27 Desember 2016

Suara dari Balik Kertas


Hasil gambar untuk gambar kertas dan pensil
http://upload.wikimedia.org/


“Huf...!” terdengar suara bernada kesal. Setengah bersungut dan menggerutu.

“Mengapa kau nampak begitu kesal?” tanya suara yang lain.

Suara pertama hanya menggeleng memberikan jawaban. Suara kompak bernada sama seolah menyatu seperti sebuah paduan suara. Ooo.... kemudian terdiam. Membisu dan hening.


Suara pertama yang bersungut kesal nampak menengadahkan wajahnya. Menatap dengan pandangan kosong kepada tiga sahabatnya yang lain. Mereka kini ada di atas sebuah kertas putih.

“Apa arti tatapan matamu?” tanya suara ke dua.

Gelengan kepala dari suara pertama menjawab. “Entahlah!”

“Aku tahu apa yanng membuatmu kesal.” Seru suara ketiga dan keempat hampir berbarengan.

Kedua suara mendongak. Menanti jawaban keduanya.

Suara keempat tertawa sebelum menjawab. “Kamu kesal karena kamu hanya sebagai soal yang hanya memiliki jawaban pilihan. Ketika salah memilih, maka kamu kalah. Tak ada pilihan lain.”

Suara pertama mengangguk. Mengiyakan jawabannya. Jawaban ini juga membuat suara kedua terdiam. “Aku jjuga dong. Aku hanya sebuah pertanyaan yang jawabannya menarik garis, menjodohkan dengan jawaban benar. Salah memilih, ya selesai.”

Suara satu dan dua mengangguk. Mereka hanya soal yang tak memilliki jawaban alternatif.

“Tapi kalian harusnya bangga. Kalian adalah soal yang obyektif. Tak akan ada unsur kasihan dalam membenarkan atau menyalahkan. Bebas pastinya.” Kata suara ke tiga menghibur.

“Betul itu. Coba aku. Aku soal yang dibuat dengan jawaban yang panjang sekali. Memberikan nilai kepada jawabanku mengandung unsur subyektifitas. Ada perasaan yang ikut bermain.” Tambah suara ke empat.

“Kita semua punya karakter masing-masing. Tidak perlu membandingkan mana yang terbaik. Ketika kita digunakan dalam soal, berarti ada baik dan buruk yang kita berikan. Semuanya memiliki standar yang jelas.” Suara ke empat menambahkan disambut anggukan setuju.


#OneDayOnePost

0 komentar:

Posting Komentar