26 Januari 2017

Cerita yang Berserak

Hasil gambar untuk gambar sebuah harapan
febriyanikristianti.blogspot.com




“Ceritalah, agar kamu lega!” katamu dengan lembut, memberikan sedikit rongga dalam dadaku. Napasku yang sudah memburu menahan kekesalan, berangsur menjadi normal. Bibirku langsung membentuk sebaris lengkungan indah, itulah kamu, begitu mudah menaklukkan emosi yang terkadang datang dengan tiba-tiba.


Tanganmu menggenggam lembut tanganku, mengusap jemariku, “Ayo, ceritalah!”

Kutarik napasku sebelum memulai merangkai kata.

“Aku tuh merasa dia membayangi langkahku. Apa yang aku lakukan, dia juga ingin bisa melakukannya. Padahal ketika dia mengikuti apa pun, aku tak pernah ingin seperti dia. Aku masih mengukur sesuai nggak dengan kemampuanku. Bukan memaksakan.” Aku berhenti sejenak, menunggu reaksimu. Kamu masih menatap wajahku tanpa kedip, menanti lanjutan ceritaku.

“Aku tahu dia memang bisa segalanya, dia punya ambisi dan satu hal, kemauan serta kerja keras. Pasti dia akan belajar dengan cepat, karena dia bukan wanita yang bodoh. Dia memang lebih pandai dariku, dan aku mengakuinya.” Kututup ceritaku dengan menutup wajahku. Kamu membiarkan tanganku lepas dari genggaman.

Tangan kananmu merengkuh kepalaku, membenamkan dalam dadamu yang bidang. Aku memang tidak menangis, hanya semua perasaan kesal berkolaborasi dengan apik saat ini. Dan kamu paling tahu apa yang harus dilakukan.

“Bukankah kalian sahabat yang baik? Bahkan bisa menjadi tim yang hebat kan?”

Aku mengangguk, kepalaku tertahan oleh tanganmu yang masih merengkuhku.

“Kamu hanya takut tersaingi ya?” Tebakmu tepat, membuatku tersipu.

“Iya, aku tak ingin dia sepertiku. Bukankah ada banyak hal yang bisa dia lakukan yang berbeda denganku? Tidak harus sama kan?” Aku masih mencoba menjelaskan.

Kamu tertawa, bukan meledekku, tepatnya kamu memang tahu sifat asliku. Dan aku meninju lenganmu dengan pelan. Kamu menangkap tanganku, kembali menggenggamnya dengan hangat.

“Semua orang pasti memilliki iri, tak mau dikalahkan, nggak ingin punya saingan. Aku paham itu. Tapi ingatlah, meskipun kalian melakukan hal yang sama, hasilnya pasti akan berbeda. Fokuslah dengan usahamu, bukan usaha orang lain. Agar hasilnya tidak menghianati proses. Yakinlah, bahwa kamu akan berbeda dengannya. Usah pedulikan jika memang benar ia menjadi bayangmu. Yang penting, kamu tetap fokus pada tujuanmu,” jelasmu dengan suara lembut, tanpa menggurui atau menceramahiku. Aku senang dengan ucapanmu. Melegakan dan memberiku energi baru.

Mataku berbinar menatapmu. Kubalas tatapan matanya yang selalu penuh cinta kepadaku, “Makasih ya, selalu mengerti apa yang kurasakan. Makasih juga dengan nasehatnya. Aku lega sekarang.”

Senyumku dan senyummu membentuk satu kata penuh arti.


#OneDayOnePost

1 komentar:

Inet Bean mengatakan...

Jadi bapeer....

Posting Komentar