17 Agustus 2018

100 Gambar untuk Bunda


"Kok makanannya tidak dimakan?" tanya Ayah melihat Nesya hanya mengaduk-aduk sarapannya.



"Ayo, dimakan! Nanti kamu terlambat," kata Ayah lagi.

"Aku makannya nunggu Bunda pulang," jawab Nesya.

"Bunda masih di rumah sakit, Sayang. Nanti siang sepulang sekolah Ayah antar kamu ke tempat Bunda."

"Nesya kangen Bunda," kata Nesya dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah juga. Kita doakan Bunda ya, agar bisa pulang secepatnya ke rumah," jawab Ayah sambil mengelis rambut Nesya.

"Sekarang habiskan sarapannya, lalu Nesya berangkat ke sekolah."

Nesya mengaggukkan kepalanya lemah. Dengan malas-malasan ia makan nasi goreng buatan Ayah. Rasa nasi goreng buatan Bunda lebih enak dari nasi goreng yang dimakannya sekarang. Namun, Nesya ingat janji Ayah. Sepulang sekolah Ayah akan mengantarkan Nesya bertemu Bunda.

*

"Bunda, lekas sehat ya. Hari ini aku gambar Bunda yang sedang menyiram bunga. Sehat ya, Bun," kata Nesya sesampainya di rumah sakit tempat Bundanya dirawat.

"Bunda, bangun ya, jangan bobok terus. Aku ingin main sama Bunda lagi. Aku nggak mau main sepeda lagi. Kita bikin gambar aja yang banyak, Bun." Nesya masih saja berbicara dengan Bunda sambil memeluk tubuh Bunda yang tertutup selimut.

"Kapan Bunda akan bangun, Ayah?" tanya Nesya.

Ayah tersenyum sedih, "Kita berdoa buat Bunda ya, agar Bunda lekas bangun."

"Nesya akan terus bikin gambar buat Bunda sampai Bunda bangun."

Ayah hanya mengangguk. Tanpa diketahui putrinya, dua mata Ayah telah berair. Bunda masih koma, entah kapan akan sadar dari komanya.

*

"Bunda, sudah 100 gambar yang aku buat, tapi kenapa Bunda belum bangun juga?" tanya Nesya sambil menangis.

"Aku kangen sama Bunda."

"Gambar yang kubuat untuk Bunda juga ada kata-kata cinta dariku." Nesya terus mengajak Bunda berbicara.

Nesya membolak-balik 100 lembar kertas hasil gambarnya. Semuanya tentang gambar Bunda. Bunda yang sedang duduk di teras, Bunda yang sedang membaca, atau gambar Bunda yang sedang memasak.

Setelah puas melihat gambarnya, Nesya meletakkan kembali kertas-kertas tersebut ke dalam amplop.

"Maafkan Nesya, Bunda. Gara-gara aku Bunda nggak bangun-bangun lagi."

Nesya menangis sambil memeluk tubuh Bunda. Ia ingat, 100 hari yang lalu Bunda ditabrak oleh sepeda motor saat mengejar Nesya yang bermain sepeda hingga ke jalan.

Kalau saja ia mendengarkan kata Bunda agar tidak bermain sepeda hingga ke jalan, Bunda pasti tidak akan tidur selama ini.

"Nesya sayang Bunda."

***

1 komentar:

fajar herlambang mengatakan...

:( , jadi sedih mbak, bacanya . panjangkan dan sehatkan umur ortuku . ya rabb

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging