Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact
September kelabu, 2002
Petir itu kembali menyapaku, dengan suaranya yang lebih menggelegar, siap meledakkan isi kepalaku. Empat tahun sudah kita menikah, malam ini kembali pertanyaan yang tak kutahu jawabannya dihadirkan kembali. Dengan suara lembut, tapi tetap menusukku, membuat luka baru di sebelah luka lama. Jawabanku pun tetap sama. Kau suamiku, yang merenggut kehormatanku dengan paksa. Bukan orang lain yang memetik mahkotaku. Pertanyaan yang membuatku kembali menangis di hadapanmu. Dan kau berlalu begitu saja. Lirih kuucapkan, "ceraikan saja aku, jika masih kau ulang pertanyaan yang sama di malam kita menikah. Atau menikahlah dengan gadis perawan untuk membuang penasaranmu!"

Masih di September 2002
Dua hari sudah kau mendiamkanku,  suamiku. Tak keluar sepatah kata pun untuk sekedar menyapaku atau anakku. Berangkatku ke sekolah berbungkus amarahmu karena permintaanku. Kau hanya terdiam, tak menanggapi. Buat apa bertahan, kalau tak ada percaya di antara kita?

Ya, September setelah empat tahun usia pernikahan kami, tiba-tiba mulutku lancang menanyakan hal yang sudah kutahu reaksi Mei. Mei menangis hebat, bahunya berguncang. Menahan agar suara tangisnya tak mengganggu lelap Bintang dalam tidurnya. Aku hanya memandangnya. Dan keluarlah suara Mei, pelan namun cukup membuatku terkejut.

"Ceraikan saja aku, Yah, dari pada aku tak pernah membuatmu bahagia. Atau menikahlah kembali dengan gadis perawan seperti inginmu. Agar Ayah tidak penasaran lagi."

Gila! Mei benar-benar nggak waras dengan idenya. Menceraikan dia atau menikah lagi, permintaannya di sela-sela tangisnya. Aku marah mendengar ucapan Mei. Aku mendiamkannya selama tiga hari. Membuatku berpikir, apakah aku harus ikuti permintaannya?

Tidak! Aku terlalu mencintai Mei. Tidak akan pernah aku melepasnya dari ikatan denganku. Aku tak ingin menceraikan Mei. Permintaannya hanya karena ia terusik dengan pertanyaanku. Pertanyaan bodoh menurut Mei.

Dan hari ketiga, kuajak Mei duduk, bicara serius. Kupeluk tubuh ringkihnya.

"Maafkan Ayah, sudah menanyakan kembali pertanyaan bodoh Ayah tak ingin menceraikan Ibu."

Mei tak membalas pelukanku. Tak juga menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir dari matanya. Dia hanya membisu seperti patung, tak bereaksi.

"Ibu tak mau memaafkan Ayah?"

Mei masih diam. Bunyi tak tik tuk detik jam menjadi musik pemanis kebisuan kami.

"Bicaralah, Bu."

Kulepas pelukanku pada Mei, memberikan ruang agar ia menjawab pertanyaanku. Mei mengusap air matanya, lirih ia berujar.

"Kalau Ayah masih ingin bertahan dengan Ibu, tolong jangan tanyakan pertanyaan itu lagi. Berkali-kali sudah kukatakan, Ayahlah lelaki pertama yang menyentuhku, mengambil kehormatanku dengan paksa. Kalau masih kau tanyakan siapa yang mengambil kegadisanku sebelum Ayah, aku nggak tahu jawab apa. Ibu sudah jujur menjawabnya. Terserah Ayah, mau mencari gadis perawan dan menikahinya agar penasaranmu terobati, aku juga tak akan marah. Silahkan."

Kudengarkan dengan baik penjelasan Mei. Masih memintaku mencari gadis perawan lalu menikahinya. Kugelengkan kepalaku.

"Tidak, Ibu. Ayah tak akan melakukannya. Ayah janji, tak akan lagi menanyakan hal yang membuat Ibu menangis. Maafkan Ayah."

