14 November 2016

Tanpa Nama bagian 3


Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google

Genta...
Satu kata yang selalu ingin aku ucapkan untukmu. Bahwa bertemu denganmu adalah anugrah yang sangat berharga yang pernah kudapatkan. Melihat senyummu, mendengar suaramu, melihatmu tertawa atas sikap konyolku atau celoteh cerewetku.

Jujur aku sungguh menyesal dengan pertengkaran kecil yang terjadi antara kita. Aku pikir kamu akan memaafkanku seperti biasa. Lalu kita damai dan bercengkerama lagi di sela-sela kesibukanmu. Tapi rupanya aku salah kali ini. Kamu sungguuh serius untuk menyudahi perjalanan kita. Padahal aku begitu mencintaimu. Aku tak pernah berpikir kalau kita akan berakhir setelah empat tahun lebih.

Kamu pernah berjanji, aku adalah impianmu yang akan kamu raih saat waktunya tiba. Dan aku begitu berharap itu terjadi, meskipun aku tahu, banyak hambatan di antara kita. Dari keluargaku dan keluargamu. Namun kita juga telah sepakat untuk saling menguatkan dan bergandeng tangan, agar kita tak lelah berjalan sendirian. Ingatkah kamu, Genta? Sesakit apapun yang terjadi antara kita, jangan pernah menyerah, tetaplah untuk bertahan!

Ternyata janjimu tak mudah kupegang ya? Seperti janjimu di tahun ini. Yang akan menelfonku setiap saat. Oh, tidak! Kamu selalu lupa menelfonku. Akulah yang selalu memulai, dan kamu menjawab maaf atas semua janji yang terlupa.

Genta...aku hanya ingin kamu tahu. Inginku hanya sederhana, aku selalu menjadi prioritasmu. Tempatmu bersandar ketika kamu lelah seharian dengan penatnya pekerjaanmu. Ingat, jarak yang terbentang di antara kita harus dipendekkan dengan komunikasi yang kita lakukan. Hingga kamu bisa penuhi janjimu untuk membawaku ada di sampingmu selalu.

Kita sudah usai. Aku menangis, Genta. Aku masih belum bisa berdamai dengan semua yang kamu katakan. Keinginanku yang sepele rupanya sangat berat untuk kamu wujudkan. Aku bukan lagi prioritasmu seperti tahun-tahun sebelumnya. Kamu selalu menyempatkan untuk menelfonku sekedar hanya mengingatkan jam makanku. Aku sungguh sedih.

Ketika aku ngambek, aku hanya ingin mencuri perhatianmu. Agar terlena dari kesibukanmu sesaat saja. Nyatanya aku tak berhasil di tahun ini. Menahanmu untuk tetap ada bersamaku.

Sekali lagi maafkan aku, membuatmu marah. Suratku ini bukan untuk membuatmu merubah keputusan. Aku sudah pasrah. Mungkin ini surat terakhir yang kamu lihat dariku. Bawel terakhirku. Makasih ya untuk hati yang pernah ada bersamaku.

Bersambung...

#OneDayOnePost


3 komentar:

Ciani L mengatakan...

Hikssss...

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

sedih..hiks hiks

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Derrrrr ... wis nyerah aku, ra wani nerusno Lis

Posting Komentar