02 September 2018

Mengembangkan Ide Cerita


Setelah kemarin Menangkap Ide, saatnya nih mulai mengembangkannya. Belum menjadi cerita utuh ya. Kita kembangkan dulu seperti ringkasannya dulu. Ingat kan, kalau cerita anak itu sederhana sekali. Nggak perlu ribet dengan banyak konflik atau tokoh. Pokoknya paling gampil deh! Hehehe... Yuk, kita mulai!
Satu ... dua ... tiga ... mulai....

• Mengembangkan ide cerita anak bisa dimulai dengan berbagai cara. Ada yang mengembangkan cerita diawali dengan karakter pada tokohnya. Ini dibahas ketika saya belajar dengan penulis anak Dian Onasis. Hal yang sama juga saya dapatkan dari buku yang ditulis Arleen, penulis buku anak yang tulisannya keren banget. Bagaimana cara mengembangkan cerita yang dimulai dari karakter tokoh?

Contohnya begini. Misalkan kita menentukan tokohnya adalah seekor singa. Tokoh ini kita tambahkan keinginan agar lebih hidup. Apa keinginan singa? Singa ingin mengubah gaya rambutnya atau surai miliknya. Keinginan tokoh ini kurang menantang kalau tidak diberi hambatan. Apa nih hambatan yang pas buat tokoh? Kita berikan hambatan pada singa ini, gaya rambut yang dia dapatkan tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Atau gaya rambut barunya ternyata malah ditertawakan oleh teman-temannya di hutan.

Lalu, kita rangkai cerita dari yang sudah dikembangkan tadi.

Ada seekor singa yang ingin mengubah gaya rambutnya atau surai miliknya, tapi gaya rambut yang dia dapatkan tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Surai barunya menjadi bahan tertawaan oleh teman-temannya.

• Nah, cerita singkat sudah disusun. Tinggal melanjutkan menjadi sebuah cerita yang utuh nih. Lanjutkan karakter yang sudah dibuat tadi dengan menambahkan plot. Buat bagian plot di awal, tengah, dan akhir. Contohnya begini:

Ide di atas akan saya tambahkan dengan plot.

Awal: Hutan tempat tinggal singa akan mengadakan pawai hasil kebun penduduk di hutan tersebut. Pawai tahun ini akan berbeda, yaitu semua hewan akan berjalan berkeliling hutan sambil membawa hasil buahnya. Singa ditunjuk menjadi pemandu di depan barisan.

Tengah: Singa yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemandu barisan pawai, ingin terlihat gagah dengan gaya rambut yang baru. Dia segera menemui sahabatnya untuk membantunya menata surainya.

Akhir: Sahabatnya mengubah surai singa. Namun, gaya rambutnya yang baru justru ditertawakan oleh teman-temannya. Hingga singa berganti-ganti model rambut tapi tetap ditertawakan. Akhirnya sahabat singa mengembalikan gaya rambut singa seperti semula.

• Selesai cerita yang akan kita buat. Tinggal ditambahkan alur yang menarik jadi deh satu cerita anak.

• Ada juga yang mengembangkan cerita dimulai dengan menambahkan konflik dari ide yang sudah didapat. Misalkan begini. Kita ambil sebuah ide tentang seekor kangguru hutan di Papua yang ikut seleksi untuk perlombaan lompat jauh. Selanjutnya tambahkan konflik. Kangguru hutan ini sudah berlatih dengan giat setiap hari agar bisa mengalahkan temannya yang terpilih tahun lalu. Lalu, tentukan endingnya. Apakah mau ending kangguru menang dalam perlombaan tersebut atau tetap kalah dengan temannya. Tinggal alurnya dibuat yang unik untuk menjadi cerita unik dan menarik.

Itu dia langkah-langkah untuk mengembangkan ide yang telah dibuat. Saya pribadi menyukai semua langkah tersebut untuk membuat cerita anak. Hanya saja terkadang suka terjebak dengan alur cerita yang biasa saja hingga harus diendapkan lagi untuk menjadi cerita yang lebih bagus.

Baca juga nih tentang Kesalahan Menulis Cerita Anak.

Intinya, tetap semangat untuk menulis. 

#semangatngebloglagi
#mengembangkanide
#ceritaanak
#penulisceritaanak

52 komentar:

Suden Basayev mengatakan...

Susah bikin cernak. Hihi.

lisa lestari mengatakan...

Bisa ala biasa mas..hehee

Cindi mengatakan...

bermanfaat banget ini Mbak, tinggal praktek..
saya dari dulu selalu kesulitan kalau nulis cerpen..hehe

Isnania mengatakan...

Noted...
Makasih mbak, keren.
Manfaat banget inihπŸ˜‡πŸ‘

lisa lestari mengatakan...

Ayo mbak dipraktekkin.

lisa lestari mengatakan...

Sama smaa mbak

raihana mahmud mengatakan...

Waah, bagus ini. Bisa jadi bacaan untuk tugas bikin cerbung utk bulan ini. Terima kasih ulasannya.

Unknown mengatakan...

Semangat terus menulisnya bu lisa,,,

lisa lestari mengatakan...

Sama sama

lisa lestari mengatakan...

Terima kasih.

suparto parto mengatakan...

Saya kalo langsung ngoceh di depan anak2 lebih gampang. Tapi untuk bikin tulisan cerita anak, susah.
Rumus mbak Lisa mau saya coba deh..

lisa lestari mengatakan...

Monggo pak. Saya kalau di depan ank anak juga lancar bercerita. Mereka jadi orang pertama yang mendengar hasil saya

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...


Pengen bikin cernak lagi jadinya πŸ˜€πŸ˜€

lisa lestari mengatakan...

