07 Maret 2018

Waspada Jika Salah Pilih!

Hasil gambar untuk gambar batik celup ikat
dianfitrah11.blogspot.com


Sebagai seorang guru SD yang selalu kebagian kelas enam, rasanya ingin sekali mewujudkan sebuah mimpi. Wah, mimpi apakah itu? Meluluskan anak kelas enam dengan nilai memuaskan? Sudah pasti itu! Lalu, mimpi apalagi?


Di mata pelajaran Seni Budaya dan Kreasi (SBK) ada membuat batik sederhana. Meskipun batik yang dibuat adalah batik celup ikat, tapi ini sudah cukup menguji nyali telaten buat anak-anak. Kenapa bisa begitu? Bisa dong! Yuk, simak mulai dari persiapan hingga selesai pembuatan.

Tahapan membuat batik celup ikat adalah:
  .    A. Persiapan
Alat dan Bahan: kain polos berwarna putih ( saya menggunakan kain mori putih, tipis dan cenderung mudah digunakan), pewarna textile (saya menggunakan wantex), ember, tiga butir kelereng, karet gelang, dan air panas.

Ada beberapa poin yang tidak sesuai dengan petunjuk yang ada di buku. Namun, saya ubah untuk menyesuaikan dengan keadaan.Yaitu, yang harusnya menyiapkan kompor dan panci untuk merebus air bersama kainnya pada saat proses pewarnaan, saya memilih menggunakan air panas yang saya ambil dari dispenser. Jadi, proses pewarnaan batik celup ikat hanya saya rendam saja nantinya. Lebih praktis ya, hehehe....

B.     B. Pembuatan
Masing-masing siswa saya berikan selembar kain putih dengan panjang hanya 20 centimeter setiap sisinya. Dilanjutkan dengan mengikat kelereng ke bagian kain menggunakan karet gelang. Model ikatan saya serahkan kepada anak-anak. Saya bebaskan agar mereka tahu bagaimana model yang terbentuk jika  model kelereng mengikatnya berbeda.
Sementara anak-anak mengikat kelereng, saya menyiapkan air panas dalam ember yang saya ambil dari air dispenser yang ada di kantor.
Secara bergantian siswa memasukkan ikatan kainnya ke dalam ember yang telah saya masukkan pewarna textile.
Rendam, tunggu beberapa saat kurang lebih 30 menit. Setelah itu rendaman kain diangkat dan siswa mengeringkan kain dengan cara dijemur atau hanya diangin-anginkan saja. Akhirnya ... jreng-jreng, hasilnya akan cantik sesuai masing-masing ikatan.

     C. Akhir
Proses akhir hanya pada bagian hasil, yaitu menunggu kain yang telah direndam wantex menjadi kering dan dibuka ikatannya. Bagi siswa yang mengikatnya kurang kuat, maka hasil batik celup ikatnya tidak akan secantik jika mengikatnya dengan kuat. Yeayy ... berhasil!

Nah, membicarakan tentang batik sederhana seperti batik celup ikat, saya selalu membayangkan anak-anak di kelas juga mampu membuat batik seperti yang dibuat oleh pembatik-pembatik di Indonesia. Saya bermimpi bisa membawa anak-anak untuk melihat langsung proses pembuatan batik, bagaimana menggoreskan canting menjadi gambar yang indah pada selembar kain, hingga memberikan warna menjadi kain batik seperti yang mereka lihat sekarang ini. Agar anak memiliki pengalaman langsung serta mengasah kreatifitas yang mereka miliki.

Sebenarnya, bagaimana sih awal mula batik di Indonesia?

Selesai membuat batik celup ikat, ada yang menanyakan seperti itu. Beberapa sumber mengatakan bahwa batik di Indonesia sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dan berkembang hingga zaman kerajaan berikutnya. Awalnya batik hanya dikerjakan oleh orang keraton saja. Pada masa itu, batik dipakai oleh para raja dan keluarganya serta pengikut raja. Kemudian semakin banyaknya pengikut raja yang keluar dari istana, maka kesenian batik mulai berkembang di luar lingkungan raja.

Batik pun mulai dibuat oleh rakyat biasa dan menjadi pekerjaan kaum wanita. Kain yang digunakan adalah kain yang dihasilkan dari hasil tenunnya sendiri. Pewarna yang digunakan juga masih menggunakan pewarna alami.

Lalu, bagaimana dengan batik zaman now?

Masih ingat dengan pepatah Jawa yang mengatakan bahwa “Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono”. Saya suka sekali dengan pepatah ini, yang artinya harga diri kita itu ditentukan dari ucapan. Serta penilaian orang lain terhadap kita ditentukan dari pakaian yang dikenakan. Ah, masa sih?

Sekarang analoginya begini. Seorang pejabat eksekutif muda pasti akan memakai pakaian yang pantas dikenakan oleh seorang yang layak disebut eksekutif muda. Nggak mungkin kan dia akan berpakaian ala-ala pengemis atau pegawai kantor biasa. Atau saya yang seorang tenaga pedidik, nggak mungkin banget ketika mengajar di depan anak-anak saya memakai pakaian yang biasa digunakan saat santai di rumah. Nggak banget deh!

Saya sih lebih suka memakai pakaian batik jika hari tersebut tidak ada kewajiban untuk menggunakan seragam resmi yang telah ditentukan oleh instansi. Misalkan, di hari Senin sampai Rabu seragam saya sudah diatur oleh instansi. Tinggal hari Kamis hingga Sabtu. Hari-hari ini lah biasanya saya memilih batik menjadi pakaian resmi untuk mengajar di kelas. Pernahkah mengalami kebingungan ketika memilih batik yang akan saya kenakan?

