23 November 2016

Roti Palsu bagian 2


Hasil gambar untuk gambar kucing menggigit donat
image:google

“Boleh aku menukar makananku dengan punyamu?” tanyanya. Aku melihatnya. Ia menggigit roti yang aku inginkan. Roti dengan lubang di tengah. Tapi yang ini berbeda dengan yang dibawa ibu. Yang ini masih utuh. Belum digigit. Warna coklat yang menghias permuakaannya begitu menggodaku. Dia sepertinya baru. Aku belum pernah melihatnya. Tapi kenapa dia baik mau berbagi denganku? Ada sedikit curiga bermain di hatiku.

“Aku bosan dengan makanan seperti ini. Aku belum pernah makan selain roti ini. Makanya melihatmu makan roti itu, aku ingin sekalli menukarnya. Tentunya kalau kamu tidak keberatan.” jelasnya. Dia bersih, bertubuh putih bercampur hitam. Badannya lebih besar dari tubuhku. Terlihat terawat. Sepertinya dia memang baik.

“Kamu nanti tidak akan kenyang,” kataku masih berdalih.

Dia tertawa memamerkan gigi taringnya yanng tajam. “Perutku juga tidak terlalu lapar kok. Boleh aku tukar?” tanyanya lagi setengah memaksa.

Akhirnya aku memberikan roti yang kudapat dari Abu. Keinginanku yang begitu besar bisa menikmati roti berlubang tengah itu mengalahkan keraguanku. Segera kusodorkan roti milikku. Dia langsung menyambarnya dan berlari menjauh sambil mengucapkan terimakasih.

Dengan senang hati aku gigit roti yang berlubang tengah tersebut. Bermaksud untuk menunjukkan kepada ibu, Putih, dan Hitam saudaraku. Bahwa aku akhirnya mendapatkan roti yang aku inginkan karena kebaikan seseorang. Sambil bersiul riang dengan pongah aku berjalan pulang.

“Ibu...Putih...Hitam!” panggilku. Kuletakkan roti berlubang di hadapanku.

“Lihatlah,  yang aku bawa!”

Yang kupanggil bergegas mendekat. Mata Hitam dan Putih berbinar melihat apa yang kudapatkan. “Dari mana kamu dapat roti itu, Belang?” tanya Hitam dengan heran.

“Dari seseorang yang rela memberikan rotinya untukku.” jawabku.

“Aku akan memakannya sendirian. Kalian tak akan kubagi!” kataku lagi.

“Jangan dimakan!” kata Ibu tiba-tiba. Mulutku yang hendak menggigitnya urung kulakukan. Mataku menatap Ibu.

“Sepertinya roti itu palsu, Belang.” kata ibu sebelum aku sempat bertanya.

Aku tidak percaya dengan perkataan ibu. Dengan cepat aku menggigit bagian coklat. Tidak bisa kugigit. Lalu aku mencoba menggigitnya di bagian lain. Sama. Kenyal tidak bisa aku gigit. Gigiku seperti susah untuk mencabiknya. Berkali-kali aku mencoba menggigitnya. Hingga aku lelah. Tubuhku berkeringat.

Putih dan Hitam tampak kasihan melihatku. Mencoba membantukku, tapi aku tangkis tangannya. Kue itu aku dekap dengan dua kaki depanku.

Ibu mendekatiku. “Ini bukan roti asli, Belang. Ini hanya roti palsu yang bentuknya mirip dengan yang kamu inginkan. Lihatlah. Tidak bisa kamu gigit kan?” ibu menjilati kepalaku dengan sayang. Wajahku sangat sedih. Perutku sudah lapar. Dengan pandangan memelas aku bersembunyi di ketiak ibu.

“Makanlah bagianmu tadi pagi. Putih sengaja menyimpannya untukmu.” kata ibu lembut memberikan jatah roti untukku pagi tadi. Dengan lahap aku memasukkannya ke dalam mulut. Biarpun sedikit rasanya lebih nikmat dari pada roti palsu ini.


#OneDayOnePost

2 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Keren Mb lisa

Sakifah Ismail mengatakan...

Hmmm

Posting Komentar