Mengembangkan Ide Cerita


Setelah kemarin Menangkap Ide, saatnya nih mulai mengembangkannya. Belum menjadi cerita utuh ya. Kita kembangkan dulu seperti ringkasannya dulu. Ingat kan, kalau cerita anak itu sederhana sekali. Nggak perlu ribet dengan banyak konflik atau tokoh. Pokoknya paling gampil deh! Hehehe... Yuk, kita mulai!
Satu ... dua ... tiga ... mulai....

• Mengembangkan ide cerita anak bisa dimulai dengan berbagai cara. Ada yang mengembangkan cerita diawali dengan karakter pada tokohnya. Ini dibahas ketika saya belajar dengan penulis anak Dian Onasis. Hal yang sama juga saya dapatkan dari buku yang ditulis Arleen, penulis buku anak yang tulisannya keren banget. Bagaimana cara mengembangkan cerita yang dimulai dari karakter tokoh?

Contohnya begini. Misalkan kita menentukan tokohnya adalah seekor singa. Tokoh ini kita tambahkan keinginan agar lebih hidup. Apa keinginan singa? Singa ingin mengubah gaya rambutnya atau surai miliknya. Keinginan tokoh ini kurang menantang kalau tidak diberi hambatan. Apa nih hambatan yang pas buat tokoh? Kita berikan hambatan pada singa ini, gaya rambut yang dia dapatkan tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Atau gaya rambut barunya ternyata malah ditertawakan oleh teman-temannya di hutan.

Lalu, kita rangkai cerita dari yang sudah dikembangkan tadi.

Ada seekor singa yang ingin mengubah gaya rambutnya atau surai miliknya, tapi gaya rambut yang dia dapatkan tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Surai barunya menjadi bahan tertawaan oleh teman-temannya.

• Nah, cerita singkat sudah disusun. Tinggal melanjutkan menjadi sebuah cerita yang utuh nih. Lanjutkan karakter yang sudah dibuat tadi dengan menambahkan plot. Buat bagian plot di awal, tengah, dan akhir. Contohnya begini:

Ide di atas akan saya tambahkan dengan plot.

Awal: Hutan tempat tinggal singa akan mengadakan pawai hasil kebun penduduk di hutan tersebut. Pawai tahun ini akan berbeda, yaitu semua hewan akan berjalan berkeliling hutan sambil membawa hasil buahnya. Singa ditunjuk menjadi pemandu di depan barisan.

Tengah: Singa yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemandu barisan pawai, ingin terlihat gagah dengan gaya rambut yang baru. Dia segera menemui sahabatnya untuk membantunya menata surainya.

Akhir: Sahabatnya mengubah surai singa. Namun, gaya rambutnya yang baru justru ditertawakan oleh teman-temannya. Hingga singa berganti-ganti model rambut tapi tetap ditertawakan. Akhirnya sahabat singa mengembalikan gaya rambut singa seperti semula.

• Selesai cerita yang akan kita buat. Tinggal ditambahkan alur yang menarik jadi deh satu cerita anak.

• Ada juga yang mengembangkan cerita dimulai dengan menambahkan konflik dari ide yang sudah didapat. Misalkan begini. Kita ambil sebuah ide tentang seekor kangguru hutan di Papua yang ikut seleksi untuk perlombaan lompat jauh. Selanjutnya tambahkan konflik. Kangguru hutan ini sudah berlatih dengan giat setiap hari agar bisa mengalahkan temannya yang terpilih tahun lalu. Lalu, tentukan endingnya. Apakah mau ending kangguru menang dalam perlombaan tersebut atau tetap kalah dengan temannya. Tinggal alurnya dibuat yang unik untuk menjadi cerita unik dan menarik.

Itu dia langkah-langkah untuk mengembangkan ide yang telah dibuat. Saya pribadi menyukai semua langkah tersebut untuk membuat cerita anak. Hanya saja terkadang suka terjebak dengan alur cerita yang biasa saja hingga harus diendapkan lagi untuk menjadi cerita yang lebih bagus.

Baca juga nih tentang Kesalahan Menulis Cerita Anak.

Intinya, tetap semangat untuk menulis. 

#semangatngebloglagi
#mengembangkanide
#ceritaanak
#penulisceritaanak

Share:

52 komentar

  1. bermanfaat banget ini Mbak, tinggal praktek..
    saya dari dulu selalu kesulitan kalau nulis cerpen..hehe

    ReplyDelete
  2. Noted...
    Makasih mbak, keren.
    Manfaat banget inihπŸ˜‡πŸ‘

    ReplyDelete
  3. Waah, bagus ini. Bisa jadi bacaan untuk tugas bikin cerbung utk bulan ini. Terima kasih ulasannya.

