08 November 2016

Ibuku, Pahlawanku bagian 4


Hasil gambar untuk gambar seorang ibu dan anak
image;google

“Tapi omongan mereka salah kan, Bu?” tanya mbak Alya.

“Apa yang mereka katakan tentang ibu?”

Sebelum menjawab kami terdiam. Memilih kalimat yang pas agar tidak menyinggung perasaan ibu. “Mereka bilang, Ibu tak ubahnya seperti wanita yang tinggal di Kampung Baru,” lirih mbak Alya mengucapkan kalimat tersebut.

Ibu terdiam, tertunduk kepalanya. Lirih ibu berucap, “Iya, Ibu memang seperti itu.”

“Ibu...” mata kami terbelalak. Satu kalimat jawaban ibu sudah cukup menjawab rasa penasaran dan segala prasangka kami tentang ibu. Mbak Alya memelukku, menangis kami berdua. Ibu tak bergeming dari duduknya.

“Jadi Ibu memberikan makanan kepada kami dengan uang haram?” dengan nada tinggi aku bertanya kepada ibu.

“Tidak!” jawab ibu tak kalah tinggi.

“Kata Ibu barusan, Ibu tak ubahnya seperti wanita yang tinggal di kampung sebelah kan? Kalau bukan uang haram, lantas apa kami menyebutnya?” masih dengan nada tinggi aku membalas perkataan ibu.

“Dengarkan Ibu! Ibu berbuat seperti itu hanya untuk melunasi hutang keluarga kita yang makin mencekik. Hutang dari berobat bapak. Hutang dari warung kita yang semuanya gagal.” Jelas ibu masih dengan nada tinggi diiringi isak tangis.

“Jika hutang itu tidak segera Ibu bayar, rumah peninggalan bapak akan diambil. Padahal ini adalah satu-satunya harta kita.” Lanjut ibu.

“Kalau hutang itu sudah lunas, Ibu akan berhenti.” pelan ibu mengakhiri perkataannya. “Untuk makan kalian dan biaya sekolah, Ibu memakai uang pensiun bapak. Sisanya berhutang di warung dan akan Ibu bayar saat pensiun bapak turun nanti.”

Mendengar penjelasan ibu, tangis kami makin kencang. Beban ibu begitu berat.

“Maafkan kami, Ibu. Tapi kami ingin Ibu berhenti melakukannya. Sudah, Ibu, jangan lakukan lagi!” berhambur kami memeluk ibu yang masih menangis terisak.

“Kita bisa berjualan lagi, Bu. Aku akan berkeliling lagi menitipkan kue buatan Ibu. Kita bisa memulai dari awal lagi, Bu.” kataku.

“Tidak bisa. Modal saja Ibu tak punya. Hanya ini cara cepat untuk melunasinya.”

Pelukan kami dibalas erat oleh ibu. “Abaikan omongan tetangga. Mereka tidak pernah tahu dengan kesulitan yang kita alami. Ibu berjanji, tinggal sedikit lagi hutang itu akan lunas. Dan Ibu tidak akan melakukannya lagi.”

“Ibu...” bertiga kami kembali menangis. Saling memberi kekuatan dan keyakinan bahwa semuanya akan kembali normal.

“Kalian malu memiliki Ibu seperti ini?” tanya ibu menatap wajahku dan mbak Alya bergantian.

Tegas kami menggeleng. “Ibu tetap menjadi pahlawan bagi kami. Meskipun perbuatan Ibu hina, tapi kami tetap sayang Ibu,” mbak Alya mewakili jawabanku juga.

“Maafkan Ibu, membuat kalian malu,”

Kami hanya menangis, mencari arti dari semua yang sudah terjadi. Ada doa terselip, semoga ini yang terakhir ibu lakukan.Besok malam ibu sudah bersama kami seperti dahulu.


Tamat

#OneDayOnePost
#TantanganTemaPahlawan

5 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Nangis aku mbak

Na mengatakan...

Duh.. Berderai. Bisaan mba Lisa bikin aku begini. Hiks. 😢

Sakifah Ismail mengatakan...

Huft...selesai baca juga akhirnya.. Hidup memang tak jarang begitu memilukan

Irma Sari mengatakan...

Sedih banget mba

Ciani L mengatakan...

huaaaaa hiksss...

Posting Komentar