14 Januari 2018

Janji Nuli


Hasil gambar untuk gambar semut hitam
kompasiana.com

Nuli, seekor semut hitam tak berani mengangkat wajahnya, ketika ayah dan ibu menegur perbuatannya. Nuli telah melakukan kesalahan. Dia telah masuk ke dalam kamar Bobi. Selama ini kawanan semut hitam telah lama menempati ruangan di bawah lantai kamar Bobi. Pada saat kawanan semut bekerja mencari makanan, mereka akan meninggalkan rumahnya dan keluar dari ruangan Bobi. Nuli yang belum cukup usia, hanya bisa menunggu ayah dan ibunya. Awalnya menyenangkan, bisa bermain di sekitar rumahnya. Lama-lama dia bosan juga. Nuli keluar dari sarangnya dan melihat-lihat apa saja yang ada di luar rumahnya.

Namun, Nuli ketahuan juga oleh ayah dan ibu. Hari kedua setelah Nuli puas mengambil remahan kue, dia ditegur. Ayah pulang lebih awal dan melihat Nuli asyik menikmati kue di lantai kamar Bobi.
“Ayah sudah pernah bilang padamu, Nuli. Kamar Bobi itu sangat berbahaya,” kata Ayah.
“Bisa-bisa kamu akan berada di sana selamanya,” kata Ibu menambahkan.
“Tapi, makanan di sana banyak, Ayah,” Nuli membela diri.
“Ayah tahu, karena Bobi anak yang malas membersihkan kamarnya.”
“Kalau aku mencari makanan dari kamar Bobi saja, akan cukup untuk persediaan dua hari ke depan,” jelas Nuli.
“Apa kamu mau tertangkap oleh Bobi?” Ibu menakuti Nuli.
Nuli menggeleng pelan.
“Mulai besok, kamu nggak boleh mencari makanan di rumah Bobi lagi!” kata Ayah tegas. Nuli hanya mengangguk pasrah.
Beberapa hari Nuli hanya bermain di sekitar rumahnya saja. Berkali-kali dia mencoba mengintip kamar Bobi. Dia melihat banyak sekali remahan makanan berserakan di atas meja Bobi. Nuli hanya bisa menelan ludahnya melihat sisa makanan yang terbuang percuma saat pembantu Bobi membersihkannya. Dan Nuli masih tak berani untuk mengumpulkan makanan dari sana.
Hari ini, Nuli sengaja keluar dari rumahnya. Dia ingin mencium aroma kue dari kamar Bobi. Perutnya sudah sangat lapar. Ayah dan Ibu tidak pernah membawakan gula-gula seperti dulu. Beberapa hari ini hanya sisa kue yang tidak manis rasanya.
“Nuli! Ingat pesan ayahmu!” panggil Limu sahabatnya ketika melihat Nuli siap melangkahkan kakinya keluar dari sarangnya.
“Sst! Jangan bilang ke Ayahku, ya,” pinta Nuli.
Limu hanya menggelengkan kepalanya. “Berbahaya, Nuli!”
“Tenang saja! Aku akan membawakan gula-gula manis untukmu!”
Dengan mengendap-endap Nuli menghampiri kaki meja belajar Bobi. 
Satu remahan kecil kue dengan balutan gula dimakan oleh Nuli. Dia tak ingin menyimpannya di rumah. Takut ayah akan menanyakannya. Tidak hanya remahan kue, ada juga sisa permen yang tergeletak di bawah. Nuli sangat senang sekali. Tak lupa dia mengangkat satu remahan kecil untuk Limu.
“Kamu lihat, kan? Aku tidak tertangkap. Sesekali kamu bisa ikut, Limu,” kata Nuli dengan bangganya.
“Kalau ada Bobi bagaimana?” tanya Limu khawatir.
“Bobi tidak pernah masuk kamarnya ketika siang hari. Paling hanya pembantunya yang sesekali masuk kamar dan membesihkannya. Kita bisa bersembunyi jika salah satu dari mereka datang,” jelas Nuli.
Beberapa hari ini Nuli memang mengamati kehadiran pembantu Bobi atau Bobi sendiri saat siang hari. Hampir jarang keduanya berada dalam kamar.
Seperti siang ini, Nuli mengajak Limu ke kamar Bobi. Mereka hanya melihat pembantu yang sedang menyapu lantai kamar Bobi. Belum selesai menyapu, Bobi sudah memanggilnya hingga dibiarkan saja sisa makanan masih berantakan. Nuli mendengar percakapan mereka.
“Mas Bobi, kalau habis makan, tolong bungkus makanannya dibuang ya. Lihat tuh, lantainya kotor sekali. Nanti bisa mengundang semut datang,” kata pembantunya Bobi.
“Ya, tinggal Bibi bersihkan saja. Lagian semut juga nggak akan membawa sisa makanan semuanya.”
“Nah, kamu dengar kan, Limu. Ayo, kita segera ambil makanan yang kita sukai!” ajak Nuli. Bergegas Nuli dan Limu mengambil makanan dan membawanya ke sarang.
Lama-kelamaan Nuli tidak hanya mengajak Limu, tapi dia juga mengajak temannya yang lain untuk mengambil makanan dari kamar Bobi. Selama ini tindakan Nuli dan teman-temannya aman. Bibi dan Bobi tidak menangkapnya. Ayah dan Ibu Nuli juga tidak tahu. Nuli merasa senang sekali. Dia lebih kenyang dengan makanan yang berasal dari kamar Bobi dibandingkan makanan yang dibawa oleh Ayah dan Ibu.
Namun, rupanya tidak dengan hari ini. Nuli terjebak di kamar Bobi dan tidak bisa keluar. Ketika hendak turun dari atas meja, Nuli mencium aroma serbuk kayu manis yang disebarkan di sekeliling kaki meja. Akhirnya Nuli merasakan pusing dan tidak bisa turun. Teman-temannya sudah terlebih dahulu keluar dari kamar Bobi.
“Tolong aku,” pelan Nuli meminta tolong. Lama tidak ada yang menolong Nuli. Nuli mulai menangis. Dia takut sekali.
“Ayah,” panggil Nuli mulai terisak. Kepala Nuli makin pusing dengan aroma kayu manis. Nuli tak sadarkan diri.
Saat terbangun, Nuli melihat sekeliling. Ada Ayah dan Ibu juga teman-temannya tersenyum.
“Kamu sudah sadar, Nuli? Syukurlah,” kata Ibu.
“Apa yang terjadi?” tanya Nuli bingung.
“Kamu pingsan di atas meja Bobi. Kami mencarimu ke mana-mana. Limu yang memberitahu Ayah kalau kamu belum pulang dari kamar Bobi. Makanya Ayah menyusulmu lewat lubang lainnya. Dan menggendongmu pulang,” jelas Ibu.
“Maafkan Nuli, Ibu. Maafkan Nuli, Ayah,” sesal Nuli meminta maaf.
Ayah dan Ibu mengangguk. “Yang penting tidak diulangi lagi, ya!”
Kali ini Nuli berjanji dan akan menepatinya.

16 komentar:

Rina Adriana mengatakan...

Saya suka pesan dalam ceritanya, mba.

denik mengatakan...

Wah, Mbaaa...makin lancar jaya nulis cernaknya. Mengalir deras seperti aliran sungai. Mantap Mba.

indiRa mengatakan...

Waaah..bisa untuk dongeng anakku ntar malam mbak ElLisa ����

Ratna Hadi mengatakan...

Wah, jadi terinspirasi juga nulis cerpen di blog.

lisa lestari mengatakan...

Iya mbak na.

lisa lestari mengatakan...

Padahal itu contoh cernak yang salah banget lho mbak

lisa lestari mengatakan...

Monggo mbak. Ada lagi yang lainnya juga di blog ini

lisa lestari mengatakan...

Lha, blogku malah banyakan fiksi isinya mbak.

Marda Wiah mengatakan...

Ceritanya keren. Pingin juga nulis cerita anak, tetapi harus belajar banyak dulu ni di DUNIALISA hehehe

Dedeh Sri Ulfah mengatakan...

Bagus, mba Lisa. Mengalir ceritanya...

lisa lestari mengatakan...

Ayo, mbak, bikin, buat dongeng ke anak-anak

lisa lestari mengatakan...

Makasih mbak

Damar Aisyah mengatakan...

Mbak Lisa emang mastah bener, keren banget ceritanya.

Nita Oktifa mengatakan...

Bagus banget. Nanti diceritain ah ma bocil. Makasih ya Mbak

lisa lestari mengatakan...

Duh mbak, itu contoh cernak yang salah pas saya buat

lisa lestari mengatakan...

Monggo mbak

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging