28 Desember 2016

Titip Rindu

Hasil gambar untuk gambar rembulan
https://romantismesenja.files.wordpress.com/2014/06/guys-fs.jpg

Aku duduk di serambi malam
Menantimu untuk menyapa
Mengajakmu untuk bercanda
Mendentingkan harpa kerinduan

27 Desember 2016

Suara dari Balik Kertas


Hasil gambar untuk gambar kertas dan pensil
http://upload.wikimedia.org/


“Huf...!” terdengar suara bernada kesal. Setengah bersungut dan menggerutu.

“Mengapa kau nampak begitu kesal?” tanya suara yang lain.

Suara pertama hanya menggeleng memberikan jawaban. Suara kompak bernada sama seolah menyatu seperti sebuah paduan suara. Ooo.... kemudian terdiam. Membisu dan hening.

Kancil dan Kuda

Hasil gambar untuk gambar kancil dan kuda
http://4.bp.blogspot.com/
 Di hutan yang sangat luas ini tak ada binatang yang tidak mengenal Kancil. Binatang kecil bahkan cenderung kerdil. Namun namanya begitu membahana seantero hutan. Kecerdikan Kancil untuk meloloskan diri dari marabahaya membuatnya terkenal.

“Kancil, aku adalah Kuda dari padang rumput di sebelah hutan ini. Aku mendengar kekuatanmu yang mampu mengalahkan semua binatang buas di hutan ini. Untuk itu aku ingin bertanya kepadamu. Hal hebat apa yang membuatmu berhasil menjadi terkenal?” tanya kuda.

17 Desember 2016

Pergi dari Hatiku

Hasil gambar untuk gambar patah hati
image by google

Suara di seberang telefon tidak kuhiraukan lagi. Mataku nanar menatap pemandangan yang jelas terlihat dari balik tiang tempatku menerima panggilan. Tangan mungilnya ada dalam genggaman pria lain. Jari-jari lentiknya diremas lembut, berbanding terbalik dengan perasaanku demi melihatnya. Napasku memburu, bergegas menghampiri tempat duduk yang sudah kami pesan berempat.

15 Desember 2016

Namaku Jacob

Hasil gambar untuk gambar burung kakak tua putih
image by google

Kepalaku celingukan ke kanan dan kiri. Memandang sekitar yang masih terasa asing. Pohon-pohon yang menjulang hingga ke awan. Hijaunya daun seperti mewarnai sekelilingku. Dahan yang besar, melebihi besarnya rangkulan orang dewasa. Satu lagi yang membuatku sedikit kaget. Aku diminta untuk bisa menggerakkan satu pasang bagian tubuhku yang sudah lama tidak berfungsi. Kaku dan rasanya aneh.

14 Desember 2016

Sebentuk Cinta

image by pixabay.com



"Pulsa itu darimu?"

"Iya."

"Kenapa masih kirim pulsa kepadaku? Padahal aku sudah tak pernah berkabar. Semua medsosmu pun sudah kublokir."

Senyum termanis yang kupunya terukir di wajah. "Karena aku ingin kamu tetap bisa menghubungi temanmu, keluargamu."

13 Desember 2016

Enyahlah!





Kenapa aku masih mengingatmu? Padahal aku yakin, kamu sudah lulus melupakanku. Lulus dengan gelar cumlaude. Selamat ya....

11 Desember 2016

Salah Mantera


Aku kembali mengendap, mencuri waktu hanya untuk memuaskan mataku. Makhluk imut nan manis dengan senyum terindah yang mampu menyihirku, mengalihkan duniaku hingga berjam-jam. Pelan dan tak ingin membuat sosok di sebelahku terjaga. Lihatlah, pelukannya hampir selalu membuatku asma mendadak. Dengan tubuh gendutnya senantiasa memelukku agar tak bergeser seinci pun. 

Berhasil... hore! Aku menyeringai bahagia bukan main. Seperti menang undian di mana yang ikut hanya aku. Kujulurkan lidahku untuk merayakan keberhasilanku. Tidak berani melompat atau melakukan salto tujuh kali. Bisa bangun dan matilah aku. 

09 Desember 2016

Cermin

Hasil gambar untuk gambar patah hati
image by terupdateonline.com



Cerminku retak, Tuan...
Seperti sayatan pada sebuah benda
Menggores dalam laksana luka

Apakah Tuan akan memberiku perekat?
Agar cermin itu terlihat utuh kembali
Supaya Tuan tak perlu risih
Saat bercermin berpantas paras

Cerminku tak bisa direkatkan lagi, Tuan...
Masih nampak bekas retaknya
Mungkinkah perekat yang Tuan beri hanya KW/
Hingga tak bisa merekatkan kembali cerminku

Oh, Tuan, cerminku pecah sudah kini
Berhamburan tak pasti
Jatuh melukai hati yang bercermin
Karena cerminku hanya tinggal kecil

Cerminku tak akan utuh lagi, Tuan...
Meskipun Tuan bawakan lem super mewah
Cerminku hanya ingin senyum Tuan...
Hadir setiap waktu menyapa hatiku...