Kembali aku memeluk Mei, kubiarkan ia menangis, menuntaskan kesedihannya. Kuharapkan esok ia sudah tersenyum kembali, untukku dan untuk Bintang.

Bersambung...


#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Kepingan puzle kehidupanku bersama Mei bergantian diputar seperti sebuah film. Buku tebal biru ini bagaikan rol film untukku. Menceritakan bagaimana aku dan Mei menjalani pernikahan. Dua puluh tahun sudah kini kami bersama, selama itu pula kami tak pernah berantem, ataupun terjadi pertengkaran berarti. Setidaknya menurutku begitu, tetapi kenyataannya tidak. Mei menuliskan dengan rapi setiap hal yang berhubungan dengan pernikahannya di buku ini, tanpa setahuku. Baru hari ini aku mengetahuinya, secara tak sengaja.

Dadaku terasa sesak, sebuah batu sepertinya menghantam, dan buk! Mei tak pernah mengeluh apa-apa terhadapku. Ia selalu tersenyum di hadapanku. Bahkan jika ingin menangis, Mei tak pernah memperlihatkan di depanku. Aku hanya melihat kilatan bening saja, jatuhnya menjadi tangisan dibawa menjauh oleh Mei. Terbukti dari catatannya.

Tak ingin kutulis ini bulan apa, tahun berapa. Aku hanya ingin terbang jauh dari kehidupan yang terpaksa kupilih, tanpa ada pilihan untukku. Hingga harus menempuh kehidupan berliku bersamamu. Apakah aku yang tak pernah bisa menjadi permata hatimu di rumah ini? Aku ingin kau memelukku, suamiku, tatkala air mataku jatuh di pipi. Hiburlah aku dengan kata-kata lembut. Bukan acuhmu yang hanya terdiam. Mungkin aku yang memang terlalu sensi, hingga mudah menangis. Perkataanmu lebih sering mengiris hatiku, tapi menurutmu, itu hanya perasaanku, manakala kuungkapkan ganjalan ini. Iya, mungkin hanya aku yang kurang guyon, jadi sensi. Mungkin aku yang mendamba romantismu dalam pernikahan ini. Guyonanmu tentang aku yang suka menghabiskan uangmu, guyonmu yang tak beri aku uang belanja saat aku minta. Hanya perasanku katamu. Tapi kenapa hatiku begitu sakit, suamiku?
Maafkan aku jika ini hanya perasaanku. Aku berjanji, tak akan pernah menangis di hadapanmu, tak akan pernah meminta uang lagi padamu! Dan lihatlah, aku akan memiliki uang lebih besar dari gajimu!

Tulisan pada baris terakhir Mei menohokku makin dalam. Mei membuktikannya. Tanpa kenal lelah ia meminta ijinku untuk ambil beberapa les private setelah pulang ngajar. Aku mengijinkan, dengan catatan Bintang dibawa. Waktu itu umur Bintang tiga tahun. Dibawa naik sepeda, didudukkan di depan, berangkat les private. Pertama kali les private, Mei hanya memiliki murid dua. Seminggu dua kali. Bintang menikmati waktu bersama Ibunya setiap sore. Mengajar les, tak pernah rewel, bahkan anteng dengan mainannya. Hanya sesekali minta dipangku jika Bintang mengantuk. Pulangnya Mei pun menjadi lebih sore. Terkadang maghrib baru sampai di rumah kontrakan kami. Sejauh itu Mei tak pernah mengeluh.


Bersambung...


#OneDayOnePost
#MenulisTantanganCerbung
Kupegang tangan Mei, menahannya untuk kembali duduk di sampingku. Mendengar ucapan Mei barusan, tak urung membuat kuping ini berdesing. Mei mengucapkan apa barusan? Memangnya Ibu mesin pencari uang buat Ayah? Oh, Mei, anggapannya kok begitu sadis. Semua ini kulakukan agar Mei tidak boros. Karena yang kutahu ia tidak bisa mengelola uang dengan baik. Berbekal pengalaman bersekolah di akuntansi, membuatku ingin mengelola keuangan keluarga. Mungkin menurut Mei ini tak wajar, karena biasanya istrilah yang mengatur uang. Tapi bukankah ini sudah kami bicarakan sebelumnya? Waktu itu Mei mengangguk setuju aku yang mengatur keuangan. Kenapa sekarang Mei protes?

