11 Februari 2017

Rindu Bapak

Hasil gambar untuk gambar sepeda kumbang
image by google



“Nduk, nggak pareng bobok lho. Ayo, melek sek!” Bapak menepuk tanganku yang mulai lemah pegangan tangannya di pinggang bapak. Aku hanya diam tak menjawab. Mataku rasanya sudah lengket sekali. Sulit diajak untuk bertahan. Padahal rumah masih jauh lagi.


“Nduk Lis, ayo, melek!” kembali bapak menepuk lembut tanganku. Bapak menghentikan laju sepeda. Memintaku untuk turun. Mataku mengerjap, menatap sekeliling yang tampak gelap. Hanya beberapa lalu lalang sepeda motor di tengah jalan yang kanan kirinya hanya terhampar sawah. Sayangnya malam ini tidak terlihat tanaman di sawah.

Aku menguap, memeluk manja pinggang bapak. “Ngantuk, pak e. Pengen bobok. Sek adoh to, Pak?” aku bertanya sambil memandang wajah bapak yang terkena sorotan lampu pengendara motor.

“Nyanyi saja ya, biar nggak ngantuk. Sek adoh lo, Nduk. Mengko sikilmu mlebu ruji maneh koyo wulan wingi nek Bapak bonceng kowe ngantuk ngene iki,” Bapak menjelaskan tanpa menjawab pertanyaankku.

Mendengar kalimat bapak yang terakhir, terpaksa membuat mataku sedikit melek. Ingat sakitnya ketika kakiku harus masuk dalam ruji sepeda ontel bapak karena ngantuk. Dan aku tak ingin mengulangnya.

“Nggeh, Pak, dicoba melek,” pelan aku menjawab. Bapak masih ragu dengan kesungguhanku untuk melek. Terlihat tangan bapak merogoh kantong celana mencari sesuatu.

“Nih, maem permen jahe, ben melek.” Bapak menyodorkan dua bungkus permen jahe yang rasanya sungguh tak kusuka. Pedas seperti cabai, menurut lidahku. Tapi tetap kuambil juga. Siapa tahu bisa mengusir kantukku.

Belum sempat kkubuka bungkus permennya, “Apa mau makan molen yanng tadi kamu beli?” tawar bapak melihat keenggananku mengunyah permen jahe.

Mataku langsung membulat gembira. Tadi di terminal lama Nganjuk bapak mampir membeli molen kesukaanku.

“Angsal emange, Pak?”

“Yo oleh to, dari pada kamu ngantuk dan kamu juga nggak mau ngemut permen jahe. Iyo to?” Mendengar jawaban bapak aku hanya tertawa. Bapak memang tahu kesukaanku.

Kuambil dua potong molen dan kumasukkan dalam mulutku. Tentu saja aku jongkok untuk memakannya. Bapak paling marah jika kami, anak-anaknya makan berdiri. Sambil duduk di atas sepeda pun, bapak tidak mengijinkan kami sambil makan. Bapak melihatku dan tersenyum. Menungguku menghabiskan dua molen agar kantukku hilang.

“Sampun, Pak. Ayo, muleh!” Ajakku kepada bapak setelah selesai menelan molen. Aku kembali duduk di atas boncengan sepeda kumbang bapak. Bapk mulai duduk di sadel sepedanya. Aku memeluk erat pinggang bapak, dan mulai menyanyi sesuai saran bapak agar kantuk itu tidak kembali datang.

NB. Kegiatan dibonceng bapak selalu menyenangkan, walaupun hanya menggunakan sepeda ontel beliau. Aku lah yang selalu diajak berkeliling kota Nganjuk, meskipun bapak tahu aku mudah ngantuk di jalan dan berkali-kali kaki kanan masuk ke dalam ruji sepeda bapak. Tapi bapak tak pernah lupa untuk mengajakku. Sepulanng membeli keperluan bapak, beliau pasti akan membelikan pisang molen di terminal lama kota Nganjuk.

#OneDayOnePost
#TantanganDeSaki
#RinduBapak

2 komentar:

ryuzaky el muwahhied mengatakan...

Bikin kangen juga 😥😥😥

Sakifah Ismail mengatakan...

Haha...aku juga suka ngantuk kalau dibonceng ayah. Tapi boleh tidur. Karena perjalanan jauh naik vespa trus dipegang erat tanganku sama ayah biar ga jatuh.
Suka mba lisaa....makaasihhh :-*
ayah bolehin aku tidur karena katanya refleks-ku lumayan bagus. Gampang bangun kl knapa2..hihi

Posting Komentar