19 November 2016

Kehilangan Kembali


Hasil gambar untuk gambar pohon meranti di hutan
image:google

“Kamu mendengar apa yang tadi dibicarakan di pinggir hutan?” kata seekor burung yang hinggap di tubuhku. Aku masih menunggu percakapan selanjutnya.

Sebelum menjawab, kudenngar cicitnya. “Ya, sebentar lagi hutan ini akan ditebang. Bagaimana dengan nasib kita?” kudengar suaranya mulai sedih.

“Apa yang baru saja kalian dengarkan? Ceritakanlah kepadaku.” Kata seekor semut merah keluar dari lubang.

Dua ekor burung yang kebetulan hinggap menoleh. Sedikit terkejut. Dipikirnya percakapannya dengan temannya tidak ada yanng mendengar. Mereka sepertinya hanya singgah sebentar.

“Maafkan kami. Mungkin kami salah mendengar.” Sahut salah satu burung yang berbulu kuning.

“Yang kami dengar bahwa hutan ini akan ditebang pohonnya. Seperti tempat tinggal kami yang kini hanya berupa tanah tandus tanpa pohon.” Lanjutnya.

“Maksudmu, semua pohon di hutan ini akan ditebang?” kembali semut mengulang pertanyaannya.

Kedua burung mengangguk. Aku yanng mendengar menjadi sedih. Bercampur dengan marah. Sudah banyak yang menjadi korban jika akku dan teman-temankku selalu berakhir tragis di gergaji mesin. Mereka akan mengiris tubuh kami dengan sadis. Tanpa ampun memotongnya menjadi pendek. Bergidik aku membayangkannya.

“Lalu kapan mereka akan mulai menebang?” tanya semut.

“Tadi aku mendengar besok pagi hutan ini akan dibabat habis.”

“Pohon besar, apa yang bisa aku lakukan kalau memang benar orang di luar hutan akan menebangmu juga?” pertanyaan semut dengan wajah cemas dan ketakutan. 

Aku hanya termenung. Semut sudah berpindah berkali-kali. Dari satu hutan ke hutan lainnya. Rumahnya selalu menjadi korban orang-orang yang menebang pohon tanpa peduli dengan hewan yang menetap di tempatku.

Kuambil napas sebanyak yang aku bisa. “Pergilah dengan segera, sebelum tubuhkku ambruk. Agar keluargamu bisa selamat dan mendapatkan tempat lebih cepat.”

Semut mengangguk. Mengumpulkan semua keluarganya. Menyiapkan apa saja yang bisa dibawa. Kesibukan mulai terlihat. Aku hanya mengamati saja. Tak terkecuali laba-laba yang menempati dahanku paling rendah. Tanpa banyak bertanya, dia bergegas mencari tempat baru.


Dengan sedih kupandangi satu persatu sahabat yang biasanya selalu ada bersamaku. Berbincang setiap hari. Sebentar lagi tubuhku juga akan tergolek oleh gergaji. Dahan-dahanku akan terpotong oleh kapak-kapak pekerja yang tak kenal ampun. Bagaimana aku dan temanku lainnya akan menjaga hutan dari longsor jika manusia masih senang menebang kami?

#OneDayOnePost

2 komentar:

Ciani L mengatakan...

hikss, kejaaam, tidak bertanggung jawab, jahatt.

Na mengatakan...

Boleh menebang, asalkan menanam pohon lagi.

Posting Komentar