Pernah sih, biasa ya, pakaian di dalam lemari sudah banyak, tapi pada saat akan mengambil salah satunya pasti akan berdiri lama di depan lemari. Mau pilih yang mana ya? Hahaha ... balada wanita nih.

Hmm ... padahal zaman sudah now gitu loh, kenapa harus bingung ketika dihadapkan pada memilih jenis pakaian yang akan digunakan? Nggak seberat kisah Dilan kok! Tidak berat juga kok, jika mau menengok ke "Jual Beli Online" untuk memberikan gaya inspirasi saat berbusana. Tidak hanya tersaji dengan pilihan pakaian jenis formal. Ada berbagai kebutuhan yang disediakan untuk memenuhi gaya hidup kita. Dengan pelayanan yang cepat dan terpercaya.

Pernah mendengar bahwa warna pada kain batik yang dikenakan mencerminkan kepribadian pemakainya? 

Batik yang pada umumnya berwarna coklat ternyata dipercaya untuk menggambarkan kesederhanaan bagi pemakainya. Contohnya pada motif parang dan semen. Bagaimana dengan warna batik lainnya? Batik berwarna putih yang juga sering mendominasi warna pada batik tradisional jika dipakai akan memberikan sebagai pribadi yang memiliki ketentaraman hati, kerendahan hati, dan kebenaran. Batik berwarna putih ini lebih ke motif batik Sidoasih.

Warna hitam atau biru tua pada motif batik, mengandung makna keberanian dan kewibawaaan bagi pemakainya. Sedangkan warna dasar merah yang banyak kita jumpai pada motif batik kekinian, memiliki arti keberanian.



Bagaimana dengan saya pribadi? 
Saya sih orangnya tidak terlalu fokus pada satu corak pakaian batik. Misalkan, saya hanya fanatik dengan motif batik Mega Mendung, atau motif Parang. Atau juga saya yang penggemar berat warna biru, maka kolpri batik saya harus selalu bernuansa biru semua. Duh, enggak deh! Bisa sakit mata nanti anak-anak di kelas.

Motif batik apa pun saya suka. Yang pasti, pilihan pertama saya jatuh pada jenis kainnya. Bahannya harus adem agar tidak kegerahan ketika saya melakukan aktivitas bersama anak-anak di kelas. Untuk warna, pilihan tetap jatuh pada warna yang kalem. Biar mata anak nggak silau lihat warna ngejreng dari pakaian saya.
Batik dengan segala filosofi warna, bagi saya tetap menjadi kebanggaan pribadi. apalagi didukung dengan banyaknya motif yang ada "Model Baju Batik". Motif batik dan pilihan warna dengan desain yang bermacam-macam, rasanya makin memudahkan saya untuk mempercantik penampilan dan menambah tingkat kepedean saya ketika di depan kelas. Bolehlah saya sesekali memilih menjadi pribadi yang berani dengan memilih warna merah pada motif batik. Atau sesekali tampil membumi dengan warna coklat. Semuanya menjadi mudah dan menyenangkan.

Setelah tahu kalau warna pada corak batik ada hubungannya dengan kepribadian kita, apakah masih berlama-lama mematut di depan lemari menentukan pilihan baju batik?  

13 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Saya juga suka batik
Kesannya selalu lembut dan menentramkan

Septarini mengatakan...

Saya juga suka batik mbak, kesannya lebih berwibawa begitu. Misal bingung pilih baju, pakai batik lebih pas, karena misal ternyata acaranya formal, kita juga tidal saltum. Misal acara semi formalpun, tidak apa-apa.
Semoga mimpi mbak dapat terwujud...

Dian Restu Agustina mengatakan...

Mbak, aku suka batik..karena tak lekang oleh jaman..modelnya kekinian, mau formal maupun casual ada semua!

Lisa lestari mengatakan...

Betul mbak...

lisa lestari mengatakan...

Aamiin. Terima kasih mbak

lisa lestari mengatakan...

Betuuul mbak dian

Srie Ningsih Ali mengatakan...

Waah...90% baju saya batik dr seluruh indonesia. Bahkan saya punya batik dr Papua...jd klo dinas suka dikasih, kadang beli....hehehe

Primastuti Satrianto mengatakan...

Aku suka pakai batik, karena adem dan miyayeni di acara formal. Bahkan di acara non formal pun, batik bisa membawa diri.

Nucky Prayanta Natalius mengatakan...

wah saya juga suka sekali batik tapi batiknya yang cerah saja agar nampak serasi dengan wajah hehe

Annisa Prasetyo mengatakan...

wujud cinta Indonesia yang paling sederhana adalah memakai batik..😍

maschun mengatakan...

wah kalau batik sich Indonesia banget, bahakn orang luar negeri aja suka batik indonesia, masa kita yang punya sendiri ngak cinta, malu dong

cendekia channel1 mengatakan...

saya suka kini ada pelajaran SBK, jd anak tdk melulu dijejali eksakta, siapa tahu mungkin minatnya di seni dan bakatnya kian terasah ya kak

Amanda Ratih mengatakan...

Mbak postingan ini coba dilengkapi tutorial foto cara membuatnya, saya masih meraba2 nih bagaimana cara bikin batik moderen yg tinggal celup :D

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging