Pernah mendengar fabel? Atau bahkan mungkin membacanya? Apakah sudah pernah membuatnya juga? Saya rasa, hampir semua anak bahkan orang dewasa sangat menyukai dengan cerita fabel yang satu ini.
Lalu, apa sih fabel itu? Bisa kah menulis cerita fabel menjadi sebuah cerita yang sangat menarik untuk dibacakan ke anak-anak sendiri?
Jawabannya, BISA DONG! Siapapun bisa menulis cerita fabel dengan tokoh yang disukai. Suka-suka penulisnya mau pilih tokohnya siapa, asalkan harus tetap mengikuti pakem dalam menulis fabel. Waduh, apa tuh pakemnya? Bukannya kalau mau nulis mah, nulis aja. Nggak usah mikirin pakemnya segala. Bikin ide mentok tuh!
Bukan begitu, Marimar! Pakem menulis fabel ini digunakan sebagai rambu-rambu agar saat menuliskan ide kamu nggak ngelantur ke mana-mana. Pan berabe, Marimar, kalau kamu nggak pake rambu-rambu. Orang jalan kaki aja kudu tetep ngikuti rambu-rambu lalu lintas kan? Nah, begitu pula dengan fabel ini. Biar ceritanya makin bagus!
Trus, apa saja dong, pakem dalam menulis fabel?
Duh, lama saya nggak nongol di blog. Bersih-bersih dulu nih. Takut ada sarang laba-labanya. Bersih-bersih, sapu-sapu... (nyanyi ala Austi di film Toy Cop)
Sebelumnya baca ini ya. Alat bantu yang
kedua.
Ada kah yang pernah membaca sebuah cerita di mana tokoh cerita bermimpi? Lalu, sang tokoh akan mengalami konflik di dalam mimpinya. Seolah-olah cerita itu nyata terjadi ya.
 |
| pixabay.com |
Ketika ide cerita sudah dikekep, alur sudah dibuat, ending sudah ditentukan, apakah pernah terpikir untuk menyiapkan alat bantu dalam mengembangkan narasi? Maksudnya? Kudu pake tongkat ajaib ala Nirmala gitu? Atau ngaduk-aduk kantong ajaib milik Doraemon untuk memilih alat bantu tersebut?
Setelah kemarin
Menangkap Ide, saatnya nih mulai mengembangkannya. Belum menjadi cerita utuh ya. Kita kembangkan dulu seperti ringkasannya dulu. Ingat kan, kalau cerita anak itu sederhana sekali. Nggak perlu ribet dengan banyak konflik atau tokoh. Pokoknya paling gampil deh! Hehehe... Yuk, kita mulai!
Satu ... dua ... tiga ... mulai....
Ide, di mana sih kamu? Lagi nunggu ide datang, nih! Belum ada ide, jadi belum bisa nulis.
"Ibu, ajarin nulis dongeng, dong!" pinta salah seorang anak di kelas. Saya yang sedang merekap nilai saat istirahat, melihat wajahnya.
Hmm ... apa sih yang ada di benak kita
semua ketika mendengar tentang tokoh legenda dalam sebuah dongeng? Apakah akan
terbayang sosok putri raja yang sangat cantik? Atau makhluk aneh yang
menyeramkan?
Siapa yang suka dengan cerita misteri
atau cerita detektif? Ala-ala cerita Detektif Conan gitu. Kalau Detektif Conan,
sudah jelas jika itu merupakan cerita Detektif. Ada juga lho cerita anak tapi
bukan cerita detektif. Hanya mencari ending dari sebuah teka-teki atau misteri.
Di dalam cerita tersebut tidak mencari pelaku atau tokoh yang meyebabkan cerita
misteri atau masalah terjadi.
Eh,
benar nggak ya, judulnya? Untuk sementara anggap saja benar ya.
Dongeng Kontemporer masuk ke dalam salah
satu jenis dongeng yang menggunakan tokoh benda mati dalam penulisannya. Contohnya
seperti film anak Tayo, Chugingthoon, Robocar Poli, dan beberapa film anak
lainnya yang menggunakan tokoh benda mati hidup seperti manusia. Bahkan,
dongeng ini menjadi favorit anak-anak. Lihat saja tayangan film Tayo, hampir
semua anak mengenal film ini. Saya sendiri pun sampai sayang kalau melewatkan menonton film ini.
 |
| kumpulandongenganak.com |
Siapa sih, yang tidak tahu tentang
dongeng? Dongeng adalah cerita imajinasi dengan tokoh dan setting khayalan. Bahkan
kita tahu, cerita dongeng yang sudah mendunia sepertinya tak lekang oleh waktu.
Kita ingat dengan dongeng Putri Salju, Cinderella, Thinkerbell, dan dongeng
dunia lainnya yang sudah mengalami berbagai versi dari zaman ke zaman.
Judulnya keren ya, padahal ini hanya sharing kecil yang saya alami ketika berproses belajar menulis cerita anak bersama mentor, Pak Bambang Irwanto.