasan. Aku hanya tersenyum, mendorong tubuhnya agar segera pergi menjauh dari rumah. “Sudah sana pulang!” kulambaikan tanganku mengusirnya. Arif hanya tersenyum kecut meninggalkanku yang langsung berjalan menuju pintu tanpa memedulikan omongan aneh sekelompok ibu-ibu yang masih seru membicarakan hot news.

Aku tidak menyalahkan omongan mereka, tapi tidak seratus persen membenarkan. Mendadak kedua mataku panas. Sebetulnya nggak ingin ikut-ikutan menyalahkan ibu. Hanya aku tak tahu harus mengatakan apa.

Kubuka pintu kamarku. Mbak Alya sudah tiba lebih dahulu. Masih dengan seragam abu-abunya rebahan di kasur membaca majalah lama. Menatapkku sekilas lalu kembali menekuri barisan kalimat dalam majalah tersebut. Kuambil duduk di sebelahnya. Menyentuh pundaknya untuk mengalihkan sejenak dari kegiatannya.

“Hmm...” hanya deheman yang terdengar keluar dari mulutnya. Matanya masih asyik. “Kalau hanya ingin membicarakan masalah ibu, lebih baik aku membaca saja.”

Tak kujawab perkataan mbak Alya. Membicarakan masalah ibu memang tak pernah ada habisnya. Manyun bibirku menunjukkan bahwa aku sedikit kesal dengan sikap mbak Alya. Mbak Alya tertawa melihatku. Bergegas kuganti pakaian putih birukku dengan baju rumahan. Setelan celana selutut, motif kotak kotak berwarna biru gelap. Berjalan ke arah dapur mengambil makanan kecil dalam toples. Meletakkan di atas kasur di antara mbak Alya dan aku yang mengikuti posisinya.

Kuambil majalah lama yang rasanya sudah hapal luar kepala isinya. Bahkan hingga ke iklannya aku hapal. Pikiranku menerawang jauh.

“Mbak, sebetulnya ibu pergi ke mana sih? Setiap siang pergi dan pulang menjelang malam. Benarkah gunjingan para tetangga kalau ibu kita sama seperti kampung sebelah?” lirih kutanyakan hal yang dari awal sudah dikatakan mbak Alya tak usah dibicarakan.

Mbak Alya menatapku. “De, tadi kan...”

Belum selesai mbak Alya berkata sudah kupotong. “Aku nggak mau digosipin terus seperti ini mbak. Sudah kita tinggal dekat Kampung Baru. Eh, ibu kita digosipin pula seperti itu. Kan nggak enak, Mbak.”


Aku hanya mendengar desahan berat dari mbak Alya. Aku tahu, dia juga pasti mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku. Digosipin. Apalagi wajah mbak Alya lebih ayu dibandingkan wajahku yang kata almarhum bapak manis. Kulit putih ibu dengan mata sipitnya menurun ke mbak Alya. Aku hanya kebagian mata belok dengan kulit sawo matang seperti kulit bapak. Wajahku juga mewarisi wajah bapak. Satu-satu deh pokoknya, adil agar semua kebagian dari bapak dan ibu.

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganTemaPahlawan

3 komentar:

Na mengatakan...

Kebiasaan buruk sekaligus jd penyakit dalam lingkungan masyarakat adalah gosip.
Siapapun pasti risih kalau sudah jd buah bibir. Gak masalah jd bakal bermasalah.
Ditunggu kelanjutannya, mba.

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Cap Cus ke 2

Ciani L mengatakan...

hhaa... emak-emak kurang bahan obrolan....

Posting Komentar