08 Maret 2017

Ketika di Titik Terendah part 2



Mendengar penjelasan mamang, tubuhku semakin lemas. Aku terisak, mama kakak Rara sudah memelukku, mencoba menguatkan.

“Tadi saya sampe pukul 19.00, Pak. Saya letakkan motor saya di sebelah mobil. Saya tutup pagarnya seperti biasa. Motor juga saya kunci leher,” lemah saya menjelaskan. Berarti cepat sekali proses menghilangnya si merah dari saya datang dan mamang yang menyadari motor saya sudah tidak ada di tempat parkir.

“Saya antar ya, Bu, pulangnya,” tawar papanya kak Rara.

Aku menggeleng, “Saya sudah teleppon abinya untuk menjemput, Pak.”

Tadi memang sudah menghubungi suami agar menjemput. Ketika beliau bertanya kenapa harus dijemput, hanya kukatakan, jemput saja!

Aku hanya menangis pelan dan dengan cepat menyusutnya. Suami datang dua puluh menit kemudian. Orangtua murid memberikan penawaran untuk memakai motornya saja. Beliau tahu tugas mengajarku jauh. Apalagi saat kejadian, aku harus menempuh perjalanan ke sekolah sejauh 57 km karena jalan yang biasa dilewati longsor. Harus berputar lewat Jonggol.

Jika menggunakan mio biru, motor itu sudah terlalu tua diajak nanjak, sudah tak kuat menemani untuk mendaki gunung. Sedih dan bingung. Suami juga nampak bingung.

“Pakai saja motor saya, Bu. Gunakan selama yang Ibu butuhkan. Sebagai ganti motor Ibu yang hilang di rumah saya.” Kata papanya kak Rara. Suami menggeleng.

“Ini musibah, bukan salah Bapak. Kebetulan hilangnya di rumah kak Rara. Nantilah saya pikirkan, bagaimana ke sekolah untuk ummi,” jawab suami. Kedua orangtua kak Rara mengangguk. Sekali lagi beliau meminta maaf.

***
Ini adalah kejadian tiga tahun lalu. Kehilang kendaraan yang belum ada setahun menemani saya mendaki gunung ke sekolah. Sedihkah saya? Luar biasa sedih. Saya menangis semalaman. Menganggap ini adalaha teguran kepada saya karena saya kurang beramal atau teguran atas kesalahan lainnya. Pokoknya semalaman nangis sambil meminta maaf ke suami dan saudara-saudara.

Esok paginya meminta maaf kepada teman-teman semua. Tapi esok paginya saya sudah tidak menangis lagi. Saya harus kembali memikirkan dengan cara apa saya bisa menuju sekolah kembali. Berdiskusi dengan suami, akhirnya meminjam sepeda motor orangtua kak Rara selama saya belum bisa membeli yang baru. Saya tidak mau memakai selamanya, meskipun mereka sudah memberikannya kepada saya. Sebagai pengganti atas motor saya yang hilang di rumahnya. Sekali lagi ini musibah yang kebetulan terjadi di rumah kak Rara.

Sering saya berkelakar dengan rekan guru, kenapa malingnya tidak menyisakan apapun buat saya. Padahal di motor saya ada helm yang saya eman-eman, ada sekresek dagangan kerudung dan kaos kaki. Juga jas hujan, sarunng tangan, dan gelas tupper yang saya letakkan di depan. Bercanda saya terkadang juga kelewatan, kenapa malingnya nggak minta BPKB punya saya sekalian, jadi jual motornya bisa mahal. Hehehe... itu hanya untuk mengobati kesedihan saya waktu itu.

Pikiran saya mengatakan, mungkin yang meminjam motor saya tanpa pamit memang benar-benar membutuhkan untuk mencukupi kebutuhannya. Semoga bermanfaat dan jangan mengambil motor orang lagi, itu harapan saya. Pasti ada hikmah di balik semuanya.

Sekian cerita saya dan terima kasih.

#OneDayOnePost
#TantanganMakRai


1 komentar:

Raida mengatakan...

Inspiring sekaliii mbaaa... cerita ini bener2 bisa menyeretku masuk ke situasi saat itu, sedihhh banget. Terimakasih atas ceritanya, Mba Lisa .. Terimakasih sekaliii... :)

Posting Komentar