04 Februari 2017

Mio Kesayangan



Hujan pagi ini benar-benar membuat dingin udara di sekitar. Memeluk si putih Daring yang pules, rasanya lebih nyaman. Namun, tidak bisa, hari ini belum libur. Masih satu hari untuk menunaikan kewajiban.


Suami sudah lebih dahulu berangkat untuk menawarkan dagangannya. Saya masih menyiapkan kebutuhan si kecil dan kakak-kakaknya. Si Hitam baru saja keluar, saya melihat suami mendorong mio. Wah, saya mulai cemas. Usia Mio yang sudah renta, membuat saya berpikir yang tidak-tidak. Mio pasti bikin ulah.

Benar saja, setelah dekat, nampak stang Mio seperti mau putus. Kalau manusia itu leher dan kepala sudah nyaris terpisah. Akhirnya saya menawarkan agar suami melanjutkan jualan dengan menggunakan vario, dengan konsekuensi saya meliburkan diri.

Mengingat Mio, saya berhutang dengannya. Mio ikut jungkir balik bersama saya, berjuang bareng saya. Menemani kuliah saya ke Parung, mencari lokasi penempatan tugas saya sebagai CPNS, hingga berkali-kali terjungkal di jalanan yang belum bersahabat. Mio banyak jasa. (Di sini saya tiba-tiba terhura ...)

September 2007 saya merengek ke suami untuk mengambil motor kredit, dengan alasan sepeda mini saya sudah sering ngadat kalau saya bawa pergi mengajar les private. Sering rantainya tiba-tiba putus, padahal saya pulangnya di atas jam tujuh malam dan melewati jalanan yang sepi. Pernah juga sepeda mini itu pedalnya patah, sehingga tidak bisa digowes. Maklum, belinya waktu 2004 bukan sepeda baru, yanng penting bisa menemani saya berangkat mengajar dan masih bisa digunakan dengan baik.

Mio datang sebagai penghuni baru. Berhubung saya belum bisa menggunakan motor matic,saya harus belajar terlebih dahulu. Nggak butuh waktu lama, saya bisa membawanya untuk pergi ke sekolah. Tapi entah kenapa, jika tidak ada jam ngajar les private, saya lebih suka bersepeda mini ke sekolah. Mio lebih banyak diam di rumah kontrakan, karena suami juga memilih naik sepeda ke tempat kerjanya.

Tahun 2008, saya sudah mendapat peringatan dari yayasan untuk segera menyelesaikan pendidikan ke S1. Jika tidak, saya diminta yayasan untuk mengundurkan diri. Akhirnya saya mendaftar kuliah S1 di Universitas Terbuka. Kebetulan pokjar Citeureup tidak membuka kelas, dioperlah saya ke pokjar Parung, yang jaraknya 33 kilometer jauhnya dari tempat tinggal saya.

Ada rasa was-was dan takut, naik apa saya ke sana untuk kuliah Sabtu dan Minggu. Minta diantar suami tidak mungkin. Karena beliau juga kerja di hari Sabtu nya. Dengan modal nekat saya bawa mio sendiri untuk kuliah di Sabtu dan Minggu. Meskipun kecepatan belum berani di atas 40, saya sukses menjaga mio untuk tidak lecet.

Awal Mio lecet ketika 2010 saya ditugaskan menjadi CPNS di wilayah Sukamakmur, 39 kilometer jauhnya dengan kondisi jalan bekelok, berbatu, dan licin saat musim hujan. Satu minggu setelah saya bertugas, saya jatuh di turunan dengan Mio. Setelah itu Mio sering menemani jatuh bangunnya saya. Makasih ya Mio...

Kini hampir sepuluh tahun Mio bersama kami. Banyak kenangan dengannya. Pada saat saya berganti ke motor lainnya, saya katakan ke Mio untuk istirahat melakukan perjalanan jauh. Menemani saya yang setiap harinya hampir menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer. Karena sepulang sekolah saya langsunng ngajar les private sampai tiga anak dan berpindah rumah.


Suami selalu bilang, mio membawa banyak kenangan. Tidak akan beliau jual walaupun kondisinya parah. Hanya akan diperbaiki selalu. Ah, saya juga sayang Mio. Sudah seperti bagian dari keluarga. Lekas sehat kembali ya, Mio, setelah berobat ke klinik bengkel.

#OneDayOnePost

5 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Aku juga punya motor kesayangan meski pernah dipake jatuh heheh

Ciani L mengatakan...

Waaahhhh... Teman seperjuangan,bedaa ya mbak Lisa rasanyaaa...

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Oh ini ceritanya yg diajak guling guling itu

Inet Bean mengatakan...

Wah jadi teringat Mioku yang udah gak ada... hiks...

denik mengatakan...

Mio memang selalu dihati Yo Mba. Aku keliling Jawa Yo numpak Mio.

Posting Komentar