Pelangi Hatiku, 9 Desember 2016


#OneDayOnePost

05 Desember 2016

Seandainya...

Hasil gambar untuk gambar harimau
image by google
Sudah kusiapkan dengan perencanaan yang matang. Alat dan bahan juga sudah kurapikan. Segala kemungkinan dengan perhitungan yang njelimet sekalipun selesai kurancang. Tinggal bergerak menjalankan aksi. 

Aku berjalan bersisian, mengendap perlahan-lahan, agar langkah kaki berenam kami tak terdengar dari jarak dekat  sekalipun. Kupegang leher kokoh yang sudah kulatih selama berminggu-minggu. Memaksanya agar tidak mengeluarkan bunyi yang bisa saja mengacaukan semua rencanaku. 

Nada Rindu 2

Hasil gambar untuk gambar orang merindu
kemanabintang.blogspot.com


Mengapa...
Sebuah tanya menguap
Tak ada jawab yang terkuak
Hanya ada tanya makin menganga

Mengapa...
Rindu itu tak jua sirna
Bahkan makin meraja
Memeluk erat sukma
Hadirkan nada sumbang
Mengalun tanpa syair indah

Mengapa...
Kau berbohong pada siang
Agar sembunyikan terang
Ketika hatimu ikut meradang
Dengan rindu yang kudendang

Pelangi Hatiku, Senin 5 Desember 2016

#OneDayOnePost

Nada Rindu

Hasil gambar untuk gambar sebuah kerinduan
image by google


“Boleh aku merindukanmu kembali?”
“Mengapa?”
“Karena aku belum bisa melupakanmu.”
“Kalau kau masih merindukanku, kau akan semakin sulit untuk melupakanku.”
“Biarlah. Sesungguhnya aku tak pernah ingin melupakanmu.”
“Lupakanlah aku. Mengingatku hanya akan menambah luka hatimu.”

Berkata seperti itu, bayangmu mulai bergerak menjauh dariku.

“Jangan pergi dulu. Temani aku.”

Kau tidak berbalik. Hanya memandangku dengan tatapan yang masih sama seperti empat tahun silam. Mata yanng meneduhkan, beribu cinta bisa aku lihat dari balik retinamu. Dan ada sebuah ruang yang selalu mengajakku untuk tenggelam bersama ceritanya.

“Lupakan aku, maka semuanya akan kembali seperti semula.”

Aku mulai terisak tertahan. Aku tahu, kamu tak pernah suka mendengar suara isakanku.

“Aku ingin malam ini kamu ada di sampingku hingga mataku tertutup kantuk.”

Kau pun berbalik berjalan menuju tempatku. Ikut duduk memeluk kedua lutut. Memandangku sekali lagi. Wajahku semakin tirus dibandingkan wajah empat tahun lalu. Kutengadahkan wajahku sejajar denganmu. Ingin tanganku menyentuh tulang pipimu yang makin menonjol. Kulitmu sedikit lebih gelap. Tapi tetap dengan senyum yang kusuka.

“Apa yang bisa kulakukan agar malam ini kamu tidak menangis lagi?”

Tak kujawab pertanyaanmu. Tangis yang coba aku sembunyikan suaranya agar tidak terdengar oleh gendang telinganya, tak bisa lagi aku redam. Pecah dan mengguncang bahuku.

“Jangan menangis. Tangismu menghalangi langkahku.”
“Aku hanya ingin menangis malam ini saja. Jangan halangi aku,” kataku pelan. Kamu akhirnya mengangguk. Tertunduk menatap ke bawah. Enggan memelukku untuk menghentikan tangisku. Musik malam yang semakin gelap menghantarkan nyanyian pilu mengiris hati. Menawan hatiku untuk tetap berada dalam kesunyian.

“Aku harus kembali. Sudah aku turuti keinginanmu. Usah bersedih lagi. Maafkan aku tak bisa lagi di dekatmu. Namun aku selalu ada di hatimu.”

Bayangmu makin menjauh seiring tangisku yang kembali bersuara. “Aku masih merindukanmu, meskipun kamu tak pernah mengijinkan itu.”


#OneDayOnePost