"Maksud Ibu apa?"

Mei kembali duduk di sampingku, menatap mataku. Ada kilat bening di dua matanya yang coba ditahan agar tak jatuh.

"Maaf kalau Ibu salah ucap."
"Jelaskan dahulu maksud Ibu ngomong Ibu mesin pencari uang itu apa?" kembali aku tanyakan alasan Mei mengucapkan itu.

Mei mengambil nafas panjang. 
"Ibu nggak punya maksud apa-apa. Ibu hanya ingin merasakan punya gaji sendiri. Ingin beli sesuatu dari uang sendiri, kirim uang ke Ibu di Jawa. Bukan hanya Ayah yang bisa kirim uang ke tempat Ayah. Sesekali juga ingin memberi ke ibuku, meski beliau sudah punya gaji sendiri dari pensiunan almarhum bapak."

Kudengarkan penjelasan Mei. Aku tahu keluarga Mei adalah keluarga yang tidak membutuhkan biaya lagi. Ibunya memiliki penghasilan dari pensiunan almarhum bapak. Makanya sejak dulu aku selalu menolak jika Mei ingin memberikan uangnya untuk Ibu. Gaji Ibu sudah lebih dari gaji Mei, itu anggapanku. Jadi aku hanya mengirimkan uang ke rumahku, untuk bapak dan ibuku.

Mei terdiam setelah memberikan penjelasan padaku. Dua tangannya sibuk memainkan jari-jarinya, mengusir rasa takut kalau-kalau aku marah.

"Maaf jika perkataan Ibu menyinggung perasaan Ayah," pelan Mei mengatakannya setelah lama tak ada yang memulai percakapan.

"Baiklah, nanti kalau Ibu sudah mengajar di SD, silahkan pegang sendiri gajinya." Sedikit tegas kukatakan. Ada perasaan ingin marah ke Mei, tapi kuurungkan.

Mei kembali menatapku. Seolah tak percaya mendengar jawabanku.

"Benarkah, Ayah?"
"Ya." Dan aku berlalu meninggalkan Mei yang masih duduk.

Mei akhirnya mengajukan pengunduran diri dari pabrik tempatnya bekerja. Tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan pekerjaan baru. Menjadi guru di SD Islam. Agak jauh dari kontrakan tempat tinggal kami. Dan Mei bertekad membeli sepeda mini sebagai transportasi untuk mengajar. Mei bersemangat naik sepeda, menempuh perjalanan kurang lebih 6 kilometer. Kata Mei, itu jarak yang dekat. Masa sekolahnya dahulu, lebih dari 6 kilometer.

Gajian pertama Mei benar-benar  dipegang sendiri. Ia minta ijin kepadaku, ingin berbagi dengan ibunya di Jawa. Dan aku ijinkan. Satu yang membuatku kembali acuh ke Mei, aku hanya membayar kontrakan tempat tinggal kami dari gajiku, tanpa kupedulikan kebutuhan belanja sehari-hari. Mei juga tidak memintaku. Berapa pun uang yang kuberikan kepadanya, ia tak pernah mengeluh. Hanya saja pada saat tengah bulan, Mei kembali meminta uang kepadaku.

"Ayah, boleh minta uang buat belanja?"
"Pakai aja uang Ibu, kenapa minta lagi ke Ayah? Bukankah Ibu yang ingin mengatur uang sendiri?" jawabku.

Mei terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Berputar haluan dan meninggalkanku menatap punggungnya.


Bersambung...