Ayo bikin bang

sabrina lasama mengatakan...

Cerita anak sebenarnya adalah genre yang paling susah. Bagaimana orang dewasa menyusun kalimat sehingga anak-anak bisa paham. Pengen nulis cerita anak some day. Biar bisa dibaca anak-anak saya kalau mereka sudah bisa baca. Ah, semoga.. πŸ˜†πŸ˜†

Pantengin blog mbak Lisa terus untuk curi2 ilmunya. πŸ˜€

lisa lestari mengatakan...

Betul mbak, kadang saya juga masih suka terjebak dengan kalimat yang saya gunakan

Megha Rachma mengatakan...

Agak rumit mba krna kalo kita terlalu berfantasi anak skrg lebih kritis mba dan susah banyak tanya *pengalaman

Bunda Erysha (yenisovia.com) mengatakan...

Aku udah lama mba kepikiran juga mau belajar bikin cerita anak. Tapi masih belum sempet karena belajar yang lain dlu

liesdiana mengatakan...

Membuat cerita anak harus paham anak, menjiwai tumbuh kembang anak. Benar nggak, mba Lisa

Bety Kristianto mengatakan...

Aku belum bisa nulis cerita anak. Masih asik dengan genre yang lain hehe.. tapi tipsnya keren loh Mba.. bisa diaplikasikan di cerita jenis lain juga.

Marda Wiah mengatakan...

Saya dua kali ikut training menulis cernak, dua training dan dua mentor juga serta komunitas yang berbeda ternyata belum memberi dampak yang berarti bagi saya. Mungkin saya kurang berbakat untuk jenis gendre ini, hihihi

Dian Restu Agustina mengatakan...

Nah.. bener banget, terkadang suka terjebak dengan alur cerita yang biasa saja hingga harus diendapkan lagi untuk menjadi cerita yang lebih bagus lagi...hiks!
Terus saking lamanya ngendap jadi enggak disentuh sama sekali..#itusaya

Tapi musti smenagat nih, biar cetar nulis cerita anaknya kayak mbak Lisa

Putri Kania mengatakan...

Wah, bagus nih. Dulu saya rajin nulis cerpen, pas masih SMA. Sekarang semua file nya hilang.. Syedih.. Semoga nanti bisa semangat lagi untuk nulis cerpen.

Damar Aisyah mengatakan...

Keren, emang beda ya kalau yang nulis penulis anak langsung. Kerasa banget lebih runut dan mudah dipraktikkan.

steffifauziah mengatakan...

Pengen dong info antologi cernak mba biar bisa sekalian praktek. Pengen banget bisaaaaaaa. Hiks hiks.

lisa lestari mengatakan...

Kalau cerita kita masih masuk dalam logika, maka anak juga akan mudah memahami

lisa lestari mengatakan...

Diunggu cerita anaknya ya hun.

lisa lestari mengatakan...

Sesikit banyak iya mbak. Tapi hanya dengan mengamati dunia anak pasti bisa juga kok

lisa lestari mengatakan...

Siiippp mbak. Mbak Bety mah udah kereeen tulisannya

lisa lestari mengatakan...

Terus semangat mbak

lisa lestari mengatakan...

Hahahha..betul tuh mbak.Aku juga sering begitu. Aplagi kalau kerjaan sekolah juga numpuk

lisa lestari mengatakan...

Terus semangat

lisa lestari mengatakan...

Terima kasih mbak damar.

lisa lestari mengatakan...

Ayo mbak. Boleh ikut di wonderland atau komunitas lainnya

Dhika Suhada mengatakan...

Bikin cernak ni gampang gampang susyah deh buat Dhika, Mbak. Terjebak sama ide cerita malah jadi mbulet. Padahal kan anak anak maunya yang simple ya. Artikel ini pas banget niy buat belajar lagi bikin cernak yang bagus. Thanks Mbak Lisa

Enni Kurinasih mengatakan...

Belum pernah bikin cerita anak saya, Mbak.
Makasih ilmunya, ya

Wiwid Vidiannarti mengatakan...

Harus penuh imajinasi. Saya cuma pernah sekali bikin cerpen untuk anak, dan itu susaaah hahaha

Melina Sekarsari mengatakan...

Aku begitu bermimpi anak-anakku membaca buku cerita anak yang ditulis oleh ibunya sendiri. Kapan, yaaa?

ummu arrahma mengatakan...

Keren mbak mantap bikin cerita anak memang seru ya mbak lisa

Novi Herdiani mengatakan...

Buat cernak, seru juga ternyata ya

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Menulis cerita anak memang mengasyikkan ya...
Saya bisa menyelesaikan buku cernak lebih singkat dari pada buku non fiksi. Itu naskah gak selesai-selesai hihihi

Nyknote mengatakan...

Wah belym pernah bikin cernak, ggs...ganpang gampang susah. Pwrlu dicoba nih. Thx ulasannya bermnfaat


lisa lestari mengatakan...

Sama sama mbak. Silakan dipraktikkan

lisa lestari mengatakan...

Sama sama mbak

lisa lestari mengatakan...

Iya mbak. Hahhahaha

lisa lestari mengatakan...

Ayo bikin mbak

lisa lestari mengatakan...

Betul mbak seru banget

lisa lestari mengatakan...

Iya mbak seru banget

lisa lestari mengatakan...

Betul cikgu...

lisa lestari mengatakan...

Ayo dicoba mbak

Eni Rahayu mengatakan...

Menarik sekali mbak. Kayak gampang banget gitu ya. Dan apakah itu juga bisa diterapkan di cerita bukan binatang? Teenlit misalnya

lisa lestari mengatakan...

Saya belum pernah coba nih mbak. Hihihi

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging