24 Februari 2017

Senyum

Hasil gambar untuk gambar anak tersenyum
www.sigambar.com


Pernahkah Anda lupa tersenyum untuk hal yang sederhana? Yuk baca, sedikit kisah saya dengan anak saya yang ke dua tentang senyum.


Di keluarga saya sudah ada pembagian tugas untuk membantu pekerjaan saya. Si sulung yang sudah kelas 9 SMP memiliki tugas untuk melipat jemuran dan belajar menyetrika pakaiannya sendiri. Sedangkan nomor dua membantu kakaknya melipat baju miliknya sendiri. Dan ini sudah menjadi kesepakatan masing-masing. Artinya itu pilihan mereka sendiri ketika saya tawarkan pekerjaan apa yang bisa dilakukan.

Nah, sudah empat hari ini yang nomor dua, kelas dua SD, namanya Hawa, enggan melipat bajunya. Semua jemuran yang harusnya dilipat hanya ditumpuk dalam keranjang. Setiap kakaknya mengingatkan, dia bilangnya nanti setelah selesai bermain. Awalnya saya diamkan. Lama-lama kok numpuk karena sudah empat hari. Akhirnya sore kemarin saya ingatkan untuk segera melipat bajunya.

"Ayo, Kak Hawa, lipat bajunya. Sudah numpuk tuh. Kalau nanti-nanti lagi makin banyak lho," kata saya di depan laptop menyelesaikan pekerjaan.

"Nanti selesai main ya, Ma," masih menawar.

"Lipat dahulu baru boleh main,"

"Nantilah, Ma," Dengan wajah agak cemberut berusaha menolak lagi.

Akhirnya dengan tegas saya katakan, "Ayo, lipat sekarang. Sudah banyak tuh! Nanti mainnya ya,"

Dilepasnya sepatu roda yang akan dia gunakan. Menghampiri keranjang dengan muka cemberut, bibir manyun, kaki dihentakkan pertanda dia kesal sekali. Saya masih tersenyum.

Kakak Hawa mulai melipat bajunya di dekat saya. Sesekali matanya melirik saya, tapi masih dengan hati dongkol.

"Banyak, Ma, Kakak kan capek," keluhnya di tengah melipat bajunya. Saya memandang wajahnya. Masih cemberut.

"Coba kalau mengerjakannya sambil senyum, pasti enak deh melipat bajunya. Kakak melipat bajunya sambil manyun, jadi lekas capek. Senyum ya sayang," kata saya membelai rambutnya.

Awalnya enggan menarik bibir untuk membentuk senyuman. Setelah saya memintanya dua kali, dia baru tersenyum.

"Nah, lebih enak kan, jika dikerjakan dengan tersenyum. Beda nggak rasanya dengan bibir manyun seperti tadi?" selidik saya.

"Hehehe...  " hanya tawa kecilnya yang saya dengar.

"Besok-besok langsung dikerjakan ya, tidak usah menundanya hingga banyak begini. Kan Kakak sendiri yang repot. Iya kan?" kata saya. Dia mengangguk.

Alhamdulillah sambil bercerita kegiatan melipat bajunya bisa diselesaikan tanpa dia sadari.

#KabolMenulis7
#Day-10

1 komentar:

Ciani L mengatakan...

hhii.. mamahnya bijak gini...

Posting Komentar