#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Bayi mungil Bintang menunjukkan kekuatannya, mampu mengubahku menjadi seorang ayah yang peduli, peduli kepada ibunya, Mei istriku. Setidaknya itu menurutku. Tahun kelahiran Bintang juga merupakan tahun selesainya Mei menempuh kuliah diploma duanya. Sebentar lagi ia akan wisuda, tepatnya pada bulan Agustus. Tergambar dari catatan Mei.

Agustus 1998
Seminggu lagi akan wisuda. Mempersembahkan toga kelulusan untuk ibuku dan suami, yang telah banyak membantu. Tapi...aku bingung. Wisuda mau pake baju apa? Tak harus kebaya, kata suami. Pake baju yang ada saja. Hiks...hiks...itu bajuku yang layak pakai sudah usia usang. Masak Ayah nggak mau beliin baju buatku? Malah dijawab, "Ibu ini ngabisin uang ayah saja."
Sediiih dibilang begitu...
Aku kan juga kerja, Ayah, meski nggak pernah megang uang sendiri.

Menjelang wisuda, Mei memang sibuk menanyakan padaku, hendak pakai baju apa jika tak dibolehkan sewa kebaya. Dia ingin beli baju baru, karena menurutnya selama menikah denganku Mei belum pernah beli baju. Ya, sejak menikah denganku, uang Mei aku yang mengaturnya. Mei hanya mendapatkan jatah hariannya untuk kebutuhan belanja. Setiap ingin beli kebutuhan yang lain, selalu kukatakan, tak ada dan aku tak pernah memberinya uang lebih. Bagiku, Mei bisa kuliah saja harusnya sudah membuat dia tak perlu minta apa-apa. Itu pikirku.

Dan pada saat Mei ribut ingin membeli baju baru, aku memang mengatakan hal tersebut. Bukan hanya sekali perkataan itu kulontarkan kepada Mei. Seingatku aku sering mengucapkannya. Jika Mei ingin mengganti tas lamanya, aku juga ucapkan, "Ibu ini bisanya menghabiskan uang Ayah saja." Biasanya Mei hanya menjawabnya dengan senyum tipisnya.

Kubalik halaman berikutnya. Foto wisuda Mei berdampingan denganku. Mei memakai gamis lamanya. Tanpa polesan make up apapun. Memperlihatkan wajah aslinya, hanya polesan bedak tipis. Itu pun sudah hilang ketika perjalanan menuju tempat wisuda. Kami tidak mengajak Bintang, aku melarangnya. Takutnya acara akan lama, dan Bintang akan rewel. Kesedihan Mei tentang baju wisuda tak diperpanjang.

Hal yang membuatku tak pernah lupa adalah, percakapan kami pada malam harinya setelah acara wisuda.

"Ayah, Ibu ingin keluar dari pabrik. Boleh?" tanya Mei hati-hati sekali. Aku masih menunggu kelanjutannya. Karena kulihat Mei masih ingin bicara.

"Ibu akan melamar menjadi guru SD."

Kupandangi wajah Mei untuk melihat kesungguhannya. Mei menganggukkan kepalanya dengan mantap. Pertanda ia serius dengan ucapannya.

"Sudah Ibu perhitungkan jika keluar dari pabrik? Gaji guru honor kecil lho, tidak sebanding dengan kebutuhan kita."

"Ibu akan melamar kerja di sekolah swasta. Bukan di negeri."

"Kalau begitu cari sekolah swasta yang gajinya besar. Biar nggak ngabisin uang Ayah!"

Mei mengangguk. Sebelum berlalu, Mei mengucapkan, " Memangnya Ibu mesin pencari uang buat Ayah?"


Bersambung....



#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Malam berakselerasi dengan cepat, tergantikan oleh wajah pagi yang bersinar lembut. Menghangatkan setiap jiwa yang pandai bersyukur akan segala nikmat yang telah diberikan. Tapi tidak denganku! Ada kecewa yang meraja di hatiku, tatkala subuh tadi Mei mengatakan kalau calon bayi dalam perutnya tidak keluar. Wajah ayu Mei melukiskan guratan kebahagiaan, terbukti bibirnya yang selalu tersenyum. Seakan meledekku, mengatakan kepadaku bahwa calon anakku adalah anak yang kuat!

Dan sore harinya Mei berangkat ke bidan seorang diri, tanpaku. Lebih tepatnya aku menolak mengantarnya, dengan alasan rumah bidan yang akan dia kunjungi dekat dengan tempat tinggal kami. Mei tetap pergi seorang diri, tersenyum penuh kemenangan, tak peduli walaupun pergi seorang diri.

Perut Mei semakin membesar seiring bulan demi bulan melangkah meninggalkan ceritanya. Mei tetap beraktifitas seperti biasa, bekerja di pabrik, sorenya berangkat kuliah. Tiba kembali di rumah sudah sangat malam, jam 22.00 bahkan jam 23.00 juga pernah. Selama itu pula aku tak pernah menjemputnya jika kebetulan shift kerjaku pagi. Mei benar-benar perempuan tangguh, tak pernah merengek kepadaku. Pernah sekali dia memintaku untuk menjemputnya, waktu itu awal kuliah. Aku jawab, kalau nggak berani pulang malam, nggak jadi saja kuliahnya.  Mei menganggukkan kepalanya.

Selama hamil Mei tidak pernah menunjukkan seperti wanita hamil pada umumnya. Mei seperti biasanya, tidak mabuk ataupun lemas badannya. Dan akhirnya aku mulai menerima bayi dalam kandungannya, melihat Mei tidak mengalami kesulitan ketika hamil.

Catatan di lembar selanjutnya hanya menceritakan tentang kehamilan Mei, kegembiraannya meskipun tak mendapat perhatian penuh dariku, suaminya. Tak sadar bibirku membentuk senyuman manakala melihat foto bayi mungil nan cantik di tempel, tanggal menunjukkan tepat kelahiran putriku. Sederet doa indah untuk bayi perempuan kami. Kuusap foto bayi anakku. Sulungku mewarisi ketangguhan ibunya. Melihat dia aku seperti melihat wajah istriku. Pinang dibelah dua. Tingginya saja yang mengambil dariku. Untunglah tidak mewarisi Mei yang pendek.

Juni 1998
Kuajarkan pada Bintang untuk memanggilmu Ayah. Berharap hal baik memihakku. Meski kau pernah tidak menerimanya, tetapi setelah lahir, kulihat kau mampu menerimanya. Terimakasih, Ayah, suamiku. Hatiku pun mulai melunak untuk kembali belajar mencintaimu, walaupun sayat luka belum sepenuhnya sembuh.


Bersambung....

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Mataku terpejam, kututup sampul buku tebal biru catatan milik Mei, istriku. Aku merasakan luka setelah membaca buku ini. Tetapi waktu itu? Apakah aku merasakan luka Mei? Entahlah, saat aku melakukannya hatiku sepertinya tertutup oleh cinta. Apakah ini namanya cinta? Ya, aku sangat mencintai Mei, tapi mungkin tak pernah terlihat oleh Mei.

Aku memiliki cara unik memperlihatkan cintaku kepada istri, dan itu pernah ditanyakan oleh Mei. Kesungguhanku mencintainya. Tapi aku tak pernah meragukan pengabdiannya. Mei katakan padaku, "Aku memang belum bisa mencintaimu, Mas, namun aku akan selalu berusaha dan belajar mencintaimu. Mas bisa melihatnya, aku akan tetap menjadi istrimu yang terbaik."

Dan aku percaya itu. Sekian tahun mengarungi lautan kehidupan bersamanya, tak pernah sekalipun aku dibuat marah. Mei selalu mengikuti permintaanku, aturanku, dan semua keputusanku. Terdengar egois memang, tapi itulah watakku. Aku suka melihat Mei tunduk kepadaku, suaminya.