    ReplyDelete
  4. Saya kalo langsung ngoceh di depan anak2 lebih gampang. Tapi untuk bikin tulisan cerita anak, susah.
    Rumus mbak Lisa mau saya coba deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo pak. Saya kalau di depan ank anak juga lancar bercerita. Mereka jadi orang pertama yang mendengar hasil saya

      Delete
  5. Cerita anak sebenarnya adalah genre yang paling susah. Bagaimana orang dewasa menyusun kalimat sehingga anak-anak bisa paham. Pengen nulis cerita anak some day. Biar bisa dibaca anak-anak saya kalau mereka sudah bisa baca. Ah, semoga.. πŸ˜†πŸ˜†

    Pantengin blog mbak Lisa terus untuk curi2 ilmunya. πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, kadang saya juga masih suka terjebak dengan kalimat yang saya gunakan

      Delete
  6. Agak rumit mba krna kalo kita terlalu berfantasi anak skrg lebih kritis mba dan susah banyak tanya *pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cerita kita masih masuk dalam logika, maka anak juga akan mudah memahami

      Delete
  7. Aku udah lama mba kepikiran juga mau belajar bikin cerita anak. Tapi masih belum sempet karena belajar yang lain dlu

    ReplyDelete
  8. Membuat cerita anak harus paham anak, menjiwai tumbuh kembang anak. Benar nggak, mba Lisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesikit banyak iya mbak. Tapi hanya dengan mengamati dunia anak pasti bisa juga kok

      Delete
  9. Aku belum bisa nulis cerita anak. Masih asik dengan genre yang lain hehe.. tapi tipsnya keren loh Mba.. bisa diaplikasikan di cerita jenis lain juga.

    ReplyDelete
  10. Saya dua kali ikut training menulis cernak, dua training dan dua mentor juga serta komunitas yang berbeda ternyata belum memberi dampak yang berarti bagi saya. Mungkin saya kurang berbakat untuk jenis gendre ini, hihihi

    ReplyDelete
  11. Nah.. bener banget, terkadang suka terjebak dengan alur cerita yang biasa saja hingga harus diendapkan lagi untuk menjadi cerita yang lebih bagus lagi...hiks!
    Terus saking lamanya ngendap jadi enggak disentuh sama sekali..#itusaya

    Tapi musti smenagat nih, biar cetar nulis cerita anaknya kayak mbak Lisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha..betul tuh mbak.Aku juga sering begitu. Aplagi kalau kerjaan sekolah juga numpuk

      Delete
  12. Wah, bagus nih. Dulu saya rajin nulis cerpen, pas masih SMA. Sekarang semua file nya hilang.. Syedih.. Semoga nanti bisa semangat lagi untuk nulis cerpen.

    ReplyDelete
  13. Keren, emang beda ya kalau yang nulis penulis anak langsung. Kerasa banget lebih runut dan mudah dipraktikkan.

    ReplyDelete
  14. Pengen dong info antologi cernak mba biar bisa sekalian praktek. Pengen banget bisaaaaaaa. Hiks hiks.

    ReplyDelete
  15. Bikin cernak ni gampang gampang susyah deh buat Dhika, Mbak. Terjebak sama ide cerita malah jadi mbulet. Padahal kan anak anak maunya yang simple ya. Artikel ini pas banget niy buat belajar lagi bikin cernak yang bagus. Thanks Mbak Lisa

    ReplyDelete
  16. Belum pernah bikin cerita anak saya, Mbak.
    Makasih ilmunya, ya

    ReplyDelete
  17. Harus penuh imajinasi. Saya cuma pernah sekali bikin cerpen untuk anak, dan itu susaaah hahaha

    ReplyDelete
  18. Aku begitu bermimpi anak-anakku membaca buku cerita anak yang ditulis oleh ibunya sendiri. Kapan, yaaa?

    ReplyDelete
  19. Keren mbak mantap bikin cerita anak memang seru ya mbak lisa

    ReplyDelete
  20. Menulis cerita anak memang mengasyikkan ya...
    Saya bisa menyelesaikan buku cernak lebih singkat dari pada buku non fiksi. Itu naskah gak selesai-selesai hihihi

    ReplyDelete
  21. Wah belym pernah bikin cernak, ggs...ganpang gampang susah. Pwrlu dicoba nih. Thx ulasannya bermnfaat


    ReplyDelete
  22. Menarik sekali mbak. Kayak gampang banget gitu ya. Dan apakah itu juga bisa diterapkan di cerita bukan binatang? Teenlit misalnya

    ReplyDelete