02 September 2017

Sepeda Roda Tiga


"Aku bosan, hanya didorong saja oleh tuanku," keluh Trio, sepeda roda tiga. Kepalanya menunduk, memperhatikan bagian rodanya yang masih bersih, bagian stangnya masih terbungkus plastik dengan rapi. 
"Sesekali aku juga ingin tahu rasanya dibawa berkeliling."

Sepeda lipat yang bernama Lipo menatapnya sambil tersenyum. "Nikmati saja sekarang ini. Nanti kalau Fio sudah bisa memakai sepeda, kamu akan tahu rasanya."

Trio ganti melihat ke arah Lipo. "Tapi sepertinya kamu suka, Lipo."

Lipo tertawa kecil. "Suka, sih, hanya saja tubuhku rasanya seperti remuk. Pegal semua."

Trio mengangguk seolah paham. 

"Kamu tanya saja kepada Redo, sepeda lipat warna merah!" Tunjuk Trio ke arah Redo yang sedang terparkir tidak jauh dari mereka. 

Redo, merasa namanya dipanggil segera menoleh. 

"Katakan pada Trio, bagaimana rasanya tubuh kita setelah diajak berkeliling oleh tuan kita," kata Lipo. 

Redo berjalan mendekati Trio. "Kamu terlalu kecil, Trio. Suatu hari, kamu akan paham rasanya."

Trio makin bingung. 

***

Beberapa hari ini, Trio tidak hanya dituntun. Kali ini dia benar-benar dinaiki oleh Fio. Meskipun belum sampai kakinya menggunakan pedal, Fio sudah mulai berani duduk di sadel. Dengan langkah kakinya yang mungil, Fio asyik berkeliling tak kenal waktu. 

Fio mulai mengeluh. 
"Badanku sakit semua, Lipo. Aku baru tahu, begini rasanya, ketika pemilik kita memakainya tanpa kenal waktu. Rasanya melepuh semua kulitku ketika siang hari harus berada di bawah sinar matahari."

Lipo tersenyum. "Kamu menyesal?"

"Tentu saja tidak. Aku senang karena Fio menggunakanku. Aku jadi mengenal tempat baru selain garasi ini."

"Jadi... "

"Aku akan terus menjaga Fio sampai kakinya bisa menjangkau pedalku. Kalau aku melakukannya dengan senang hati, pasti akan seru. Aku bangga menjadi sepeda, walaupun pegal semua."

Trio dan Lipo tertawa bersama. 



***

1 komentar:

suparto parto mengatakan...

Cerita ringan tapi asyik.

Posting Komentar