11 November 2016

Kita Sama

Hasil gambar untuk gambar telur ayam, telur bebek, telur puyuh
image:google

Kami selalu berkumpul di sini. Berbincang bersama dalam satu kios. Banyak yang kami perbincangkan. Mulai permasalahan yang terjadi di sekitar kita ataupun yang ada di luar. Dan perbincangan kami selalu seru.

Tetapi hari ini berbeda. Ada yang baru menghuni kotak sebelahku. Bentuknya kecil dengan corak bagus. Seperti diukir. Aku menyambutnya dengan gembira. Berarti akan semakin ramai saja kios ini. Pak Kumis sebagai pemilik kios tentunya sedang berkembang usahanya, sehingga bertambah barang yang dijual.

“Kamu berasal dari unggas jenis apa?” tanyaku penasaran.

Dia menatapku dengan sedikit kebingungan. Lalu tersenyum. “Aku berasal dari unggas kecil, bernama burung puyuh.”

“Jadi kamu telur puyuh? Aku baru lihat. Bagus sekali tubuhmu. Bercorak.” kata telur ayam negeri dengan kagum. Telur bebek ikut tersenyum.

“Coba berputarlah. Aku ingin melihat corakmu!” pinta telur bebek. Dengan semangat telur puyuh mengikuti permintaan telur bebek. Dia berputar dengan lincah. Semua bertepuk tangan melihat aksinya.

“Berarti aku paling bagus dong di sini dibandingkan dengan kalian yang pollos tidak becorak.” Sahut telur puyuh mulai terlihat angkuh.

Semua telur berpandangan. Selama ini yang tinggal di kios ini tidak ada yang merasa lebih baik.

“Maksudmu?” selidik telur ayam negeri.

“Lihat tubuhku. Meskipun aku kecil aku paling cantik. Badanku tidak polos seperti badan kalian.” Telur burung puyuh semakin pongah.

Telur ayam kampung yang dari tadi hanya diam ikut bicara. “Kalian adalah sama. Hanya berbeda di luar saja.”

“Tidak! Tetap berbeda.” Sahut telur puyuh dengan cepat.

Telur ayam kampung kembali tersenyum. Semua memandang telur ayam kampung menanti penjelasan lebih lanjut. “Di luar saja kita berbeda. Ada yang bercorak seperti telur puyuh. Ada yang polos sepertiku. Berwarna seperti telur bebek dan telur ayam negeri. Tapi lihatlah, jika kita buka cangkang kita, apakah berbeda?”

 Semua terdiam. Saling pandang satu dengan lainnya. Kemudian tertunduk.

“Kita di dalam isinya sama. Putih telur dan kuning telur. Apakah ada yang lain?” lanjut telur ayam kampung.

Telur bebek tertawa. “Iya, ya. kita ini sama. Hanya cangkang kita yang berbeda. Jadi nggak usah merasa lebih bagus.”

“Betul...betul...” manggut-manggut telur ayam negeri. Telur puyuh mengangguk. Menyadari kekeliruannya.

“Maafkan merasa lebih bagus.” lirih ucap telur ayam puyuh.

“Kita memaafkan kok.” peluk telur ayam kampung. Kami berangkulan.


#OneDayOnePost 

5 komentar:

Na mengatakan...

Kagum sama tulisan Mba Lisa. Bikin Na senyum-senyum mbacanya. Idenya itu loh.. Kereenn

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

hahahahaha mba lisa ...keren euy

denik mengatakan...

Sukaaaa...ya selalu suka tulisan mba Lisa.

Ciani L mengatakan...

Hhiii... Macam iklan sunlight, piring sendok mangkok seperti hidup.

Hebaattt mbak...

Ran Ran mengatakan...

ini masuk kategori fiksi ya ka Lisa ?

Posting Komentar