05 Desember 2016

Nada Rindu

Hasil gambar untuk gambar sebuah kerinduan
image by google


“Boleh aku merindukanmu kembali?”
“Mengapa?”
“Karena aku belum bisa melupakanmu.”
“Kalau kau masih merindukanku, kau akan semakin sulit untuk melupakanku.”
“Biarlah. Sesungguhnya aku tak pernah ingin melupakanmu.”
“Lupakanlah aku. Mengingatku hanya akan menambah luka hatimu.”

Berkata seperti itu, bayangmu mulai bergerak menjauh dariku.

“Jangan pergi dulu. Temani aku.”

Kau tidak berbalik. Hanya memandangku dengan tatapan yang masih sama seperti empat tahun silam. Mata yanng meneduhkan, beribu cinta bisa aku lihat dari balik retinamu. Dan ada sebuah ruang yang selalu mengajakku untuk tenggelam bersama ceritanya.

“Lupakan aku, maka semuanya akan kembali seperti semula.”

Aku mulai terisak tertahan. Aku tahu, kamu tak pernah suka mendengar suara isakanku.

“Aku ingin malam ini kamu ada di sampingku hingga mataku tertutup kantuk.”

Kau pun berbalik berjalan menuju tempatku. Ikut duduk memeluk kedua lutut. Memandangku sekali lagi. Wajahku semakin tirus dibandingkan wajah empat tahun lalu. Kutengadahkan wajahku sejajar denganmu. Ingin tanganku menyentuh tulang pipimu yang makin menonjol. Kulitmu sedikit lebih gelap. Tapi tetap dengan senyum yang kusuka.

“Apa yang bisa kulakukan agar malam ini kamu tidak menangis lagi?”

Tak kujawab pertanyaanmu. Tangis yang coba aku sembunyikan suaranya agar tidak terdengar oleh gendang telinganya, tak bisa lagi aku redam. Pecah dan mengguncang bahuku.

“Jangan menangis. Tangismu menghalangi langkahku.”
“Aku hanya ingin menangis malam ini saja. Jangan halangi aku,” kataku pelan. Kamu akhirnya mengangguk. Tertunduk menatap ke bawah. Enggan memelukku untuk menghentikan tangisku. Musik malam yang semakin gelap menghantarkan nyanyian pilu mengiris hati. Menawan hatiku untuk tetap berada dalam kesunyian.

“Aku harus kembali. Sudah aku turuti keinginanmu. Usah bersedih lagi. Maafkan aku tak bisa lagi di dekatmu. Namun aku selalu ada di hatimu.”

Bayangmu makin menjauh seiring tangisku yang kembali bersuara. “Aku masih merindukanmu, meskipun kamu tak pernah mengijinkan itu.”


#OneDayOnePost

5 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Pergilah, maafkan jika masih meridukanmu

Irma Sari mengatakan...

Tanpa kau ucapkan pun dirimu selalu di hatiku,
Dan tak lengkap rasanya tanpa keberadaanmu di sampingku..

#apasih aku hehe..

Sukaa bunda lisa

Ciani L mengatakan...

Semoga waktu menyembuhkan rindumu... Hikss

Raida mengatakan...

Tisuuuu..hikss..

Na mengatakan...

Sedih. 😭

Posting Komentar