Sejenak setelah terdiam dalam kenangan, antara melanjutkan membaca isi hati Mei atau menyudahinya. Pasti isinya bercerita tentangku, dan perjalanan hidupnya. Mengingat buku biru ini masih tebal.

Sebelum melanjutkan atau tidak membaca buku ini, kupandangi bingkai foto yang tertempel di tembok, di atas meja kesayangan milik istriku. Terlihat di foto, wajah bidadari milikku dengan dua putriku, hasil pernikahanku dengan Mei. Wajah Mei masih memperlihatkan wajah ayu, senyum manis, dan sejuta kenyamanan yang dihadirkan untukku. Hanya saja, Mei tidak pernah gemuk. Tubuhnya tetap kurus, menurutku. Kuingat-ingat Mei tak pernah memiliki berat badan ideal, selalu kurang dari seharusnya.

Puas memandang foto Mei, mataku kembali beralih ke buku biru tebal. Kuputuskan untuk melanjutkan membaca.

Berpindah ke lembar ketiga, tertulis jauh melewati bulan demi bulan.

Penghujung akhir Juli 1997
Setahun lebih terlewati bersama orang yang masih belum bisa kucintai sepenuh hati. Kutunjukkan baktiku sebagai istri yang baik. Dan kau nampak bahagia, terlihat dari kemajuan perutmu yang kian membuncit. Hehehe...maaf suamiku.
Bulan ini, aku terlambat datang bulan. Apakah aku hamil? 

Awal Agustus 1997
Aku kembali terkoyak, hatiku menjerit dalam diam...
Kau suamiku, memintaku menggugurkan kandunganku. Kau memaksaku minum pil kecil itu, di depanmu, dan aku meminumnya sambil menangis. Kupinta dalam tangisku untuk calon anakku, kamu harus kuat, nak!
Kau pengecut suamiku, hanya karena aku sedang kuliah, kau tak inginkan anak ini lahir. Kau tak pernah mencintai hatiku, kau hanya mencintai tubuhku!!!

Ya Tuhan, lirih kusebut namaNya, sambil  kuusap wajahku. Aku ingat betul kejadian yang dituliskan istriku. Bagaimana gembiranya dia ketika test pack menunjukkan garis strip merah dua. Diperlihatkan kepadaku hasil tes urinenya.

"Mas, aku hamil."
"Hmm," hanya itu yang terdengar dari mulutku. Tanggapan tak jelas, seperti perasaanku yang sedikit kaget mendapatkan kabar kehamilan Mei.

"Kok Mas sepertinya tidak gembira?" tanya Mei menatap wajahku yang biasa-biasa saja.

"Jangan dilanjutkan ya, hamilnya. Sebaiknya dikeluarkan saja. Kamu kan sedang kuliah. Nanti saja hamilnya setelah lulus kuliah."

"Apa, Mas?"
"Keluarkan!" titahku seperti perintah seorang raja kepada prajuritnya. Kulihat Mei tertunduk, untuk kemudian menangis. Hanya itu yang selalu dilakukannya jika keinginannya mendapat pertentangan dariku. Dan itu tak pernah lama. Mei hanya akan diam dalam sedih, sebentar, dan akan kembali mengajakku bercakap. Mei begitu pandai dan rapi menyimpan suka maupun sedihnya.

Malamnya aku memaksa Mei minum pil kecil berwarna putih yang kubeli dari apotek untuk membuatnya haidh kembali, dan Mei sekali lagi menurut. Diminum dengan pengawasanku, dua pil sekaligus. Tinggal menunggu reaksi obat itu bekerja. Dua jam kemudian kulihat Mei merasakan kesakitan pada bagian perutnya. Ia merintih memegangi perut. Tak keluar keluhan apapun dari mulutnya. Hanya kulihat bening matanya mengalirkan kesedihan. Hingga akhirnya ia tertidur meringkuk di atas kasur dengan peluh membanjiri wajah ayunya. Sakit yang ditahan, sakit karena permintaanku untuk membuatnya haidh kembali.


Bersambung...


#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Newer Posts Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes